Review Assassin’s Creed Syndicate: Solid Tapi Tak Banyak Berbeda!

Reading time:
November 3, 2015

Kejutan! Kejutan! Kejutan!

 

 

 

SPOILERS
JANGAN MEMBACA SESI INI JIKA ANDA BERKEBERATAN DENGAN SPOILER AC: SYNDICATE SETELAH CERITA UTAMA

 

 

Untuk pertama kalinya, sebuah seri AC menawarkan konten ekstra setelah akhir cerita.
Untuk pertama kalinya, sebuah seri AC menawarkan konten ekstra setelah akhir cerita.

Ada satu hal lainnya yang membuat kami jatuh hati dengan AC Syndicate secara instan, sebuah kejutan yang tak pernah kami prediksikan sebelumnya. Anda masih ingat dengan sesi perang dunia kedua di AC Unity yang diperlakukan sebagai kesalahan memori? Sebuah timeline yang lebih maju melawan para Nazi ini tentu tak bisa dilupakan begitu saja. Terlepas dari tema menarik yang ia usung, eksekusi yang dilakukan Ubisoft harus diakui, buruk. Pertama, sebagian besar waktu yang Anda habiskan di timeline menarik ini berakhir hanya sekedar eksplorasi, memanjat, dan beraksi dalam sebuah format yang sangat linear. Kesalahan kedua dan yang paling fatal? Fitur yang bisa jadi kejutan tersebut justru dibuka kepada publik lewat sebuah trailer, menghilangkan charm yang seharusnya bisa semakin membuat Unity terasa luar biasa.

Fakta bahwa Syndicate menawarkannya sebagai konten
Fakta bahwa Syndicate menawarkannya sebagai konten “cuma-cuma” terlepas dari fakta bahwa ia bisa dieksploitasi jadi DLC berbayar pantas diapresiasi.
Misi Victoria berkisar pada usaha untuk menangkal kekuasaan Templar kembali.
Misi Victoria berkisar pada usaha untuk menangkal kekuasaan Templar kembali.

AC Syndicate juga belajar dari kesalahan ini. Berbeda dengan desain misi seri-seri AC sebelumnya yang biasanya berakhir setelah cerita utama selesai, Ubisoft Quebec menawarkan dua varian misi berbeda yang justru baru akan dibuka setelah Anda menyelesaikan cerita utama di AC Syndicate. Pertama adalah misi Queen Victoria. Setelah berhasil membebaskan London dari kekuasan Templar dan mengembalikan kekuasaan monarki ke tangan Victoria, Anda berperan tak ubahnya kekuatan “rahasia” yang diandalkan untuk memastikan kekuatan Templar ini tak kembali dalam waktu dekat. Bertemu dan berinteraksi dengan Queen Victoria secara langsung dan menempuh misi darinya langsung jadi daya tarik tersendiri. Mengapa? Karena kita semua tahu, bahwa di masa lalu, konten “pendek” seperti ini bisa saja mereka jual sebagai DLC.

Ini mungkin jadi momen paling mengejutkan. Tak pernah masuk sebagai bahan promosi, eksplorasi di era perang dunia pertama jadi kejutan yang menyenangkan.
Ini mungkin jadi momen paling mengejutkan. Tak pernah masuk sebagai bahan promosi, eksplorasi di era perang dunia pertama jadi kejutan yang menyenangkan.
Kerennya? Anda tetap berperan sebagai keturunan Frye.
Kerennya? Anda tetap berperan sebagai keturunan Frye.
Berbeda dengan Unity yang linear, konsep ini diaplikasikan dalam sesi open-world kecil di dalam London masa depan itu sendiri.
Berbeda dengan Unity yang linear, konsep ini diaplikasikan dalam sesi open-world kecil di dalam London masa depan itu sendiri.
Lengkap dengan desain dan efek visual dramatisnya sendiri.
Lengkap dengan desain dan efek visual dramatisnya sendiri.

Hal kedualah yang membuat kami terkejut. Mengapa? Karena terlepas dari hype yang berusaha dibangun Ubisoft selama beberapa bulan terakhir, mereka sama sekali tidak pernah membocorkan misi ekstra setelah tamat yang satu ini. Benar sekali, sebuah anomali kini melemparkan Anda ke masa depan, ketika London tengah diserang di Perang Dunia Pertama. Namun berbeda dengan format AC Unity yang bergerak secara linear, Quebec benar-benar menawarkan sebuah porsi London “masa depan” yang bisa Anda eksplorasi dengan sistem misi utama dan sampingan yang serupa. Anda bahkan bisa bertemu dengan Winston Churchill di dalamnya. Kerennya lagi? Bukan karakter asing, Anda berperan sebagai Assassin dari keturunan Frye. Sayangnya, Anda tak bisa menggunakan teknologi yang tersedia di peta seperti mobil / tank yang ada untuk sekedar bersenang-senang.

