Review Xenoblade Chronicles 2: Ketidaksempurnaan yang Tetap Menggoda!

Reading time:
December 29, 2017

Pendekatan “Anime”

Cita rasa anime yang “kental”, lengkap dengan semua trope-nya akan bisa Anda temukan di sini.

Sepertinya sudah bukan rahasia lagi bahwa Nintendo Switch bukanlah konsol yang bisa Anda andalkan untuk mendapatkan game dengan pendekatan visual yang realistis. Keterbatasan performa ini kemudian diakali dengan menciptakan game yang punya visualisasi yang lebih ringan dan kartun, tetapi tetap mempertahankan ciri khas warna, desain karakter, hingga sekedar tema utama yang diusung dengan cerita yang ada. Hal yang sama juga terjadi dengan Xenoblade Chronicles 2 ini. Ia memang lahir dari tangan developer Jepang, namun dari semua game JRPG yang kami cicipi selama beberapa tahun terakhir ini, ia yang mungkin mengusung trope anime yang paling kental. Kita tidak hanya sekedar bicara dari sisi cerita saja, tetapi juga desain karakter.

Karena sulit untuk mengakui bahwa yang Anda temukan di sini, memang desain karakter yang tidak hanya punya proporsi tubuh yang begitu berlebihan, tetapi juga memenuhi trope yang biasanya Anda temui di seri animasi Jepang tersebut. Anda bisa melihat Pyra misalnya, yang mengenakan sebuah pakaian ketat dengan ukuran payudara besar, atau mungkin alter egonya yang lain – Mythra yang mengusung konsep serupa dengan pakaian yang bahkan lebih terbuka. Hampir sebagian besar desain Blade unik lainnya juga hadir dengan pendekatan yang sama, walaupun tidak kesemuanya selalu terbuka. Yang terlihat jelas justru kenginan untuk memenuhi jenis karakter wanita para penggemar anime dari beragam skala. Dari yang punya karakter kepribadian yang unik, hingga ukuran tubuh dan tinggi badan yang spesifik. Dari yang berpakaian terbuka, hingga yang tertutup dan sopan. Secara singkat, Anda bisa menyebutnya sebagai sebuah “Waifu Simulator”. Dan seperti yang bisa diprediksi, tidak ada yang istimewa dari desain karakter pria yang ia usung.

Dengan variasi karakter wanita yang didesain untuk memenuhi semua selera, ini adalah “Waifu Simulator” yang sempurna.
Mengingat karakter game ini didesain oleh beberapa orang, Anda bisa melihat inkonsistensi yang terjadi di dalamnya. Sebagai contoh? Dibandingkan Rex, Anda bisa melihat jelas bahwa karakter yang Anda lihat ini tidak datang dari tangan kreatif yang sama.

Namun ada sesuatu yang aneh dari desain karakter para Blade sampingan atau musuh yang Anda hadapi di game yang satu ini. Desain karakter-karakter pendukung di Xenoblade Chronicles 2 terasa seperti sebuah hasil kolaborasi dari begitu banyak ide dan desainer, alih-alih hanya satu orang dengan satu otak yang sama. Mengapa? Karena Anda bisa memerhatikan dan menemukan bahwa ada beberapa desain yang tidak konsisten satu sama lain. Contohnya? Ada salah satu Blade bernama Vess misalnya, yang jelas terinspirasi atau didesain oleh bukan desainer sama yang merancang Pyra. Kasus ini juga terjadi di Blade yang lain. Bagian paling parah? Dua tokoh antagonis utama yang bergabung dalam sebuah organisasi bernama Torna yang diracik oleh otak di balik seri Kingdom Hearts III – Tetsuya Nomura. Nomura selalu punya identitas rancang karakter yang khas, dan ketika melihat karakternya hidup dan berdampingan dalam cerita bersama dengan Rex atau Pyra, Anda bisa dengan jelas melihat bahwa keduanya lahir dari tangan yang berbeda.

Setidaknya, ada konsistensi di masalah dunia yang Anda temukan. Berbeda dengan seri X dimana dunia yang ada terhubung satu sama lain secara berkesinambungan, seri kedua ini memecahnya mengingat plot yang ditawarkan memang menyebut bahwa kota-kota hidup di atas Titan yang berbeda. Setiap kota dengan Titan ini tentu saja hadir dengan tema yang berbeda, dengan luas wilayah yang terhitung cukup luas. Seperti kebiasaan Xenoblade, mereka juga hadir dengan ekosistem yang berbeda pula. Walaupun seperti tipikal game JRPG yang seringkali menghadirkan desain dasar monster yang sama namun dengan status, warna, nama, dan sedikit struktur tampilan yang berbeda, ekosistem ini memang terasa hidup. Tidak peduli dengan level karakter yang ada, Anda akan bisa menemukan monster yang punya level berkali-kali lipat bergerak bebas dan bukan tak mungkin, menerkam dan menghabisi Anda begitu saja sebagai serangan kejutan.

