Review Firewatch: Tak Seperti yang Dibayangkan!

Reading time:
February 16, 2016

Kedamaian Alam Liar

Jelas bahwa mereka tak mengejar level realisme tersendiri di Firewatch. Namun bukan berarti visualnya tak bisa dinikmati.
Jelas bahwa mereka tak mengejar level realisme tersendiri di Firewatch. Namun bukan berarti visualnya tak bisa dinikmati.

Sebelum kita membahas lebih jauh apa yang ditawarkan oleh Firewatch dari sisi cerita dan gameplay, game racikan developer Campo Santo dan publisher bernama Panic ini pantas untuk mendapatkan apresiasi tersendiri atas kemampuan mereka menawarkan desain setting yang pantas untuk diacungi jempol, dengan engine Unity yang mereka pilih sebagai basis.

Setting timeline akhir tahun 1980-an membuat Anda harus berhadapan dengan banyak teknologi lawas seperti radio panggil ataupun kompas, hingga bahkan sebuah peta fisik di dalamnya. Tak sekedar memperkuat tema, fakta bahwa Anda masih harus berkutat dengan teknologi lawas seperti ini juga mereka implementasikan dengan baik di dalam gameplay. Sebagai contoh? Satu-satunya untuk tahu dimana Anda harus melangkah adalah dengan melihat kompas dan peta. Tidak ada tanda panah ala GPS yang biasanya “memanjakan” gamer untuk konsep game seperti ini. Anda harus mencari jalan sendiri.

Anda seolah bisa merasakan sensasi alam yang damai darinya.
Anda seolah bisa merasakan sensasi alam yang damai darinya.
Old school..
Old school..
Efek cahaya yang membuatnya lebih dramatis.
Efek cahaya yang membuatnya lebih dramatis.

Sementara dari sisi visual, walaupun terlihat jelas tak berupaya untuk menawarkan pendekatan serealistis mungkin, alam liar yang diproyeksikan Firewatch tetap pantas mendapatkan acungan jempol tersendiri. Ia memperlihatkan kesan kartun yang kuat tetapi juga halus di saat yang sama. Dunia yang dibangun terlihat natural dan hidup, dengan efek tata cahaya yang membuat aksi eksplorasi Anda terasa dramatis di beberapa titik. Kemampuan sang developer untuk merancangnya level di atasnya adalah salah satu yang membuat kami cukup berdecak kagum. Ada begitu banyak jalan rahasia, begitu banyak jalan yang baru bisa Anda akses setelah mendapatkan item tertentu yang terhubung satu sama lain dengan rapi dan terkadang menghasilkan kejutan tersendiri.

Dari sisi visual, Firewatch tetaplah sebuah game yang indah walaupun ia tak mengejar pendekatan presentasi sebuah alam liar yang realistis di dalamnya. Setidaknya melihat bagaimana sungai kecil mengalir di tengah lembah dengan sinar matahari terbenam yang halus di kejauhan tetap akan membuat hati kecil Anda tenang, di luar semua drama thriller yang muncul.

Tak Seperti yang Dibayangkan!

Mengikuti teaser trailer di masa lalu, Anda mungkin berharap bahwa game ini akan berakhir jadi game thriller / survival horror. Tapi ia berujung jadi sesuatu yang tak akan bisa Anda bayangkan sebelumnya.
Mengikuti teaser trailer di masa lalu, Anda mungkin berharap bahwa game ini akan berakhir jadi game thriller / survival horror. Tapi ia berujung jadi sesuatu yang tak akan bisa Anda bayangkan sebelumnya.

Maka seperti yang kami bicarakan di paragraf-paragraf awal, minimnya informasi dan teaser pertama yang memperlihatkan kesan thriller yang kuat mungkin akan membuat banyak gamer hadir dengan ekspektasi yang sama ketika mencicipi Firewatch untuk pertama kalinya, seperti halnya kami. Bahwa kisah seorang penjaga hutan dengan rumah tangga yang berakhir tak sebahagia cerita dongeng ini hanyalah basis untuk sebuah cerita yang mungkin berakhir jadi kematian, potongan tubuh, dan darah yang mengucur di mana-mana. Bahwa ada kemungkinan ini hanyalah awal dari awal munculnya kepribadian ganda yang mungkin akan membuat Anda lahir sebagai seorang psikopat baru yang mulai memutilasi para pendaki gunung yang tidak bersalah. Teaser awal tersebut melemparkan kesan yang begitu kuat soal pendekatan game seperti ini. Namun hasilnya? Tak seperti yang dibayangkan.

