JagatPlay NgeRacau: Tokoh Wanita dalam Video Game!

Reading time:
October 24, 2015
senran kagura

Pagi guys dan selamat berakhir pekan, setidaknya pas ini artikel lagi ditulis. So, gua bangun pagi dengan suasana yang lumayan girang pagi ini, especially dengan rilis lagu Adele – Hello baru yang menurut gua, amazing gila. Mulai rutinitas dengan nyolong kopi kantor dan mulai browsing apa aja yang terjadi di sosial media dan Reddit, gua menemukan ada satu hal yang kayaknya cukup menarik untuk dibahas di NgeRacau yang udah lama banget kagak dirilis. Akhirnya ada media teknologi cukup gede di Indonesia, yang melalui Community Post-nya, ngebahas soal peran wanita di dalam video game yang memang udah jadi bahan perbincangan hangat di dunia luar, terutama oleh para feminis. Sesuatu yang akhirnya cukup mendorong gua pribadi, untuk mulai angkat suara.

Buat yang mayan enggak tahu, di Barat, perdebatan soal karakter wanita di video game emang sering banget jadi kontroversi. Kaum feminis yang kabarnya berjuang untuk hak-hak wanita sering banget nge-kritik cara pelaku industri game memperlakukan karakter wanita mereka. Sering banget disebut over-sexualized dan enggak pantas, especially kalau pakaian mereka begitu terbuka atau peran mereka dalam video game sebagai Damsel In Distress – yang cuman nunggu buat diselamatin tanpa bisa ngelakuin apapun. Hal sama juga yang bikin Koei Tecmo, misalnya, mikir panjang buat ngerilis Dead or Alive Xtreme 3 di pasar Barat karena udah pasti jadi sasaran kritik. Hal sama juga yang ngebuat Nintendo lebih milih buat ngehapus kostum bikini  di Fatal Frame: Maiden of Black Water waktu sampai di pasar Barat. Fenomena yang unik memang.

Namun untuk pertama kalinya gua ketemu media di Indonesia yang secara terbuka untuk ngobrolin masalah ini, mungkin buat provoke diskusi. Well, izinin gua untuk ngelemparin pendapat pribadi gua soal post tersebut. Karena gua mungkin termasuk salah satu gamer yang enggak pernah berkeberatan dengan desain macam ini, sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan bagi gua pribadi.

Game dan Logika

mgs v phantom pain tgs 20145

 

Gua akan membuka diskusi ini dengan langsung nyadur si sumber, yang linknya akan gua sertain di akhir artikel. Jadi si penulis ngebuka pembahasan soal kehadiran beberapa karakter  wanita yang menurut dia didesain terlalu sensual dan terasa enggak “logis”. Ini adalah quote yang gua copas langsung:

“Kehadiran sosok Quiet dalam game fenomenal Metal Gear Solid V: The Phantom Pain cukup menuai kontroversi. Bagaimana tidak? Dalam beberapa cutscene, Quiet terlihat begitu mengumbar tubuhnya dengan pakaiannya yang minim.

Kebebasan berkreatifitas? Rasanya kalau secara logika, menggunakan pakaian minim di tengah-tengah padang pasir bukanlah hal yang umum. Untuk melindungi dari teriknya sinar matahari, sepantasnya menggunakan pakaian yang tidak ketat, dan menutupi permukaan kulit.

Oke..oke.. Mari kita bicara soal game dan logika.

Sama seperti si penulis ini, gua juga setuju kalau desain game itu harus memang logis. Namun bukan logis dalam pengertian, ia harus bisa ngerefleksiin kondisi di dunia nyata yang kayak diobrolin sama kalimat di atas ini. Gua setuju, game itu harus logis, namun dalam pengertian ia mampu dicerna menurut tema yang ia usung sendiri, baik dari sisi karakter, cerita, ataupun gameplay. Bukan dari dunia nyata.

Jadiin Quiet sebagai contoh utama karakter yang terlalu sensual udah jadi catatan sendiri. Gua enggak ngebantah kalau memang Kojima sengaja ngedevelop karakter ini buat jadi semacam “eye-candy” buat gamer cowok, apalagi ngelihat tindak tanduk sensual Quiet di atas helikopter. Tapi si penulis kayaknya lupa nyatet, kalau ini sebenarnya bisa dihitung sebagai “reaksi” normal. NORMAL?? Tenang, tenang, bagi gua secara desain, logis kok. Kita bicaraiin soal karakter wanita yang ngedevelop perasaan ke karakter utama, tapi enggak pernah punya cara buat ngobrolin langsung perasaannya. Dia gak bisa ngomong, “Boss, kayaknya gua sayang sama lu deh” tanpa bikin si Venom Snake mati. Inget itu? Yups, satu-satunya yang bisa dia lakuin ya nunjukin via bahasa tubuh. Secara desain juga logis, karena semua aksi itu bakal keluar kalau hubungan lu sama Quiet makin tinggi.

Lalu si penulis ngomentarin betapa enggak logisnya sebuah karakter wanita sniper yang pakai bikini doank di padang pasir tanpa nutupin permukaan kulit sama sekali. Ada dua hal yang gua tangkap di sini: Pertama, bisa jadi ini penulis kagak pernah main MGS V: TPP sebelum nulis. Kedua: terlalu fokus sama si Quiet sampai lupa kalau MGS V: TPP itu enggak pernah logis. Karena gamer yang udah main MGS V: TPP tahu jelas apa yang bakalan terjadi sama Quiet kalau dia makai baju tertutup untuk waktu yang lama dari lore yang ada. Dude..dude..dude.. you need to play the game first..

Logis
Logis?
Logis
Logis?
solidus
Logis?
Logis???
Logis???
Nah, ini yang paling enggak logis!
Nope, ini yang dianggap paling enggak logis.

Lalu kita ngebahas soal sosok Quiet yang telanjang di padang pasir yang menurut penulis “Kagak logis”. Ya iyalah kagak logis, wong Metal Gear Solid itu enggak pernah jadi game yang logis kok. Gua agak bingung kenapa yang jadi fokus justru sosok Quietnya sendiri. I mean kita lagi ngobrolin game yang isinya itu: robot raksasa dengan pedang laser, IKAN PAUS API NELEN HELIKOPTER, parasit yang bisa ngebunuh lu lewat suara, dan tangan bionik di tahun 80-an. Kita juga ngomongin franchise sama yang ngenalin lu sama karakter ninja yang bisa nangkis peluru dengan pedang, transplant tangan yang bisa ngambil alih kepribadian (walaupun ada plot twist-nya), robot raksasa yang bisa ngeluncurin nuklir dimanapun, dan presiden Amerika yang bisa berantem pakai suit ala Dr. Octopus. Dan yang lu masalahin logis adalah wanita sniper dengan bikini di padang pasir? C’mon..

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

July 30, 2021 - 0

Review Samurai Warriors 5: Huru-Hara Cabut Nyawa!

Apakah sebuah video game harus menyuntikkan sebuah cerita berat penuh…
July 28, 2021 - 0

Review Scarlet Nexus: Gila Bercampur Seru!

Selama bukan sesuatu yang mereka adaptasikan dari anime populer misalnya,…
June 29, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yoko Taro (NieR Series)!

Menyebutnya sebagai salah satu developer paling eksentrik di industri game…
June 24, 2021 - 0

Preview Scarlet Nexus: Bak Menikmati Anime Aksi Berkualitas!

Komitmen Bandai Namco untuk menawarkan game-game dengan cita rasa anime…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…