Review Dying Light: Mencoba Lari Dari Kematian!
Dead Island yang “Berbeda”

Secara mekanik gameplay, Dying Light sebenarnya mengusung inti yang tidak banyak berbeda dengan Dead Island. Anda masih akan berhadapan dengan sebuah game action dari kacamata orang pertama dengan dunia terbuka untuk dieksplorasi. Anda bisa menemukan beragam objek yang bisa dijadikan sebagai bahan crafting atau justru senjata untuk digunakan melawan para zombie yang ada. Tentu saja, ada segudang side mission yang bisa Anda picu dengan berbicara pada NPC tertentu untuk reward yang sepadan. Mekanik sisi aksinya memang harus diakui serupa dengan proyek Techland sebelumnya ini, namun bukan berarti, Dying Light adalah sekedar game sama dengan nama yang berbeda. Ada banyak inovasi yang membuatnya unik dan tentu saja, pantas untuk diacungi jempol.


Salah satu yang membuat Dying Light tampil berbeda tentu saja mengakar pada kemampuan sang karakter utama – Crane untuk melakukan parkour. Tidak lagi sekedar bergerak di jalanan, Anda punya akses yang lebih luas untuk setiap bidang vertikal yang bisa Anda panjat. Dengan mekanisme kontrol yang sederhana, Anda bisa berlari, melompat, dan menaiki setiap dari mereka, menawarkan mobilisasi yang lebih efektif. Tidak hanya sekedar untuk bergerak cepat dari satu titik ke titik lainnya, ketinggian juga memungkinkan Anda untuk mengeksplorasi Harran dengan resiko yang lebih minim. Mengapa? Karena sebagian besar zombie yang Anda temui memang tidak bisa memanjat, sehingga ia bisa digunakan untuk kepentingan strategis tertentu.


Sebagian besar? Benar sekali, mayat-mayat hidup ini bukanlah satu-satunya yang menjadi ancaman yang harus Anda taklukkan. Dying Light menawarkan banyak varian kelas zombie lainnya yang punya efek serangan berbeda-berbeda dan tentu saja lebih mengancam. Mereka menyebutnya sebagai Virals. Anda akan berhadapan dengan Toads yang akan meludahi Anda dengan cairan asam, atau Demolishers yang tampil tanky dengan senjata beratnya yang mematikan. Atau Anda bisa saja “sekedar” bertemu dengan Runners – varian zombie yang bisa berlari cepat dan bertempur secara efektif dalam jumlah kecil. Namun zombie bukanlah satu-satunya hal yang harus Anda takuti, karena di tengah kekacauan seperti inipun, selalu ada manusia dengan agenda yang bertolak belakang dengan apa yang ingin Anda perjuangkan.


Selain bertarung dengan para mayat hidup ini, Anda juga harus berhadapan dengan para Bandits. Bertempur melawan para zombie tentu berbeda dengan manusia yang masih punya kesadaran seperti ini. Para bandits bergerak lebih cepat, dengan kemampuan untuk menyerang beruntun dan damage yang cukup besar karena senjata yang mereka miliki. Parahnya lagi? Mereka juga cukup cepat dan pintar untuk menghindari serangan Anda atau bahkan menahannya. Pertempuran dengan setiap bandit secara frontal akan menguras stamina. Tapi ingat pula, Anda juga selalu punya alternatif brutal untuk menyelesaikan masalah seperti ini, seperti lemparan molotov untuk memanggang mereka hidup-hidup atau bahkan senjata api untuk pertempuran yang lebih cepat. Dying Light memang menawarkan kesempatan untuk menjadikan senapan mesin atau pistol sebagai ujung tombak untuk menundukkan ancaman yang ada, namun terasa kurang efektif karena resource peluru yang terbatas. Seperti halnya, Dead Island, ia masih berkisar pada serangan melee dan merangkai senjata yang lebih mematikan.
Mempersiapkan Diri

