Review Flappy Bird: Game Mobile untuk Gamer Hardcore!

Reading time:
February 4, 2014
flappy bird

Entah apa yang membuat seekor burung menjadi sebuah objek yang menarik untuk dieksploitasi, terutama di industri game. Satu yang pasti, meramu sedikit desain di sisi warna dan bentuk, tidak sedikit game casual dan mobile yang berhasil mencapai kesuksesan luar biasa karena format seperti ini. Salah satu contoh yang paling valid? Game besutan Rovio – Angry Birds. Berhasil terunduh ratusan juta kali lintas platform, dari beragam seri yang dipenuhi dengan tema dan gimmick, Angry Birds tumbuh menjadi fenomena yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Popularitas yang bahkan membuatnya sukses tidak hanya di produk gamenya sendiri, tetapi juga merchandise-merchandise fisik di pasaran. Siapa yang menyangka, “burung” kesuksesan ini ternyata menghinggapi sebuah game lain yang baru tumbuh menjadi fenomena. Benar sekali, kita tengah membicarakan Flappy Bird.

Ia mungkin tidak menawarkan permainan warna, desain karakter, atau mekanisme gameplay seperti Angry Birds, namun popularitas yang berhasil dicapai oleh Flappy Bird hanya dalam hitungan hari sejak perilisannya di iOS App Store dan Google Play terhitung unik. Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh game, yang secara kasat mata tidak terlihat menggoda ini? Mengapa banyak gamer casual yang mengembangkan hubungan cinta – benci dengan game casual yang satu ini? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Jangan Tertipu “Bentuk”

Sebuah burung yang tidak bisa terbang stabil, namun bersikeras bergerak melewati serangkaian rintangan sulit? inilah ini Flappy Bird.
Sebuah burung yang tidak bisa terbang stabil, namun bersikeras bergerak melewati serangkaian rintangan sulit? inilah Flappy Bird.

Tidak ada yang menarik sama sekali, ini mungkin kata pertama yang meluncur ketika pertama kali Anda melihat Flappy Bird berjalan di perangkat Android atau iOS. Tidak seperti sebagian besar game mobile, se-casual apapun yang masih membawa sedikit elemen cerita lewat serangkaian cut-scene atau animasi pendek, Flappy Bird hadir lugas. Tidak ada instruksi berbelit yang harus Anda hadapi, bukan karena sang developer dari Vietnam – Nguyen Ha Dong yang pemalas, tetapi karena memang dasarnya game ini tidak menawarkan permainan yang berbelit. Anda hanyalah seekor burung aneh yang tidak bisa terbang.

Dengan bentuk bibir aneh dan warna beragam yang hadir secara acak setiap kali Anda mengulang permainan, Flappy bird hadir dengan mekanik dan misi yang super sederhana. Misi? Game casual yang satu ini memang tidak memiliki hadir. Anda hanya diminta untuk bergerak melewati sebanyak mungkin palang yang melintang di sepanjang jalur, dengan hanya meninggalkan sedikit celah di antaranya. Sesuai dengan judulnya, burung yang Anda gunakan ini bukanlah burung yang cukup pintar untuk menggunakan sayapnya secara sempurna. Anda harus melakukan tap untuk membantu burung ini mengepakkan sayap satu kali. Pertarungan melawan gravitasi pun dimulai.

Dengan kecenderungan sang burung yang akan jatuh dengan kecepatan tinggi, cara terbaik untuk melewati setiap celah rintangan adalah dengan memprediksi seberapa banyak Anda harus melakukan tap untuk mendapatkan ketinggian yang sesuai. Terdengar mudah? Tunggu dulu! Terlepas dari semua kesederhanaan yang memang meninggalkan kesan game mobile yang kentara, hanya gamer-gamer hardcore saja yang mungkin akan tahan memainkan game yang satu ini!

Kombinasi Mario Bros + Silver Surfer

Melakukan tapping kecil untuk membuat burung aneh mengepakkan sayap kecilnya dan bergerak sedikit melawan gravitasi, Flappy Bird memang mengusung mekanik gameplay yang familiar.
Melakukan tapping kecil untuk membuat burung aneh mengepakkan sayap kecilnya dan bergerak sedikit melawan gravitasi, Flappy Bird memang mengusung mekanik gameplay yang familiar.
Mekaniknya sendiri mirip dengan level dalam air Mario Bros klasik.
Mekaniknya sendiri mirip dengan level dalam air Mario Bros klasik.

