Review Rise of the Tomb Raider: Penyempurnaan di Beragam Sisi!
Lompatan Visual!

Tomb Raider Reboot yang dirilis di tahun 2013 yang lalu memang memperkenalkan kepada kita sosok Lara Croft yang berbeda. Crystal Dynamics mempresentasikan kepada kita sosok Lara yang lebih “manusiawi” baik dari segi karakter ataupun visual dengan ekstra kemampuan untuk memproyeksikan emosi jauh lebih baik. Kemampuanya untuk menawarkan atmosfer yang lebih kuat dari sisi lingkungan dengan ragam efek visual dari cuaca hingga cahaya juga pantas untuk diacungi jempol. Secara garis besar, Anda akan menemukan pendekatan yang hampir serupa di Rise of the Tomb Raider ini. Bahwa Anda masih akan berpetualang di ragam arsitektur kuno dengan ekstra dramatisasi di sana ini. Bedanya? Mewakili statusnya sebagai sebuah game yang dirilis di platform generasi ini, ia tampil dengan lompatan visual yang menakjubkan!




Sebuah game generasi baru yang memanjakan mata, detail yang ditawarkan Rise of the Tomb Raider, setidaknya dari versi PC dengan setting grafis mentok kanan seperti yang kami cicipi, memang mengagumkan. Tekstur yang ditawarkan di setiap sudut terlihat begitu tajam, dengan efek tata cahaya yang juga pantas untuk diacungi jempol. Salah satu yang mengalami peningkatan cukup drastis adalah perubahan efek cuaca yang kini juga mempengaruhi diri Lara itu sendiri. Anda bisa melihat bagaimana pakaiannya yang di awal terlihat begitu bersih, tiba-tiba memutih seiring dengan lebih banyak salju yang turun mengenai dirinya. Begitu juga dengan efek visual rambut yang diusung. Dengan teknologi bernama “Pure Hair”, efek yang sempat ditawarkan oleh teknologi Tress FX di masa lalu kini terlihat lebih luar biasa dan sempurna.


Efek visual yang lebih baik ini tentu saja membuat pengalaman gaming terasa lebih memesona. Namun tak hanya soal visualisasi di sisi teknis saja, kita juga kemampuan Crystal Dynamics untuk meracik sebuah dunia arsitektur kuno yang juga tak kalah menawan. Beberapa menuntut Anda meyelami sebuah gua dalam penuh air untuk mencapainya, salah satu berbentuk kapal karam yang terdampar di tengah reruntuhan es, sementara ada sebuah kota kuno lainnya yang terlihat seperti muncul dari dunia yang diracik Tolkien di Lord of the Rings. Beberapa dipenuhi dengan serigala bengis, lainnya berada di balik air terjun yang menyatu dengan hujan lebat yang terus terjadi. Untuk urusan visual, Rise of the Tomb Raider hadir lebih baik.
Sensasi Action yang Serupa

Secara garis besar, Rise of the Tomb Raider sebenarnya tak banyak berbeda dengan serI Tomb Raider reboot sebelumnya. Secara mendasar, sensasi action yang ia tawarkan masih serupa. Anda masih akan berpetualang dari satu titik ke titik lainnya, melewati serangkain tantangan platform yang memuat efek dramatisasi di dalamnya. Lara kembali hadir sebagai seoarang karakter wanita protagonis dengan nasib tersial yang pernah ada di industri game. Ia seolah tak pernah berkesempatan untuk menjalani petualangannya dengan lebih “damai” dan harus berhadapan dengan fakta bahwa semesta seolah berkonspirasi untuk membunuhnya secepat mungkin. Bergelantungan di atas lapisan es yang hampir runtuh, hampir terseret arus sungai dan tenggelam, atau hampir dihabisi karena kelengahan, Anda tampaknya sudah mengerti formula seperti apa yang ia tawarkan di sini.


Hanya saja Lara kini diperkuat dengan lebih banyak perlengkapan untuk mendukung petualangannya yang kini lebih berbahaya. Ia memang masih hadir dengan perlengkapan memanjat yang serupa, namun di pertengahan permainan, Anda akan diperkuat dengan ekstra Wire Pool yang memungkinkan alat memanjat ini berfungsi layaknya sebuah grappling hook. Sebuah equipment baru juga disuntikkan untuk memfasilitasi aksi Lara yang kini jauh lebih sering berada di bawah air, termasuk kesempatan untuk “membangun” jalan Anda sendiri dengan alternatif panah yang lebih kokoh sebagai pijakan. Anda akan dituntut untuk memahami kapan saat yang tepat untuk menggunakan alat-alat ini.


