Review Until Dawn: Ketika Mati Adalah Pilihan!

Reading time:
September 4, 2015

Kustomisasi Rasa Takut?

Selamat datang di kantor Dr. Phil-yang-entah-fungsinya-apa-di-dalam-game
Selamat datang di kantor Dr. Alan-yang-entah-fungsinya-apa-di-dalam-game-Hill

Pernahkah Anda membayangkan sebuah game horror yang beradaptasi pada sumber ketakutan terbesar Anda? Apa yang tidak bisa membuat Anda tidur dan terus teringat di tengah malam menjadi sesuatu yang terus mengejar Anda di game horror yang tengah Anda mainkan? Setidaknya kesan pertama inilah yang meluncur dari Until Dawn. Lupakan sementara sosok Dr. Hill yang ternyata berujung tidak relevan sama sekali dan tidak berkontribusi apapun pada pentingnya cerita Until Dawn itu sendiri, karena harapan tersebut ternyata berakhir palsu.

Dr. Phil secara terbuka akan meminta Anda memilih faktor yang paling membuat Anda takut. Beralasan kuat rasanya jika Anda mengantisipasi pilihan tersebut akan diimplementasikan ke dalam gameplay.
Dr. Hill secara terbuka akan meminta Anda memilih faktor yang paling membuat Anda takut. Beralasan kuat rasanya jika Anda mengantisipasi pilihan tersebut akan diimplementasikan ke dalam gameplay.
Namun jangan berharap banyak. Walaupun kami sudah terang-terangan memilih
Namun jangan berharap banyak. Walaupun kami sudah terang-terangan memilih “Scarecrow” sebagai bentuk paling menakutkan, sang psikopat tetap bertopeng badut.

Sejak awal permainan, di meja Dr. Hill,  Anda akan diminta untuk memilih satu di antara dua opsi yang ada, dengan beragam pertanyaan yang berkisar pada sumber ketakutan terbesar Anda, seolah game ini tengah berusaha memahami kondisi psikologis Anda. Apakah Anda lebih takut dengan laba-laba atau kecoak? Apakah Anda lebih takut dengan badut atau orang-orangan sawah? Atau bagaimana sebuah gambar memicu emosi tertentu di dalam tubuh Anda? Dengan begitu banyaknya pertanyaan yang muncul, ada kesan kuat seolah Until Dawn ini berusaha menawarkan pengalaman horror yang lebih maksimal dengan beradaptasi dengan apa yang siap untuk membuat Anda tidak berani memenjamkan mata di kala malam.  Sayangnya, pilihan-pilihan ternyata hanya berakhir omong kosong saja.

Lantas apa fungsinya? Percaya atau tidak, hanya memodifikasi tampilan kantor Dr. Phil, itu saja.
Lantas apa fungsinya? Percaya atau tidak, hanya memodifikasi tampilan kantor Dr. Hill, itu saja.

 

Terlepas dari pilihan apapun yang Anda ambil, cerita yang Anda lalui di Until Dawn tidak akan terpengaruh sama sekali. Ketakutan Anda yang besar pada orang-orangan sawah, misalnya, tidak lantas akan membuat dandanan sang pembunuh psikopat yang dari awal menggunakan topeng badut, serta-merta berubah menjadi orang-orangan sawah, misalnya. Lantas, untuk apa semua pilihan ini? Sangat mengecewakan, ia hanya berujung pada perubahan atmosfer kantor Dr. Hill yang Anda singgahi setiap kali peralihan chapter cerita saja. Semua ketakutan yang Anda rasakan sebagian besar akan muncul dari begitu banyaknya momen jump scare yang pada awalnya mungkin  terasa luar biasa, namun semakin repetitif dan monoton semakin lama Anda memainkannya.

Kesimpulan

Until Dawn™_20150827205733
Bagaimana jika Anda termasuk gamer yang penakut dan tidak suka dengan genre horror? Tenang saja, Anda hanya butuh membiasakan diri dengan jump scare yang ada. Jika kami berani mencicipinya, Anda juga pasti bisa.

