Review Dying Light: Mencoba Lari Dari Kematian!

Reading time:
February 12, 2015

Kesimpulan

Dying Light jagatplay part 2 (4)
Dying Light memenuhi semua janji yang ia tawarkan selama beberapa bulan terakhir ini. Ia hadir sebagai sebuah game post-apocalyptic yang menyenangkan, cukup inovatif, berbeda, dan tentu saja – seru di saat yang sama. Ia tampil sebagai sebuah paket game yang siap untuk menyita perhatian Anda untuk waktu yang cukup lama.

Terlepas dari rasa pesimis yang cukup kuat bahwa industri game masih bisa menggali sesuatu yang baru dari genre zombie yang kian usang, Dying Light melemparkan bukti sebaliknya. Kombinasi gameplay ala Dead Island dan Parkour ala Mirror’s Edge menghasilkan pengalaman open world post-apocalypse yang cukup unik, dan yang pastinya seru. Ada kesenangan tersendiri, bergerak cepat dari satu bangunan ke bangunan lainnya, berburu resource, menyelesaikan ragam side quest yang ada, sembari memastikan Anda dibekali dengan ragam senjata unik dan kuat untuk memastikan probabilitas lebih tinggi ketika berujuang bertahan hidup. Namun tidak hanya elemen action. Dying Light juga terhitung berhasil menyematkan sensasi horror yang cukup kentara ketika malam tiba, dimana Anda akan diburu dengan kesempatan kecil untuk melawan balik. Kombinasi semua elemen ini melahirkan sensasi game zombie terbaik yang pernah kami temukan.

Namun tentu saja, ada beberapa catatan yang pantas diarahkan untuk proyek teranyar Techland ini. Salah satu yang masih terasa cukup mengganggu adalah limitasi di sistem kamera yang terkadang sulit untuk mengkomodasi gerakan parkour yang Anda butuhkan, apalagi jika level yang harus Anda lewati benar-benar berbentuk vertikal ke atas, seperti memanjat tower atau menara jembatan di salah satu misi sampingan yang ada. Hal mengecewakan lain adalah tidak adanya sistem fast travel, yang memaksa Anda benar-benar harus berlari dari satu titik ke titik lain. Ini bukan masalah soal bagaimana kita terbiasa dimanjakan dengan fitur ini, namun absennya fast travel membuat back tracking misi-misi lawas jadi kerepotan tersendiri. Mengapa? Karena sebagian besar misi sampingan terletak di area dekat dengan misi utama yang ada. Jadi jika Anda bersikukuh untuk menyelesaikan misi utama terlebih dahulu dan baru menyelesaikan misi sampingan ketika bosan, misalnya, Anda akan berlari kesana-kemari hanya untuk tiba di lokasi tertentu.

Namun terlepas dari kekurangan tersebut, Dying Light memenuhi semua janji yang ia tawarkan selama beberapa bulan terakhir ini. Ia hadir sebagai sebuah game post-apocalyptic yang menyenangkan, cukup inovatif, berbeda, dan tentu saja – seru di saat yang sama. Ia tampil sebagai sebuah paket game yang siap untuk menyita perhatian Anda untuk waktu yang cukup lama.

Kelebihan

 

Lighting yang memukau!
Anda akan bersenang-senang dengan game yang satu ini!
  • Visualisasi apik
  • Cerita yang cukup mengundang rasa penasaran
  • Parkour menawarkan sensasi yang berbeda
  • Beragam resource dan senjata yang bisa dikumpulkan / dibuat
  • Efek malam yang memang terasa mencekam
  • Multiplayer yang cukup menyenangkan
  • Sistem level dan skill sesuai dengan frekuensi aktivitas Anda
  • Gore content!

Kekurangan

Sayangnya, di beberapa titik - kamera menjadi sumber frustrasi tersendiri.
Sayangnya, di beberapa titik – kamera menjadi sumber frustrasi tersendiri.
  • Sistem kamera yang terkadang menyebalkan
  • Tidak ada sistem fast travel

Cocok untuk gamer: pecinta Dead Island atau Mirror’s Edge, yang senang dengan konsep post-apocalyptic

Tidak cocok untuk gamer: yang mudah pusing dengan kacamata orang pertama – bahkan di game FPS sekalipun

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
November 29, 2024 - 0

Palworld Dan Terraria Crossover Event Akan Hadir Pada 2025

Palworld dan Terraria umumkan event crossover yang akan digelar pada…

PlayStation

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
December 7, 2024 - 0

Preview Infinity Nikki: Game Indah Di Mana Baju Adalah Pedangmu

Kesan pertama kami setelah memainkan Infinity Nikki selama beberapa jam;…

Nintendo

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 30, 2025 - 0

Review Nintendo Switch 2: Upgrade Terbaik Untuk Console Terlaris Nintendo

Nintendo Switch 2 merupakan upgrade positif yang telah lama ditunggu…
July 28, 2023 - 0

Review Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Tak Sesempurna yang Dibicarakan!

Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang tak sesempurna yang dibicarakan…
May 19, 2023 - 0

Preview Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Kian Menggila dengan Logika!

Apa yang ditawarkan oleh Legend of Zelda: Tears of the…