Hadir dengan konsep yang serupa dengan seri sebelumnya, Anda akan berhadapan dengan dunia “hidup” dengan semua ancaman yang ada.
Dunia dibagi ke dalam beragam area berbeda yang masing-masing punya tema uniknya sendiri.

Satu hal yang menarik adalah bagaimana game ini memperlakukan lingkungan yang ditawarkan ini. Bukan sekedar memuat ragam monster yang bisa Anda bunuh, ia juga memuat ragam aktivitas lain yang bisa Anda lakukan di dalamnya. Dari sekedar menghabisi monster spesial yang muncul dengan logo khusus dan menawarkan tantangan yang lebih signifikan hingga beragam material yang bisa Anda tambang. Dunia ini juga akan menawarkan dua hal yang lain: yakni puzzle dengan segudang rahasia yang bisa diakses dengan menggunakan field skill milik Blade Anda hingga kebutuhan untuk melakukan aksi platforming untuk mencapai area tertentu. Kita akan membicaarkan keduanya nanti. Beberapa Titan yang tinggal di garis lautan awan juga akan punya daerah yang bisa diakses atau tidak bisa diakses tergantung pada ketinggian awan di kala itu. Untungnya, cara mengubahnya cukup sederhana, dengan hanya melakukan tidur panjang di Inn terdekat saja.

Dengan semua trope Anime yang kental di dalamnya, memainkannya dengan menggunakan bahasa Jepang adalah keharusan di telinga kami.

Maka dengan semua trope anime yang ia usung, ada satu hal yang jadi konsekuensi jelas. Bahwa gmae ini akan jauh lebih nyaman dinikmati dengan menggunakan bahasa Jepang untuk voice acting yang ada, dibandingkan bahasa Inggris. Bahkan harus diakui, Xenoblade Chronicles 2 sepertinya merupakan salah satu game JRPG dengan dubbing bahasa Inggris terburuk yang pernah kami temui. Ditangani oleh Nintendo Eropa, Anda bisa mendengar aksen yang masih tersisa di beberapa karakter utama, bahkan Rex sekalipun. Bahasa Inggris ini juga gagal memotret karakterisasi trope banyak karakter, seperti Mythra yang sedikit “tsundere” misalnya, atau Pyra yang walaupun tegas, tetapi masih punya kelembutan sendiri. Satu yang pasti, pilihan untuk menggunakan bahasa Jepang juga akan membantu Anda lebih menoleransi kehadiran ras bernama PonPon yang memang identik dengan gaya bicara yang menyebalkan. Setidaknya di bahasa Jepangnya, Anda masih bisa menemukan keimutan tersendiri. Berita baiknya? Anda bisa mengunduh DLC Bahasa Jepang ini secara cuma-cuma lewat Nintendo Eshop tanpa perlu mengeluarkan sepeserpun.

Dengan kombinasi seperti ini, presentasi yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 2 memang terinspirai dari banyak produk kreatif Jepang terutama di manga dan anime. Begitu Anda menyelami cerita yang ada, termasuk beragam trope yang ia usung untuk karakter, konflik, hingga solusi yang ada, maka kesan tersebut akan semakin kuat. Apakah ini membuatnya buruk? Tentu saja tidak. Namun bagi mereka yang familiar, garis cerita dan karakterisasi seperti ini selalu bisa disambut dengan tangan yang lebih terbuka.

Kesederhanaan yang Tetap Butuh Strategi

Di permukaan, ia mungkin terlihat seperti sebuah game MMORPG.

Lantas, bagaimana dengan sisi gameplay sendiri? Terlepas dari kesan di permukaan bahwa ia adalah sebuah game action RPG yang akan secara konsisten meminta Anda untuk menekan tombol untuk menyerang dan bertahan, Xenoblade Chronicles 2 sebenarnya adalah sebuah game JRPG turn-based yang disajikan dalam sebuah user-interface yang berbeda. Anda akan dibekali dengan satu tombol serangan normal yang akan dieksekusi secara otomatis setelah serangan pertama dengan interval yang pasti. Sisanya? Anda akan mendapatkan format permainan ala game MMORPG.

Seiring dengan serangan biasa yang terus terjadi, karakter dalam party yang dibatasi 3 orang akan secara bertahap memenuhi skill aktif mereka. Setiap serangan biasa akan menyumbang satu porsi cooldown untuk skill yang ada. Begitu sudah penuh, Anda bisa mengaktifkan skillt tersebut untuk tidak hanya menghasilkan damage lebih besar saja, tetapi juga berkesempatan untuk mengaktifkan efek unik tertentu. Jika Anda menekan tombol skill ini tepat setelah sebuah serangan biasa dilakukan, Anda bisa menghasilkan efek “Cancel” yang akan mendorong damage untuk serangan skill Anda.

