Review P.T. : Siap Pipis di Celana!

Reading time:
August 14, 2014

Siap Pipis di Celana!

Ada sesuatu yang aneh di ujung koridor.....
Ada sesuatu yang aneh di ujung koridor…..

Dengan Oulast yang sudah melemparkan semua kemungkinan skenario untuk membuat bulu kuduk Anda merinding dan jantung Anda berdetak dalam irama yang lebih cepat, menjadi sedikit pesimis bahwa game horror lain, apalagi yang menyebut dirinya sebagai sebuah teaser seperti P.T. mampu menawarkan sesuatu jauh lebih intens. Namun sejak pertama kali Anda mencicipi game ini, semua anggapan ini terbukti salah besar. Walaupun lebih dikenal mengembangkan game-game seperti Metal Gear Solid dan Zone of the Enders, Hideo Kojima juga berhasil membuktikan diri sebagai sebuah perancang game horror yang begitu luar biasa. Cukup untuk membuat Anda pipis di celana dan merasa bangga karenanya.

Jika harus disimpulkan, sensasi horror yang ditawarkan oleh P.T. cukup mengingatkan kita tentang sensasi horror dari film-film klasik dari Asia, seperti Jepang dan Hongkong di masa lalu. Tidak seperti film horror Barat yang memunculkan rasa takut dari rasa sunyi dan sumber ancaman yang jelas, Kojima menyulap P.T. sebagai sebuah game horror yang tidak bisa diprediksi. Alih-alih sunyi, ia memuat semua jenis suara dan sound-effect yang akan membuat Anda sulit menelan ludah, dari suara radio rusak yang terus menyiarkan hal-hal yang tidak masuk akal, hingga suara tangisan bayi yang entah muncul dari mana. Tidak hanya membantu membangun atmosfer yang lebih kuat, suara-suara repetitif dan desain ruangan yang looping juga menurunkan mekanisme pertahanan yang Anda miliki. Ketika Anda mengira sudah tidak ada lagi elemen yang lebih mengejutkan, dan BAM!, di sanalah P.T. menyerang.

Berbeda dengan game horror lain yang menjual kesunyian, P.T secara konsisten melemparkan semua jenis suara yang akan membuat tenggorokan Anda kering dan nafas Anda memburu tanpa sebab.
Berbeda dengan game horror lain yang menjual kesunyian, P.T secara konsisten melemparkan semua jenis suara yang akan membuat tenggorokan Anda kering dan nafas Anda memburu tanpa sebab.
CI LUK BA!!
CI LUK BA!!

P.T. adalah sebuah game yang penuh dengan jump scare, dan setiap kali hal ini terjadi, hanya ada tiga hal yang mungkin terjadi: Pertama, Anda baru menyadari bahwa di dalam tubuh dan gaya hidup Anda yang maskulin, ternyata tersimpan suara anak perempuan yang siap berteriak kencang dan menggema dalam ruangan. Kedua, bahwa Anda tidak punya kuasa penuh untuk menentukan kapan Anda harus dan tidak harus mengeluarkan air seni Anda sendiri. Ketiga? Bahwa P.T. bisa jadi sebuah ajang eksperimen untuk menguji kualitas ketahanan DualShock 4 yang mungkin sudah berterbangan ke mana-mana. Sulit untuk memprediksi apa yang kira-kira Anda dapatkan. Sebagai contoh? Ketika Anda mengintip pintu kamar mandi untuk pertama kalinya, misalnya. Semua orang yang menonton film horror tentu tahu bahwa ini adalah momen termanis untuk melakukan jump scare. Dan ketika sistem pertahanan mental Anda aktif dan siap untuk mengintip celah tersebut, tidak ada yang terjadi. Menunggu lama dan terus melihat bolak-balik, semuanya berjalan tenang. Namun ketika Anda lengah dan mulai menyimpulkan bahwa mungkin ini hanya sebuah paranoia semata, BAM!, sosok anak kecil penuh darah memandang Anda balik dalam waktu sepersekian detik. Cepat, akurat, efektif, dan itulah yang membuat P.T. begitu efektif.

Membuat Anda menjadi paranoid, ini lah yang berhasil dilakukan P.T.
Membuat Anda menjadi paranoid, ini lah yang berhasil dilakukan P.T.

