Review The Last of Us Part II: Manifestasi Keindahan Dalam Kekerasan!

Reading time:
June 12, 2020

Berjuang, Bertahan

The last of us part II jagatplay review 4
Anda yang sempat mencicipi The Last of Us pertama akan mendapatkan sensasi gameplay yang familiar di sini.

Hadir dengan prsentasi yang lebih maksimal berkat kemampuan Playstation 4 di penghujung usianya, Naughty Dog juga menyuntikkan banyak aspek gameplay baru untuk The Last of Us Part II itu sendiri. Bahwa seiring dengan usia Ellie yang sudah menua sekitar 5 tahun dari sang seri terakhir, sosok yang sempat kita kenal sebagai “anak perempuan” ini juga mendewasa bersama dengan kisah romansa, perubahan sikap dan tingkah laku, perspektif melihat dunia, dan tentu saja kelihaian untuk mencabut nyawa, baik melawan para Infected ataupun kelompok manusia yang lain. Anda yang sudah sempat membaca artikel preview kami sebelumnya sepertinya sudah memiliki gambaran kira-kira perubahan seperti apa yang ia usung.

Beragam penambahan gerakan yang bisa dilakukan Ellie dibandingkan seri pertamanya, seperti melompat sesuai perintah, melakukan prone, dan memecahkan jendela memang terdengar bak penambahan sederhana yang dangkal di atas kertas. Namun menjajal game ini secara langsung akan langsung membantahkan persepsi ini. Kemampuan baru yang bisa dieksekusi Ellie ini secara langsung juga mempengaruhi pendekatan desain dunia yang ditawarkan Naughty Dog di The Last of Us Part II.

Bahwa dikombinasikan dengan dunia yang jauh lebih luas dan bebas untuk dijelajahi, Anda akan menemukan lebih banyak rintangan dalam bentuk yang lebih vertikal untuk memanfaatkan kemampuan lompat Ellie. Kemampuan prone memberikan alternatif solusi untuk pendekatan gameplay stealth yang kini juga bisa dilakukan di ruang terbuka, selama ada tanaman cukup tinggi untuk disusupi. Sementara aksi pemecahan kaca? Selain meninggalkan rasa puas, ia juga terkadang menciptakan dilema tersendiri saat permainan – terutama ketika Anda harus menimbang soal godaan resource atau lokasi rahasia yang tersembunyi di belakangnya, melawan bunyi yang tentu sja menarik ancaman di sekitar. Lewat trailer yang sempat dilepas ke pasaran, Anda juga sudah sempat melihat bagaimana sistem damage anak panah kini bekerja, dimana Ellie kini harus mencabutnya secara manual jika tidak ingin mengalami damage over time yang fatal. Atau bagaimana Anda selalu punya opsi “membenturkan” para Infected dan musuh manusia jika mereka berada di satu ruang yang sama.

The last of us part II jagatplay review 15
Infected dan musuh manusia di satu ruang yang sama? “Benturkan” saja!

Namun jika kita berbicara soal penambahan mekanik yang benar-benar membuat The Last of Us Part II berbeda, kita sepertinya harus memberikan apresiasi ekstra untuk aksi dodge yang kini disematkan di satu tombol berbeda. Selama Anda bisa membaca timing serangan musuh yang biasanya diawali dengan sebuah animasi yang jelas, Anda bisa menggunakan tombol dodge ini untuk dua hal: menghindari damage dan menghemat peluru. Menghindari damage tentu saja menjadi fungsi yang jelas dan tidak perlu banyak dijelaskan, apalagi jika Anda menggunakannya untuk mendapatkan sedikit ruang lari dari Infected yang bisa membunuh Anda secara instan seperti para Clickers atau Bloaters. Tetapi menghemat peluru? Ini bisa dicapai sesederhana karena tombol dodge kini membuat pertarungan melee menjadi opsi yang jauh lebih bisa diandalkan. Anda kini bisa memutuskan untuk menghabisi musuh manusia atau Infected sekelas Runners dan Stalkers dengan serangan pisau milik Ellie, tanpa menyarangkan peluru sama sekali. Beresiko memang, namun kesempatan untuk menghemat resource, apalagi di tingkat kesulitan lebih tinggi, tentu saja menjadi pilihan yang cukup menggoda.

