Review Assassin’s Creed IV – Black Flag: Game Bajak Laut Terbaik!

Reading time:
November 13, 2013

Menjalani Hidup Seorang Assassin

Tidak mudah mendefinisikan soosk Edward sendiri. Ia bukan hanya seorang Assassin, tetapi juga seorang bajak laut.
Tidak mudah mendefinisikan soosk Edward sendiri. Ia bukan hanya seorang Assassin, tetapi juga seorang bajak laut.

Jika kita mengambil waktu untuk berpikir sejenak, Assassin’s Creed IV: Black Flag menjadi seri Assassin’s Creed pertama yang mengusung karakter utama dua buah jenis pekerjaan yang berbeda – bahkan dengan idealisme yang berbeda satu sama lain. Karakter-karakter AC yang lain sekelas Altair, Ezio, maupun Connor Kenway selama ini hanya diceritakan menjalani hidupnya murni sebagai seorang Assassin, sebagai pemimpin dari faksi yang eksis hanya untuk satu tujuan utama: menghalangi keteraturan absolut yang diusahakan oleh para Templar. Fakta inilah yang membuat Black Flag ini menarik. Ubisoft punya dua pekerjaan besar: memastikan Edward mampu mengusung identitas yang kuat sebagai seorang bajak laut, namun di sisi yang lain – tetap menghadirkan kesan Assassin yang kentara darinya. Tugas yang berhasil dieksekusi dengan sangat baik.

Perannya sebagai seorang Assassin memang tidak menawarkan mekanik gameplay inovatif baru sama sekali. Aksi Edward di darat memang lebih mepresentasikan formula yang sudah dibangun di Ubisoft di seri ketiga. Tidak lagi hanya bisa sekedar melakukan parkour di antara gedung, beragam terrain seperti pohon dan tebing juga menjadi media untuk bergerak ke tempat-tempat yang sulit dijangkau. Seperti seri-seri sebelumnya pulalah, Anda hanya tinggal menekan satu tombol untuk melakukan quick run dan beraksi parkour secara instan. Pertarungan pedang dengan dua buah schimitar sebagai trademark utama juga mengusung sistem serupa dan tidak sulit untuk dikuasai. Tantangan ekstra mungkin hadir dari varian musuh yang kini membutuhkan strategi tersendiri untuk bisa ditundukkan.

Beberapa mekanik dasar khas Assassin's Creed, khususnya dari seri ketiga tetap dipertahankan di sini.
Beberapa mekanik dasar khas Assassin’s Creed, khususnya dari seri ketiga tetap dipertahankan di sini.
Mekanik pertarungan klasik ala Assassin's Creed selama ini juga tidak akan sulit untuk Anda kuasai. Tantangan ekstra hadir lewat varian musuh yang membutuhkan strategi khusus untuk ditundukkan.
Mekanik pertarungan klasik ala Assassin’s Creed selama ini juga tidak akan sulit untuk Anda kuasai. Tantangan ekstra hadir lewat varian musuh yang membutuhkan strategi khusus untuk ditundukkan.

Fakta bahwa Anda tetap harus menuju ke tempat tertinggi untuk melakukan sinkronisasi dan membuka lebih banyak point of interest di sekitar map memang meninggalkan atmosfer nostalgia tersendiri. Beragam side mission seperti Assassin Contract dan beragam peti yang bisa Anda buka untuk keuntungan finansial tertentu masih memberikan kesibukan ekstra tersendiri. Anda juga akan menemukan objektif unik lainnya seperti Mayan Stelae yang akan memperbesar potensi Anda untuk mendapatkan armor khusus, misalnya. Salah satu yang cukup menarik dari seri keempat adalah fakta bahwa Ubisoft menyuntikkan mekanisme “buronan” yang lebih dinamis. Untuk menghilangkan status buruan ini, Anda tinggal bersembunyi hingga situasi aman tanpa perlu lagi merobek poster atau membayar Herald seperti di seri-seri sebelumnya. Nice addition!

Walaupun terlihat cukup serupa dengan seri sebelumnya, ada satu hal yang membuat Black Flag juga tampil sedikit berbeda. Ubisoft tampaknya sangat terobsesi untuk memastikan Black Flag mampu menjual atmsofer Assassin yang kuat. Alhasil? Gameplay stealth kini mendominasi sebagian besar chapter misi utama yang ada. Bukankah hal ini juga sama di seri-seri sebelumnya? Sejak zaman Ezio dan Connor, “stealth” masih menjadi pilihan, bukan sebuah keharusan. Anda masih seringkali diberikan kebebasan untuk menyelesaikan misi dengan berperang terbuka atau sembunyi-sembunyi. Sementara di Black Flag, ada begitu banyak misi yang memaksa Anda untuk bergerak tanpa ketahuan. Sebagai contoh? Segudang misi “tailing” atau menguntit yang disajikan di dalamnya. Menarik di awal, namun mulai mengesalkan ketika misi ini terus hadir frekuentif. Dipadukan dengan sistem kontrol yang terkadang bergerak di luar apa yang Anda inginkan, misi-misi ini berpotensi menghasilkan perasaan frustrasi tersendiri.

