Review Jump Force: ATATATATA, MUDAMUDAMUDA dan ORAORAORA!

Reading time:
March 1, 2019

Hub yang Menyebalkan

Jump Force jagatplay 208
Jump Force sayangnya, diisi dengan konsep hub yang menyebalkan.

Hub adalah salah satu hal terburuk yang pernah terjadi di game fighting, apalagi jika kasusnya menyerupai kesalahan yang dilakukan Bandai Namco dengan Jump Force ini. Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, hub merupakan sebuah ruang besar yang fungsinya sebenarnya tidak lebih dari sebuah menu utama yang kini dipermak menjadi ruang interaktif. Jika Anda memainkannya secara online, Anda juga bisa menemukan player-player lain yang bergerak di dalam ruang yang sama, yang terkadang juga memperlihatkan seberapa ramai populasi pemain di kala itu. Namun seperti yang terjadi di Dragon Ball FighterZ dan Naruto Shinobi Striker, fungsinya tidak banyak membantu.

Mengapa? Karena selain memperlihatkan avatar milik player lain yang bergerak kesana-kemari di dalam hub, tidak banyak hal interaktif yang bisa Anda lakukan. Anda tidak bisa misalnya, mengajak mereka bertarung 1 vs 1 atau sekedar melihat seperti apa list skill yang mereka suntikkan untuk karakter avatar mereka. Semua keramaian tersebut sama sekali tidak berguna. Lebih parahnya lagi, mengingat hub ini juga menjadi bagian dari pengalaman single player yang ditawarkan Jump Force, ia justru menawarkan kerepotan tersendiri untuk mencapai progress dari sisi cerita.

Jump Force jagatplay 111
Anda bisa bertemu dengan player lain namun tidak bisa melakukan apapun dengannya.
Jump Force jagatplay 194
Harus berbicara dengan NPC untuk mendorong progress cerita adalah konsep yang menyebalkan!
Jagat Play Dead or Alive 6 Screenshot 2019 03 04 10 28 52
Anda harus mengakses peta setiap kali ingin melihat NPC mana yang harus Anda ajak bicara selanjutnya.

Apa pasal? Karena alih-alih seperti game fighting pada umumnya yang biasanya menggerakkan cerita secara otomatis, dari cut-scene ke cut-scene, Jump Force memutuskan untuk meminta Anda mengelilingi hub yang ada dan berbicara dengan karakter NPC spesifik sebelum bisa melakukan hal tersebut. Mereka biasanya memiliki tanda seru di atas kepala mereka. Berita buruknya? Tidak ada penunjuk pasti siapa yang harus Anda ajak berbicara selanjutnya atau dimana lokasi mereka sekilas pandang saat Anda melakukan proses eksplorasi. Tidak ada marka tanda seru transparan ataupun “kompas”  untuk membuatnya lebih sederhana, Anda harus mengakses peta dengan skema kontrol tidak intuitif untuk mengetahui lokasi mereka yang untungnya, masih difasilitasi oleh fitur fast-travel. Sejujurnya, kami lebih memilih jika mode single-player hadir tanpa konsep omong kosong seperti ini dan bergerak langsung dari cut-scene ke cut-scene yang lain. Hub sama sekali tidak berkontribusi pada pengalaman di kondisi seperti ini.

Di dalam hub yang sama, Anda juga memang bisa memilih dan mengambil rangkaian misi yang lain di luar misi utama lewat salah satu counter yang ada. Misi utama yang dimasukkan ke dalam kategori “Key Mission” biasanya akan tersedia jika memang ia dibutuhkan untuk menggerakkan cerita. Sementara menunggu, Anda bisa memilih menyelesaikan misi sampingan yang juga akan meminta Anda untuk bertarung melawan tim AI yang biasanya didistribusikan menurut tema tertentu. Ekstra kesibukan ini bisa Anda tempuh untuk mendapatkan reward EXP Points yang akan menaikkan level karakter Anda sekaligus mendapatkan skill terpisah bernama J-Skills. Bergantung pada misi yang Anda selesaikan, J-Skill akan berfungsi seperti halnya sebuah buff permanen yang bisa memperkuat Attack atau Defense Anda. Anda juga bisa memperkuatnya via proses upgrade menggunakan resource tertentu.

Jump Force jagatplay 150
Ada misi sampingan yang bisa Anda selesaikan dengan melawan tim roster dengan tema tertentu. Reward-nya adalah J-Skill yang berfungsi seperti buff permanen.
Jump Force jagatplay 110
Variasi kosmetik yang bisa digunakan karakter Anda sangat beragam.

Sisanya? Hub yang sama juga menyediakan toko yang akan menjual Skill dan Item Kosmetik di dalamnya. Mengingat karakter Avatar yang Anda gunakan diposisikan sebagai karakter yang fleksibel, ia selalu bisa menggunakan serangan dari karakter Jump yang lain termasuk serangan pemungkas sekalipun. Sementara untuk item kosmetik, seperti format pada umumnya, hanya mempercantik karakter Anda agar tampil berbeda dibandingkan Avatar user yang lain. Untuk urusan yang terakhir ini, varian yang ia usung memang pantas mendapatkan acungan jempol tersendiri.

Maka dengan memaksakan konsep hub bahkan di mode single-player sekalipun, Jump Force justru membuat pengalaman yang satu ini terasa tidak menyenangkan. Memang hub secara rasional memang dibutuhkan apalagi dengan konsep misi sampingan yang bisa diselesaikan, namun Bandai Namco punya banyak pekerjaan rumah untuk menyempurnakannnya dan membuatnya lebih bisa diandalkan. Perubahan terpenting? Tentu saja memberikan ikon lebih besar dan jelas soal karakter NPC mana yang harus Anda ajak bicara selanjutnya untuk mendorong cerita yang ada. Jangan sampai seperti saat ini, meminta Anda mengitarinya hanya untuk sekedar mencari karakter yang biasanya diikuti dengan dialog super kaku ini.

