Review Man of Medan: Kapal Hantu Kurang Hantu!

Reading time:
September 5, 2019

Kualitas Bertahan

Man of Medan jagatplay 69
Walaupun kini menggunakan engine berbeda, Supermassive Games tetap berhasil “mereka ulang” daya tarik game mereka sebelumnya – Until Dawn.

Jika Anda sempat memainkan Until Dawn di masa lalu, maka Anda sepertinya sudah memahami kualitas presentasi yang ditawarkan oleh Supermassive Games untuk game interactive story / adventure mereka. Salah satu kekuatan utama mereka memang terletak pada kualitas detail wajah yang memesona, yang juga tidak sulit untuk mengekspresikan emosi, melahirkan ilusi realisme yang lebih kuat. Maka seperti daya tarik di seri sebelumnya tersebut, Supermassive Games juga menawarkan hal yang sama di Man of Medan ini. Bahwa kekuatan ekspresi masih menjadi salah satu daya tarik utama walaupun ia dibangun dengan engine yang berbeda.

Walaupun demikian, bukan berarti sisi grafis lain dari Man of Medan tidak memesona. Lokasi yang lebih terbatas, dimana lokasi yang bisa Anda jelajahi berakhir linear dan bisa dihitung dengan jari, sepertinya memberikan ruang lebih besar bagi Supermassive Games untuk memastikan setiap dari mereka tampil memesona. Didukung dengan efek tata cahaya dan efek blur pada kamera yang tepat sasaran, Anda akan mendapatkan pengalaman sinematik yang sejatinya, mlemang dikejar oleh Man of Medan. Namun salah satu sisi presentasi terbaik yang mereka tawarkan juga mengakar pada sudut pandang kamera tetap yang di beberapa kondisi, memang mampu menumbuh rasa kecemasan tersendiri.

Man of Medan jagatplay 100
Permainan cahaya, efek blur, dan sudut pandang kameranya memang pantas diacungi jempol.
Man of Medan jagatplay 147
Terlalu banyak loading transisi layar hitam yang pelan tapi pasti, menghancurkan ilusi cerita yang berkesinambungan.

Maka kombinasi lingkup game yang memang lebih kecil dibandingkan Until Dawn dan kualitas engine yang memang pada dasarnya sudah memesona, Man of Medan tampil sebagai game sinematik yang cantik dan siap memanjakan mata. Sayangnya, bukan berarti game ini tampil tanpa masalah. Salah satunya muncul dari layar transisi opsi dan konsekuensi yang masih terasa begitu kaku dan buruk. Bahwa selain kualitas framerate yang terkadang turun (di versi PS4) yang bahkan terkadang berakhir mengganggu sesi QTE yang genting, transisi yang diisi dengan layar hitam ini benar-benar mematikan ilusi bahwa Anda tengah menikmati sebuah cerita interaktif yang seharusnya berkelanjutan. Di beberapa scene, seperti tengah memroses konsekuensi dari pilihan Anda, layar hitam ini bahkan muncul beberapa kali, berturut-turut. Walaupun tidak secara langsung mempengaruhi kenyamanan Anda bermain, namun ia harus diakui, mengurangi pengalaman cerita yang seharusnya.

Sementara dari sisi desain suara, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kualitas akting yang muncul dari para voice actor berhasil menjual sensasi percakapan yang natural dengan reaksi yang seharusnya, baik ketika hendak mengirimkan sinyal bahwa mereka tengah bersantai, gembira, atau stress. Sementara suara lingkungan juga cukup untuk menciptakan atmosfer penuh rasa cemas dan keseraman, baik ketika ia sekedar sunyi atau dipenuhi dengan bisikan-bisikan suara yang Anda tidak tahu letaknya dimana. Sebuah praktik game horror yang harus diakui, memang dieksekusi dengan baik.

Man of Medan jagatplay 44
Man of Medan tetap tampil memesona dari sisi presentasi.

Maka dari sisi presentasi yang ada, kualitas Man of Medan memang bisa dibilang setara atau bahkan lebih baik dibandingkan Until Dawn. Pendeknya waktu gameplay sepertinya memberikan lebih banyak waktu bagi Supermassive Games untuk memoles beberapa elemen yang ada, walaupun sayangnya, tidaklah sempurna.