Untuk perjalanan barunya ini, Ellie memang harus berhadapan dengan ancaman yang benar-benar baru dan ancaman lama yang sifatnya kini diperbaharui. Dari sisi manusia, Anda bisa bertemu dengan anjing yang kini bisa mengendus bau Anda untuk melacak keberadaan dan jalur gerak Anda walaupun tengah melakukan aksi Stealth sekalipun. Anjing menjadi bagian dari pasukan WLF yang memang diceritakan sebagai pasukan militia dengan persenjataan modern dan taktik gerak yang lebih militer. Sementara untuk kelompok lain bernama Scars alias Seraphites, ada jenis petarung melee bernama Brute yang bertubuh besar dan biasanya menawarkan tantangan ekstra untuk ditundukkan jika Anda menjawab pertarungan ini dengan saling bertukar serangan melee. Tetapi sekali lagi, bak seorang Indiana Jones, selalu ada opsi untuk mengeluarkan shotgun Anda, sembari berteriak peduli setan soal fairplay, dan meledakkan kepala si Brute begitu saja.

Sementara dari sisi Infected, akan ada dua jenis baru yang akan mempersulit perjalanan Anda. Pertama tentu saja Shamblers, sebuah varian baru setengah Bloaters yang difokuskan pada serangan range dengan kemampuan untuk meledakkan dan menciptakan awan spora untuk menghasilkan damage area sekaligus menutup akses lari Anda di beragam situasi berbeda. Varian kedua? Kami tentu tidak akan membocorkannya di sini, namun Naughty Dog punya sesuatu yang bahkan lebih menyeramkan daripada Bloaters sekalipun.

The last of us part II jagatplay review 8
Anda akan bertemu dengan varian musuh baru atau varian musuh lama dengan update gerak dan serangan.

Bersama dengan kehadiran varian ini, The Last of Us Part II juga mengubah tingkah laku Infected yang lain. Stalkers yang sebenarnya sudah ada sejak seri pertama kini bertingkah lebih cerdas dan menjengkelkan. Gerak mereka diam hingga Anda tidak bisa mengandalkan mode pendengaran Anda untuk melacak keberadaan mereka. Jika Anda lengah? Tidak hanya sekadar menyerang, mereka juga akan berteriak keras hingga berujung menarik Infected yang lain, yang akan langsung menghasilkan kegaduhan yang belum tentu bisa Anda tangani dengan efektif. Bloaters juga mengalami perubahan cukup signifikan yang juga mengakar pada implementasi teknologi baru yang diusung oleh The Last of Us Part II. Walaupun moveset yang ia usung mirip dengan seri pertama, kemampuan charging yang ia miliki kini juga akan menghancurkan beragam objek di sekitar “tempat pertempuran”. Kita tidak hanya bicara soal sekadar kursi atau mesin arcade yang tersebar saja, tetapi juga dinding-dinding yang seharusnya menjadi “ruang aman” Anda. Untuk Bloaters, pertarungan sengit menggunakan semua jenis ammo dan resource yang Anda miliki dan berujung menang, selalu menghasilkan kepuasan tersendiri.

Salah satu yang menarik dari The Last of Us Part II adalah fakta bahwa terlepas dari beragam presentasi video dan screenshot yang berfokus pada aksi solo seorang Ellie, cerita tetap akan memasangkan Anda dengan beberapa companion di beberapa titik cerita. Ia memang tidak “seketat” apa yang terjadi di seri pertama dimana sebagian besar game memang berpusat pada perjalanan Joel dan Ellie yang seolah tidak terpisahkan, namun ketika momen ini terjadi, Anda bisa melihat beragam peningkatan yang diusung Naughty Dog.

