Review Jump Force: ATATATATA, MUDAMUDAMUDA dan ORAORAORA!

Reading time:
March 1, 2019

Memuaskan Fans

Jump Force jagatplay 44
Mengikuti tema dunia nyata dan Jump yang melebur, visualisasi “3D” karakter-karakter Jump ini berujung lebih baik dari yang kami bayangkan. Sebagian besar terasa cocok.

Harus diakui, bahwa ketika ia diperkenalkan untuk pertama kalinya kepada publik, kami termasuk salah satu gamer yang cukup khawatir dengan pendekatan visual yang ditawarkan oleh Bandai Namco untuk Jump Force. Untuk bisa menangkap tema utama – yang notabene merupakan peleburan dunia nyata dan Jump, mereka memutuskan untuk membawa karakter-karakter anime dua dimensi ini dan berusaha menerjemahkannya menjadi karakter tiga dimensi yang realistis. Tanpa proses cell-shading, tanpa ada usaha untuk mendorong cita rasa anime-nya sama sekali. Beberapa karakter terlihat aneh dan masa open beta beberapa waktu lalu juga mengisyaratkan masalah yang pelik soal ukuran karakter dan efek serangan yang ada. Berita baiknya? Versi final ini jauh lebih baik dari masa beta kemarin. Masalah seperti ukuran karakter yang menghalangi pandangan misalnya sudah teratasi dengan sudut pandang kamera yang lebih baik. Sementara untuk visual? Anda akan terbiasa.

Walaupun harus diakui ada beberapa karakter yang terasa tidak cocok dengan desain tiga dimensi “realistis” seperti ini, namun sebagian besar dari mereka melebur dalam kapasitas yang pantas untuk dinikmati secara visual. Karakter seperti Deku dari My Hero Academia, Kenshiro dari Tinju Bintang Utara, Yugi dari Yu-Gi-Oh! dan duo – Jotaro dan Dio hadir dengan desain yang cukup memesona. Kemampuan sang developer  – Spike Chunsoft meracik karakter yang masih mewakili dengan sangat baik desain mereka di versi anime tanpa mengubah banyak hal sekaligus membangun ulang mereka dalam bentuk dan animasi tiga dimensi yang keren adalah sesuatu yang fantastis. Walaupun harus diakui, ada beberapa karakter yang terlihat aneh seperti Trunks dari Dragon Ball yang entah kenapa, memiliki leher super tebal seperti sebuah pohon tua yang siap ditebang.

Jump Force jagatplay 54
Acungan jempol pantas diarahkan untuk desain tiga dimensi karakter yang masih merepresentasikan desain manga / anime-nya dengan begitu baik.
Jump Force jagatplay 231
Akurasi karakter sesuai sumber materi juga dipertahankan. Sanji misalnya, tetap tidak bisa memukul wanita.

Salah satu hal yang pantas untuk diacungi jempol juga cara mereka memastikan bahwa identitas karakter-karakter ini juga diproyeksikan secara tepat di dalam gameplay. Sebagai contoh? Sanji dari One Piece yang memang di cerita aslinya tidak pernah bisa memukul wanita. Siapa yang menyangka bahwa konsep dan identitas Sanji ini ternyata juga diterjemahkan oleh Bandai Namco di dalam Jump Force. Jika berhadapan dengan karakter wanita seperti Rukia (Bleach) ataupun Boa (One Piece), hingga Kaguya (Naruto) sekalipun, animasi serangan Sanji akan otomatis berubah menjadi serangan penuh hati berwarna pink. Animasinya berubah total dan tidak ada satupun darinya yang bisa menghasilkan damage untuk karakter-karakter wanita ini. Detail seperti ini membuat Jump Force semakin memesona.

Jump Force jagatplay 201
Beberapa arena pertarungan dibangun cukup mendetail, seperti Paris ini.

Beberapa lokasi yang dijadikan arena pertarungan juga berujung jauh lebih baik dari apa yang kami bayangkan. Salah satu favorit kami adalah Paris yang membuat Anda bertarung di tengah cerahnya siang, di tengah kota, di depan landmark yang tidak akan asing lagi di mata Anda. Melihat kontras pertarungan penuh bola-bola bersinar di tengah sebuah kota yang dibangun serealistis mungkin menghasilkan pengalaman unik tersendiri. Penambahan efek kehancuran permukaan arena pada saat serangan-serangan berat dilakukan juga kian memperkuat kesan bahwa setiap serangan yang dilontarkan oleh karakter ini memang destruktif adanya. Walaupun sangat disayangkan bahwa efek kehancuran ini tidak permanen dan akan lenyap dalam waktu singkat. Tambahan efek lain yang kami sukai? Tentu saja kehancuran kostum yang akan terjadi saat darah karakter mencapai titik HP tertentu, membuat pertarungan terasa lebih intens dari yang seharusnya.