Minim variasi misi utama, Anda akan sering menemukan misi stalking yang harus diakui, akan mudah terasa repetitif.
Minim variasi misi utama, Anda akan sering menemukan misi stalking yang harus diakui, akan mudah terasa repetitif.
Seperti konsep yang pernah diterapkan, Anda kini dituntut untuk berburu binatang spesifik untuk dapat memperkuat perlengkapan yang digunakan oleh Edward sendiri.
Seperti konsep yang pernah diterapkan, Anda kini dituntut untuk berburu binatang spesifik untuk dapat memperkuat perlengkapan yang digunakan oleh Edward sendiri.

Ada begitu banyak elemen Black Flag yang memang terlihat diadaptasikan dari proyek Ubisoft yang lain – Far Cry 3. Salah satunya adalah sistem berburu yang kini disempurnakan dan diposisikan lebih krusial. Dengan puluhan pulau yang terlentang di laut Karibia, Anda kini berkesempatan untuk menemukan dan berburu binatang-binatang khas yang menempati setiap tempat. Tidak hanya untuk sekedar dijual, tetapi sebagian bahan baku utama untuk menyediakan armor dan perlengkapan yang lebih kuat untuk Edward sendiri. Sistem crafting kini membutuhkan bahan kulit atau tulang binatang tertentu sebelum bisa diakses.

Yang kami rindukan dari seri ini? Kapak!
Yang kami rindukan dari seri ini? Kapak!

Walaupun mengambil setting Karibia dengan lautan yang super luas sebagai daya tarik utama, namun Ubisoft masih tetap menyuntikkan kesan gameplay Assassin’s Creed yang selama ini kita kenal dengan cukup baik. Dengan begitu banyak kota besar yang tersebar di semua belahan pulau inilah, Anda akan menemukan sensasi AC yang selama ini Anda kenal. Tentu saja, dengan beberapa ekstra inovasi. Salah satu yang kami sayangkan? Preferensi pribadi memang, namun ada kesan badass yang sulit dipungkiri ketika Connor menggunakan kapak ketika bertarung di AC III. Senjata yang sayangnya tidak mereka sertakan di Black Flag ini. Sang kakek – Edward terlihat sedikit lebih “halus” ketika menghabisi nyawa para musuh dengan schimitar dan hidden blade yang ia kenakan.

Nenek Moyangku Seorang…….Bajak Laut!

Pesona utama dari Black Flag: tentu saja ketika Anda mengarungi luasnya lautan dan bermain peran sebagai bajak laut!
Pesona utama dari Black Flag: tentu saja ketika Anda mengarungi luasnya lautan dan bermain peran sebagai bajak laut!

Laut, adalah pesona dan identitas utama yang mendefinisikan Assassin’s Creed IV: Black Flag itu sendiri. Fakta bahwa Edward bukan hanya seorang “Assassin” tetapi juga bajak laut, menuntut Ubisoft untuk memastikan elemen yang satu ini mampu tereksusi dengan baik. Jawaban terbaik? Tentu saja dengan menyempurnakan elemen yang berhasil membuat banyak gamer jatuh cinta di seri AC III sebelumnya – pertempuran di laut. Saling bertukar peluru meriam dalam jumlah masif dan bermanuver di tengah badai yang mencekam dengan kapal besar kini memainkan porsi yang lebih signifikan di Black Flag. Sebuah sensasi yang berhasil disempurnakan dengan baik.

Mobilitas dengan kapal pribadi Anda – Jackdaw bukanlah pekerjaan yang sulit. Seperti halnya mengemudikan mobil di game racing, Anda hanya perlu mengatur tiga tingkat kecepatan untuk bergerak di tengah laut. Semakin cepat kapal bergerak, semakin sulit ia bermanuver, demikian pula sebaliknya. Kombinasi dan kecekatan mengatur kecepatan dan pergerakan kapal akan memberikan keuntungan yang absolut. Angin atau ombak besar? Bukan sesuatu yang perlu Anda pikirkan dengan serius. Satu yang pasti, bergerak dengan menggunakan kapal akan menjadi pekerjaan yang secara konsisten Anda lakukan di Black Flag. Apa pasal? Karena seperti kondisi di dunia nyata, 80% dari total wilayah Karibia adalah laut. Anda harus mengarungi wilayah biru nan luas ini untuk bergerak dari satu pula ke pulau lainnya. Fitur fast-travel memang disertakan untuk mempersingkat hal ini, namun hanya bisa dipicu di daerah yang memang sudah pernah Anda lewati sebelumnya.