Jadi apa yang bisa disimpulkan dari Until Dawn? Sebagai sebuah game interactive story, ia memang pantas untuk diacungi jempol. Di atas tema unik khas film slasher yang boleh dibilang, jarang dieksplorasi di genre ini, Until Dawn menawarkan sesuatu yang terasa menyegarkan dan baru di saat yang sama. Dari sisi gameplay, konsekuensi dari pilihan termasuk kematian, penggunaan DualShock 4 yang inovatif, hingga kesempatan untuk tidak memilih respon ketika dilemparkan ke depan Anda menjadi nilai jual paling utama. Pilihan untuk menyertakan karakter klise khas film slasher juga berujung tidak terlalu mengecewakan dan membuat setiap karakter terasa unik dan punya “nilai jual”-nya tersendiri. Dipadukan dengan kualitas visual memesona dan detail wajah tiap karakter yang dibangun dengan manis, Until Dawn terasa sebagai sebuah judul game baru yang solid. Apalagi dengan semua pilihan tersebut, selalu ada celah replayability yang menarik untuk dieksplorasi.

Bukan berarti Until Dawn datang tanpa kekurangan. Caranya menangani kematian menjadi catatan tersendiri yang sebenarnya masih bisa jauh lebih disempurnakan lagi. Namun, catatan terbesar kami mungkin ada pada jalinan plot yang ia tawarkan. Di awal, ia mengesankan sebuah film slasher dimana Anda berperan sebagai sang korban. Si penulis cerita seolah merasa bahwa ini tidak akan cukup unik dan berbeda dengan kebanyakan proyek serupa di luar, dan berakhir menambahkan satu lapisan demi lapisan untuk cerita Until Dawn sendiri, seolah melebur banyak film horror di dalam satu ruang yang sama. Unik dan membuat penasaran memang, namun di sisi lain, terasa tidak fokus dan begitu dipaksakan dengan semata-mata untuk “Twist” belaka.

Until Dawn menjadi sebuah game eksklusif Playstation 4 yang menarik untuk dimiliki, apalagi jika Anda termasuk gamer yang mencintai atmosfer sebuah film slasher atau horror. Ia juga akan terasa menarik untuk Anda yang suka dengan game yang memberikan keleluasaan bagi Anda untuk merangkai cerita Anda sendiri, lewat respon dan konsekuensi yang bisa timbul darinya. Bagaimana jika Anda termasuk gamer yang penakut dan tidak suka dengan genre horror? Tenang saja, Anda hanya butuh membiasakan diri dengan jump scare yang ada. Jika kami berani mencicipinya, Anda juga pasti bisa.

Kelebihan

Anda harus memainkan game ini lebih dari satu kali untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dan mengeksplorasi setiap kemungkinan yang ada.
Anda harus memainkan game ini lebih dari satu kali untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dan mengeksplorasi setiap kemungkinan yang ada.
  • Kualitas visual, terutama detail wajah
  • Atmosfer yang memesona
  • Penggunaan DualShock 4 yang inovatif
  • Fakta bahwa Anda bisa menentukan karakter mana saja yang hidup dan mati
  • Plot yang cukup mengundang rasa penasaran
  • Replayability tinggi
  • Gore yang eksplisit

Kekurangan

Until Dawn seperti berusaha mengungguli apa yang menjadi daya tarik film M. Shyamalan di masa lalu. Twist di dalam twist, di dalam twist. Hingga pada batas, terasa seperti sebuah lelucon.
Until Dawn seperti berusaha mengungguli apa yang menjadi daya tarik film M. Shyamalan di masa lalu. Twist di dalam twist, di dalam twist. Hingga pada batas, terasa seperti sebuah lelucon.
  • Cara menangani kematian yang dangkal
  • Plot yang terasa tidak fokus dan dipaksakan
  • Totem yang tidak banyak membantu
  • Peran Dr. Hill yang tidak jelas

Cocok untuk gamer: yang senang dengan kebebasan memilih garis cerita sendiri, pencinta film slasher

Tidak cocok untuk gamer: yang sakit jantung karena banyaknya jump scare, tidak senang dengan plot yang tidak masuk akal

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…