Surprise!
Surprise!

Dua konten ekstra yang punya nilai jual lebih ini dan berakhir jadi rahasia selama proses marketing tentu saja membuat kami terkejut, sekaligus tak segan melemparkan acungan dua jempol untuk Ubisoft. Pertama, karena ia jadi konten yang bisa diprediksi yang menyempurnakan elemen seri sebelumnya. Kedua? Mereka memutuskan untuk tidak menjadikannya sebagai DLC yang seharusnya jadi praktik “standar” industri saat ini.

 

 

SPOILERS ENDS

 

 

Kesimpulan

AC Syndicate part 2 jagatplay (22)
AC Syndicate tetaplah sebuah seri game open-world yang menarik untuk dinikmati. Ia akan jadi seri solid yang cukup memuaskan para penggemar franchise ini, apalagi jika Anda termasuk yang cukup kecewa dengan Unity tahun lalu. AC Syndicate terlihat belajar banyak dari beragam keluhan yang sempat didengungkan gamer tahun lalu, menyulap, dan mengimplementasikan semua hal yang akan mudah membuat mereka jatuh hati

Jadi apa yang bisa disimpulkan dari Assassin’s Creed Syndicate? Sebuah seri yang solid, ini mungkin kalimat yang paling tepat untuk menggambarkannya. Ia menawarkan banyak hal yang baru terutama dari mekanik gameplay yang ditawarkan hingga side mission yang lebih menonjolkan kualitas daripada kuantitas. Namun pada akhirnya, ia tak berakhir menawarkan sesuatu yang berbeda secara signifikan. Secara inti, AC Syndicate tetaplah sebuah seri Assassin’s Creed yang selama ini Anda kenal, yang menjual desain open-world yang serupa namun kali ini dengan kombinasi elemen yang lebih tepat. Minim masalah teknis, Quebec belajar banyak dari blunder yang dilakukan Unity. Semua keunggulan tersebut dikombinasikan dengan desain kota London yang memanjakan mata.

Walaupun demikian, bukan berarti game ini hadir tanpa kekurangan. Permasalahan pertama, seperti yang sempat kami sebut di atas, adalah tema cerita futuristik melibatkan First Civilization yang sudah terkesan dipaksakan dan tak lagi menarik. Abstergo, Templar, dan Juno tak bisa lagi memancing rasa penasaran seperti ketika Desmond masih eksis di masa lalu.

Keluhan kedua yang pantas untuk dicatat juga adalah ilusi NPC yang justru semakin parah dibandingkan Unity. Kita tidak tengah membicarakan masalah pop-up dan segalanya, tetapi fakta bahwa mereka “menolak” untuk bereaksi atas apapun aktivitas yang Anda lakukan. Membunuh seorang anggota gang lawan atau polisi di keramaian? Anda akan lebih banyak menemukan NPC yang sekedar diam. Catatan ketiga juga mengakar pada AI musuh yang sama bodohnya. Bahkan ketika aksi Stealth Anda ketahuan dan Anda sudah bertarung secara terbuka, sering kejadian bahwa AI-AI di sekitar terlihat seperti tak acuh dan tak melemparkan reaksi apapun untuk mengepung atau menyerang Anda. Hasilnya? Setiap aksi jadi minim resiko.

Namun terlepas dari catatan tersebut, AC Syndicate tetaplah sebuah seri game open-world yang menarik untuk dinikmati. Ia akan jadi seri solid yang cukup memuaskan para penggemar franchise ini, apalagi jika Anda termasuk yang cukup kecewa dengan Unity tahun lalu. AC Syndicate terlihat belajar banyak dari beragam keluhan yang sempat didengungkan gamer tahun lalu, menyulap, dan mengimplementasikan semua hal yang akan mudah membuat mereka jatuh hati. AC Syndicate adalah sebuah proyek game yang bagus dan menarik. Namun revolusioner dalam arti mengubah daya tarik Assassin’s Creed yang selama ini kita kenal? Belum sampai kesana.

Kelebihan

m6go9j
4 Man Finisher!!
  • Kota London yang Indah
  • Karakter yang cukup menarik
  • Desain side mission yang jauh lebih baik
  • Minim masalah teknis
  • Sensasi berkendara yang nyaman
  • Banyak karakter pendukung yang lebih ikonik
  • Animasi gerak dan serangan yang ciamik

Kelemahan

AC Syndicate part 2 jagatplay (12)
AI musuh yang semakin tolol
  • Cerita First Civilization yang mulai terasa seperti omong kosong
  • NPC penduduk yang tak reaktif pada aksi kita
  • AI musuh yang semakin bodoh

Cocok untuk gamer: pencinta franchise Assassin’s Creed, yang tak puas dengan AC Unity

Tidak cocok untuk gamer: yang tak lagi puas dengan mekanisme open-world ala AC, butuh tantangan ekstra

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…