Review Digimon Story Cyber Sleuth – Hacker’s Memory: Dijitak Monster!

Reading time:
January 20, 2018

Sayangnya, Misi Sampingan yang Repetitif

Digimon Story Cyber Sleuth Hackers Memory jagatplay 88
Sayangnya, misi sampingan yang ditawarkan, tidak menarik.

Tetapi untuk ukuran sebuah game JRPG, Cyber Sleuth: Hacker’s Memory memang tidak bisa dibilang sempurna. Walaupun mengusung gameplay yang hampir serupa, sulit rasanya untuk tidak membandingkan hal-hal yang dilakukan begitu tepat oleh game JRPG yang lain dengan format yang sama, tetapi gagal ditawarkan oleh game racikan Bandai Namco yang satu ini. Salah satu yang menurut kami paling mengecewakan, adalah desain misi sampingan yang ada.

Bayangkan, Anda tengah berhadapan dengan sebuah game JRPG yang memuat setting dan arena beragam sudut kota Tokyo dalam detail yang pantas untuk diacungi jempol. Alih-alih memanfaatkan area-area ini sebagai “pusat” misi sampingan yang meminta Anda untuk keluar, melakukan eksplorasi untuk memicunya, atau menambahkan mungkin – beragam misi sampingan yang terasa acak misalnya, Cyber Sleuth: Hacker’s Memory justru mendesain tampilnya misi sampingan lewat hanya satu tempat saja. Sebuah tempat yang disebut sebagai BBS – atau Bulletin Board yang diceritakan, merupakan tempat Hudie mendapatkan permintaan penyelesaian masalah. Semua misi utama dan misi sampingan yang bisa Anda selesaikan akan muncul otomatis di menu board super datar nan tak menarik ini. Sisanya? Anda hanya perlu memilih misi sampingan, menyelesaikannya, dan terkadang keluar ke kota sekedar sebagai syarat. Bagaimana developer ini tidak terpikirkan untuk mengadaptasikan sistem pengambilan misi sampingan yang lebih baik dan lebih hidup seperti yang kami bicarakan di awal paragraf? Kami juga bingung.

Digimon Story Cyber Sleuth Hackers Memory jagatplay 106
Semua misi utama dan sampingan disajikan dalam menu sederhana bernama BBS ini.
Digimon Story Cyber Sleuth Hackers Memory jagatplay 86
Sementara sisi kota berakhir kosong. Tidak ada alasan untuk mengeksplorasi kota selain untuk syarat menyelesaikan misi saja. Sangat disayangkan.

Fakta bahwa segala sesuatunya bisa diambil dan dieksekusi dari BBS diperparah pula dengan desain misi sampingan yang harus diakui, juga lambat dan terasa repetitif. Lambat dalam pengertian, bahwa sebagian besar kasus ini berakhir meminta Anda untuk bercakap-cakap atau menikmati cut-scene yang ada lebih lama, dibandingkan dengan aksi pertarungan yang biasanya bisa diselesaikan dalam waktu hitungan menit saja. Lebih parahnya lagi? Misi-misi ini juga berakhir meminta Anda melakukan hal-hal yang klise, melakukan investigasi untuk kasus tertentu, mencari barang hilang, atau mengalahkan tim hacker jahat yang lain. Jika itu tidak cukup membosankan untuk Anda, arena “digital” yang jadi area eksplorasi Anda juga sangat terbatas. Tidak jarang bahwa satu daerah yang sama, misalnya “Under Kowloon” sebagai contoh di Eden, dijadikan tempat untuk berbelas-belas misi sampingan dan misi utama, membuat Anda harus melewati tempat yang sama berulang, dan berulang, dan berulang, dan berulang, dan berulang. Hingga setidaknya, cerita menawarkan tempat bertarung baru, dan kemudian siklus ini terjadi lagi.

Digimon Story Cyber Sleuth Hackers Memory jagatplay 58
Karena arena digital yang terbatas, game ini akan meminta Anda untuk terus kembali di tempat sama yang sebenarnya sudah berkali-kali Anda jelajahi.
Digimon Story Cyber Sleuth Hackers Memory jagatplay 109
Cerita utama juga terasa bertele-tele.

