Review The Last of Us Part II: Manifestasi Keindahan Dalam Kekerasan!

Reading time:
June 12, 2020

Jiwa dan Rasa

The last of us part II jagatplay review 6
Performa Playstation 4 tidak hanya digunakan untuk menghadirkan visualisasi fantastis di akhir hidup sang konsol, tetapi juga dunia yang lebih besar dan luas.

Seperti yang berhasil mereka capai dengan The Last of Us sekitar 7 tahun yang lalu di penghujung umur Playstation 3, Naughty Dog kembali memperlihatkan kerja “magis” mereka dengan The Last of Us Part II di penghujung umur Playstation 4. Dengan menggunakan engine yang sempat mereka pamerkan di Uncharted 4 dengan beragam penyempurnaan yang ada, ia pantas masuk jajaran teratas game eksklusif dengan visualisasi termanis di konsol milik Sony ini. Penuh detail, Anda bisa melihat apa yang bisa dilakukan alam dengan beragam konstruksi milik manusia ketika kita tidak lagi berada di puncak rantai makanan. Dikombinasikan dengan curah hujan tinggi yang identik dengan kota Seattle, pohon, rerumputan, semak belukar kini menjalar liar, membangun atmosfer sekaligus menjadi pembatas gerak tiap level untuk menciptakan sensasi linear yang seharusnya.

Satu yang mengejutkan dari The Last of Us Part II adalah bagaimana luas dan besarnya desain dunia yang ia usung. Ia hadir bak sebuah amplifikasi konsep yang sempat hendak didorong Naughty Dog via The Last of Us dan Uncharted 4 di masa lalu. Alih-alih sekedar satu jalan lurus, sebagian besar area yang Anda jelajahi kini hadir dalam format lebih terbuka, berisikan beragam bangunan yang tidak berhubungan dengan cerita sama sekali. Anda diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi setiap dari mereka yang bisa memberikan Anda ekstra resource, ammo, hingga ekstra memo untuk mendapatkan gambaran lebih jelas soal latar belakang cerita penghuni bangunan terkait. Seberapa luas area-area ini? Di salah satu misi bernama “Downtown Seattle”, Anda benar-benar disuguhkan sebuah lokasi besar berisikan beberapa bangunan, yang masing-masing di antaranya menawarkan tantangan tertentu. Sebegitu luasnya, hingga Anda membutuhkan kuda jika Anda mengeksplorasinya dengan cepat.

Untuk menciptakan sebuah sensasi yang realistis, Naughty Dog memang punya pekerjaan rumah yang berat untuk mendorong The Last of Us Part II dari sisi teknologi. Performa Playstation 4 ini kemudian diterjemahkan lewat animasi gerak dan serang yang lebih halus, yang juga diikuti dengan perhatian pada detail dimana banyak animasi ini akan beradaptasi pada situasi dan lokasi dimana dia dieksekusi. Sebagai contoh? Menyerang secara melee musuh di dekat dinding akan menghasilkan animasi serangan yang ditutup dengan scene berbeda ketika Anda menghabisi mereka di ruang terbuka misalnya. Perhatian tersebut mengarah ke detail-detail lain yang mungkin tidak pernah Anda perhatikan, seperti adaptasi animasi reload atau crafting pada saat Ellie berada dalam posisi telentang ataupun telungkup.

Salah satu pendekatan yang paling pantas diapresiasi dari game ini adalah presentasi brutalitas tanpa kompromi yang membuat setiap aksi tidak hanya terasa realistis saja, tetapi juga berbahaya dan mematikan. Bahwa aksi yang dilakukan oleh Ellie ataupun terjadi pada Ellie adalah usaha untuk menghabisi nyawa secepat dan seefektif mungkin. Di sisi lain, ada kepuasan tersendiri melihat aksi Anda memang menghasilkan konsekuensi yang fatal.