Lebih Genting

Man of Medan jagatplay 59
Berfokus pada sistem opsi dan konsekuensi, Anda yang sempat memainkan Until Dawn pasti akan merasa familiar dengan Man of Medan.

Maka seperti format yang mereka tawarkan di Until Dawn, Man of Medan juga mengusung genre cerita interaktif yang sama. Bahwa daya tarik utamanya terletak pada beragam opsi percakapan dan aksi yang masing-masing darinya akan menghasilkan konsekuensi yang berbeda-beda. Anda bisa membangun misi Anda sendiri dengan berupaya untuk memastikan setiap dari karakter utama yang ditawarkan berakhir selamat di akhir cerita, atau bahkan membinasakan mereka bahkan sebelum cerita utama berakhir jika Anda iseng. Elemen aksi diusung dalam format QTE dengan aksi eksplorasi yang terkadang, membuka informasi baru terkait cerita yang ada. Bersamanya juga, Anda akan menemukan lukisan-lukisan acak di sepanjang permainan yang akan memberikan sedikit intipan soal momen penting in-game yang akan terjadi, hingga Anda bisa sedikit mempersiapkan diri.

Namun berbeda dengan Until Dawn, ada satu hal yang terasa berbeda di Man of Medan. Bahwa keseluruhan sensasi permainan terasa lebih genting. Alasannya? Karena ia sama sekali tidak menawarkan persiapan atau “aba-aba” untuk proses QTE yang terjadi di sepanjang permainan. Tidak ada gerak lambat, tidak ada layar yang berwarna abu-abu atau justru berbalik cerah untuk menangkap perhatian Anda, tidak ada suara keras peringatan bahwa Anda akan masuk ke area QTE. Game ini akan langsung melemparkan QTE seperti ini ke Anda, dengan cepat begitu saja. Kita tidak hanya sekedar berbicara soal menekan sekuens tombol saja, tetapi juga “mini-game” baru yang meminta Anda untuk menekan tombol seirama dengan detak jantung yang ada.

Man of Medan jagatplay 125
Penekanan ritmik berdasarkan detak jantung ini menjadi “mini-game baru”
Man of Medan jagatplay 13
Walaupun familiar, namun Man of Medan berujung menawarkan sensasi permainan yang lebih genting.

Lebih kerennya lagi? Konsep QTE tanpa aba-aba ini kemudian dikombinasikan dengan beragam situasi hidup-mati karakter yang pada dasarnya, memang begitu signifikan pada garis cerita yang Anda dapatkan. Kondisi seperti ini menciptakan ketegangan sendiri, mengingat Anda yang untuk pertama kalinya memainkan game ini, tidak akan bisa memprediksi kapan QTE ini datang dan pergi. Sebagian besar dari mereka juga tidak menyediakan cukup banyak waktu bagi Anda untuk bereaksi lambat. Belum cukup? Ia juga tidak menawarkan banyak ruang error untuk kesalahan. Tidak ada kesempatan kedua jika Anda salah menekan tombol, tidak ada kesempatan kedua ketika Anda gagal menekan tombol ritmik yang dibutuhkan, tidak ada kesempatan kedua jika ia berakhir dengan konsekuensi yang tidak Anda inginkan. Lapisan ini membuat Man of Medan, berakhir lebih menegangkan.

Man of Medan jagatplay 111
QTE yang punya konsekuensi fatal hadir tanpa aba-aba dan persiapan.
Man of Medan jagatplay 132
Semuanya terjadi karena segelas susu hangat…

