Review Infinite Crisis – Beta: MOBA Dengan Superhero DC!

Reading time:
February 7, 2014

Lebih Bersahabat

Seperti game MOBA pada umumnya, mekanik dasar yang ditawarkan tidak banyak berbeda.
Seperti game MOBA pada umumnya, mekanik dasar yang ditawarkan tidak banyak berbeda.

Membicarakan MOBA berarti membicarakan mekanik gameplay yang sebenarnya serupa satu sama lain. Anda akan berperan sebagai satu karakter, yang “dipaksa” untuk bekerjasama dengan empat user lainnya yang tentu saja – mengendalikan karakter yang berbeda. Setiap jalur map akan menyediakan minion-minion kecil dari dua kubu yang akan saling menyerang satu sama lain. Minion ini akan menjadi sumber utama experience points dan uang yang bisa Anda dapatkan, di luar membunuh hero yang digunakan oleh musuh tentunya. Membangun item yang cocok dengan gaya bermain dan hero spesifik yang Anda gunakan, serta koordinasi dan kerjasama dengan hero yang lain akan menjadi kunci untuk memenangkannya. Formula sama yang bisa diterapkan di semua MOBA, termasuk Infinite Crisis ini.

Jika dilihat dari kemiripan yang ada, Infinite Crisis memang lebih condong dengan gaya permainan yang ditawarkan League of Legends dibandingkan DOTA 2. Kita tidak membicarakan soal visualisasi yang diusung, tetapi lebih ke beberapa mekanik dasar yang memang terlihat mirip. Pertama, adalah permainan yang sangat memberikan cukup banyak ruang untuk melakukan spam skill, tanpa harus takut kehilangan mana dalam waktu dekat. Setiap hero yang Anda gunakan juga akan diperkuat dengan ekstra skill yang lain di luar empat skill utama, yang bisa Anda pilih dan eksekusi dengan hanya menjadikan cooldown sebagai penalti. Semakin tinggi level Anda sebagai user, semakin besar pula kesempatan  untuk memilih untuk upgrade – Amplifier yang akan mempengaruhi stat atau skill hero Anda nantinya.

5 vs 5, get ready to fight!
5 vs 5, get ready to fight!
Lebih dekat dengan LoL, daripada DOTA, setiap karakter akan diberikan ruang yang lebih luas untuk mengakses skill. Kombinasi menjadi lebih penting daripada mengatur jumlah resource yang dibutuhkan untuk mengaksesnya. Setiap karakter juga bisa memiliih 2 dari sejumlah skill ekstra.
Lebih dekat dengan LoL, daripada DOTA, setiap karakter akan diberikan ruang yang lebih luas untuk mengakses skill. Kombinasi menjadi lebih penting daripada mengatur jumlah resource yang dibutuhkan untuk mengaksesnya. Setiap karakter juga bisa memiliih 2 dari sejumlah skill ekstra.
Untuk setiap kenaikan level, Anda bisa memilih amplifier yang akan mempengaruhi skill dan status hero Anda di masa yang akan datang.
Untuk setiap kenaikan level, Anda bisa memilih amplifier yang akan mempengaruhi skill dan status hero Anda di masa yang akan datang.

Dengan mekanik seperti ini, bukan perkara yang sulit untuk menguasai Infinite Crisis dalam waktu dekat. Anda hanya perlu belajar cara bermain aman dan skill mana saja yang perlu diambil di awal permainan, setidaknya memastikan Anda memiliki kombinasi skill yang cukup mematikan atau sekedar efektif untuk mempertahankan diri. Infinite Crisis memberikan lebih banyak kesempatan untuk bermain secara agresif lewat resource awal yang ada. Yang perlu dipelajari hanyalah timing untuk merilis setiap gerakan dan situasi seperti apa yang pantas atau tidak pantas memicu kombinasi tersebut. Anda tidak perlu belajar cara last hit, menarik creeping, stack, menghemat mana, dan sebagainya.

Kesederhanaan juga tampil dari sistem item yang tidak perlu membutuhkan kombinasi resep dan item seperti DOTA 2. Setiap item di toko ditawarkan lugas, dengan fungsi dan status yang jelas. Anda bisa memperkuat setiap item yang Anda miliki hingga level tertentu, dengan tentu saja mengorbankan gold yang berhasil Anda dapatkan. User-interface yang ditawarkan juga akan memudahkan Anda memilih item mana saja yang paling dibutuhkan oleh hero Anda. Atau Anda bisa menyerahkan pilihan tersebut pada pilihan Recommended untuk meminimalisir kebingungan atau pemilihan item yang ternyata tidak efektif.