Kesimpulan

Jump Force jagatplay 53
Jump Force adalah sebuah game yang diracik dengan satu motivasi yang jelas – memenuhi mimpi fans pencinta anime / manga yang sempat muncul di Jump untuk melihat karakter-karakter favorit mereka bertarung satu sama lain.

Jump Force adalah sebuah game yang diracik dengan satu motivasi yang jelas – memenuhi mimpi fans pencinta anime / manga yang sempat muncul di Jump untuk melihat karakter-karakter favorit mereka bertarung satu sama lain. Bahwa setiap dari mereka dipresentasikan dengan seharusnya, disajikan dengan mengikuti source material yang ada, baik dari voice actress hingga animasi serangan yang ditawarkan. Dimana interaksi setiap karakter sesuai manga / anime tetap dipertahankan, sembari menyajikan efek visual nan destruktif yang hadir untuk membuat pertarungan dahsyat terpancarkan dengan baik. Dan untuk urusan yang satu ini, mereka melakukan tugas yang sangat baik. Ia terlihat tidak dibangun untuk sebuah scene kompetitif super serius yang misalnya, pantas untuk masuk ke dalam turnamen sekelas EVO.

Namun sayangnya, harus diakui bahwa game ini masih memiliki banyak kekurangan yang tentu saja sepantasnya diperhatikan oleh Spike Chunsoft dan Bandai Namco. Dari hal yang super absurd seperti absennya voice-acting untuk karakter Ryuk dari Death Note hingga hub yang kondisinya saat ini terhitung menyebalkan untuk gamer yang ingin menyelesaikan sisi cerita secepat mungkin. Desain karakter original dari Akira Toriyama juga terhitung mengecewakan untuk game fighting yang seharusnya tampil super ambisius ini. Karakternya terasa familiar dan tidak istimewa di saat yang sama. Animasi yang masih kaku juga menjadi catatan ekstra yang seharusnya tidak lagi terjadi di industri game modern saat ini, apalagi untuk sesuatu yang dibangun berbasiskan Unreal Engine 4. Keluhan lain? Motion blur yang terasa berlebihan, apalagi saat Anda menggeser kamera.

Maka, pantaskah Jump Force dilirik? Pertanyaan tersebut akan kami lempar kembali ke Anda. Apakah Anda termasuk gamer yang mencintai franchise-franchise yang sempat mampir di Jump ini dan ingin melihat mereka bertarung satu sama lain? Apakah Anda ingin karakter-karakter ini saling melemparkan ATATATA, ORAORAORA, dan MUDAMUDAMUDA dengan voice acting yang pantas? Jika Anda menjawab iya, maka Jump Force adalah pilihan yang tepat. Tetapi jika Anda datang mencari game fighting kompetitif berkualitas tinggi yang bisa diseriusi, ini tentu bukan judul yang harusnya Anda lirik.

Kelebihan

Jump Force jagatplay 220
Animasi serangannya, terutama untuk gerakan pemungkas tetap memanjakan mata dan sinematik.
  • Animasi serangan sinematik
  • Roster yang cukup banyak
  • Sistem pertarungan yang sederhana dan mudah dikuasai
  • Setia dengan sumber materi
  • Visualisasi cukup unik yang anehnya, terasa cocok
  • Desain beberapa arena pertarungan

Kekurangan

Jump Force jagatplay 165
Thanks for the motion blur!
  • Desain karakter original Akira Toriyama mengecewakan
  • Cerita terlalu standar
  • Ryuk – Death Note tanpa VA
  • Hub yang menyebalkan
  • Musik yang tidak diambil dari masing-masing franchise
  • Motion blur terasa berlebihan

Cocok untuk gamer: penggemar anime / manga dari judul-judul yang disertakan, tidak berkeberatan dengan gaya bertarung sederhana ala seri Naruto Ultimate di masa lalu contohnya.

Tidak cocok untuk gamer: yang menginginkan game fighting kompetitif, tidak senang dengan gaya game fighting tiga dimensi ala Naruto Ultimate

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

August 10, 2022 - 0

Review Marvel’s Spider-Man Remastered PC: Siap Kembali Berayun!

Marvel's Spider-Man Remastered akhirnya tersedia di PC. Apa saja yang…
August 2, 2022 - 0

Review Beat Refle: Pijat Refleksi Super Seksi!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Beat Refle ini? Mengapa kami…
July 22, 2022 - 0

Review As Dusk Falls: Ini Baru Game Drama Berkualitas!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh As Dusk Falls ini?…
June 28, 2022 - 0

Review My Lovely Wife: Pilih Istri atau Iblis-Iblis Seksi!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh My Lovely Wife ini?…

PlayStation

August 16, 2022 - 0

Review ROLLERDROME: Sepatu Roda Haus Darah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh ROLLEDROME? Mengapa kami menyebutnya…
August 15, 2022 - 0

Review Digimon Survive: Seru Iya, Bosan Juga Iya!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Digimon Survive? Mengapa kami menyebutnya…
July 18, 2022 - 0

Review STRAY: Kocheng Oren Mah Bebas!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh STRAY? Mengapa kami menyebutnya…
March 30, 2022 - 0

Review Stranger of Paradise – FF Origin: Ayo Basmi CHAOS!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Stranger of Paradise: Final Fantasy…

Nintendo

August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…
March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…