Jadikan kami sebagai contoh terbaik sekaligus tertolol untuk kasus yang satu ini. Setelah melewati animasi tegang dimana Conrad berusaha lari dari para perompak di awal menggunakan kapal untuk memanggil bala bantuan, kami pun langsung rileks. Animasi Conrad melompat ke dalam kapal sudah terjadi dan ia terlihat memacunya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan teman-temannya yang lain. Kami yang mengira bahwa sekuens ini selesai pun langsung santai – mengambil segelas susu hangat dan sepotong kue yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk sekedar mengganjal perut. Belum selesai bibir menyeruput, tiba-tiba tombol Segitiga muncul di layar (versi PS4), yang notabene mengejutkan dan tak terprediksi sebelumnya. Dengan susu hangat di tangan yang satu? Tentu saja kami melewatkannya! Hasilnya adalah peluru yang berakhir menembus Conrad, tewas, dan kehilangan dirinya sebagai karakter utama dan semua sekuens horror yang seharusnya terjadi. Semuanya karena kami lebih memilih segelas susu hangat. Sungguh sistem yang bedebah.

Sisanya adalah praktik standar game Supermassive Games, terutama di Until Dawn. Semakin berani Anda untuk mengeksplorasi ragam wilayah yang ia sediakan, semakin besar pula pemahaman Anda soal apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan situasi yang ada dan terkadang, memunculkan opsi baru yang bisa Anda ambil. Gerak cerita yang beradaptasi dengan opsi yang Anda ambil pun terhitung dinamis dan manis, dimana karakter utama baru akan dipilih begitu karakter yang tengah Anda gunakan tewas. Konsekuensinya pun bisa berakhir membuat Anda melewatkan banyak hal, dari sekuens cerita, sekuens per karakter, hingga interaksi di antara karakter-karakter yang masih hidup.

Man of Medan jagatplay 90
Dibangun cerdas, cerita akan terus berlanjut terlepas dari karakter mana saja yang berakhir tewas di tengah perjalanan. Man of Medan akan beradaptasi dengan hal tersebut.

Dengan situasi seperti ini, maka kami tidak bisa lagi lebih menyarankan bagi Anda untuk selalu mawas dengan mata yang tidak pernah memalingkan diri dari depan layar kaca televisi atau monitor. Anda tidak akan pernah ingin berakhir seperti kami.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

September 23, 2022 - 0

Review IMMORTALITY: Misteri Dalam Misteri Dalam Misteri!

Apa yang sebenarnya  ditawarkan oleh IMMORTALITY? Mengapa kami menyebutnya game…
August 19, 2022 - 0

Review Cult of the Lamb: Menyembah Setan Sambil Bertani!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Cult of the Lamb ini?…
August 10, 2022 - 0

Review Marvel’s Spider-Man Remastered PC: Siap Kembali Berayun!

Marvel's Spider-Man Remastered akhirnya tersedia di PC. Apa saja yang…
August 2, 2022 - 0

Review Beat Refle: Pijat Refleksi Super Seksi!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Beat Refle ini? Mengapa kami…

PlayStation

September 1, 2022 - 0

Wawancara dengan Shaun Escayg dan Matthew Gallant (The Last of Us Part I)!

Kami sempat berbincang-bincang dengan Shuan Escayg dan Matthew Gallant terkait…
August 31, 2022 - 0

Review The Last of Us Part I: Lebih Indah, Lebih Emosional!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh The Last of Us Part…
August 26, 2022 - 0

Review Soul Hackers 2: Kumpul Iblis, Selamatkan Dunia!

Bagaimana dengan pengalaman yang ditawarkan oleh Soul Hackers 2 ini?…
August 25, 2022 - 0

Review Playstation Plus Tier Baru: Ambil EXTRA, Abaikan DELUXE!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Playstation Plus Tier Baru ini?…

Nintendo

September 21, 2022 - 0

Review Xenoblade Chronicles 3: Salah Satu JRPG Terbaik Sepanjang Masa!

Apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
August 4, 2022 - 0

Preview Xenoblade Chronicles 3: Seperti Sebuah Keajaiban!

Kesan pertama apa yang ditawarkan Xenoblade Chronicles 3? Mengapa kami…
April 6, 2022 - 0

Review Kirby and The Forgotten Land: Ini Baru Mainan Laki-Laki!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Kirby and the Forgotten…
March 25, 2022 - 0

Review Chocobo GP: Si Anak Ayam Kini Serakah!

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Chocobo GP ini? Mengapa…