Review Mafia 3: Tak Maksimal!
Desain Misi Sampingan yang Malas

Misi utama ala American Gangster yang Anda cicipi di Mafia 3 memang harus diakui, merupakan salah satu proses penceritaan terbaik yang bisa Anda temukan di sebuah game open-world. Motif balas dendam, kekejaman tanpa ampun, situasi sosial penuh rasisme yang mengitarinya, lengkap dengan karakter-karakter dengan motif yang jelas dan bisa dipercaya, apalagi dengan voice acts yang begitu hidup, presentasi game yang satu ini memang terhitung luar biasa. Hangar13 sangat mengerti hal tersebut dan mengeksekusi kekuatan utama seri Mafia dari seri pertama tersebut dengan begitu manisnya. Sayangnya, hal yang sama tak mereka lakukan dengan misi sampingan yang ada.
Harus diakui, hampir semua misi lain di luar misi utama, bisa terbilang jatuh pada “lubang hitam” desain sebuah misi sampingan yang malas. Dari sekedar misi untuk membersihkan wilayah yang berujung repetitif karena variasi yang minim, dimana Anda hanya akan diminta untuk melakukan tiga hal – membunuh satu target, menginterogasi informan, dan menghancurkan barang hingga nilai jatuh hingga misi-misi untuk Underboss Anda – Burke, Cassandra, dan Vito yang bahkan jatuh lebih buruk lagi. Seberapa buruk? Untuk kasus terakhir ini, alih-alih nyaman, ia justru terasa seperti sebuah beban “pekerjaan”. Ya, seburuk itu.
Menyelesaikan misi sampingan untuk tiap karakter Underboss ini akan meningkatan loyalitas mereka, membuat mereka lebih bisa “menerima” apapun hasil akhir pembagian wilayah yang Anda lemparkan, sekaligus memperbesar kemungkinan untuk menambah jumlah uang yang bisa Anda dapatkan sebagai presentase dari sana. Berita buruknya? Desainnya benar-benar membuat Anda akan berpikir dua kali untuk menyelesaikannya. Alih-alih terlibat dalam satu misi dengan cerita yang kuat atau personal, Anda justru berhadapan dengan misi yang meminta Anda untuk mencuri sesuatu dan atau mengendarai satu kendaraan ke tempat yang lain. Tak main-main, setiap misi ini punya jarak yang lumayan jauh, seringkali meminta Anda melewati perjalanan bolak-balik, dan parahnya lagi, tak punya tantangan apapun. Selain lalu lintas di jalan, tak ada yang akan menghalangi Anda. Boss Mafia? Anda justru terasa seperti kurir Go-Jek.


Jarak tempuh jauh dan tanpa tantangan seperti inilah yang membuat misi sampingan Mafia 3 begitu mengecewakan. Hangar13 sebenarnya bisa membuatnya sedikit bisa “ditoleransi” dengan misalnya menyuntikkan karakter pendukung Anda sebagai penumpang dengan interaksi yang kocak, atau melemparkan sedikit variasi kejutan misi di tengah ketika menempuhnya, atau bahkan menghapusnya sama sekali dan menggantinya dengan sistem perebutan wilayah yang sama dengan cerita utama, yang untuk saat ini, walaupun repetitif , setidaknya masih bisa lebih dinikmati.
Untuk memberikan sedikit gambaran soal mimpi buruk ini, kami akan mendeskripsikan salah satu misi sampingan dari Underboss – Burke yang berusaha mencari tiga buah mobil dengan tipe sama yang hendak ia jadikan bomb mobil di Irlandia. Berita baiknya? Tak perlu mencari sendiri, posisi setiap mobil ini sudah tercetak jelas di peta dan bisa Anda dekati dengan menggunakan sistem GPS in-game yang ada. Inilah yang akan Anda lakukan untuk menyelesaikannya: Bicara dengan Burke, buka map dan menandai mobil target, mencuri mobil sebagai kendaraan ke tempat tujuan, bergerak 2.000m, sampai di tempat tujuan, keluar dari mobil, membunuh siapapun penjaga mobil yang ada, masuk ke mobil curian, mengendarainya 2.000m kembali ke tempat Burke, memarkirnya di tempat tujuan, dan selesai 1 mobil! Tebak, Anda masih punya 2 mobil lagi dengan proses yang sama untuk menyelesaikan satu misi ini. TEBAK LAGI? Burke masih punya misi dengan desain serupa hingga 3-4 kali yang salah satunya bahkan meminta Anda mencuri tiga buah speedboat. Jika Anda sudah ingin memecahkan layar monitor Anda dengan hanya membayangkan aksi seperti apa yang harus dilakukan untuk mencuri tiga buah speedboat tersebut, bayangkan jika Anda mencicipinya sendiri.
Absennya Manual Save

Anda yang sering membaca review kami mungkin akan kaget mengapa kami membawa “topik” yang seharusnya tak terdengar terlalu penting ini ke permukaan. Manual Save? Jarang sekali absennya fitur seperti ini menjadi nilai kekurangan tersendiri, apalagi jika Anda tidak berhadapan dengan sebuah game open-world RPG yang mungkin saja rentan dengan begitu banyak pilihan salah dan sejenisnya. Namun percaya atau tidak, absennya Manual Save dari Mafia 3 juga jadi catatan tersendiri. Kami sendiri tidak tahu apakah fitur ini tersedia atau tidak di versi PC, namun untuk konsol, hanya Auto-Save yang tersedia. Dan ini mencederai cukup banyak pengalaman yang ada.
Pertama, ini membuat Anda tak bisa bersenang-senang dan menggila begitu saja ketika bosan. Jika di game seperti GTA V, rasa stress Anda bisa sedikit terobati dengan aksi gila dengan membunuh orang tak bersalah dan kemudian berusaha bertahan hidup selama mungkin dari kejaran polisi yang ada, dan kemudian kembali ke Save sebelumnya jika progress Anda tercederai, Anda tidak bisa melakukan hal ini di Mafia 3. Dengan sistem Auto-Save seperti ini, game ini akan langsung merekam status terakhir karakter Anda begitu Anda tewas dan hidup kembali mengingat konsekuensi pemotongan jumlah uang di tangan yang terjadi. Satu-satunya cara untuk bersenang-senang adalah ketika jumlah uang di dompet Anda kosong. Itupun Anda masih harus berhadapan dengan jumlah peluru lebih sedikit dan juga habisnya ragam item lain. No fun allowed..


Namun tamparan terberat sepertinya mengarah pada fakta bahwa untuk menikmati ragam cabang cerita yang muncul, apalagi masing-masing di antaranya punya achievement sendiri, Anda dipaksa untuk memainkan game ini dua kali. Tak ada kesempatan untuk sekedar mengulang satu chapter di bagian tertentu dan menikmati alternatif cerita yang mungkin / tidak mungkin berbeda. Hal yang sama juga terasa ketika Anda sudah mencapai titik akhir permainan dan kini punya kesempatan untuk “mengeksplorasi” New Bordeaux dengan bebas. Fakta bahwa Anda tak bisa lagi mengulang misi sampingan yang mungkin Anda lewati dengan harapan bisa diselesaikan nantinya juga jadi pukulan telak tersendiri.