Perang psikologis juga menjadi salah satu hal yang membuat P.T. ini menyeramkan. Seperti saat sang radio kuno di ujung ruangan secara mendadak hanya mengeluarkan satu pesan berulang dalam suara berat, “Jangan melihat ke belakang! Jangan melihat ke belakang!”. Instruksi ini memicu sebuah dilema yang sebenarnya akan berujung pada konsekuensi negatif-negatif (sama-sama tidak menyenangkan). Melihat ke belakang berarti memperbesar kemungkinan Anda untuk berhadapan dengan entah apa dan merasakan jump scare yang mungkin menyeramkan. Tidak melihat ke belakang, berarti membuka peluang makhluk apapun yang mungkin atau tidak mungkin berdiri di punggung Anda untuk melakukan hal berbahaya dan mengancam hidup si karakter utama. Jadi? Melihat ke belakang atau tidak? Iya, tidak, iya, tidak, iya, tidak? Konflik yang mulai memperkuat rasa paranoid Anda. Luar Biasa!

Uji Fox Engine di Ruangan Tertutup

P.T. juga menjadi semacam demonstrasi implementasi Fox Engine di ruangan tertutup.
P.T. juga menjadi semacam demonstrasi implementasi Fox Engine di ruangan tertutup.

Terlepas dari klaim yang sempat dilemparkan Kojima di masa lalu bahwa Fox Engine akan mampu menghasilkan kualitas yang hampir sama dengan foto di dunia nyata, ia tidak terlihat sebegitu menawan di dua game yang sudah mengimplementasikan engine generasi baru tersebut – Pro Evolution Soccer 2014 dan Metal Gear Solid V: Ground Zeroes. Di dua game yang memang lebih kental dengan atmosfer di ruang terbuka ini, Fox Engine memang bisa menawarkan detail-detail visual yang mengagumkan, tertuama di bagian wajah karakter. Namun hingga mencapai kualitas fotorealistis? Visualnya masih jelas terasa seperti sebuah game. P.T. menjadi demo pertama yang memperlihatkan seberapa menawannya engine ini ketika digunakan untuk membangun sebuah ruang tertutup.

Bergerak di dalam rumah, dari koridor ke koridor lainnya, bersamaan dengan seluruh pernah-pernik dan objek yang digantung di antaranya, Fox Engine memperlihatkan ketangguhannya di P.T. Untuk pertama kalinya, ia membuktikan bahwa kualitas fotorealistis yang selama ini mereka kejar memang mungkin dicapai dengan platform generasi terbaru. Setiap objek hadir dengan detail yang luar biasa dengan efek blur yang juga pantas diacungi jempol. Dengan tata cahaya yang juga dibangun dengan manis, Anda mungkin akan merasa bahwa setiap screenshot yang kami perlihatkan di atas memang terjadi di dunia nyata dan P.T. adalah sebuah game yang menggunakan visual dunia nyata ala Hotel 626 yang fenomenal. Namun nyatanya, setiap titik dari game ini dibangun dari objek tiga dimensi yang berujung pada hasil yang memesona.

Tata cahaya yang keren dan sudut pandang yang kabur menciptakan atmosfer yang realistis.
Tata cahaya yang keren dan sudut pandang yang kabur menciptakan atmosfer yang realistis.
Menariknya lagi, Kojima menegaskan bahwa Fox Engine belum berjalan maksimal di P.T., bahkan  dengan detail yang sengaja diturunkan untuk menciptakan kesan sebuah game indpenden.
Menariknya lagi, Kojima menegaskan bahwa Fox Engine belum berjalan maksimal di P.T., bahkan dengan detail yang sengaja diturunkan untuk menciptakan kesan sebuah game indpenden.

Bagian terbaiknya? Dalam wawancara terbarunya di ajang Gamescom 2014 kemarin, Hideo Kojima mengungkapkan timnya memang sengaja menurunkan kualitas visual Fox Engine di P.T. untuk memastikan proses penyamaran yang lebih sempurna. Bahwa game ini terlihat sebagai sebuah game independen dari developer tanpa nama yang masih hidup dengan budget rendah. Sekarang bayangkan, jika memang klaim ini benar adanya, maka kualitas visual yang dihasilkan Fox Engine di P.T. bukanlah kemampuan penuh yang bisa ia tawarkan. Lantas, visual seperti apa yang bisa ia capai jika dioptimalisasi? Sesuatu yang pantas untuk diantisipasi.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…
May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…

PlayStation

June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…
June 8, 2021 - 0

Preview Guilty Gear Strive: LET’S ROCK!

Nama besar Arc System Works sebagai salah satu developer game…
May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…