Sebagai contoh, Anda bisa melihat bagaimana isi otak musuh meledak lewat lubang belakang kepala yang baru saja tertembus peluru Anda. Begitu tubuh mereka jatuh, darah kemudian mengalir membasahi lantai dengan kekentalan dan sifat reflektif yang mungkin memantulkan sedikit cahaya di sekitar. Dengan senjata lebih berat seperti Shotgun dan Explosive Arrow, tidak lagi sekedar bocornya isi kepala, Anda bisa melihat tubuh musuh hancur berkeping-keping, tersebar di area, yang terkadang memuat potongan tubuh tidak berbentuk hingga sekadar meninggalkan potongan pakaian. The Last of Us Part II adalah sebuah game yang brutal.

Seolah menjadi pemanis, sensasi brutal ini semakin menguat ketika ia didukung dengan presentasi audio yang tidak kalah fantastis. Tata suara ini membuat Anda memahami bahwa Anda menyadari bahwa yang baru saja Anda habisi, adalah makhluk yang sempat bernyawa sebelumnya. Desain audio keren ini bisa Anda nikmati ketika Anda melakukan aksi Stealth Kill yang biasanya berakhir dengan aksi tusuk atau sayat pisau kecil nan tajam milik Ellie, antara di tenggorokan atau jantung musuh begitu saja. Visualisasinya memang brutal, namun yang membuat kekerasan ini naik ke tingkat berikutnya adalah desain suara. Anda bisa mendengar bagaimana musuh-musuh ini berusaha menarik napas darurat di tengah darah yang bocor dan membanjiri tenggorokan dan kerongkongan mereka. Terkadang, mereka masih bergerak bak cacing kepanasan di lantai sebelum benar-benar tewas. Suara ini membuat level brutalitas The Last of Us Part II naik ke level yang lebih tinggi.

Masih belum cukup? Tidak seperti game action pada umumnya yang menjadikan musuh sekadar “target” untuk Anda bunuh tanpa pendekatan emosional sama sekali, Naughty Dog berusaha meracikan sedikit rasa simpati setiap kali Anda berujung menghabisi mereka. Caranya? Dengan memberikan mereka identitas. Bahwa musuh yang Anda temui setidaknya memiliki nama. Anda akan bisa mendengar bagaimana nama mereka diteriakkan oleh musuh yang lain dengan penuh kepanikan ketika menemukan tubuh mereka tergeletak tidak bernyawa begitu saja. Kerennya lagi? Ini tidak scripted. Playthrough berbeda tidak akan selalu menghasilkan reaksi yang sama. Walaupun tidak sebegitu kuat untuk menghasilkan rasa bersalah karena minimnya latar belakang cerita, namun kehadiran “nama” untuk musuh ini setidaknya cukup untuk memanusiakan sekaligus menghasilkan ilusi lebih kuat bahwa tim militia yang Anda lawan juga terikat tali pertemanan.

The last of us part II jagatplay review 13
Kemampuan game ini untuk memproyeksikan emosi lewat gerak raut wajah, sekecil apapun, memang pantas diacungi jempol.

Pada akhirnya, kekuatan sisi presentasi The Last of Us Part II juga sepantasnya diarahkan untuk mendukung sisi cerita yang memang harus diakui, menjadi daya tarik utama. Implementasi teknologi visual baru tidak hanya menawarkan detail, namun kini juga memungkinkan Naughty Dog untuk mempresentasikan emosi yang lebih tepat untuk tidak hanya cut-scene, tetapi juga aksi yang Anda lakukan saat gameplay. Jauh lebih hidup, lebih bernyawa dan punya jiwa, presentasi emosi ini memang menjadi fokus terbaik dari The Last of Us Part II. Gerak bibir, sedikit getaran di pipi, mata yang memerah dan membengkak karena tangis, hingga senyum kecil di situasi membahagiakan menjadi penyempurna untuk voice acting yang sekali lagi, pantas untuk dipuja-puji di sini. Sebegitu memesona dan naturalnya emosi yang mampu dicapai teknologi ini, The Last of Us Part II juga memuat salah satu adegan ciuman paling alami yang pernah kami lihat di game manapun, sesuatu yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Atmosfer tersebut kemudian dibungkus dan diamplifikasi oleh OST yang kembali ditangani oleh Gustavo Santaolalla yang kembali di seri kedua ini, yang kali ini juga didukung oleh talenta seorang Mac Quayle – komposer film seri Mr. Robot yang juga ikut berkontribusi di dalamnya. Petikan gitar seorang Gustavo kembali berhasil mendukung beragam momen emosional yang hendak didorong Naughty Dog. Namun tidak lagi sebatas petikan gitar, ada begitu banyak musik yang lebih didominasi dengung yang kini membuat aksi pertarungan Anda yang sudah berbahaya di awal, semakin intens dan menegangkan. Satu hal yang pantas disambut dengan tangan terbuka tentu saja fakta bahwa seperti janjinya di seri pertama, Ellie kini bisa memainkan gitar dengan begitu baiknya. Ini memberikan kesempatan bagi sang VA – Ashley Johnson untuk memperlihatkan kepiawaian vokalnya untuk lagu-lagu yang siap untuk membuat Anda tersenyum atau justru, sedih.

