JagatPlay di TGS 2018: Menjajal DEMO Sekiro – Shadows Die Twice

Reading time:
September 23, 2018
sekiro

Salah satu highlight dan konten yang paling kami antisipasi dari keseluruhan perjalanan kami ke Tokyo Game Show 2018, tidak ada lagi kesempatan yang lebih tepat untuk memuaskan rasa penasaran kami pada judul game terbaru racikan From Software – Sekiro: Shadows Die Twice. Game yang terlihat memukau dari beragam trailer dan screenshot ini memang selalu didengungkan sebagai game yang punya cita rasa Souls, namun di sisi yang lain, punya daya tarik yang berbeda. Untungnya, tidak perlu menunggu terlalu lama, demo berdurasi 15 menit yang kami jajal ini langsung membawa kami pada sensasi Sekiro: Shadow Die Twice yang seharusnya. Sebuah seri bukan-Souls yang sepertinya tetap akan membuat para pencinta seri Souls, jatuh hati sejak pandangan pertama.

Sebelum menyelam lebih jauh ke dalam mekanik gameplay yang ada, Sekiro: Shadows Die Twice pantas mendapatkan acungan jempol dari sisi presentasi. Atmosfer Jepang di era Shengoku “fiktif” yang penuh konflik, lengkap dengan desain beragam arstitektur besar ataupun kecil yang merepresentasikan tersebut, memang membuat Sekiro: Shadows Die Twice ini terlihat memesona. Hampir segala sesuatunya dikerjakan dengan penuh detail, dari sekedar pakaian yang dikenakan oleh sang Shinobi hingga beragam animasi yang ia hasilkan, dari berjalan, melompat, hingga tentu saja, bertarung dengan menggunakan pedang. Dengan efek partikel kecil dari sekedar salju yang jatuh dari pohon saat Anda berdiri di atasnya hingga dentingan pedang saat Anda beradu, presentasi berada di arah yang tepat.

sekiro tgs 2018 1
Kami berkesempatan untuk menjajal Sekiro: Shadows Die Twice dalam demo 15 menit di TGS 2018.

Lantas, apa yang bisa kami tangkap dari Sekiro: Shadows Die Twice ini? Apa yang membuatnya terasa berbeda atau justru, serupa dengan seri Souls? Inilah impresi pertama kami:

Souls, Tapi Bukan Souls

sekiro shadows die twice2
“Posture” dan mekanik untuk bangkit kembali sekali adalah dua mekanik terunik Sekiro yang membuatnya berbeda dengan mekanik Souls / Bloodborne.

Apa yang mendefinisikan sebuah seri Souls sebagai sebuah seri Souls? Ada indikator yang tentu saja jelas seperti nama “Souls” dan “From Software” yang berdiri di belakangnya. Namun bagi gamer yang sempat menjajal sub-genre dari action RPG ini, ia selalu menawarkan sesuatu yang pasti di dalamnya – tingkat kesulitan. Bahwa terlepas apakah sang developer bisa menangani aspek lain sebaik yang dilakukan From Software dengan seri Bloodborne atau Souls misalnya, Souls-like seringkali didefinisikan dengan sebuah game yang punya ruang celah kesalahan yang sangat kecil, hingga sedikit salah kalkulasi Anda bergerak atau menyerang, maka konsekuensinya akan sangat fatal. Hal yang sama juga terjadi di Sekiro: Shadows Die Twice ini.

Intisarinya, ini masihlah sebuah game yang punya intisari seri Souls dari From Software seperti yang Anda kenal. Pertarungan berjalan begitu ketat dan punya ruang kesalahan yang kecil. Namun tidak lagi sekedar HP, Anda kini juga mendapatkan indikator baru bernama “Posture”. Anda bisa melihatnya sebagai “HP kedua” yang jika terisi penuh, akan membuat Anda ataupun musuh Anda, masuk ke dalam posisi stagger. Jika ini terjadi, maka Anda bisa melayangkan serangan pemungkas yang bisa membunuh mereka secara instan, atau di kasus-kasus pertarungan seperti boss dan mini-boss, melemparkan damage yang cukup besar. Melakukan parry di saat yang tepat juga akan memperkecil jumlah damage Posture yang Anda dapatkan. Ini berarti, ada ekstra bar yang harus Anda perhatikan di luar HP sendiri.

sekiro shadows die twice4 600x338 1
Intisari Souls masih memancar kuat ketika Anda bertarung secara terbuka.