Dari sisi action juga demikian. Lara tetap akan didukung dengan beberapa varian senjata, dengan empat diantaranya bisa digunakan dan digonta-ganti sesuai kebutuhan. Panah tentu saja masih jadi andalan menyelesaikan tantangan secara stealth dengan lebih efektif selain tentu saja, mengendap dan menghabisi setiap musuh yang ada dari belakang. Kebebasan untuk memilih metode seperti ini masih terbuka lebar, dimana stealth akan menawarkan varian resiko yang tentu saja, lebih minim. Musuh yang Anda hadapi juga beragam dengan beberapa di antaranya menuntut implementasi strategi tertentu, seperti mereka yang hadir dengan membawa tameng, misalnya. Sisanya? Selayaknya sebuah game third person shooter, Anda akan menembak, berlindung, dan memastikan bertahan hidup sebelum beraksi ke area selanjutnya.


Sistem skill dan modifkasi equipment dari seri sebelumnya juga kembali. Dengan menggunakan api unggun yang tersebar di sepanjang perjalanan sebagai checkpoint, Anda bisa menggunakannya untuk memperkuat Lara dari segi skill dan senjata yang ia gunakan. Dengan menyelesaikan serangkaian side-quest yang ada dan mengumpulkan beragam resource yang tersebar, Anda bisa membuat Lara jauh lebih efektif untuk menghabisi setiap musuh yang ada. Bagian skill sendiri terbagi menjadi tiga kategori besar – Brawler, Hunter, dan Survivor yang masing-masing merepresentasikan fokus kemampuan yang berbeda. Brawler, misalnya, menawarkan kesempatan untuk membuat Lara lebih tangguh saat menerima damage, sementara Hunter, membuatnya lebih efektif sebagai seorang pembunuh. Sementara dari kategori senjata, modifikasi yang bisa Anda terapkan juga akan membuatnya bisa lebih diandalkan di setiap situasi yang ada.



Dengan bertambah matangnya karakter Lara, maka menjadi sesuatu yang sangat rasional untuk melihat dirinya kini diperkuat dengan kemampuan berbeda yang jauh lebih keren dan serius. Namun sayangnya, hal ini menjadi bumerang tersendiri. Beberapa skill yang bisa diambil benar-benar membuat sosok Lara terlihat terlalu overpowered sebagai karakter protagonis, yang tentu saja berlawanan dengan usaha untuk membuatnya lebih “manusiawi” seperti seri pertamanya. Efeknya juga membuat tingkat kesulitan game ini di tingkat normal berakhir memble di akhir-akhir permainan. Salah satu skill tersebut adalah kemampuan Lara untuk melakuan Double-Shot / Triple-Shot yang memungkinkannya untuk menembak dua / tiga panah sekaligus, secara otomatis ke titik fatal musuh dari kejauhan. Begitu skill ini Anda dapatkan, segala sesuatunya menjadi terlalu mudah. Satu-satunya tantangan yang mengkhawtirkan hanyalah mereka yang berlari cepat ke arah Anda. Hadirnya skill ini memang membuat game in terasa kurang menantang.

Secara garis besar, apa yang Anda dapatkan dari Rise of the Tomb Raider secara fondasi tak berbeda dengan apa yang sempat Anda nikmati di Tomb Raider reboot yang dirilis di tahun 2013 silam. Action third person shooter yang solid, ekstra platformer dengan dramatisasi yang mudah diprediksi, kualitas visualisasi yang memanjakan mata, dan tentu saja ragam modifikasi skill dan senjata yang bisa dioptimalkan untuk mendukung petualangan Anda. Satu hal yang juga jadi sumber keluhan kami adalah minimnya animasi kematian Lara yang brutal seperti di seri pertama. Anda setidaknya, tak akan lagi bertemu dengan sosok Lara yang berteriak kesakitan ketika cabang pohon tajam menghujam lehernya.