Ini mungkin terdengar begitu jahat, namun masalah yang terjadi di Harran ternyata adalah gudang “penghasilan” untuk Anda. Ada segudang side mission yang bisa Anda selesaikan di sini, selain tentu saja – misi utama untuk memicu progress cerita. Cukup berbicara dengan NPC yang memuat tanda seru di peta kecil yang ada, Anda akan dibekali dengan ragam pekerjaan yang biasanya berkisar pada permintaan untuk bergerak dari titik A dan B, mengumpulkan objek tertentu, dan kembali. Reward yang diberikan oleh beragam side mission ini membuatnya sulit untuk ditolak.
Selain terkadang senjata yang lebih baik, setiap side mission ini akan memberikan Anda ekstra experience points untuk menaikkan level. Di sinilah Dying Light tampil cukup unik. Berbeda dengan game action serupa yang menyisipkan elemen RPG lewat sistem experience points dan kenaikan level yang sederhana, Dying Lights menerapkan mekanisme yang serupa dengan Skyrim. Skill terbagi menjadi tiga bagian sama besar: Survival, Agility, dan Power yang masing-masing memuat cabang ekstra kekuatan baru atau status sesuai dengan namanya.


Experience Points untuk Survival hanya bisa didapatkan lewat serangkaian misi yang ada, sampingan atau utama. Sementara level Agility atau Power akan naik seiring dengan aktivitas Anda, layaknya Skyrim. Sering melakukan parkour? Experience points akan terus didistribusikan ke kolam agility Anda. Atau Anda lebih sering bertempur secara terbuka? Maka level Power Anda yang akan disupply kepingan experience points secara konsisten. Semakin sering Anda melakukan aktivitas tertentu, semakin Anda menguasainya. Konsep yang pantas untuk diacungi jempol.



Side mission boleh dibilang hanyalah secuil alasan mengapa Anda akan tertarik untuk mengeksplorasi setiap sudut Harran. Pada akhirnya, semua kesibukan ini akan berakhir untuk satu tujuan yang sama – mempersiapkan diri dari beragam ancaman yang akan dihadapi. Ada segudang resource yang bisa Anda kumpulkan di kota ini, dari sekedar tempat sampah hingga sudut rumah yang terbuka untuk dijarah. Setiap resource ini bisa digunakan untuk dua hal – yang tidak penting bisa berakhir menjadi uang untuk membeli senjata atau resource yang lebih baik dari para merchant, sementara yang penting akan berakhir menjadi bahan crafting. Benar sekali, dengan mengumpulkan resource dalam jumlah tertentu, disertai dengan blueprints yang berhasil Anda kumpulkan, Anda bisa membangun item dan senjata yang lebih baik.


Ini menjadi hal yang super esensial untuk memastikan Anda bisa bertahan hidup di tengah horrornya Harran itu sendiri. Crafting adalah pintu gerbang utama untuk menciptakan senjata yang lebih baik, dari sekedar molotov untuk efek area serangan efek yang lebih luas hingga kombinasi senjata mematikan dengan ekstra damage dan elemen di dalamnya. Ambisi untuk mendapatkan senjata yang lebih kuat juga membuat setiap menit eksplorasi yang Anda lakukan punya potensi untuk terbayar manis. Apalagi mengingat setiap senjata yang Anda miliki memiliki daya tahannya sendiri. Anda hanya bisa memperbaiki senjata hingga batas jumlah tertentu sebelum terpaksa membuangnya karena tidak lagi efektif. Satu yang pasti di benak Anda ketika hal ini terjadi? Memastikan bahwa senjata cadangan Anda selalu tersedia, jika tidak, lebih kuat daripada yang sebelumnya.

Dipadukan dengan skill yang bisa Anda dapatkan dari kenaikan level, Dying Light akan terasa semakin mudah seiring dengan progress perkembangan karakter Anda. Di awal ia mungkin terasa seperti game survival horror yang merepotkan, namun sensasi ini akan memudar begitu lebih banyak blueprint senjata dan skill yang terbuka. Beberapa skill memungkinkan Anda melakukan tendangan dua kaki untuk damage besar tanpa harus mengorbankan durabilitas senjata, membuat senjata Anda lebih tahan lama, atau bahkan memperbesar kemungkinan Anda bisa memperbaiki senjata Anda tanpa perlu mengorbankan limit repair yang ada. Dipadukan dengan senjata berdamage besar? Zombie bukan lagi tantangan yang perlu Anda khwatirkan.










