Review Everybody’s Gone to the Rapture: Indah, Tenang, Misterius!

Reading time:
August 14, 2015

Menarik dan Membosankan di Saat yang Sama!

Detail visual yang ia tawarkan memang pantas untuk diacungi jempol.
Detail visual yang ia tawarkan memang pantas untuk diacungi jempol.

Sub-judul di atas mungkin langsung  akan membuat banyak dari Anda bertanya-tanya. Bagaimana mungkin sebuah game mampu tampil menarik tetapi juga membosankan di saat yang sama? Namun sensasi inilah yang kami rasakan ketika mencicipi Everybody’s Gone to the Rapture ini. Secara dasar, game ini sebenarnya tampil memesona dari beragam aspek. Visualisasi via CryEngine menawarkan detail kota yang memanjakan mata, lengkap dengan efek cuaca dan cahaya yang pantas untuk diacungi jempol. Apalagi Anda juga ditemani dengan alunan musik yang siap untuk membuat atmosfernya kian misterius dan menggugah di saat yang sama. Presentasi di permukaan Everybody’s Gone to the Rapture adalah salah satu yang terbaik. Namun sayangnya, tidak didukung dengan gameplay yang mumpuni.

Ia juga diperkuat dengan efek cahaya dan cuaca yang terasa dramatis.
Ia juga diperkuat dengan efek cahaya dan cuaca yang terasa dramatis.
Seperti game berbasis narasi lain ala Gone Home atau Her Story, Anda punya satu misi - mencari apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Seperti game berbasis narasi lain ala Gone Home atau Her Story, Anda punya satu misi – mencari apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Konsep sebuah game yang berfokus pada narasi dan hanya punya satu tujuan – memancing rasa penasaran Anda untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi bukanlah hal baru di industri game, apalagi setelah penerimaan positif dari proyek developer indie sejenis di masa lalu. Game seperti Gone Home dan Her Story mendulang publisitas yang positif berkat konsep gameplay yang minim interaktivitas seperti ini. Everybody’s Gone to the Rapture boleh terbilang berusaha menawarkan hal yang sama. Game ini berfokus pada mencari jawaban atas misteri apa yang tengah terjadi dan mengapa semua orang menghilang.

Sumber informasi bisa datang dari titik cahaya yang jika di-interaksi, akan mereka ulang memori mereka yang sempat tinggal di Yaughton. Beberapa karakter diperkenalkan dari satu chapter ke chapter lain, dengan konflik dan drama yang personal dan cukup menarik.
Sumber informasi bisa datang dari titik cahaya yang jika di-interaksi, akan mereka ulang memori mereka yang sempat tinggal di Yaughton. Beberapa karakter diperkenalkan dari satu chapter ke chapter lain, dengan konflik dan drama yang personal dan cukup menarik.
Radio dan telepon juga bisa jadi sumber clue yang tak kalah penting. Anda harus memasang telinga Anda tajam-tajam untuk menentukan lokasi mereka.
Radio dan telepon juga bisa jadi sumber clue yang tak kalah penting. Anda harus memasang telinga Anda tajam-tajam untuk menentukan lokasi mereka.

Jawaban tersebut bisa Anda temukan lewat beragam cara. Anda tidak akan menemukan NPC siapapun di sini. Sumber informasi utama mengakar dari titik cahaya yang bisa Anda temukan di tengah perjalanan, yang ketika berinteraksi, akan mereka ulang sebuah adegan personal antara beberapa karakter utama yang ada. Tidak ada visual yang jelas, hanya postur tubuh dan voice acts yang keren untuk membantu setiap bagian adegan ini terasa hidup., Pada awalnya ia akan terasa membingungkan, namun lambat laun, ketika lebih banyak adegan berhasil Anda picu, Anda akan membangun kedekatan emosional tersendiri, sembari menyusun logika dan pemahaman lebih baik soal apa yang sebenarnya terjadi di kota ini. Informasi lain juga bisa berasal dari suara Radio atau Telepon yang biasanya memuat suara dua karakter misterius – Stephen dan Kate yang tampaknya jadi tulang punggung narasi. Telinga Anda harus tetap siaga untuk menangkap clue suara agar tidak ada sumber informasi yang terlewatkan begitu saja. Namun sayangnya, ia tidak berakhir sefantastis yang dibayangkan.