Namun untungnya, seperti halnya seri Soul, ada item penyembuh yang bisa Anda gunakan untuk memastikan pertarungan berjalan lebih lama. Tetapi, seperti namanya, mekanik paling unik dari Sekiro adalah kesempatan untuk tidak sekedar mati sekali, tetapi mati dua kali sebelum Anda berhadapan dengan layar Game Over. Anda bisa memilih untuk bangkit kembali dan melakukannya dengan hanya satu tombol sederhana saja.

Tidak sekedar memberikan Anda kesempatan ekstra untuk melawan siapapun yang berhasil menghabisi Anda, mekanik ini juga bisa digunakan untuk memutar balikkan keadaan yang genting. Mengapa? Karena ketika Anda tewas untuk pertama kalinya, musuh akan menurunkkan agresivitas mereka dan memperlakukan Anda seperti layaknya mayat, kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing. Menunggu momen yang tepat untuk hidup kembali dan memanfaatkan kondisi seperti ini bisa membantu Anda mendapatkan keuntungan strategis tertentu. Mekanik hidup kembali ini sendiri tidak akan bisa Anda eksploitasi berlebihan. Ada limitasi berbentuk sebuah ikon di bagian kiri bawah yang akan menentukan apakah kesempatan tersebut tersedia atau tidak. Lewat demo singkat ini, kami sayangnya tidak bisa menentukan apa yang sebenarnya bisa membuat kekuatan tersebut kembali. Namun spekulasi utama saat ini sepertinya mengarah pada apakah Anda berhasil menghabisi musuh yang sempat menghabisi Anda untuk pertama kalinya tersebut.

Salah satu hal yang cukup unik dari Sekiro: Shadows Die Twice juga terletak pada pentingnya peran tangan buatan milik Shinobi untuk mengatasi beragam rintangan yang ada. Di sesi demo 15 menit ini, kami dipersenjatai dengan tiga buah fungsi Prostethic Arms milik Shinobi – api, shuriken, dan sebuah kapak besar. Kapak menjadi yang paling sering kami gunakan mengingat sensasi menggunakannya yang mirip dengan kapak dari Bloodborne. Satu kali terkena serangan ini cukup untuk menghancurkan posture musuh non-boss dan membuat Anda bisa mengakses serangan pemungkas dengan cepat. Sementara Shuriken bisa dilemparkan tidak untuk damage, namun mengakses serangan sang Shinobi yang otomatis akan melakukan “teleport” ke arah Shuriken dilemparkan. Sementara untuk serangan api, Anda sepertinya bisa memprediksi apa yang akan terjadi.

Main “Cantik”

sekiro shadows die twice
Dengan satu tombol khusus didedikasikan untuk tombol crouch, stealth punya peran penting di Sekiro. Ada opsi untuk bermain lebih aman selama Anda cukup cerdas untuk bermain “cantik”.

Selain beberapa mekanik baru yang ia tawarkan, ada satu hal yang terasa berbeda antara Souls dan Sekiro, yakni kesempatan untuk melakukan progress gemilang di permainan Anda dengan cara bermain “cantik”. Bahwa ini tidak selamanya selalu berkutat pada usaha untuk membunuh setiap musuh yang Anda temui begitu saja lewat pertarungan 1 vs 1. Ada banyak cara untuk mengatasi setiap rintangan di Sekiro, dan karenanya, berujung menghasilkan pengalaman gaming yang lebih dinamis dibandingkan seri Souls sebelumnya.