Jump Force jagatplay 174
Efek kehancuran arena, walaupun tidak permanen, membuat pertarungan terasa lebih destruktif.
Jump Force jagatplay 73
Animasi serangan ciamik yang memang melekat pada masing-masing karakter diperlihatkan dengan manis di sini, terutama untuk serangan pemungkas yang ada.

Maka seperti pendekatan yang sepertinya sudah ditawarkan Bandai Namco di game fighting serupa di masa lalu seperti Naruto Ultimate misalnya, salah satu daya tarik Jump Force tentu terletak pada serangan-serangan khusus tiap karakter yang ditranslasikan memukau dari source material yang ada. Bukan hanya gerakan-gerakan memukau mata terutama untuk serangan pemungkas yang ada, tetapi juga keputusan untuk menyertakan jenis serangan sesuai dengan karakter itu sendiri. Sebagai contoh? Gon dari HunterXHunter. Serangan gunting-batu-kertas miliknya misalnya memungkinkan sistem hold yang bisa Anda lepas untuk timing yang Anda inginkan. Tidak hanya itu saja, list serangannya juga tidak selalu ofensif dimana salah satu darinya merupkan buff untuk dirinya sendiri. Ketika ia selesai menyelesaikan serangan pemungkasnya? Gon harus beristirahat dan tidak akan bisa digunakan. Ada akurasi juga dari sisi animasi seperti ini.

Sayangnya, harus diakui bahwa terlepas dari pesona ini, ada satu bagian yang terkesan dibangun setengah hati oleh Bandai Namco di Jump Force. Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sisi cerita yang ada. Walaupun voice actor-nya akurat untuk sebagian besar karakter yang ada, mereka anehnya tidak menyuntikkan VA sama sekali untuk Ryuk – Shinigami yang selalu mengikuti Light Yagami kemanapun ia pergi. Aneh melihat sosok ini terus menggerakkan bibirnya, namun tidak mengeluarkan suara sama sekali. Bandai Namco tidak banyak berbicara soal alasan mengapa Ryuk mendapatkan perlakuan “tidak mengenakkan” ini. Animasi untuk cut-scene yang seharusnya memperkuat sisi cerita juga berujung kaku dan terasa kadaluarsa.

Jump Force jagatplay 356
Tanpa alasan yang jelas, Ryuk dari Death Note tidak didukung oleh VA.
Jump Force jagatplay 339
Karakter original Jump Force hadir dengan desain mengecewakan. Glover terlihat seperti paman menyeramkan yang Anda hindari saat Anda kecil.

Salah satu sumber kekecewaan lain di sisi kami pribadi juga meluncur dari desain karakter original untuk Jump Force yang terus didengungkan lahir dari tangan dingin seorang Akira Toriyama. Ada setidaknya tiga karakter original di sisi cerita dan tidak satupun dari mereka yang berhasil mencuri hati kami dari tampilan fisik. Kesemuanya hadir dengan gaya “khas” Akira Toriyama yang justru terasa klise dan malas. Kane terasa seperti Jiren dengan warna berbeda, sementara Glover yang notabene diposisikan sebagai pemimpin Jump Force terasa seperti paman Anda yang bermasalah di keluarga dan selalu diminta oleh orang tua Anda untuk dijauhi. Desain karakter-karakter original ini justru jadi salah satu kelemahan presentasi Jump Force.

Walaupun jelas bahwa sisi presentasinya di beberapa sisi tampil gemilang, namun tetap sulit rasanya untuk mengabaikan bahwa di sisi yang lain ada yang terasa diracik dengan setengah hati dan justru merusak kualitas Jump Force secara keseluruhan. Namun kami rasa hal-hal ini akan terasa “tidak signifikan” untuk para fans yang tidak lagi sabar untuk melihat karakter-karakter favoritnya saling bertarung satu sama lain.

ATATATA, MUDAMUDAMUDA, ORAORAORA!

Jump Force jagatplay 213
Secara sederhana, Anda bisa menyebut Jump Force sebagai game fighting yang ditujukan untuk fans dan bukan untuk scene kompetitif.