This is the real
This is the real “Walking Simulator”!
Berbeda dengan Gone Home atau Her Story yang singkat, padat, jelas, aktivitas berjalan dari satu titik ke titik lainnya di game ini seringkali terasa melelahkan, apalagi dengan hasil yang terkadang tidak sebanding.
Berbeda dengan Gone Home atau Her Story yang singkat, padat, jelas, aktivitas berjalan dari satu titik ke titik lainnya di game ini seringkali terasa melelahkan, apalagi dengan hasil yang terkadang tidak sebanding.
Mari berjalan, berjalan, berjalan, berjalan, berjalan, dan berjalan.
Mari berjalan, berjalan, berjalan, berjalan, berjalan, dan berjalan.

Mengapa? Karena ia terasa bertele-tele. Jika ada satu game yang pantas dijadikan lelucon sebagai “Walking Simulator”, maka Everybody’s Gone to the Rapture memenuhi semua kategori tersebut. Untuk bisa beralih dari satu informasi ke informasi lainnya, Anda harus berjalan cukup jauh, membuang waktu yang tidak punya pengaruh apapun pada plot, dengan kecepatan gerak yang rendah pula. Melakukan hal yang sama seperti ini selama 4-5 jam berturut-turut akan terasa melelahkan, walaupun ia menawarkan kesempatan untuk menikmati Yaughton yang terlihat indah dengan lebih maksimal. Konsep seperti ini bisa berhasil di Her Story dan Gone Home karena mereka tidak menawarkan omong kosong yang serupa. Baik Her Story ataupun Gone Home langsung memotong semua hal remeh-temeh dan berfokus pada usaha untuk menawarkan Anda kepingan cerita, cepat, dari satu potong ke potongan lainnya, memaksa otak Anda bekerja langsung. Tidak ada berjalan terlalu lama untuk sebuah reward yang terasa tidak pantas, seperti yang dilakukan Everybody’s Gone to the Rapture ini.

Satu yang pasti, game ini tetap akan membuat rasa penasaran Anda terpicu untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Satu yang pasti, game ini tetap akan membuat rasa penasaran Anda terpicu untuk mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Walaupun demikian, untuk sebuah game berbasis narasi, Everybody’s Gone to the Rapture melakukan tugas sangat baik untuk memancing rasa penasaran Anda dengan maksimal sejak Anda memulainya. Anda akan selalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dan berusaha memenuhi “lubang” cerita karena absennya informasi yang ada dengan teori Anda sendiri. Apakah ini semua memang ulah Tuhan seperti yang tercantum di dalam Agama? Alien? Penyakit yang berbahaya? Atau memang entitas misterius yang belum pernah ada sebelumnya? Setiap penduduk mengeluhkan bagaimana hidung mereka tiba-tiba berdarah, kepala tiba-tiba pusing, sapi mereka mati, burung yang biasa terbang di langit mereka tiba-tiba jatuh ke tanah, dan orang tua menghilang begitu saja.

Tidak untuk Semua Orang

Dengan semua daya tarik yang ia tawarkan, game ini masih terasa
Dengan semua daya tarik yang ia tawarkan, game ini masih terasa “niche” bahkan untuk gamer yang suka dengan konsep seperti ini sekalipun.

Dengan semua konsep yang hendak ia tawarkan, terutama dari sisi gameplay, menjadi sesuatu yang jelas rasanya bahwa Everybody’s Gone to the Rapture memang tidak didesain untuk menarik perhatian secara luas. Ia adalah sebuah game dengan pasar yang terhitung sangat “niche” dan tidak mudah untuk dinikmati begitu saja. Bahkan gamer niche sekalipun belum tentu bisa menikmatinya karena beberapa kelemahan yang ia perlihatkan.

