Review Erica: Eksekusi Manis Film Interaktif!
Melebur Fantastis

Membayangkan sebuah game interactive story yang menjadikan film live-action sebagai basis tentu menjadi tantangan yang tidak pernah kita prediksi sebelumnya. Memang ada usaha untuk menawarakn film interaktif seperti ini, seperti yang sempat dilakukan Netflix dengan Bandersnatch. Namun ia berakhir menjadi semacam “buku cerita” yang sekedar menawarkan cabang-cabang cerita yang dibangun atas sistem respon-konsekuensi. Namun sisi interaktif film seperti Bandersnatch terhitung terbatas. Sementara di sisi lain, Erica berambisi untuk menawarkan level interaktivitas ala game-game interactive story sekelas Teltale ataupun Quantic Dream. Sebuah ambisi yang dieksekusi fantastis.
Namun, interaktivitasnya tentu tidak setara dengan Telltale Walking Dead atau Detroit: Become Human. Sebagai contoh? Anda tidak punya opsi untuk mengendalikan karakter Erica sama sekali layaknya video game. Seperti film televisi yang Anda nikmati, semua pergerakan dan reaksi yang diperlihatkan oleh Erica, termasuk sudut pandang kamera dan sejenisnya, berada dalam ranah pasif. Anda tidak bisa mengaturnya, Anda tidak bisa mengendalikannya, Anda hanya bisa menikmatinya saja.


Lantas, darimana sisi fantastis yang kami sebutkan sebelumnya? Tentu saja mengakar pada keberhasilan sang developer – Flavourworks untuk mengintegrasikan elemen gameplay ala game interactive story di dalamnya. Selain pilihan respon untuk ragam situasi yang berbeda, Erica juga menuntut Anda untuk mensimulasikan pergerakan tangan Erica pada saat menyentuh atau menggeser objek misalnya. Di beberapa titik permainan, Anda juga diberikan kebebasan untuk memilih satu di antara jalan yang ada dan kemudian menikmati respon cerita selanjutnya. Semuanya dikombinasikan dengan eksekusi peleburan antara gameplay dan cerita yang sama.
Kami sendiri tidak mengerti bagaimana mekanisme teknis yang dilakukan, namun sisi interaktivitas pada objek dan sejenisnya sepertinya dibangun di atas visual berbasis stop-motion. Anda masih mengendalikan objek dunia nyata yang tampil layaknya foto, namun mampu bergerak mengikuti instruksi Anda. Kesan stop-motion ini menguat setelah Anda melihat bahwa objek yang disinari cahaya sekalipun, akan memiliki gerak bayangan sesuai dengan aksi yang Anda lakukan, frame per frame. Kombinasi sistem seperti ini membuat peleburan antara sisi gameplay dan konten video yang Anda tonton semakin samar, menciptakan sebuah ilusi keren bahwa video live-action yang Anda cicipi ini, terasa tak ubahnya sebuah video game dengan aktor dan dunia digital di atasnya.



Salah satu hal keren lainnya adalah sudut pengambilan gambar kamera yang sebagian besar di antaranya menggunakan sudut yang “sangat video game” sensasinya. Jauh di sudut, menangkap semua elemen objek yang bisa Anda picu, dengan pergerakan karakter yang mengesankan hal tersebut. Bahwa tidak seperti film-film Hollywood yang lebih banyak melakukan zoom in untuk memprioritaskan sisi emosi atau menciptakan sensasi dramatis yang seharusnya, Erica banyak memainkan kamera jauh, terutama pada saat pergerakan dan observasi lingkungan sekitar. Kondisi seperti ini membuat ilusi video game-nya begitu kentara.
Lantas, bagaimana dari sistem presentasi? Tentu berbeda dengan kebanyakan game interactive story dimana kami bisa bicara soal engine atau seberapa realistis visual yang ia usung, Erica yang notabene merupakan sebuah game live-action, tentu tidak perlu memusingkan hal itu semua. Fokusnya kini terletak pada seberapa mumpuninya akting para aktor, yang sebagian besar dari mereka, memang mampu “menjual” cerita misteri yang berusaha ditawarkan di sini. Namun tidak kesemuanya efektif. Aktor pemeran polisi yang seharusnya membantu Erica misalnya, tidak terasa punya range emosi yang cukup untuk menjual kegentingan, keseriusan, atau seberapa emosionalnya situasi tertentu. Sementara untuk urusan audio? Anda tidak perlu banyak khawatir.
https://www.facebook.com/pladidus/videos/vb.1061780562/10217683121564106/?type=2&video_source=user_video_tab
Maka yang ditawarkan oleh Erica ini adalah sebuah format baru film interaktif yang melebur manis bersama dengan interaktivitas ala video game yang benar-benar fantastis. Kami tidak akan terkejut bahwa di masa depan, ada banyak proyek serupa yang hendak meminjam konsep yang satu ini. Karena jika ia berhasil dipikirkan dan diantisipasi matang di proses pengembangan awal, bukan tidak mungkin ia bahkan mampu menawarkan kekuatan dan kualitas melebihi game interactive story digital sekalipun.
Kali Ini, Touch Pad