Item tampil sederhana, lugas, tanpa proses kompleks untuk diakses. Sayangnya tidak ada efek serangan khusus yang mungkin akan membuat Anda bisa membedakan efek apa yang tengah muncul.
Item tampil sederhana, lugas, tanpa proses kompleks untuk diakses. Sayangnya tidak ada efek serangan khusus yang mungkin akan membuat Anda bisa membedakan efek apa yang tengah muncul.
Lebih bersahabat. Walaupun dalam tahap pembelajaran dan permainan kami yang
Lebih bersahabat. Walaupun dalam tahap pembelajaran dan permainan kami yang “cupu”, tidak ada yang meneriakkan kata kata kasar sama sekali dari 5 kali pertandingan yang kami jalani.

Gameplay yang lebih sederhana dan mudah dikuasai oleh gamer yang mungkin belum pernah menjajal MOBA sebelumnya, lingkungan yang ditawarkan oleh Infinite Crisis juga terhitung sangat bersahabat jika dibandingkan dengan game MOBA lainnya. Menjajal tidak lebih dari 5 pertandingan di minggu ini, tidak pernah sekalipun kami mendengar ocehan “noob” dari teman ataupun tim lawan, terlepas dari buruknya performa permainan kami, apalagi ketika menjajal hero baru yang ada. Kesederhanaan dan ritme permainan yang unik membuatnya terasa lebih menyenangkan dimainkan, alih-alih serius dan kompetitif. Unik memang.

Dua Jalur atau Tiga Jalur?

MOBA selalu identik dengan permainan yang menawarkan peta tiga jalur – mid, bottom, dan top yang biasanya sudah memiliki rancangan susunan hero tersendiri, setidaknya untuk memperbesar kemungkinan menguasai permainan. Infinite Crisis juga menghadirkan mode konvensional yang serupa dengan apa yang Anda dapatkan di sebagian besar game MOBA di pasaran ini. Sistem tiga jalur, dimana Anda harus secara bertahap menghancurkan setiap tower yang ada, hingga akhirnya berkesempatan untuk mengakses markas dan akhirnya menghancurkan sang tower utama di bagian tengah. Dengan bantuan minion yang senantiasa mendorong arus pasukan, ini menjadi sebuah gameplay standar untuk game MOBA. EA dan Turbine mengerti bahwa mekanik seperti ini memang menjadi cara yang paling jitu untuk menarik gamer veteran MOBA ke Infinite Crisis.

Infinite Crisis hadir dengan mode permainan. Mode tiga jalur berjalan konvesional, seperti sistem yang Anda temukan di game MOBA yang lain.
Infinite Crisis hadir dengan mode permainan. Mode tiga jalur berjalan konvesional, seperti sistem yang Anda temukan di game MOBA yang lain.
Mode lainnya menghadirkan map dalam bentuk melingkar dengan gaya gameplay ala
Mode lainnya menghadirkan map dalam bentuk melingkar dengan gaya gameplay ala “Capture the Flag”.

Namun tidak hanya sekedar mode konvensional seperti ini, Infinite Crisis juga menyediakan sebuah map dua jalur dengan sistem yang berbeda. Alih-alih menghancurkan tower dan bergerak masuk ke markas musuh, map dua jalur ini tampil tak ubahnya mode Capture the Flag yang mungkin sering Anda temukan di game-game FPS kompetitif. Masing-masing jalur akan memuat point yang bisa Anda kuasai dengan berdiri di atasnya dalam kurun waktu tertentu. Semakin banyak point yang Anda kuasai, semakin cepat pula nyawa utama tim musuh berkurang. Dengan tidak adanya tower sebagai sistem pertahanan, Anda dimungkinkan untuk “mencuri” point manapun tanpa harus bergerak dalam pola rentet tertentu. Daripada versi konvensional, mode yang satu ini memang menjamin gameplay yang lebih dinamis, dan tentu saja, terbuka untuk konflik. Sedikit hectic, dan memerlukan koordinasi yang jauh lebih kuat dibandingkan mode yang lain.

Untuk Anda yang terbiasa memainkan DOTA 2, mode dua jalur ini mungkin akan menawarkan pengalaman game MOBA yang lebih unik, dengan durasi yang jauh lebih cepat. Aksi yang secara konstan hadir, dengan mekanisme yang memang membutuhkan sedikit pembiasaan. Jangan pernah berkecil hati, jika Anda mengalami semacam cultural shock – dimana Anda mulai merasa bingung apa yang seharusnya Anda lakukan di mode yang satu ini. Mana yang lebih penting, mengejar musuh atau mendapatkan point? Anda akan perlahan mempelajari gaya terbaik untuk memainkan game yang satu ini.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…