Untuk gamer yang mencintai pendekatan seperti Gone Home atau Her Story yang langsung membawa Anda dari satu cerita ke cerita lainnya, meminta Anda menarik kesimpulan secara cepat, Everybody’s Gone to the Rapture akan terasa begitu lambat karena ekstra berjalan yang harus Anda lewati dari satu titik ke titik lainnya, dengan reward ekstra kepingan puzzle yang terkadang terasa tidak terlalu berharga. Konsep dasarnya memang sama, namun eksekusinya tidak lebih baik dari kedua judul pertama yang kami sebutkan di atas.

Untuk gamer yang mencintai Gone Home atau Her Story, ia terasa bertele-tele.
Untuk gamer yang mencintai Gone Home atau Her Story, ia terasa bertele-tele.
Untuk mereka yang mencintai Heavy Rain atau The Walking Dead, ia minim interaktivitas, pilihan, dan kebebasan.
Untuk mereka yang mencintai Heavy Rain atau The Walking Dead, ia minim interaktivitas, pilihan, dan kebebasan.
Untuk para penikmati film dengan plot-twist pun, konklusi tak pasti bisa jadi masalah tersendiri.
Untuk para penikmati film dengan plot-twist pun, konklusi tak pasti bisa jadi masalah tersendiri.

Sementara gamer yang lebih mencintai pendekatan narasi seperti Heavy Rain atau The Walking Dead dari Telltale yang juga menjual cerita, Everybody’s Gone to the Rapture minim interaktivitas dan kebebasan untuk mengubah arah gerak cerita dan respon dari karakter yang ada. Hal-hal yang bisa Anda picu di dunia game ini hanyalah beberapa switch lampu untuk ekstra penerangan dan titik cahaya misterius untuk membuka tabis misteri reka ulang yang akan memperkenalkan lebih banyak latar belakang cerita yang ada. Tidak banyak hal yang bisa Anda lakukan di Youghton, itu yang pasti.

Pertanyaan  berikutnya, apakah game ini akan cocok untuk gamer yang sekaligus mencintai film-film layar lebar penuh misteri dan tanda tanya? Kami sendiri tidak bisa memastikan bahwa Anda akan menikmati Everybody’s Gone to the Rapture secara penuh jika Anda masuk ke dalam kategori yang satu ini. Mengapa? Karena ini akan sangat bergantung apakah Anda termasuk penikmat misteri yang senang dengan kesimpulan yang pasti atau justru lebih mengundang banyak tanda tanya. Karena jika Anda benci keluar dari studio bioskop dengan otak yang terus bertanya, “Itu ending tadi maksudnya apa ya?”, maka Anda sebaiknya menjauhi Everybody’s Gone to the Rapture ini.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

January 20, 2023 - 0

Review A Space for the Unbound: Standar Tertinggi Game Indonesia Saat Ini!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh A Space for the Unbound?…
October 18, 2022 - 0

Review Uncharted Legacy of Thieves (PC): Drake Pindah Rumah!

Seperti apa performa dan fitur yang ditawarkan oleh Uncharted Legacy…
September 23, 2022 - 0

Review IMMORTALITY: Misteri Dalam Misteri Dalam Misteri!

Apa yang sebenarnya  ditawarkan oleh IMMORTALITY? Mengapa kami menyebutnya game…
August 19, 2022 - 0

Review Cult of the Lamb: Menyembah Setan Sambil Bertani!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Cult of the Lamb ini?…

PlayStation

January 30, 2023 - 0

Review Dead Space Remake: Isak Tangis di Luar Angkasa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Dead Space Remake ini? Apa…
December 22, 2022 - 0

Review Crisis Core – Final Fantasy VII Reunion: Reunian dengan Muka Baru!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Crisis Core – Final Fantasy…
December 8, 2022 - 0

Review Star Ocean – The Divine Force: Bukan Melesat, Malah Meleset!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Star Ocean: The Divine Force?…
December 7, 2022 - 0

Review The Callisto Protocol: Permulaan yang Menjanjikan!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh The Callisto Protocol ini? Mengapa…

Nintendo

November 2, 2022 - 0

Review Bayonetta 3: Tak Cukup Satu Tante!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Bayonetta 3? Mengapa kami menyebutnya…
September 21, 2022 - 0

Review Xenoblade Chronicles 3: Salah Satu JRPG Terbaik Sepanjang Masa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…