Sistem pertarungannya sebenarnya sederhana. Anda hanya perlu menyerang sekali, mengeksekusi skill ketika cooldown, dan melakukannya secara berulang.
Beberapa jenis serangan juga bisa menghasilkan efek spesifik tertentu.

Seperti yang kami bicarakan sebelumnya, skill ini tidak sekedar berfungsi untuk menghasilkan damage lebih besar dari serangan biasa saja. Beberapa di antaranya juga bisa menghasilkan efek status tertentu yang tentu saja akan membuat Anda lebih mudah memenangkan pertempuran yang ada. Ada serangan yang bisa menghasilkan potion kecil yang jika dipungut akan menyembuhkan sedikit porsi HP Anda, ada serangan yang jika dieksekusi pada timing tertentu bisa membuat musuh terjatuh dengan mengalami masa stun dalam waktu singkat, hingga varian efek status lain yang misalnya, bisa membuat musuh tidak bisa memanggil companion untuk membantu mereka. Namun ingat, apapun yang bisa Anda lakukan pada musuh, juga bisa dilakukan musuh pada Anda.

Satu yang unik adalah fakta bahwa pertarungan di daerah terbuka, tidak akan pernah “aman”. Jika Anda sekedar berusaha menghabisi monster di ruang tertutup yang jumlahnya terbatas, tidak akan ada ancaman yang datang dari musuh yang berusaha Anda tundukkan. Namun begitu Anda masuk bertempur di area terbuka, ada satu ekstra hal lagi yang harus Anda perhatikan – lingkungan sekitar. Bukan atas nama karena lingkungan itu sendiri punya desain yang berbahaya, tetapi mencegah kemungkinan Anda diserang oleh monster dengan level lebih tinggi yang biasanya mondar-mandir mengabaikan Anda begitu saja. Entah bagaimana sistem aggro yang diterapkan Monolith di sini, namun bukan pemandangan yang asing untuk melihat monster-monster level yang sembari lewat tiba-tiba terlibat dalam aksi pertarungan Anda melawan monster yang lain. Hasilnya? Bukan tak mungkin pertarungan menjadi terasa lebih alot.

Tidak pernah aman, pertempuran di daerah terbuka juga berpotensi mengundang aggro monster besar atau musuh spesial yang bisa membunuh Anda secara instan.
Tidak secara aktif bertempur, Blade yang Anda bawa ke pertempuran tidak lebih dari sumber support dan buff semata.

Karena monster-monster di Xenoblade Chronicles 2 bukanlah tipe monster yang bisa Anda pandang sebelah mata begitu saja, walaupun ia sudah berada di level lebih rendah dari rata-rata Party yang Anda pilih. Sebagian besar monster ini, sesuai dengan ukuran pula, punya jumlah HP besar yang bisa memakan waktu pertarungan hingga menitan untuk bisa diselesaikan. Anda mungkin berpikir dan bertanya, bahwa bukankah seharusnya Party berisikan setidaknya 6 orang yang secara aktif bertarung mengingat setiap Driver dalam Party selalu membawa Blade mereka sendiri-sendiri? Sistemnya tidak demikian.

Para Blade yang ikut dalam pertempuran dan menemani Driver tidak secara aktif menghasilkan damage untuk musuh yang dihadapi. Mereka berperan tak ubahnya karakter support di bagian belakang yang tugasnya hanya satu – membantu si Driver dengan kemampuan yang mereka miliki. Bergantung pada jenis Blade yang Anda bawa, mereka terkadang bisa melindungi Anda dengan sebuah selimut perisai, membantu Anda menghasilkan damage lebih besar, hingga sekedar menawarkan buff yang akan mempermudah pertarungan yang ada. Para Blade ini juga tidak akan secara otomatis mengeluarkan kemampuan penuh mereka sejak awal pertarungan. Seiring dengan waktu berjalan, hubungan antara Driver dan Blade yang diperlihatkan lewat sebuah benang warna biru antara keduanya akan perlahan tapi pasti, berubah menjadi warna emas. Ketika hal ini terjadi, ini berarti koordinasi yang terjadi ada di level yang paling optimal dan Blade akan mendukung Anda aksi Driver-nya dengan lebih baik.

Jika benang koneksi yang tercipta antara Driver dan Blade mencapai warna emas, maka perannya akan lebih optimal. Setiap Blade juga akan menawarkan senjata berbeda untuk si Driver, yang juga mempengaruhi skill dan timing serangan biasa.
Menugaskan peran spesifik pada tiap karakter, yang juga dipengaruhi oleh pilihan Blade yang Anda gunakan, memang memainkan peran penting di sini.