Kapan terakhir Anda menggunakan touch-pad DualShock 4 Anda secara maksimal? Dari semua fitur yang ditawarkan Playstation 4 untuk kontroler andalannya ini, touch-pad sepertinya bisa disebut sebagai fitur underrated yang tak banyak digunakan, bahkan untuk game-game eksklusif PS4 sekalipun. Satu-satunya game eksklusif yang mendorong fungsi ini hanyalah Infamous: Second Son dengan aksi spray dinding yang mewakili simulasi genggam kaleng cat dengan baik dan DREAMS yang memang notabene membutuhkannya untuk menciptakan proses kreatif gamer yang ada. Di Erica, touch pad adalah segalanya.
Maka dengan menggunakan touch pad yang ada (jika Anda tidak ingin menggunakan fitur Playlink berbasis mobile yang didorong Sony), Anda akan mengendalikan hampir keseluruhan sisi “gameplay” Erica. Dengan mengendalikan sebuah lingkaran cahaya, Anda akan memilih respon Erica pada situasi atau pertanyaan tertentu dengan hanya menahan, menggeser, dan melepaskan aksi tekan Touchpad Anda di lokasi yang Anda inginkan. Tanpa waktu loading sama sekali (yang di beberapa kondisi juga dibungkus dengan pergantian scene agar terasa lebih natural), Erica akan langsung melakukan aksi yang Anda pinta. Kondisi ini bahkan membuatnya terasa lebih maksimal dibandingkan dengan game interactive story yang terkadang, punya hiccup loading konsekuensi tersendiri.


Tidak hanya itu saja, touchpad juga akan digunakan untuk melakukan aksi geser ke segala arah untuk mensimulasikan aksi tangan Erica, layaknya sebuah game interactive story. Dengan menggunakannya, Anda akan diminta untuk memutar kunci, membuka peti, hingga sekedar membalik-balikkan halaman buku. Beberapa aksi membutuhkan dua aksi jari sekaligus, seperti ketika Anda membuka tirai atau berusaha memotong batang tanaman dengan gunting taman, misalnya. Tidak ada QTE super cepat yang harus Anda waspadai, karena Erica memberikan cukup banyak waktu Anda untuk memilih respon Anda. Namun tentu saja, memilih diam atau abstain juga menjadi opsi yang bisa Anda ambil di beberapa titik cerita. Walaupun, tidak kesemuanya bisa Anda lewati dengan hanya diam saja.
Maka sisa pengalaman yang harus Anda ambil hanyalah menikmati cabang cerita yang cukup banya, walaupun Anda pada akhirnya, tetap akan didorong bergerak ke satu titik cerita utama – alias misteri utama yang menyelubungi sosok Erica itu sendiri. Opsi respon dan konsekuensi yang ia ambil akan menimbulkan cabang cut-scene baru dan berbeda, yang membuat level replayability-nya cukup tinggi. Dengan waktu permainan 1 – 1,5 jam untuk 1 kali playthrough, Anda bisa menikmati game ini untuk beberapa kali untuk mendapatkan gambaran lebih jelas soal apa yang terjadi pada hidup Erica dan misteri yang mengelilinginya. Tenang saja, cabang pilihan yang punya konsekuensi besar pada cerita biasanya terlihat cukup jelas dan bisa dirasionalisasi, hingga Anda tidak perlu memusingkan diri soal keputusan yang Anda ambil. Biarkan Anda merangkai cerita untuk Erica dan nikmati kemana ia akan berakhir.
https://www.facebook.com/pladidus/videos/vb.1061780562/10217682810476329/?type=2&video_source=user_video_tab

Erica juga menyediakan opsi untuk subtitle dan juga pilihan teks yang lebih jelas di bagian setting, serta beberapa pilihan bahasa. Tenang saja, Anda yang senang berburu trophy juga akan “dimanjakan” dengan requirements yang tak sulit dan hanya butuh beberapa kali playthrough untuk disempurnakan.