AI yang dibawa ke dalam companion ini terasa dan terlihat lebih aktif dan efektif untuk berkontribusi di dalam aksi Anda, alih-alih diam dan sekadar menunggu. Jika Anda tengah berhadapan dengan 2 musuh berbeda, Anda bisa saja menggorok leher salah satu dari mereka dan menemukan bahwa sang AI bergerak secara otomatis untuk menghabisi yang kedua tanpa Anda komando. Ketika situasi pertempuran berakhir buruk, terutama saat melawan para Infected, mereka akan aktif menembak dengan akurasi tinggi, membantu menetralisir sumber ancaman sebaik yang mereka bisa. Bagaimana dengan pergerakannya sendiri? Mengingat salah satu sumber tercabutnya sensasi imersif di seri pertama datang dari pergerakan sporadis AI milik Ellie yang atas nama kenyamanan bermain, akan diabaikan oleh AI. Hal serupa juga masih bisa Anda temukan di The Last of Us Part II, namun sangat jarang terjadi. AI Companion kini akan lebih sigap untuk segera mencari tempat bersembunyi, bahkan bergerak mengitarinya jika musuh mulai bergerak mendekati mereka. Mereka juga akan mencari posisi yang lebih strategis untuk ikut membantu Anda jika memang kondisi mengizinkan.

The last of us part II jagatplay review 16
Anda akan berpetualang dengan companion di beberapa titik, yang kini makin cerdas dan agresif untuk membantu aksi Anda.

Maka seperti game The Last of Us yang seharusnya, opsi untuk bertempur secara terbuka dan stealth masih terbuka untuk Anda. Di tingkat kesulitan lebih tinggi, dimana pergerakan AI musuh menjadi jauh lebih mawas dan resource untuk ammo dan material lebih terbatas, opsi stealth tentu menjadi pilihan yang lebih rasional. Selain anak panah dan busur, Ellie kini juga bisa meracik supressor untuk pistol utamanya yang tentu membuat aksi stealth ini bisa lebih diadaptasikan untuk lebih banyak situasi. Strategi stealth ini juga menyempurna lewat fakta bahwa untuk meracik sensasi AI yang lebih terasa seperti manusia, Naughty Dog juga membuat mereka kini punya sistem kewaspadaan “menengah” – dimana mereka tahu Anda berada di ruangan yang sama, mereka tahu Anda sudah menghabisi rekan mereka, namun mereka tidak akan tahu secara langsung dimana tepatnya lokasi Anda menembakkan senjata atau busur panah. Ini membuat ekstra opsi untuk terus bergerak untuk membuat musuh terkecoh selalu tersedia. Apalagi dengan aksi prone, Anda bisa bersembunyi di lebih banyak tempat, termasuk kolong truk ataupun meja.

Mengingat proses eksplorasi juga menjadi bagian kunci dari pengalaman The Last of Us Part II, apalagi didukung dengan desain dunianya yang besar, Anda tentu tidak akan secara konsisten bertarung melawan WLF, Scars, ataupun para Infected. Di proses seperti ini, tantangan utamanya akan datang dari kesempatan untuk mencari beragam lokasi rahasia dan puzzle yang seringkali menghadiahi resource yang akan membantu perjalanan Anda, dari ammo dan material. Ia biasanya juga menjadi motivasi utama mengapa Anda tertarik untuk sedikit bergerak melenceng dari jalan utama dan lebih memilih menyibukkan diri untuk “merampok” rumah dan bangunan yang tidak lagi berpenghuni, setidaknya jika bicara soal tuan rumah yang masih berbentuk manusia.

Puzzle di The Last of Us Part II sendiri bisa terbagi menjadi dua bagian besar yang akan paling sering Anda temui. Puzzle pertama biasanya berkaitan dengan usaha dan cara untuk menuju ke lokasi tertentu, baik yang berhubungan atau tidak berhubungan dengan cerita utama. Puzzle ini bisa berakhir meminta Anda untuk mendorong bak sampah untuk sekadar memanjat ke tempat lebih tinggi atau mencari solusi menggunakan tali-temali panjang yang harus Anda lemparkan dan sangkutkan di beragam lokasi agar bisa dipanjat atau diayunkan. Solusi untuk puzzle yang ini sendiri tidak bisa dibilang sulit dan hanya membutuhkan proses observasi pendek untuk mengetahui apa yang harus Anda lakukan.