Tentu saja, mengingat monster yang tetap menantang walaupun sudah berada di level lebih rendah, susunan Party juga menjadi sesuatu yang cukup esensial di Xenoblade Chronicles 2. Untungnya, ada sistem peran di sini. Bergantung pada Blade yang Anda sematkan untuk masing-masing karakter, dimana mereka bisa menggunakan setidaknya 3 Blade per karakter, Anda bisa menentukan peran yang ada. Ada tiga peran utama di sini – Striker untuk damage, Tanker untuk tanking, dan Healer untuk menyembuhkan. Anda yang cukup familiar dengan konsep RPG sepertinya tidak akan asing lagi dengan peran dan bagaimana kombinasi ketiganya bekerja. Satu hal yang cukup menarik di Xenoblade Chronicles 2 adalah seberapa pentingnya mengatur aggro yang ada. Mengingat Healer dan Striker tidak punya cukup banyak HP dan sistem pertahanan dari serangan yang ada, musuh yang mengabaikan Tanker dan mengejar mereka akan dengan mudahnya menghabisi kedua peran tersebut dan membuat pertarungan Anda lebih sulit. Mengatur Aggro menjadi sesuatu yang lebih esensial di sini.

Maka seperti game-game RPG pada umumnya, ada kesempatan untuk memperkuat karakter di sini, walaupun tidak berada di level sekompleks yang Anda bayangkan. Penguatan ini dibagi ke dalam beberapa kategori. Untuk urusan equipment misalnya, Anda bisa menyematkan beragam aksesoris dengan ragam efek ke para Driver. Sementara para Blade harus diperkuat dengan sesuatu yang disebut dengan Chip Core yang juga akan berpengaruh pada status Driver dan kemampuan bertarung mereka. Baik Driver dan Blade juga masing-masing akan diperkuat dengan pohon skill cukup besar yang masing-masing juga menuntut resource berbeda. Bagi Driver, resource tersebut bisa didapatkan dengan menghabisi cerita di misi utama, sekedar membunuh monster yang Anda temui, atau menyelesaikan misi sampingan yang ada. Progress untuk skill yang diusung Blade sendiri atau yang disebut sebagai “Affinity” lebih menitikberatkan pada keharusan untuk memenuhi syarat tertentu, seperti menggunakan skill dalam jumlah yang sudah ditentukan, atau sekedar melakukan aktivitas sampingan yang ada.

Tiap blade “istimewa” juga punya pohon skill yang biasanya menuntut beragam hal untuk dilakukan / diselesaikan agar terbuka. Semakin banyak Affinity Chart yang terbuka, semakin kuat pula Driver yang ia dukung.
Mengingat setiap Blade juga hadir dengan elemen mereka masing-masing, ada serangan spesial yang juga bisa Anda eksekusi dengan mengkombinasikan urutannya untuk serangan spesial dengan efek tertentu atau damage lebih besar.

Seiring dengan pertambahan level yang juga akan menentukan daya tahan dan kemampuan serangan Anda, Anda akan lebih “aman” untuk bergerak mengeksplorasi setiap dunia yang ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 2  ini. Walaupun harus diakui, berbeda dengan seri X yang memungkinkan Anda untuk bergerak dengan mecha dan bertarung cepat dengannya, pacing di Xenoblade Chronicles 2 ini memang terasa cukup lambat. Animasi pertarungan terasa lambat, HP musuh yang tebal juga membuat pertarungan melawan satu monster bisa memakan waktu lama, hingga fakta bahwa Anda harus menyelusuri segala sesuatunya dengan berjalan kaki yang tentu saja, butuh waktu. Pacing pertarungan game ini di mata kami, memang jadi salah satu kelemahan terbesar.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…
September 28, 2020 - 0

Review HADES: Super Duper Nagih!

Supergiant Games? Berapa banyak dari Anda yang pernah mendengar nama…

PlayStation

November 20, 2020 - 0

Review Genshin Impact: Inovasi dan Adiksi Uji Hoki!

Berapa banyak dari Anda yang saat ini tengah sibuk memainkan…
November 17, 2020 - 0

Review Kingdom Hearts – Melody of Memory: Nostalgia Telinga!

Menyebutnya sebagai salah satu franchise dengan plot paling kompleks memang…
November 13, 2020 - 0

Review Watch Dogs Legion: Bersatu Kita Teguh, Bercerai Tetap Seru!

Kontroversial, memancing cemooh di awal rilis, namun tetap berakhir sukses…
November 10, 2020 - 0

Preview Assassin’s Creed Valhalla: Dalam Lindungan Odin!

“Ini bukan lagi seri Assassin’s Creed”, pergeseran genre dengan cita…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…