Review Death’s Gambit: Kematian yang Lebih Bersahabat!

Reading time:
August 29, 2018

Adalah sesuatu yang mengagumkan bahwa sebuah game yang sukses dan begitu populer, berakhir melahirkan sebuah sub-genre baru dari genre yang cukup populer. Mengusung action RPG sebagai basis, dengan tingkat kesulitan super tinggi yang siap membuat gamer frustrasi, dipadukan dengan desain level yang cukup terbuka dan desain tantangan yang selalu terasa rasional untuk bisa ditangani, tentu saja kita bicara soal seri Souls dari From Software dan Bandai Namco. Komitmen dan konsisten pada kualitas di atas popularitas yang terus melejit, banyak gamer yang berbondong-bondong untuk berusaha menawarkan daya tarik yang sama. Tidak hanya game AAA saja, tetapi juga proyek game indie yang pantas untuk diantisipasi. Sub-genre tersebut kini lebih dikenal “Souls-like”, yang juga jadi daya tarik yang hendak ditawarkan oleh Death’s Gambit dari White Rabbit.

Sempat diperkenalkan beberapa tahun yang lalu lewat sebuah trailer yang memesona, kesempatan untuk menjajal dan merasakan langsung daya tariK Death’s Gambit akhirnya tiba bersama dengan proses rilis resmi yang menuju ke beberapa platform gaming generasi saat ini. Di atas permukaan, ia memang terlihat seperti sebuah proses adopsi konsep Souls-Like ke dunia dunia dua dimensi dan tidak lebih. Pertarungan melawan boss yang sulit, dunia yang cukup terbuka, dan sistem kematian dengan konsekuensi tertentu bisa dipastikan menjadi bagian darinya. Namun proses memainkan game ini ternyata berujung pada satu konklusi yang pasti, bahwa Death’s Gambit punya identitas kuat tersendiri.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Death’s Gambit ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai kematian yang lebih bersahabat? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

(Dimainkan dan di-review dengan SI HITAM MK.I)

 

Plot

Cerita Death’s Gambit sendiri disajikan secara eksplisit dengan cut-scene keren.

Berbeda dengan cara From Software menangani seri Souls dan Bloodborne dari sisi cerita, dimana benang merah soal cerita semestanya meluncur dari beragam keterangan implisit yang tersebar di sepanjang permainan, Death’s Gambit menempuh jalur yang eksplisit. Cerita disajikan dalam bentuk cut-scene.

Bangkit dari kematian di tengah perang dimana pasukan Anda kalah dan dibantai oleh kekuatan yang melampaui manusia biasa, Anda berperan sebagai seorang prajurit bernama Sorun yang menemukan dirinya tidak lagi bisa mati. Ia membangun sebuah kontrak dengan Death sendiri untuk sebuah tugas yang super berat. Death mengungkapkan bahwa orang-orang yang telah menghabisi pasukan Suron sebenarnya adalah orang-orang yang tidak biasa.

Ditunjuk sebagai “Champions” milik Death, misi Anda adalah mencari sumber kekuatan para Immortals.
Pertempuran antara kedua kubu yang sama-sama tak bisa tewas tersebut, tak terhindarkan.

Mereka disebut sebagai “The Immortals”, orang-orang yang berhasil menemukan sumber kekuatan bernama “Source” yang membuat mereka pada dasarnya, tidak bisa mati. Sumber kekuatan tersebut mereka sembunyikan di dalam tempat bernama Caer Siorai, dengan beberapa tokoh antagonis lainnya tersebar untuk menjaga area tersebut. Death tentu saja tidak senang dengan kondisi ini dan menggunakan Sorun sebagai “pahlawannya” untuk membuat nyawa-nyawa yang sempat hampir berada di tangannya tersebut, kembali ke tempat yang seharusnya. Pelan tapi pasti, Sorun memahami bahwa perang ini ternyata berakhir jauh lebih personal dibandingkan apa yang ia percayai.

Memasuki beragam sisi dunia yang misterius ini, perjalanan Anda tentu saja, tak akan mudah.

Lantas, mampukah Sorun menyelesaikan tugas dari Death tersebut? Pertempuran seperti apa saja yang harus mereka lalui? Bagaimana karakter-karakter ini bersinggungan dengan kehidupan personal Sorun itu sendiri? Anda tentu saja harus memainkan Death’s Gambit ini untuk mendapatkan jawaban pasti dari pertanyaan-pertanyaan ini.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…
April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…