Puzzle kedua yang “membanjiri” The Last of Us Part II dan akan jadi sumber keseruan tersendiri adalah brankas yang akan Anda temui di sepanjang perjalanan. Dengan berisikan resource super menggoda, dari ammo, material, hingga resource untuk memperkuat Ellie, Anda akan tergoda untuk membuka setiap dari mereka. Yang membuatnya menarik? Tentu saja proses mencari kombinasi angka untuk membuka setiap dari mereka yang cukup menantang, namun tidak menjengkelkan. Tidak menjengkelkan dalam pengertian bahwa solusinya tidak akan terletak jauh dari posisi awal brankas yang menuntut Anda untuk bergerak bolak-balik ala game Resident Evil lawas. Solusi untuk tiap kombinasi brankas biasanya terletak dekat, hanya saja membutuhkan proses putar otak dan sedikit observasi untuk diselesaikan. Setiap puzzle ini akan meminta Anda untuk sedikit lebih “sensitif” untuk memilih kombinasi angka yang akurat, apalagi di situasi dimana ada begitu banyak clue palsu bertebaran.

Reward yang didapatkan memang berkisar pada material untuk proses crafting dan ammo yang tentu saja akan membantu perjalanan Anda. Seperti di seri pertamanya, untuk memastikan gameplay tetap menantang, Naughty Dog tetap menyuntikkan sistem limitasi resource yang bisa Anda bawa sekaligus, baik dari jumlah peluru hingga material maksimal. Anda misalnya, tidak akan diperkenankan untuk menghemat, mengumpulkan, dan menimbun hingga ratusan peluru handgun. Anda tetap dibatasi oleh limitasi 16 peluru untuk jenis senjata tersebut. Selain peluru dan material, Anda juga akan bisa mendapatakn dua resource upgrade yang digunakan untuk memperkuat Ellie. Ada obat-obatan untuk menyuntikkan buff permanen ala Skill Tree yang kembali di seri kedua ini dan tentu saja Parts, yang bisa digunakan untuk memodifikasi senjata di meja spesifik yang bisa memperkuat atau menyuntikkan fungsi baru untuk setiap dari mereka. Aksi modifikasi senjata ini kini diikuti dengan animasi permak penuh detail yang siap untuk membuat mata Anda termanjakan.

The last of us part II jagatplay review 7
Akan ada begitu banyak bangunan, berisikan ancaman dan puzzle yang menjanjikan reward yang akan membantu perjalanan Anda. Kesemuanya dibangun di atas konsep dunia yang lebih luas.

Maka dengan beberapa fitur yang sekadar bertahan dari seri pertama atau yang benar-benar baru disuntikkan di seri kedua ini, The Last of Us Part II tetap tampil sebagai sebuah game survival horror yang memesona. Dengan tetap mempertahankan limitasi jumlah peluru dan resource yang Anda bawa, apalagi jika Anda memainkannya di tingkat kesulitan lebih tinggi, ada atmosfer intens yang menunggu di setiap sudut eksplorasi, baik ketika Anda melawan manusia bersenjata ataupun para Infected.

Berhadapan dan berusaha mawas soal apa yang terjadi di sekitar Anda, dari mendengar baik sinyal siul para Scars, mencari ammo tersisa di sekitar saat melawan Bloaters yang terus menghajar dan menerjang apapun, hingga menikmati kepuasan ledakan dan genangan darah dari ujung panah peledak Anda membuat The Last of Us Part II membuktikan dirinya sebagai game yang tidak hanya menjual sisi cerita saja. Ia menawarkan cita rasa action dan stealth yang solid di atas keberhasilan untuk memotret karakter-karakter manusiawi yang rentan. Bahwa di depan peluru, kapak, dan gigitan para Infected, kita tidak lebih dari onggok daging dan darah yang anehnya, mampu bergerak tanpa takut atas nama emosi.

Mengayomi Semua Gamer

The last of us part II jagatplay review 1
Berbicara aktif soal “representasi” di dalam video game, Naughty Dog membuktikan bahwa mereka tidak sekadar menjual jargon.