Cara paling sederhana untuk menjelaskan Jump Force adalah melihatnya setara dengan game-game fighting tiga dimensi lain racikan Bandai Namco yang target pasarnya jelas – untuk para fans. Kita bicara soal game seperti seri Naruto Ultimate di masa lalu dan My Hero One’s Justice untuk Boku No Hero Academia beberapa waktu lalu. Lantas, apa maksudnya game fighting yang dibangun untuk fans? Bahwa secara mekanik, ia tidak diracik untuk arena kompetitif, sesuatu yang bisa dipertandingkan di EVO misalnya. Bahwa terlepas ia mengusung beberapa elemen yang membangun game fighting yang seharusnya, proses pengembangannya dari sekedar membangun animasi serangan hingga balancing soal damage misalnya, tidak didesain untuk mendukung scene kompetitif. Ia lebih difokuskan untuk menawarkan apa yang diinginkan oleh fans dengan mekanik yang sederhana.

Hadir dalam skema pertarungan yang begitu sederhana, Anda bisa mengakses semua fungsi dan kombo serangan dengan menggunakan beberapa tombol saja. Anda punya dua jenis serangan – lemah dan kuat yang jika ditekan berulang kali akan menghasilkan kombo panjang dengan animasi yang “cantik”. Anda bisa menahan tombol untuk melakukan serangan charge yang paling efektif saat digunakan untuk membuka pertahanan musuh yang tentu saja, bisa dilanjutkan dengan kombinasi serangan apapun yang Anda inginkan. Bar Power ala game fighting pada umumnya juga diperkenalkan dengan satu tombol yang didedikasikan untuk melakukan proses charging hingga maksimal 5 bar.

Jump Force jagatplay 130
Menekan satu tombol berulang-ulang akan menghasilkan serangan kombinasi.
Jump Force jagatplay 224
Semua serangan khusus yang menggunakan bar power bisa diakses dengan kombinasi 2 tombol saja. Sementara serangan pemungkas bisa dilakukan ketika karakter mencapai bar HP tertentu.

Seperti seri Naruto Ultimate dan banyak game fighting Bandai Namco yang lain, akses Anda pada jenis serangan spesial setiap karakter hanya memungkinkan kombinasi dua tombol saja. Untuk Playstation 4 misalnya, Anda hanya perlu menahan tombol R2 + salah satu dari empat tombol utama Playstation untuk melakukannya. Tiga jenis serangan biasanya bisa diakses kapanpun Anda inginkan, dengan salah satu di antaranya tampil sebagai varian lebih kuat yang biasanya butuh bar power lebih daripada 1. Sementara serangan pemungkas utamanya dengan damage masif dan animasi super keren yang identik dengan game seperti ini, hanya bisa diakses ketika HP Anda setidaknya sudah tersisa setengah. Indikator paling jelasnya adalah ketika kostum karakter rusak saat bertarung.

Maka seperti halnya game fighting pada umumnya, varian jenis animasi serangan yang Anda akses tentu saja berbeda-beda tidak hanya dari sisi animasi saja, tetapi juga jarak dan sifatnya. Seperti yang kami sempat bicarakan sebelumnya, ada jenis serangan yang bisa menghasilkan efek buff untuk karakter yang menggunakannya dan juga status untuk lawan. Ada jenis serangan yang butuh akses jarak dekat untuk bisa dieksekusi, sementara yang lainnya bisa dilakukan dari jarak jauh. Dengan konsep seperti dan kombinasi karakter yang menggunakannya, maka ada gaya bermain yang tentu saja bisa berujung menjadi favorit Anda. Bahkan termasuk jenis gamer fighting terburuk sekalipun – yang begitu senang melakukan spamming serangan bola api ala kamehameha misalnya.

Jump Force jagatplay 210
Setiap serangan tentu punya jarak efektifnya sendiri. MUDA MUDA MUDA MUDA!
Jump Force jagatplay 162
Anda bisa melakukan dodge berbasis cooldown untuk lepas dari serangan kombinasi lawan.

Tentu saja, bukan game fighting namanya jika ia tidak memberikan Anda banyak ruang untuk bertahan. Selain tombol guard sederhana yang sepertinya cukup untuk menahan hampir semua jenis serangan dengan sedikit cheese damage, setiap karakter terlepas dari apapun franchise-nya juga memiliki kemampuan untuk dodge berbasikan waktu cooldown. Dengannya, Anda bisa “melepaskan diri” dari damage ataupun serangan kombo seperti apapun yang tengah dilancarkan oleh lawan dan kemudian dalam waktu singkat, menyerang balik. Memanfaatkan fitur yang satu ini akan menjadi bagian paling krusial untuk memenangkan Jump Force. Dengan satu tombol ekstra lainnya Anda juga bisa melakukan Dash untuk mencapai musuh Anda dengan cepat sehingga karakter yang lebih kuat di serangan jarak dekat juga selalu punya kesempatan untuk melawan.