Maka dengan semua hal yang ia usung dari sisi presentasi, Naughty Dog harus diakui berhasil menyajikan sebuah pengalaman sinematik dengan tema super gelap yang konsisten dan tanpa kompromi di sini. Dukungan teknologi yang kini mampu merefleksikan emosi dengan lebih baik membuatnya jadi medium cerita yang tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. The Last of Us Part II hadir dengan jiwa dan siap menawarkan rasa.

Manifestasi Keindahan Dalam Kekerasan

The last of us part II jagatplay review 17
Mendorong konten kekerasan yang hadir tanpa kompromi, ada atmosfer “berat” dan dewasa yang akan secara konsisten bertahan di sepanjang permainan.

Lewat pembahasan yang kami jabarkan di atas, sepertinya Anda sudah memahami nilai tanpa kompromi yang dipamerkan oleh Naughty Dog untuk The Last of Us Part II. Brutalitas tidak hanya membuat setiap aksi kekejaman yang Anda lalukan kepada karakter manusia lain kini terasa nyata dan punya impact tersendiri, terlepas apakah ia mempengaruhi kuat emosi Anda atau tidak. Kekerasa yang ia perlihatkan juga menguatkan satu tema yang hendak diangkat oleh Naughty Dog di seri kedua ini – kebencian dan balas dendam.

Kami tentu saja tidak akan menyentuh spoiler sama sekali, karena perjalanan Anda melewati kisah yang harus dilalui Ellie selama 25-30 jam akan memuat begitu banyak kejutan yang tidak akan Anda prediksi sebelumnya. Namun di satu sisi, sulit rasanya untuk tidak menyediakan satu bagian khusus untuk membicarakan tema utama yang hendak diangkat Naughty Dog ini dan memuji bagaimana mereka berhasil mengeksekusinya dengan manis. Sesuatu yang membuat cerita The Last of Us Part II ini bahkan berujung lebih berat daripada apa yang sempat mereka usung di seri pertama. Bahwa definisi sebuah “cerita dewasa” yang sesungguhnya, menyeruak kuat dari apa yang diusung seri yang satu ini.

Apa yang hendak diceritakan oleh The Last of Us Part II memang berpusat pada siklus kekerasan, bagaimana ia pelan tapi pasti berujung membentuk dan menghancurkan mereka yang memutuskan untuk membawa emosi ini selama hidupnya, dan bagaimana lewatnya mereka membangun kacamata justifikasi untuk memandang dunia dalam lensa hitam dan putih. Bahwa bagi mereka yang menjadikannya sebagai beban hidup yang terus mereka bawa, satu-satunya solusi memuaskan adalah menghancurkan sang sumber kebencian. Darinya, kacamata hidup yang hanya bisa memandang dunia dengan lensa hitam dan putih tumbuh menjadi sebuah justifikasi untuk meninggalkan kehancuran demi kehancuran yang lain hingga benci ini terpuaskan. Di The Last of Us Part II, ia berujung menjadi kematian demi kematian.