Sama seperti Everybody Gone to Rapture atau Gone Home, ia menjual cerita.
Sama seperti Everybody Gone to Rapture atau Gone Home, ia menjual cerita.
Tidak ada bahaya, tidak ada ancaman yang akan mengakhiri hidup Anda.
Tidak ada bahaya, tidak ada ancaman yang akan mengakhiri hidup Anda.

Lantas, apa itu sebenarnya Firewatch? Secara sederhana, Anda tampaknya bisa melemparkannya sejajar dengan game-game “interactive story” sekelas Everybody Gone to the Rapture atau mungkin Gone Home, namun dengan skala dunia dan kebebasan pergerakan yang lebih baik. Bahwa pada akhirnya, kisah Anda lebih banyak dihabiskan untuk menyelesaikan satu tugas spesifik sebelum bergerak ke naratif yang lain. Tidak ada ancaman sama sekali di game ini yang akan membuat Anda bisa tewas, gagal, dan mengulang segala sesuatunya dari awal. Tidak ada kejatuhan tiba-tiba, tidak ada serangan beruang, tidak ada terkilir dengan efek dramatisasi untuk jatuh bersama dengan aliran sungai yang deras, atau tidak ada soal terjebak di tengah kebakaran hutan dan mati karena kesulitan napas. Firewatch bukanlah game seperti itu.

Sebagian besar waktu permainan Anda akan dihabiskan dengan meminta untuk bergerak dari Tower menuju ke satu titik tertentu, memicu event yang ada, dan kemudian mengulang hal yang serupa hingga akhir cerita. Satu-satunya tantangan yang akan Anda temukan hanyalah cara membaca peta yang masih harus dilakukan manual dengan kompas. Bahwa tidak adanya GPS, mengharuskan Anda untuk tahu kemana Anda harus bergerak, yang biasanya cukup jauh dari lokasi pertama Anda muncul. Sisanya? Berjalan dan berlari, menyelesaikan event, dan melihat konklusi cerita yang ada. Beberapa area akan memuat stash rahasia dengan kode sederhana yang biasanya memuat item yang Anda butuhkan untuk melanjutkan cerita atau sekedar mendapatkan ekstra plot dari dua karakter yang tak signifikan lewat catatan yang Anda temukan. Tak ada pertarungan, tak ada bahaya, hanya sedikit misteri, itulah Firewatch.

Sebagian waktu Anda akan dihabiskan bergerak dari titik A ke B untuk melanjutkan progress cerita.
Sebagian waktu Anda akan dihabiskan bergerak dari titik A ke B untuk melanjutkan progress cerita.
Tak bisa baca peta atau kompas? Ini akan jadi mimpi buruk Anda!
Tak bisa baca peta atau kompas? Ini akan jadi mimpi buruk Anda!

Maka seperti game-game interactive story pada umumnya, kekuatannya justru ada pada interaksi antara Henry dan Delilah yang secara konsisten terjadi lewat radio.  Anda bisa melaporkan setiap hal kecil yang Anda temukan kepada Delilah dan memicu sebuah percakapan yang terkadang, cukup untuk mengundang senyum. Kerennya lagi? Percakapan ini juga biasanya memuat ragam pilihan respon yang biasanya akan menentukan arah percakapan ini. Namun sayangnya, seperti kebanyakan game interactive story pula, dialog yang diperkuat dengan voice acting yang begitu luar biasa ini tak akan banyak membantu Anda merangkai cerita Anda soal sosok Henry itu sendiri. Jalinan percakapan ini bisa dibilang sekedar pengalihan dari sebuah garis cerita linear yang hasil akhirnya, tak bisa Anda otak-atik. Sesuatu yang sangat disayangkan, tentu saja.

Lewat radio kecil ini, Anda akan terus berkomunikasi dengan Delilah dan berkesempatan memilih repson yang ada.
Lewat radio kecil ini, Anda akan terus berkomunikasi dengan Delilah dan berkesempatan memilih repson yang ada.
Anda juga bisa melaporkan benda-benda unik yang Anda temukan.
Anda juga bisa melaporkan benda-benda unik yang Anda temukan.

Dari semua deksripsi yang kami tuliskan di atas, Firewatch memang terdengar seperti sebuah game paling membosankan yang bisa Anda temukan di industri game saat ini. Namun benarkah demikian? Tunggu dulu. Tetapi kami harus membahasnya lebih dalam untuk menggambarkan kepada Anda, mengapa game ini berhasil menawarkan sesuatu yang memesona di mata kami.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…