Menjajal Beta Minecraft RTX: Bagai Bumi dan Langit!

Sebuah game yang tampil bak sebuah revolusi di industri game, tidak ada lagi kata yang lebih tepat untuk menjelaskan posisi Minecraft di industri game. Bentuknya di awal rilis memang tidak bisa dibilang menggoda, apalagi dengan basis block yang dijadikan sebagai pondasi untuk dunia yang ia bangun, karakter yang Anda temukan, dan ragam objek yang bisa racik di dalamnya. Namun ada yang menarik selepas perpindahan Minecraft di bawah bendera Microsoft. Ketika banyak game di usianya mulai menua dan dilupakan begitu saja, Minecraft justru menemukan momentum untuk terus tumbuh dan berkembang. Dukungan komunitas yang kuat dan suntikan konten yang terus menerus hadir membuat ekosistem-nya memang istimewa.
Satu yang juga tidak kalah menarik, bahwa ia masih punya potensi untuk terus tampil relevan bukan hanya karena segudang fungsi yang bisa Anda bangun dengannya atau cita rasa adiktif dari sistem gameplay yang ia usung, tetapi juga karena dukungan ray-tracing bersama kartu grafis RTX yang sempat diumumkan NVIDIA dan Microsoft beberapa waktu yang lalu. Setelah digoda lewat beragam teaser dan screenshot yang dilepas, gamer akhirnya berkesempatan untuk menjajalnya secara langsung dalam format masa beta yang seharusnya sudah tersedia ketika artikel impresi ini dilepas! Tentu saja, untuk saat ini, Anda membutuhkan kartu grafis NVIDIA RTX untuk menjajal beberapa dunia baru yang dibangun khusus untuk memaksimalkannya ini.
Lantas, seperti apa impresi yang ia tawarkan? Mengapa kami menyebutnya sebagai perbedaan visual bumi dan langit? Artikel impresi ini akan membantu Anda mencari tahu apa saja yang baru dan berbeda dan tentu saja melihat perbedaannya secara langsung lewat sesi komparasi yang kami sertakan di bagian akhir artikel.
(Artikel impresi dikerjakan dengan menggunakan notebook Omen by HP 15 – i5-9300H, GeForce RTX 2060, SSD 256 GB + HDD 1 TB, DDR4-2666 1 x 8 GB, 144Hz)
Memaksimalkan Ray-Tracing

Ray-Tracing adalah masa depan industri game, ini mungkin pernyataan yang tidak berlebihan. Pengumuman konsol generasi selanjutnya dari Microsoft dan Sony misalnya, menghadirkan sebuah sesi khusus untuk membicarakan fitur visual yang dipercaya akan membuat sisi presentasi game-game terbaru menjadi jauh lebih realistis ini, terutama dari sisi atmosfer yang ia usung. Teknologi ray-tracing ini sendiri sudah berusaha didorong NVIDIA lewat kartu grafis RTX mereka selama beberapa tahun terakhir ini dan sudah teruji memang membuat beberapa game terlihat lebih indah. Sebagai contoh? Control dari Remedy Entertainment dan Metro Exodus dari 4A Games.
Pertanyaan paling besar yang tentu saja diliputi dengan banyak keraguan adalah bagaimana teknologi yang satu ini bisa mengubah pengalaman Anda bermain Minecraft, yang notabene merupakan produk populer yang selama ini tidak pernah menjadikan kualitas visualisasi sebagai daya tarik? Kuncinya adalah memanfaatkan dan mengkombinasikan teknologi yang berusaha untuk menawarkan simulasi efek tata cahaya serealistis mungkin ini dengan beberapa perubahan dari sisi Minecraft-nya sendiri.
Salah satu yang paling signifikan adalah kehadiran efek baru di material yang kini mampu mewakili sifat yang seharusnya, layaknya di dunia nyata. Ini berarti, block kaca akan memantulkan cahaya, block air kini akan bisa membelokkan cahaya yang berusaha menembus mereka, dan block-block berbasis bahan metal kini juga bisa merefleksikan pantulan seperti halnya benda-benda metal di dunia nyata. Dipadukan dengan akurasi hitung cahaya untuk memastikan pantulan bekerja dalam format serealistis mungkin, Minecraft RTX Beta menunjukkan satu hal yang selama ini tidak pernah kita prediksikan sebelumnya – bahwa sejatinya, game berbasis balok ini, ternyata masih bisa tumbuh menjadi game super memesona dari sisi visual.


Kita tidak hanya sekedar berbicara soal cahaya saja, tetapi juga akurasi bayangan yang tepat ketika sumber-sumber cahaya ini dihalangi oleh objek tertentu. Satu yang menarik, Anda bahkan bisa memanipulasi seperti apa warna cahaya yang bisa mengemuka menggunakan gelas berwarna, mengatur kegelapan yang mungkin muncul di beragam sudut lewat penempatan sumber cahaya, atau melihat bagaimana cahaya-cahaya lembut berusaha “menembus” celah-celah balok yang Anda sematkan. Anda juga bisa melihat bagaimana cahaya dan bayangan ini berujung akurat ketika mereka menembus balok bercelah, seperti daun pepohonan misalnya. Namun jika harus berbicara jujur, yang paling signifikan memang ketika Anda membandingkan objek bermaterial metal atau memainkan efek kaca untuk menangkap esensi ray-tracing ini.
Apakah ini berpengaruh banyak di sisi gameplay Minecraft Anda? Iya dan tidak. Secara pondasi, ia tidak akan mengubah pondasi yang masih berkutat pada aksi menghancurkan, meracik, dan membangun apapun yang Anda inginkan dengan balok-balok yang tersedia. Namun di sisi lain, sistem tata cahaya yang baru ini juga mengharuskan Anda untuk beradaptasi dengan ragam efek yang ia hasilkan. Sebagai contoh? Menggali dalam dan jauh dari matahari dengan mode ray-tracing on berarti berhadapan dengan gua yang lebih gelap karena memang demikian cahaya seharusnya bersifat dan Anda harus menyediakan lebih banyak torch karenanya. Atau ketika Anda mendesain sebuah bangunan misalnya. Mengingat cahaya bergerak dalam kondisi yang realistis, maka ia mungkin akan mengubah tata desain bangunan yang Anda inginkan – terutama ketika Anda mulai memikirkan soal daerah terang dan gelap. Ingat, dengan ray-tracing pula, Anda juga bisa mencapai atmosfer super dramatis jika Anda bisa mengeksekusinya dengan manis.


Namun pada akhirnya, alasan untuk menggunakannya memang terletak pada daya tarik untuk menikmati Minecraft dengan level visualisasi yang baru. Dengan perbedaan signifikan yang tampil bak bumi dan langit antara versi vanilla dan RTX yang ia usung, Anda yang begitu mencintai Minecraft sepertinya akan bisa mendapatkan pengalaman yang baru dan menyegarkan dengannya, tentu saja selama Anda memang memiliki cukup dana untuk berinvestasi ke dalam kartu grafis milik NVIDIA ini.