Lantas, mengapa kami menyebutnya “indah”? Karena sulit untuk menemukan sebuah video game yang mampu memotret lensa kebencian seindah apa yang dilakukan The Last of Us Part II. Kita tidak bicara soal sisi teknis soal potret visual dan sejenisnya, namun bagaimana ia menjalin cerita yang mendorong nilai kemanusiaan ke atas permukaan dan mengakui bahwa nilai tersebut tidak selalu soal cinta dan kasih sayang. Bahwa ia bisa berujung menjadi benci. Lalu darinya membangun sebuah kisah yang secara menakjubkan membentuk sebuah garis abu-abu, dimana Anda tidak bisa lagi membedakan siapa yang sebenarnya berperan sebagai protagonis ataupun antagonis di sini. Pada akhirnya, Anda akan memahami bahwa “apa yang benar” dan “apa yang adil” tidak selalu absolut. Konsep-konsep ini lebih berperan tak ubahnya kacamata yang sudut pandangnya bergantung siapa yang memakainya.

The last of us part II jagatplay review 14
The Last of Us Part II membangun sebuah wilayah abu-abu yang begitu luas di sisi narasi, membuat konsep “protagonis” dan “antagonis” tidak bisa didefinisikan dengan mudah begitu saja.

Apa yang berhasil dilakukan The Last of Us Part II dengan kisah yang ia bawa adalah menciptakan manifestasi keindahan di sebuah kisah penuh kekerasan yang lugas. Apalagi dipadukan dengan musik dan jalinan yang ia usung, ia membantu Anda memahami soal apa Itu “kebenaran” dan “keadlian” dan seberapa rapuhnya konsep-konsep yang di video game lainnya, selalu ditonjolkan melekat pada nilai kebajikan seorang karakter utama. Di sini, ia tak ubahnya racun yang pelan tapi pasti, membunuh.

Memperluas semesta cerita The Last of Us sejak seri pertama, Anda juga akan bertemu dengan banyak karakter baru di sepanjang perjalanan Anda menyelesaikan kisahnya. Kami dengan senang hati melaporkan bahwa Anda akan mudahjatuh hati dengan semua karakter baru yang Anda temui di sini. Mereka memiliki perannya sendiri, berkontribusi kuat pada pengalaman yang Anda dapatkan, dan bahkan tidak sulit untuk berujung menjadi favorit Anda. Tidak ada karakter baru yang berujung “disia-siakan” begitu saja di The Last of Us Part II.

Namun kondisi ini juga melahirkan situasi unik yang anehnya, menurut kami pantas untuk dibicarakan di artikel review seperti ini. Tahun 2020 memang bukanlah tahun yang bersahabat untuk kita semua, terutama karena begitu banyaknya kejadian buruk yang terjadi sejak awal tahun. Kita berbicara soal kebakaran hutan masif di Australia, potensi perang dunia yang untungnya terhindarkan, COVID-19 yang masih berkeliaran saat review ini ditulis, dan kemudian pergerakan protes sosial melawan rasisme di Amerika Serikat. Mereka mungkin tidak mempengaruhi kita secara langsung, namun sulit untuk diakui, meninggalkan kesan bahwa dunia memang tidak lagi “seindah” yang kita bayangkan. Jika Anda berada di dalam situasi mental seperti ini dan lebih menginginkan sebuah game yang menawarkan kesenangan, keriangan, dan senyum untuk membuat hidup terasa lebih bisa ditoleransi, maka ada baiknya jika Anda menghindari The Last of Us Part II terlebih dahulu. Pengalaman menguras emosi dan berat yang ia usung bukanlah kisah yang bisa Anda nikmati dengan senyuman. Kami tidak berlebihan soal ini.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

June 29, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yoko Taro (NieR Series)!

Menyebutnya sebagai salah satu developer paling eksentrik di industri game…
June 24, 2021 - 0

Preview Scarlet Nexus: Bak Menikmati Anime Aksi Berkualitas!

Komitmen Bandai Namco untuk menawarkan game-game dengan cita rasa anime…
June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…