Jika Anda mengikuti review kami di JagatPlay selama ini atau membaca berita-berita kami selama ini, kami memang jarang menyediakan ekstra waktu dan ruang untuk membicarakan fitur-fitur yang didesain oleh para developer untuk memfasilitasi para gamer-gamer penyandang disabilitas. Ada beberapa alasan yang mendasari hal ini – yang bisa jadi menjadi semacam bentuk ketidakpedulian di bawah alam sadar yang membuat kami merasa cukup bersalah untuk hal tersebut. Namun di sisi lain, tidak banyak opsi tersebut juga berujung cukup komprehensif untuk memastikan beragam gamer penyandang disabilitas bisa berujung menikmati game tersebut.

Tetapi ada sesuatu yang istimewa dengan apa yang berhasil dicapai oleh Naughty Dog dengan The Last of Us Part II. Bahwa seruan mereka untuk memastikan “representasi” beragam ras, preferensi seksual, hingga kelompok gamer tersedia di game mereka tidak sekadar janji dan omong kosong belaka. Bahwa mereka menawarkan sebuah usaha konkrit untuk memastikan hal tersebut terjadi, setidaknya untuk para penyandang disabilitas, yang tentu saja memiliki masalah-masalah mereka sendiri. Dengan The Last of Us Part II, Naughty Dog menyuntikkan mode aksesibilitas yang selayaknya, menjadi standar untuk game lain di masa depan.

the last of us part II accessibility options jagatplay 1 1
Opsi aksesibilitas yang benar-benar komprehensif kini membuka ruang bagi gamer penyandang disabilitas untuk tidak hanya menyelesaikan game ini, tetapi bahkan mengejar Platinum Trophy sekalipun.
TLOU II accessibility
Opsi ini siap mengayomi gamer tunarungu, tunanetra, dan mereka yang menderita keterbatasan motorik.

Mereka tampak memikirkan semua opsi yang dibutuhkan di sini. Ada opsi yang berfokus pada clue visual dimana Anda bisa mengaktifkan tanda panah untuk secara konsisten memberi tahu kemana Anda harus bergerak atau darimana arah datangnya suara untuk memastikan gamer tunarungu untuk bisa mawas dengan kondisi sekitar. Mereka menyediakan opsi re-mapping kontrol dan juga beragam bantuan auto-aim dan skip puzzle untuk gamer-gamer yang punya keterbatasan fungsi motorik, yang tentu saja tidak akan bisa mengendalikan kontroler layaknya gamer dengan fungi motorik normal. Lebih gilanya lagi? Ada opsi khusus yang bisa diaktifkan untuk menyuntikkan beragam clue suara spesifik untuk setiap aksi dan rintangan yang bisa Anda temui, dimana Anda bisa mendapatkan clue suara unik ketika berhadapan dengan jendela yang bisa dipecahkan atau sekadar material yang bisa dikumpulkan, hingga tata letak musuh yang juga dilebur dengan opsi text-to-speech juga menyuarakan segala sesuatunya. Benar sekali, Naughty Dog ingin memastikan bahwa gamer tunanetra sekalipun akan bisa menyelesaikan The Last of Us Part II!

Yang membuat kami kian terpesona adalah keputusan untuk tidak menjadikan opsi aksesibilitas ini sebagai “penghalang” bagi gamer penyandang disabilitas untuk mendapatkan trophy The Last of Us Part II, dimana mereka bahkan bisa mengejar level Platinum sekalipun. Mengapa keputusan ini pantas diapresiasi? Karena pada dasarnya, setiap opsi ini akan membuat gameplay The Last of Us Part II semakin mudah. Bagi gamer dengan anggota tubuh normal, jika opsi-opsi ini mereka hidupkan, maka ia berperan tak ubahnya “cheat” yang membuat Anda tidak sulit untuk menyelesaikan tiap tantangan yang ditawarkan Naughty Dog, baik dari battle hingga puzzle, hingga mendapatkan Platinum Trophy sekalipun. Kudos untuk Naughty Dog yang tetap membuka opsi ini untuk mengayomi mereka yang lebih membutuhkannya.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…
June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…

PlayStation

June 29, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara Eksklusif dengan Yoko Taro (NieR Series)!

Menyebutnya sebagai salah satu developer paling eksentrik di industri game…
June 24, 2021 - 0

Preview Scarlet Nexus: Bak Menikmati Anime Aksi Berkualitas!

Komitmen Bandai Namco untuk menawarkan game-game dengan cita rasa anime…
June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…