Review Ghost of Tsushima: Tanah dan Katana Berlumur Darah!

Reading time:
July 14, 2020

Side Mission Sekelas The Witcher 3

Membicarakan game open-world saat ini memang mengundang sedikit rasa skeptis. Karena tidak sedikit game open-world yang terjatuh pada konsep yang sempat ditawarkan Ubisoft selama setidaknya satu dekade dimana ia berujung pada upaya untuk membuka area dengan menaiki infrastruktur tertentu seperti menara atau menghancurkan markas spesifik, dan kemudian berakhir membuka kabut wilayah sekitar yang biasanya diikuti dengan segudang ikon di peta yang menunggu untuk “diselesaikan”. Hanya ada beberapa game yang berhasil menabrak konsep ini dan datang dengan ide yang segar seperti Zelda: Breath of the Wild. Game Ubisoft yang lebih baru seperti Far Cry 5 misalnya, juga sudah mulai mendorong desain yang lebih ditujukan untuk proses eksplorasi daripada yang terikat pada ikon-ikon di peta. Lantas, bagaimana dengan Ghost of Tsushima sendiri?

Ghost of Tsushima menggabungkan kedua konsep ini dengan cukup seimbang dan lebih mengarah ke pendekatan game open-world modern yang mengedepankan eksplorasi. Anda memang masih akan bertemu dengan beragam ikon yang tiba-tiba akan tertera di peta, namun kesemuanya akan berujung pada sebuah tanda tanya yang notabene tidak akan memberikan detail apapun soal lokasi ataupun misi seperti apa yang ia simpan. Ikon-ikon tanda tanya ini juga tidak akan otomatis muncul begitu saja. Hanya yang berada dalam radius tertentu dari lokasi Anda, bahkan ketika Anda mengendarai kuda dari satu lokasi ke lokasi lain saja, yang akan menampakkan dirinya. Anda selalu punya kebebasan untuk mengunjungi lokasi-lokasi ini atau tidak.

Aksi Jin membebaskan Tsushima juga dibantu dengan sedikit elemen spiritual di dalamnya. Tenang saja, Anda tidak akan berhadapan dengan ragam iblis atau makhluk supranatural Jepang di sini. Ada tendensi bahwa Anda akan merasa bahwa pulau Tsushima, lewat sebuah kekuatan misterius yang tidak bisa dijelaskan, berusaha membantu Anda untuk mencapai misi yang ada. Ia muncul lewat kehadiran musang dan burung yang akan membantu Anda mencapai objektif tertentu saat didekati, Guiding Wind berbentuk angin berhembus yang berfungsi layaknya sebuah “GPS” untuk menuju ke misi ataupun lokasi manapun yang Anda pilih, hingga sebuah seruling yang bisa mengubah cuaca pada saat dimainkan. Elemen spiritual ini akan membantu Anda menjelajahi pulau Tsushima dalam format yang lebih terstruktur dan terorganisir di luar kehadiran tanda tanya di peta.

Ada elemen spiritual yang akan menemani aksi spirtual Anda.
Ia datang dengan kualitas misi sampingan jempolan yang bahkan, bisa Anda sandingkan dengan cara CD Projekt Red menangani The Witcher 3: Wild Hunt dulu.

Satu cara fantastis Ghost of Tsushima menangani sisi eksplorasi ini adalah dengan mengaitkan ragam event acak yang bisa Anda temui dengan lebih banyak lokasi terbuka di peta. NPC-NPC yang Anda temui saat tengah berjalan-jalan, yang bisa jadi tengah ditawan atau diserang pasukan Mongol, biasanya akan memberikan informasi vital soal lokasi-lokasi apa saja yang menarik untuk Anda perhatikan. Mereka bisa buka mulut soal desa yang saat ini tengah dikuasai oleh pasukan Mongol atau sekedar soal camp kecil yang ditempatkan untuk menjaga lokasi tertentu misalnya. Informasi ini biasanya akan langsung membuka lokasi camp atau desa terkait di peta, yang kembali menyerahkan kepada Anda keputusan mutlak untuk segera ditundukkan atau tidak. Eksekusi seperti ini membuat konsep open-world Ghost of Tsushima lebih menarik.

Tentu saja Anda tidak bisa membicarakan sebuah game open-world tanpa berdiskusi soal misi sampingan seperti apa yang ia usung. Ada beberapa jenis misi “sampingan” yang bisa Anda jajal di Ghost of Tsushima. Ada misi sampingan yang terikat pada karakter pendukung yang punya peran besar dalam cerita seperti sosok Masako atau Ishikawa yang punya konflik tersendiri. Ia akan punya porsi cerita lebih besar yang juga diikuti dengan ragam cut-scene penuh cut-scene dengan pergerakan konflik yang akan terbagi ke dalam beberapa bagian misi. Anda tidak harus menyelesaikan misi ini, namun ia akan memberikan latar belakang cerita lebih kuat soal karakter-karakter terkait. Ia akan menyajikan cerita sampingan yang memperkuat lore Jin Sakai dan companion yang setia menemaninya.