Full Sail!
Full Sail!
Dengan 80% daerah yang dikuasai lautan, kapal menjadi satu-satunya cara Anda untuk bergerak dari satu misi ke misi lainnya.
Dengan 80% daerah yang dikuasai lautan, kapal menjadi satu-satunya cara Anda untuk bergerak dari satu misi ke misi lainnya.
Bagian paling menakjubkan? Ketika Anda bisa mengendarai atau berhenti dari kapal Anda tanpa perlu waktu loading sama sekali.
Bagian paling menakjubkan? Ketika Anda bisa mengendarai atau berhenti dari kapal Anda tanpa perlu waktu loading sama sekali.

Menjadi bagian utama yang terintegrasi dalam gameplay, Ubisoft benar-benar serius membangun mekanik yang satu ini. Tidak perlu jauh-jauh memuji betapa “hidup”-nya lautan ini berkat lusinan kapal kolonial, sipil, dan bajak laut yang lalu lalang di dalamnya, Ubisoft bahkan menyediakan fitur  teknis yang membuat pengalaman ini lebih menyenangkan. Anda sama sekali tidak lagi harus berhadapan dengan waktu loading sama sekali setiap kali Anda naik dan turun dari kapal dan mengakses sebagian besar pula terdekat. Jika bisa dibandingkan, ini tidak berbeda ketika Anda mengendarai kuda ketika di seri-seri AC sebelumnya, tinggal naik dan jalan. Bedanya? Ini kapal besar dengan puluhan meriam, kru, dan layar raksasa. Amazing!

Pertempuran lautnya sendiri bukan sesuatu yang sulit untuk dikuasai. Seiring dengan progress dan upgrade yang Anda suntikkan, Jackdaw memiliki lebih dari cukup senjata untuk mengatasi setiap kapal yang ada. Anda bisa secara otomatis melontarkan puluhan peluru besi dari meriam samping Anda, atau menembakkan Sharpnel ke titik-titik krusial kapal musuh yang terekpos, melemparkan mortar untuk pertempuran jarak jauh, atau ke cara yang lebih “barbaric” – dengan menabrakkan moncong kapal Anda ke kapal musuh. Semua dilakukan sembari bermanuver dan memastikan diri bertahan dari potensi serangan yang ada.

Namun bukan hal ini yang mendefinisikan sifat bajak laut yang ditawarkan Black Flag, tetapi tujuan dari Anda menyerang setiap kapal yang ada. Benar sekali, dengan menundukkan kapal perang kolonial yang berlayar di tengah laut, Anda berkesempatan untuk mendulang beragam resource yang krusial, tidak hanya untuk mendapatkan sedikit uang, tetapi juga sebagai bahan utama untuk memperkuat kapal Anda – Jackdaw sendiri. Hal menakjubkan juga diperlihatkan Ubisoft di mekanisme yang satu ini.

Dengan begitu banyak kapal kolonial untuk dibajak, Anda bisa menggunakan serangkaian senjata untuk menundukkan setiap dari mereka.
Dengan begitu banyak kapal kolonial untuk dibajak, Anda bisa menggunakan serangkaian senjata untuk menundukkan setiap dari mereka.
Untuk apa? Untuk mengumpulkan resource yang cukup untuk dijual demi uang, atau memperkuat Jackdaw - kapal utama Anda lewat fitur upgrade yang ada.
Untuk apa? Untuk mengumpulkan resource yang cukup untuk dijual demi uang, atau memperkuat Jackdaw – kapal utama Anda lewat fitur upgrade yang ada.
Bertarung di atas kapal yang hendak dibajak memang memesona di awal permainnan, namun terasa kian membosankan dan tidak lagi menarik seiring dengan waktu permainan Anda.
Bertarung di atas kapal yang hendak dibajak memang memesona di awal permainnan, namun terasa kian membosankan dan tidak lagi menarik seiring dengan waktu permainan Anda.

Berhasil mencedarai kapal lawan hingga titik tertentu, Anda bisa menaiki kapal lawan tersebut secara real-time dan bertempur untuk merebut kendali utama. Objektif sampingan akan muncul memberikan guideline apa yang harus Anda lakukan untuk menguasai kapal tersebut, dari sekedar membunuh musuh dalam jumlah tertentu hingga mengibarkan sang bendera hitam di bagian teratas kapal. Selain memberikan resource unik dalam jumlah tertentu,  Anda juga akan dihadapkan pada tiga pilihan untuk aksi yang bisa Anda terapkan setelah merebut kapal ini: menghancurkannya untuk memperoleh bahan baku memperbaiki Jackdaw, melepaskannya untuk menurunkan level buronan, atau merekrutnya sebagai fleet pribadi Anda sendiri.

