Review Mighty No.9: Meh.

Reading time:
June 24, 2016
Might no 9 (26)

Video game adalah sebuah industri yang unik. Bagi beberapa gamer yang “memilihnya” sebagai hobi, terutama ketika mereka menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanak atau remaja mereka dengannya, ia tumbuh lebih dari sekedar sebuah industri dan bisnis yang fokusnya memang mengejar keuntungan. Ia menjadi sebuah memori menyenangkan yang tak terpisahkan dan sulit untuk dihapuskan begitu saja. Oleh karena itu, sensasi nostalgia adalah salah satu “nilai jual” yang selalu efektif untuk gamer. Merilis ulang game lawas dalam format Remaster dengan peningkatan visual, Remake dengan perubahan fitur dan inovasi terbaru, Reboot yang memulai kembali siklus franchise dari awal, hingga sebuah proyek yang terinspirasi dari game-game legendaris tersebut. Tak heran jika banyak gamer yang kemudian jatuh hati dan mengantisipasi kehadiran proyek terbaru dari Keiji Inafune dan studio barunya Comcept – Might No.9.

Rasa rindu gamer untuk sosok Megaman yang “dibuang” begitu saja oleh Capcom tanpa ada tanda-tanda akan mampu hidup kembali membuat gamer mencari alternatif terbaik, yang akhirnya jatuh pada Mighty No.9. Cara Keiji Inafune mempopulerkan game ini juga terhitung tepat. Ia mengambil semua elemen yang akan terasa familiar bagi gamer yang jatuh hati pada seri Megaman, kemudian membangun pondasi cita rasa yang hampir serupa, dari gameplay, karakter, hingga jalinan cerita yang ada. Tak heran, hanya dalam waktu singkat, ia berhasil meraup dana hingga USD 4 juta untuk membangun game ini dari Kickstarter. Namun sayangnya, alih-alih optimis, waktu pengembangan yang terlalu lama dengan beberapa kali penundaan untuk alasan yang tak jelas mulai membuat banyak gamer mempertanyakan kualitas Mighty No.9. Keraguan yang sayangnya, berakhir jadi nyata.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Mighty No.9 ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah game yang “meh”? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Anda berperan sebagai robot bernama Beck.
Anda berperan sebagai robot bernama Beck.

Memang sulit untuk tidak membandingkan Mighty No.9 dari Inafune dan Megaman dari Capcom. Mengapa? Karena jelas, Inafune “mengambil” banyak elemen dari proyek lawasnya tersebut, mengadaptasikannya menjadi sesuatu yang berbeda namun tetap punya cita rasa yang serupa. Bahkan, termasuk dari sisi cerita.

Di tengah kota yang damai, dimana manusia dan robot hidup berdampingan, sebuah virus misterius membuat robot-robot ini kehilangan kembali.
Di tengah kota yang damai, dimana manusia dan robot hidup berdampingan, sebuah virus misterius membuat robot-robot ini kehilangan kendali.
Beck menjadi satu-satunya yang
Beck menjadi satu-satunya yang “sadar” ketika anggota Mighty Numbers yang lain juga terpengaruh.
Dr. White percaya bahwa jawaban dan solusi untuk mengatasi virus ada di data para MIghty Numbers yang tengah menggila.
Dr. White percaya bahwa jawaban dan solusi untuk mengatasi virus ada di data para MIghty Numbers yang tengah menggila.

Anda berperan sebagai sebuah robot bernama Beck, robot terakhir dari satuan robot bernama “Mighty Numbers”. Ia juga menjadi satu dari sedikit robot yang berhasil selamat dari serangan “virus” misterius yang tiba-tiba membuat hampir sebagian besar robot yang ada tiba-tiba kehilangan kendali. Mereka menyerang manusia dan membuat kekacauan di kota. Untuk mengatasi virus ini, sang pembuat Mighty Numbers – Dr.White butuh lebih banyak data dan informasi. Oleh karena itu,  ia menugaskan Beck untuk menundukkan Mighty Numbers yang lain dan menyerap teknologi “Xel” mereka.

Maka Beck pun beraksi!
Maka Beck pun beraksi!

Jadi, apa yang sebenarya terjadi? Siapa sebenarnya bertanggung jawab atas tersebarnya virus  misterius yang satu ini? Jawaban tersebut bisa Anda dapatkan dengan memainkan Mighty No.9 ini.

Review ini menggunakan testbed dari Roccat

ROCCAT-Logo_Horizontal_2015_STR_BLK_NoBG

Dikerjakan dan Dimainkan dengan Kave XTD, Roccat Kone XTD, Roccat Raivo, dan Roccat Ryos MK Pro

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…
April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…