Review Rise of the Tomb Raider: Penyempurnaan di Beragam Sisi!

Reading time:
February 4, 2016
Rise of the Tomb Raider jagatplay PART 2 (91)

Menolak untuk mati, kata yang satu ini memang menjelaskan posisi Tomb Raider dengan begitu tepat di industri game. Setelah beberapa seri yang berakhir tak terlalu sukses, Lara Croft akhirnya tiba di tangan dingin Crystal Dynamics dan Square Enix yang kemudian memutuskan untuk menghadirkan sebuah seri reboot dengan cita rasa yang lebih modern. Mengulang cerita dari petualangan pertamanya, ia kembali dengan pendekatan mekanik game third person shooter yang seringkali disebut mirip dengan game eksklusif Sony yang dikembangkan oleh Naughty Dog – Uncharted. Sosok Lara yang di kala itu masih belum familiar dengan aksi petualangan yang selama ini melekat pada sosok seri lawasnya harus berjuang bertahan hidup. Bahkan untuk pertama kalinya, ia harus mencabut nyawa orang lain.

Di seri sekuelnya, segala sesuatu yang ditawarkan Crystal Dynamics di seri Tomb Raider reboot ini berakhir lebih matang. Anda yang sempat membaca preview kami sebelumnya tentu sudah punya sedikit gambaran apa yang tengah kami bicarakan. Ia hadir dengan peningkatan kualitas visualisasi yang cukup signifikan, perbaikan di beragam lini gameplay, penambahan fitur yang membuatnya tampil lebih kompleks, lebih banyak tantangan untuk diselesaikan, dengan gerak cerita yang memang pantas untuk diacungi jempol. Impresi pertama yang ia tawarkan memang harus diakui, cukup positif. Rise of the Tomb Raider cukup menawarkan banyak hal baru yang membuatnya menawarkan nilai jual yang lebih kuat.

Lantas, apa yang ditawarkan oleh Rise of the Tomb Raider ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai penyempurnaan di beragam sisi? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Lara Croft bukan lagi sosok wanita penakut dan peragu seperti ketika ia berada di Yamatai. Satu tahun cukup untuk mengubah sosok tokoh protagonis wanita yang satu ini.
Lara Croft bukan lagi sosok wanita penakut dan peragu seperti ketika ia berada di Yamatai. Satu tahun cukup untuk mengubah sosok tokoh protagonis wanita yang satu ini.

Berbeda dengan seri pertama Tomb Raider reboot yang memosisikan diri sebagai sebuah kisah awal petualangan Lara Croft, dimana karakter wanita ikonik yang satu ini terlihat begitu penakut dan peragu, Rise of the Tomb Raider membawa sosok Lara Croft yang lebih kita kenal. Mengambil satu tahun setelah event yang terjadi di Yamatai, Lara kini terlihat lebih matang dan mulai bertindak seperti seorang Croft yang sesungguhnya. Ia mulai berusaha mencari lebih banyak jawaban terkait peradaban kuno di masa lalu dan menemukan sebuah misteri yang sudah lama menghantui hidupnya. Sebuah misteri yang telah merenggut nyawa sang ayah – Richard Croft.

Dengan pilihannya sendiri, ia ingin menyelesaikan salah satu misteri yang tak sempat terjawab oleh ayahnya - Richard Croft.
Dengan pilihannya sendiri, ia ingin menyelesaikan salah satu misteri yang tak sempat terjawab oleh ayahnya – Richard Croft.
Tak hanya ingin membersihkan nama sang ayah, ia juga melihat bahwa sumber kehidupan abadi ini akan jadi solusi untuk masalah klasik umat manusia - sakit dan mati.
Tak hanya ingin membersihkan nama sang ayah, ia juga melihat bahwa sumber kehidupan abadi ini akan jadi solusi untuk masalah klasik umat manusia – sakit dan mati.

Di semasa hidupnya, Richard Croft selalu terobsesi dengan sebuah artifak yang ia percaya bisa membawa manusia pada sumber kekuatan untuk mencapai hidup yang abadi. Masih belum pulih dari pengalaman traumatis yang sempat ia lalui di Yamatai, Lara memutuskan untuk mengejar misteri yang berhubungan dengan sosok seorang nabi dari Konstantinopel yang satu ini. Ia mengejar artifak ini untuk dua tujuan utama: melihatnya sebagai solusi terbaik untuk masalah klasik manusia yang masih terus terjadi di seluruh belahan dunia – sakit dan kematian, sekaligus berusaha membersihkan nama sang ayah yang sempat dicibir karena obsesinya mengejar misteri yang diketahui mengakar sesuatu yang disebut “Divine Source” ini.

Tak mudah, sebuah organisasi kuno bernama Trinity berusaha mencapai hal yang sama.
Tak mudah, sebuah organisasi kuno bernama Trinity berusaha mencapai hal yang sama.
Seperti yang bisa Anda prediksi, perjalanannya tak akan mudah.
Seperti yang bisa Anda prediksi, perjalanannya tak akan mudah.

Maka perjalanan ini pun membawa Lara ke beragam belahan dunia, dari tanah kering Syria hingga tempat bersalju Siberia. Namun seperti yang bisa diprediksi, perjalanan ini sendiri tak mudah. Sebuah organisasi misterius dengan kemampuan militer yang tangguh bernama Trinity berusaha mengejar artifak yang sama, yang sekaligus berusaha menghalangi progress yang tengah dicapai oleh Lara saat ini. Tak ada yang bisa digali dari Trinity selain fakta bahwa ia sudah eksis sejak peradaban masa lampau dan kini dipimpin oleh seorang yang bengis bernama Konstantin. Trinity tampaknya hendak menggunakan kesempatan untuk hidup abadi tersebut untuk menggalang kekuatan militer yang tak terkalahkan dan menguasai dunia. Di tengah persaingan sengit ini hadir sebuah faksi berbeda yang berusaha melindungi Divine Source dari tangan jahil, baik Trinity maupun sosok Lara itu sendiri.

Tantangan seperti apa yang harus dihadapi Lara? Siapa pula sosok Trinity ini? Apa pula itu
Tantangan seperti apa yang harus dihadapi Lara? Siapa pula sosok Trinity ini? Apa pula itu “Divine Source”?

Mampukah Lara menemukan si Divine Source ini? Tantangan seperti apa yang harus ia hadapi? Siapa pula Trinity? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda temukan dengan memainkan Rise of the Tomb Raider yang satu ini.

Review ini menggunakan testbed dari Roccat

ROCCAT-Logo_Horizontal_2015_STR_BLK_NoBG

Dikerjakan dan Dimainkan dengan Kave XTD, Roccat Kone XTD, Roccat Raivo, dan Roccat Ryos MK Pro

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…
April 22, 2021 - 0

Review NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Cerita Indah Penuh Derita!

Dengan popularitas yang ia raih, hampir sebagian besar gamer memang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…