Menarik, ini mungkin menjadi kesan pertama yang Anda dapatkan dari mekanisme yang satu ini. Namun dengan kebutuhan untuk memperkuat Jackdaw dan secara konsisten mengumpulkan resource dan uang yang dibutuhkan, Anda akan terus membajak setiap kapal yang Anda temui. Apalagi ketika spyglass memperlihatkan status kapal yang memang tengah mengangkut semua sumber daya yang Anda butuhkan. Seiring dengan semakin jauhnya permainan, mekanisme yang seharusnya memukau dan menyenangkan ini perlahan namun pasti, berakhir menjadi sebuah “kewajiban” yang membosankan, menyita waktu, dan terasa kian repetitif. Seandainya saja Ubisoft memberikan alternatif pilihan untuk tidak memaksa Anda harus menginvasi setiap kapal yang ada, tentu masalah ini tidak akan terasa signifikan. Berbagai tantangan ekstra seperti Fort juga dihadirkan. Benteng raksasa ini bertindak tak ubahnya Borgia  Tower di Brotherhood dan Far Cry 3. Mengalahkannya akan membuka akses untuk segudang fitur ekstra lainnya di sekitar area.

Seperti sistem BorgiaTower di AC II dan Comm Tower di Far Cry 3, Anda juga bisa menghancurkan Fort dan membunuh sang komandan untuk membuka beragam POI di sekitar area tersebut - dan tentu saja memimalisir ancaman dari kapal kolonial yang lain.
Seperti sistem BorgiaTower di AC II dan Comm Tower di Far Cry 3, Anda juga bisa menghancurkan Fort dan membunuh sang komandan untuk membuka beragam POI di sekitar area tersebut – dan tentu saja memimalisir ancaman dari kapal kolonial yang lain.
Tidak hanya sekedar mengarungi lautan, Anda juga bisa berburu beragam makhluk raksasa nan eksotis sebagai bahan crafting atau sekedar untuk ekstra uang.
Tidak hanya sekedar mengarungi lautan, Anda juga bisa berburu beragam makhluk raksasa nan eksotis sebagai bahan crafting atau sekedar untuk ekstra uang.
Tidak hanya di darat, Anda juga bisa mencari harta karun di dalam laut. Sayangnya kontrolnya terhitung kurang intuitif, apalagi ketika harus berhadapan dengan segudang ancaman yang siap untuk menghabisi nyawa Anda dengan mudah.
Tidak hanya di darat, Anda juga bisa mencari harta karun di dalam laut. Sayangnya kontrolnya terhitung kurang intuitif, apalagi ketika harus berhadapan dengan segudang ancaman yang siap untuk menghabisi nyawa Anda dengan mudah.

Tidak hanya sekedar membajak kapal laut, posisi Edward sebagai seorang komandan yang mumpuni di atas lautan juga kian terbukti lewat dua aktivitas lain yang tidak kalah seru. Pertama, tentu saja berburu binatang laut raksasa sekelas ikan hiu dan paus bungkuk sekalipun. Lewat sebuah mini game kecil yang tidak terlalu sulit untuk ditundukkan, kegiatan ini akan memberikan Anda kulit dan tulang yang Anda butuhkan di proses crafting atau sekedar dijual. Kegiatan kedua? Bukan bajak laut namanya, jika Anda tidak tertarik dengan lusinan harta karun yang terbenam bersama karamnya kapal yang mengangkutnya. Dengan sebuah diving bell raksasa sebagai tempat untuk mencari udara, Anda bisa menyusuri atmosfer bawah laut ini sembari membukat setiap harta karun yang biasanya memberikan item-item super penting. Namun jangan berharap proses ini dengan mudah, karena hampir setiap binatang yang Anda temui sembari menyelam seolah memang didesain membunuh Anda dengan cepat. Kontrol yang terhitung tidak intuitif juga membuat proses ini sendiri cukup sulit. Tidak hanya berburu di dalam laut, Anda juga bisa berburu harta karun di seluruh Karibia yang koordinat posisinya akan terbuka dengan jumlah peta yang Anda temukan.

Let the black flag rise!
Let the black flag rise!

Untuk urusan untuk mencitrakan Kenway sebagai seorang bajak laut yang luar biasa, Ubisoft memang pantas untuk mendapatkan pujian empat jempol untuk semua usaha yang mereka lakukan, tidak hanya di sisi cerita, tetapi juga detail mekanik gameplay di atas laut yang luar biasa.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

June 29, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yoko Taro (NieR Series)!

Menyebutnya sebagai salah satu developer paling eksentrik di industri game…
June 24, 2021 - 0

Preview Scarlet Nexus: Bak Menikmati Anime Aksi Berkualitas!

Komitmen Bandai Namco untuk menawarkan game-game dengan cita rasa anime…
June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…