Review P.T. : Siap Pipis di Celana!

Reading time:
August 14, 2014

Kesimpulan

P_T JagatPlay
Terlepas dari apakah Anda seorang pecinta film horror atau segerombolan penakut seperti kami, P.T. menjadi sebuah proyek yang tetap menarik untuk dijajal, hanya untuk merasakan atmosfer dan rasa takut seperti apa yang ditawarkan. Hanya untuk memuaskan penasaran, apa jadinya, jika Kojima membuat game horror. Satu yang pasti, P.T. berhasil membuat kami mengantisipasi kegilaan lain seperti apa yang akan ditawarkan bapak Metal Gear Solid ini di seri Silent Hills selanjutnya. Salute!

Sebuah strategi marketing super jenius, pujian ini memang pantas dilayangkan untuk P.T. dan Hideo Kojima sebagai sang pencipta. Tidak hanya lewat proses unik ini, mereka berhasil menciptakan sebuah skema promosi yang luar biasa untuk seri teranyar Silent Hills, yang terbukti lewat pembicaraan tanpa henti selama 48 jam terakhir artikel ini ditulis, tetapi juga pada fakta mereka tidak sekedar menjadikan P.T. sebagai “tumbal” tanpa makna. Terlepas dari fakta bahwa ia tampil sebagai sebuah proyek lelucon, P.T. tampil begitu meyakinkan dan luar biasa sebagai sebuah game horror, bahkan hadir dengan kualitas di atas rata-rata. Semua jump scare dan atmosfer yang ia tawarkan cukup untuk membuat kami menyerah, dan meminta teman yang jauh lebih berani untuk melanjutkan permainan ini, dengan kami di belakang memperhatikan sembari ditutupi selimut. Pecundang? Mungkin, but worth it!

Implementasi Fox Engine juga menjadi salah satu catatan yang pantas untuk diapresiasi dari P.T. ini. Ia menjadi proyek perdana yang membuktikan seberapa mumpuninya engine terbaru Hideo Kojima ini ketika dilemparkan ke dalam sebuah game yang memang lebih berfokus pada pengalaman in-door. Kualitas fotorealistis yang selama ini diklaim tidak lagi terlihat sebagai sebuah omong kosong gimmick belaka, dan sesuatu yang bisa dicapai jika Konami memang serius untuk mengimplementasikannya. Sayangnya, terlepas dari semua kualitas luar biasa yang ia tawarkan, P.T. juga hadir dengan satu masalah klasik game horror yang mulai terasa di bagian terakhir permainan – tingkat kesulitan. Ketika game horror terlalu sulit dan memaksa Anda untuk secara konsisten mengulang dan bertahan di tempat yang sama terus-menerus, daya magis elemen horror yang ia tawarkan secara otomatis hilang. Tangisan bayi, teriakan tidak jelas dari radio, atau sekedar bisikan-bisikan satanic mulai terasa seperti kebisingan yang mengganggu. Sebuah game horror sudah seharusnya membuat takut, dan bukannya frustrasi karena Anda sekedar tidak bisa menemukan kepingan puzzle yang terakhir, misalnya. Hint yang muncul dalam periode tertentu akan menjadi solusi terbaik untuk membuat P.T. tampil lebih manis.

Disebut sebagai sebuah teaser interaktif, namun berakhir sebagai sebuah game horror berdurasi pendek yang siap untuk membuat Anda pipis di celana secara instan, P.T. adalah sebuah konsep baru yang pantas untuk didukung di masa depan. Dimana game diperkenalkan sebuah game kecil interaktif yang menyenangkan dan cuma-cuma, tidak lagi sekedar screenshot dan trailer yang seringkali berujung tidak sesuai dengan produk final yang ditawarkan. Terlepas dari apakah Anda seorang pecinta film horror atau segerombolan penakut seperti kami, P.T. menjadi sebuah proyek yang tetap menarik untuk dijajal, hanya untuk merasakan atmosfer dan rasa takut seperti apa yang ditawarkan. Hanya untuk memuaskan penasaran, apa jadinya, jika Kojima membuat game horror. Satu yang pasti, P.T. berhasil membuat kami mengantisipasi kegilaan lain seperti apa yang akan ditawarkan bapak Metal Gear Solid ini di seri Silent Hills selanjutnya. Salute!

RAW SCREENSHOT

PS: Klik Gambar untuk Memperbesar! 

P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay P_T JagatPlay
Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…
May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…

PlayStation

June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…
June 8, 2021 - 0

Preview Guilty Gear Strive: LET’S ROCK!

Nama besar Arc System Works sebagai salah satu developer game…
May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…