Sayangnya, hal yang sama juga kami rasakan di misi utama yang ada. Bahwa cerita seorang hacker muda yang ingin mendapatkan kembali identitas online dirinya sendiri berakhir menjadi sebuah kisah klise yang melibatkan begitu banyak pihak, namun penjelasan yang minim atau alasan yang kuat mengapa Anda harus peduli. Seperti sebuah anime, Anda seperti mendapatkan begitu banyak filler tidak esensial yang juga tidak memberikan kontribusi apapun pada progress cerita yang ada. Hasilnya? Pace cerita terasa sangat lambat. Sesuatu yang harusnya menarik dan lebih potensial untuk menangkap perhatian jika diselesaikan cepat, berakhir jadi kisah penuh percakapan dan cut-scene tidak menarik untuk sesuatu yang reward-nya terasa tidak sepadan dengan waktu yang dihabiskan. Untuk Anda yang mudah merasa bosan, ini akan jadi siksaan tersendiri.

Kesimpulan

Digimon Story Cyber Sleuth Hackers Memory jagatplay 134
Digimon Story – Cyber Sleuth: Hacker’s Memory jadi game JRPG pembuka tahun 2018 yang menarik. Anda akan bisa sangat menikmatinya jika Anda memenuhi dua syarat ini: Anda memang cinta berat dengan Digimon sebagai franchise dan Anda tidak mengantisipasi sesuatu yang begitu istimewa atau revolusioner dengannya.

Untuk sebuah game JRPG pembuka tahun, Digimon Story – Cyber Sleuth: Hacker’s Memory adalah sebuah game RPG yang terhitung standar. Solid, tidak buruk, tetapi tidak istimewa di saat yang sama. Ini sepertinya lebih diarahkan untuk gamer penggemar Digimon yang memang menginginkan sebuah game yang memungkinkan mereka untuk memilih dan bertarung dengan ratusan varian yang disediakan, sembari mempertahankan ragam animasi serangan spesial yang memang identik dengannya. Ada banyak hal yang mungkin akan membuat para penggemar jatuh cinta, dari setting Urban hingga proses Digivolve yang begitu sederhana dan mudah dikuasai. Konsep penguatan karakter Digimon yang tidak bertele-tele lewat sistem Reserve dan juga Farm Island membuatnya tidak terasa melelahkan. Di atas kertas, terlepas dari beragam kekurangan yang ada, ia adalah sebuah game JRPG dengan tema Digimon yang masih pantas untuk dicicipi.

Namun mau tak mau, harus diakui, Hacker’s Memory bukanlah sebuah game yang sempurna. Salah satu masalah terbesar yang menurut kami mencederai gameplay yang adalah kengganan untuk memanfaatkan dengan lebih potensial, setting urban Tokyo yang ia usung, untuk berkontribusi lebih besar pada gameplay. Alih-alih menambahkan dan memperkayanya dengan misi sampingan atau ragam aktivitas sampingan layaknya game-game JRPG kompetitor, ia tidak lebih dari sejenis dekorasi dan tempat untuk menempatkan clue untuk misi utama dan misi sampingan, dengan interaktivitas begitu minim. Desain misi sampingan yang repetitif juga jadi masalah lain yang tidak kalah, krusial.

Tetapi terlepas dari semua kekurangan tersebut, Digimon Story – Cyber Sleuth: Hacker’s Memory jadi game JRPG pembuka tahun 2018 yang menarik. Anda akan bisa sangat menikmatinya jika Anda memenuhi dua syarat ini: Anda memang cinta berat dengan Digimon sebagai franchise dan Anda tidak mengantisipasi sesuatu yang begitu istimewa atau revolusioner dengannya. Apakah Anda yang tidak familiar dengan Digimon bisa mencicipinya? Tentu saja, tetapi kehilangan daya tarik dan rasa penasaran untuk proses Digivolve yang seharusnya, menjadi salah satu akar pengalaman yang ada.

Kelebihan

Digimon Story Cyber Sleuth Hackers Memory jagatplay 136
Sistermon.. Uggghhh..
  • Sistem perkembangan Digimon yang sederhana
  • Konsep JRPG klasik
  • Sistermon
  • OST yang cukup asyik
  • Detail untuk Digimon yang fantastis
  • Tidak butuh grinding

Kekurangan

Digimon Story Cyber Sleuth Hackers Memory jagatplay 126
Desain dunia digital yang Anda temui tidak terlalu memanjakan mata.
  • Misi mudah terasa repetitif
  • Kota tidak menarik untuk dijelajahi
  • Tingkat kesulitan terasa mudah
  • Cerita terasa bertele-tele
  • Tidak ada perasaan terikat emosional dengan Digimon yang Anda pilih
  • Desain level di dunia digital yang tidak terasa kreatif

Cocok untuk gamer: penggemar Digimon, penikmat JRPG turn-based

Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan konsep Digimon yang mirip dengan binatang peliharaan, game yang menantang

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…