Dari hal sesederhana seperti Stealth misalnya. Mengingat bahwa proyek ini di awal adalah sebuah seri Tenchu yang kemudian berkembang begitu berbeda dan tumbuh menjadi identitas yang baru dan kita kenal sebagai Sekiro saat ini, identitas Stealth masih menjadi bagian tidak terpisahkan darinya. Sekiro punya satu tombol spesifik yang diarahkan sebagai tombol crouch, membuat sang Shinobi bisa bersembunyi di semak-semak ketika berusaha menghabisi musuh dari belakang, seperti game Stealth pada umumnya. Anda juga kini akan mendapatkan indikator terpisah dari musuh untuk memberikan Anda ide apakah posisi Anda saat ini diketahui atau tidak.

Dengan musuh yang sebagian besar dibunuh dengan satu serangan saja dari posisi Stealth seperti ini, Anda sepertinya berkesempatan untuk mendorong progress Sekiro dengannya. Selain melakukan crouch, Anda juga akan dibekali dengan kemampuan game stealth lain – Hug the Wall. Ini berarti Anda bisa bersembunyi dengan menempel pada tembok yang ada, menunggu musuh melewati anda tanpa diketahui, dan langsung menyerang mereka dari belakang.  Walaupun mekanik ini akan tentu saja sangat berguna, Anda tetap tidak akan bisa menyelesaikan game ini sepenuhnya dengan Stealth, mengingat sebagian besar boss tetap harus Anda kalahkan dalam pertarungan terbuka.

Aspek lain dari bermain “cantik” Sekiro juga seperti yang kami sebutkan sebelumnya, sangat bergantung pada aksi Anda menggunakan beragam fungsi Prostethic Arms milik Shinobi itu sendiri. Menggunakan Shuriken misalnya, akan sangat efektif untuk membunuh salah satu tipe musuh yang lemah, namun berfungsi sebagai alarm untuk musuh yang lain. Sesi demo 15 menit kami membuat kami bertemu dengan musuh yang menempatkan dirinya di posisi yang begitu strategis, dimana ia bisa melihat cukup jelas kondisi musuh yang lain dan aksi Anda. Jika Anda tidak membunuhnya terlebih dahulu dengan menggunakan Shuriken misalnya, maka besar kemungkinan ia akan memukul gendang yang ia miliki dan memancing kewaspadaan semua musuh yang berada di sekitar. Hasilnya? Anda akan bertarung dan kalah dari segi kuantitas. Mengetahui dan belajar soal musuh mana yang jadi prioritas untuk diberantas terlebih dahulu juga akan menjamin kemenangan.

Maka dengan kombinasi antara mode Stealth yang dipermak dengan begitu baik dan juga kesempatan menggunakan beragam fungsi Prostethic Arms yang dimiliki oleh sang Shinobi, Sekiro menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh seri-seri Souls dan Bloodborne sebelumnya – fleksibilitas untuk mencapai tujuan Anda. Bahwa ia tidak selalu berujung dengan sekedar bertarung dan belajar soal animasi serangan musuh saja, tetapi kali ini, juga memerhatikan dan mengingat posisi musuh di setiap lingkungan yang Anda temui dan kemudian menempuh jalur yang paling tidak beresiko sembari “membersihkan” mereka dengan cara yang paling minim resiko.

Pages: 1 2
Load Comments

PC Games

August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…

PlayStation

September 14, 2021 - 0

Review DEATHLOOP: Kesenangan Berulang, Berulang, Berulang!

Kami yakin sebagian besar dari Anda tentu saja sudah familiar…
September 8, 2021 - 0

Review Tales of Arise: Dahaga yang Terpuaskan!

Salah satu seri JRPG yang paling konsisten lahir di industri…
August 27, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yasuhiro Kitao (Elden Ring)!

Impresi pertama yang begitu kuat dan mengagumkan, tidak ada lagi…
August 27, 2021 - 0

Impresi Elden Ring: Souls dengan Rasa Berpetualang!

Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar nama From Software saat…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…