Jika harus dibandingkan, tampak jelas ide gameplay Flappy Bird memang meminjam salah satu stage dalam laut Mario Bros NES yang terhitung ikonik di masa lalu. Dengan ciri mekanik sama dimana Anda harus bergerak pelan untuk melawan gravitasi yang secara konsisten mendorong Anda ke bawah sembari menghindari setiap rintangan yang ada, desain karakternya sendiri bahkan mirip dengan “Cheep Cheep” – karakter ikan dari franchise utama Nintendo ini. Satu-satunya yang membedakan Flappy Bird mungkin tingkat kesulitannya yang sama sekali tidak mengenal kata kompromi.

Berbeda dengan game-game klasik yang mungkin bisa Anda pelajari karena desain level yang konsisten, Flappy Bird hadir dengan konsep rintangan acak yang terus berubah, menawarkan kesulitan yang unik setiap kali Anda memainkan game ini berulang kali. Walaupun secara visual dan mekanik, ia tampil menyerupai Mario, namun jika kita hendak menyimpulkan sensasi seperti apa yang ia tawarkan, kami tidak akan segan untuk menyebutnya sebagai suksesor dari salah satu game klasik tersulit – Silver Surfer yang sempat dirilis di NES. Konsep dimana kegagalan menjadi hal yang “tertunda”, dan tidak bisa dihindari.

Tidak ada celah untuk kesalahan sekecil apapun. Teledor bergerak satu piksel saja, dan Anda akan tewas begitu saja.
Tidak ada celah untuk kesalahan sekecil apapun. Teledor bergerak satu piksel saja, dan Anda akan tewas begitu saja.

Apa yang membuat Silver Surfer begitu terkenal di masa lalu? Semua gamer masa lampau tentu ingat bagaimana game ini didesain untuk membunuh karakter utama Anda di tingkat piksel, hal sama yang terjadi dengan Flappy Bird. Tidak ada celah untuk kesalahan sama sekali untuk game mobile yang satu ini. Mengendalikan ketinggian saja sudah merepotkan, namun berhadapan dengan sistem collision “tidak masuk akal” yang akan membunuh Anda dengan hanya bersinggungan satu piksel dengan setiap rintangan menjadi tantangan yang paling utama. Satu piksel saja yang bersentuhan, Anda akan langsung tewas seketika, dan dipaksa untuk mengulang permainan dari awal. Tidak ada sistem item, atau hal apapun yang memungkinkan Anda untuk mendapatkan kesempatan kedua. Flappy Bird menawarkan gameplay dan tingkat kesulitan selugas itu.

Pages: 1 2
Load Comments

PC Games

September 23, 2022 - 0

Review IMMORTALITY: Misteri Dalam Misteri Dalam Misteri!

Apa yang sebenarnya  ditawarkan oleh IMMORTALITY? Mengapa kami menyebutnya game…
August 19, 2022 - 0

Review Cult of the Lamb: Menyembah Setan Sambil Bertani!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Cult of the Lamb ini?…
August 10, 2022 - 0

Review Marvel’s Spider-Man Remastered PC: Siap Kembali Berayun!

Marvel's Spider-Man Remastered akhirnya tersedia di PC. Apa saja yang…
August 2, 2022 - 0

Review Beat Refle: Pijat Refleksi Super Seksi!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Beat Refle ini? Mengapa kami…

PlayStation

September 1, 2022 - 0

Wawancara dengan Shaun Escayg dan Matthew Gallant (The Last of Us Part I)!

Kami sempat berbincang-bincang dengan Shuan Escayg dan Matthew Gallant terkait…
August 31, 2022 - 0

Review The Last of Us Part I: Lebih Indah, Lebih Emosional!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh The Last of Us Part…
August 26, 2022 - 0

Review Soul Hackers 2: Kumpul Iblis, Selamatkan Dunia!

Bagaimana dengan pengalaman yang ditawarkan oleh Soul Hackers 2 ini?…
August 25, 2022 - 0

Review Playstation Plus Tier Baru: Ambil EXTRA, Abaikan DELUXE!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Playstation Plus Tier Baru ini?…

Nintendo

September 21, 2022 - 0

Review Xenoblade Chronicles 3: Salah Satu JRPG Terbaik Sepanjang Masa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…