Jump Force mengusung sistem pertarungan 3 vs 3. Namun berbeda dengan game serupa yang membagi sistem ini ke dalam 3 bar HP berbeda yang menuntut Anda harus mengalahkan setiap dari mereka, game ini mengusung sistem hanya 1 bar HP dan 1 bar Power yang mewakili kekuatan tim secara keseluruhan. Ini berarti siapapun karakter yang Anda kalahkan akan mengakhiri pertempuran begitu saja. Kesempatan untuk melakukan gonta-ganti karakter tentu saja tersedia lengkap dengan sistem support untuk Anda yang ingin memanggil mereka sementara ke arena demi keuntugan strategis tertentu. Namun ingat, semuanya berbagi bar HP dan Power yang sama. Anehnya lagi? Ini juga berlaku untuk serangan pemungkas. Ini berarti jika Anda sudah melakukan serangan pemungkas dengan satu karakter di dalam tim Anda dan Anda menggantinya, karakter baru yang tiba di arena pertarungan ini tidak akan bisa menggunakan serangan pemungkas sampai waktu yang ditentukan. Untuk proses balancing, desain seperti ini memang rasional.

Jump Force jagatplay 269
Walaupun ditawarkan dalam format 3 vs 3, tim tetap berbagi 1 bar HP dan Power yang sama.
Jump Force jagatplay 175
Tiap karakter punya kondisi Awakening yang memberikan buff tertentu. Sayangnya, tidak cukup signifikan untuk membalik situasi pertarungan.

Selain serangan spesial, setiap karakter juga punya efek baru yang disebut sebagai Awakening. Untuk beberapa karakter yang di versi anime / manga originalnya memang punya bentuk berbeda yang lebih kuat, kondisi kritis dengan kemampuan baru ini memang kian menguatkan kesan bahwa Bandai Namco memang peduli dengan akurasi di dalam Jump Force. Namun sayangnya di dalam gameplay? Selain penambahan kecepatan dan damage, efeknya tidak terasa unik untuk sebagian besar karakter. Beberapa karakter mendapatkan armor baru seperti Seiya misalnya atau rambut kuning memesona Super Saiyan untuk Goku, namun tidak dilanjutkan dengan animasi serangan atau akses jurus baru yang secara signifikan bisa membalikkan kondisi pertarungan. Sebuah efek yang harus diakui, cukup mengecewakan.

Maka dengan semua kombinasi gameplay tersebut, Jump Force bukanlah sebuah game fighting yang sulit untuk dikuasai dan memang lebih diarahkan sebagai game untuk bersenang-senang. Dimana daya tariknya tidak terletak pada scene kompetitif yang ada, tetapi beragam animasi serangan sinematik yang memang akurat dengan source material setiap karakter yang ada. Sebuah format yang memang tidak asing lagi dengan nama Bandai Namco.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

August 10, 2022 - 0

Review Marvel’s Spider-Man Remastered PC: Siap Kembali Berayun!

Marvel's Spider-Man Remastered akhirnya tersedia di PC. Apa saja yang…
August 2, 2022 - 0

Review Beat Refle: Pijat Refleksi Super Seksi!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Beat Refle ini? Mengapa kami…
July 22, 2022 - 0

Review As Dusk Falls: Ini Baru Game Drama Berkualitas!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh As Dusk Falls ini?…
June 28, 2022 - 0

Review My Lovely Wife: Pilih Istri atau Iblis-Iblis Seksi!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh My Lovely Wife ini?…

PlayStation

August 16, 2022 - 0

Review ROLLERDROME: Sepatu Roda Haus Darah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh ROLLEDROME? Mengapa kami menyebutnya…
August 15, 2022 - 0

Review Digimon Survive: Seru Iya, Bosan Juga Iya!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Digimon Survive? Mengapa kami menyebutnya…
July 18, 2022 - 0

Review STRAY: Kocheng Oren Mah Bebas!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh STRAY? Mengapa kami menyebutnya…
March 30, 2022 - 0

Review Stranger of Paradise – FF Origin: Ayo Basmi CHAOS!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Stranger of Paradise: Final Fantasy…

Nintendo

August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…
March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…