Selain misi “sampingan” dalam skala besar ini, Anda juga akan bertemu dengan misi sampingan lebih kecil yang berfungsi layaknya misi sampingan di game open-world yang lain. Ini berarti Anda akan bertemu dengan NPC acak di satu lokasi yang mungkin memiiki masalah spesifik dimana Anda ikut turun tangan untuk menyelesaikannya. Berita baiknya? Sucker Punch berhasil menawarkan desain misi sampingan dengan skala yang hampir serupa dengan apa yang ditawarkan CD Projekt Red di The Witcher 3: Wild Hunt. Ini berarti masing-masing dari mereka memiliki konflik dan cerita yang kuat, dengan objektif yang tidak akan selalu berakhir dengan meminta Anda untuk sekedar mengumpulkan, mengambil, atau mengantarkan item tertentu. Ada proses investigasi dan konklusi di sini, yang beberapa di antaranya juga mengakar pada nilai budaya Jepang yang kuat.

Salah satu yang menjadi favorit kami, seorang ayah beranakkan dua yang diminta oleh sang pasukan Mongol untuk memilih satu di antara dua anak laki-laki yang ia miliki. Anak manapun yang ia pilih akan dibunuh, sementara anak lainnya akan tetap hidup namun akan dibawa dan dipenjarakan di camp terdekat. Sang ayah pun mau tidak mau menyebut satu nama anak. Namun siapa yang mengira bahwa pasukan Mongol ternyata “berbohong”. Mereka memutuskan untuk membiarkan nama anak yang disebut sang ayah untuk tetap hidup dan membunuh yang tidak ia sebut. Jin masuk ke dalam situasi kacau ini dengan permintaan kuat dari sang ayah untuk menyelamatkan anak yang ditawan. Akankah cerita ini berakhir bahagia? Anda harus memainkan Ghost of Tsushima untuk mendapatkan jawabannya.

Dengan semua pendekatan ini, terutama dari kualitas misi sampingan yang ia usung, ada kegembiraan untuk melihat bahwa Ghost of Tsushima tidak jatuh dalam sebuah konsep klise sebuah game open-world standar. Bahwa jelas ada perhatian ekstra soal penulisan cerita di setiap sudut, baik untuk misi sampingan karakter penting ataupun misi-misi sampingan yang Anda temui pada saat eksplorasi.

Kurosawa Mode

Kurosawa Mode tidak hanya menambahkan filter hitam putih saja, tetapi juga mengubah cara audio bekerja.

Berapa banyak dari Anda yang sempat menikmati karya-karya Akira Kurosawa? Atau bisa jadi, Anda tidak terlalu familiar dengan nama yang satu ini? Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, Akira Kurosawa merupakan sutradara legendaris Jepang yang melahirkan banyak film super keren di masa lalu, terutama yang mengambil tema samurai masa lawas. Anda mungkin pernah mendengar nama-nama film seperti Seven Samurai, RAN, Sanjuro, Yojimbo, atau Hidden Fortress. Yang menarik dari pendekatan Kurosawa adalah fakta bahwa ia tidak selalu berfokus pada aksi pertempuran pedang para Samurai dan bisa dijadikan pondasi untuk meracik kisah yang unik. Satu yang pasti, ia selalu datang dengan nilai estetika yang unik.

Lewat mode yang di masa lalu disebut sebagai “Samurai Cinema” dan kini resmi menyandang nama “Kurosawa Mode”, Sucker Punch berusaha menawarkan hal serupa di Ghost of Tsushima, terutama untuk Anda yang memang familiar dan mencintai film-film samurai lawas. Mode ini akan secara otomatis mengganti voice acting menjadi Jepang dan kemudian menyuntikkan filter hitam-putih begitu saja. Namun bukan sekedar warna, Anda akan melihat sedikit efek grain dan artifak-artifak kecil yang membuat Anda merasa tengah menikmati sebuah film lawas era tahun 1950-an. Namun yang paling signifikan tentu datang dari perubahan suara dari stereo menjadi mono yang mensimulasikan kualitas televisi masa lampau, dengan efek redam yang jelas terjadi untuk semua suara di luar suara dialog antar karakter. Anda akan merasakan perbedaannya secara langsung.

Terlepas dari daya tarik yang ia usung, kami sendiri tidak akan merekomendasikan Anda langsung memainkan Ghost of Tsushima dari awal menggunakan Kurosawa Mode, dari awal hingga selesai. Mode ini memang menghasilkan efek visual lawas yang dibutuhkan, namun harus diakui, merenggut apresiasi untuk pulau Tsushima yang sudah diracik oleh Sucker Punch.

Menikmati game ini dalam warna hitam-putih seperti “membuang” kenikmatan menikmati kontras warna cerah yang memang dijadikan pondasi dunia Ghost of Tsushima. Oleh karena itu, kami lebih merekomendasikan Anda untuk mulai menikmati Kurosawa Mode di playthrough kedua atau saat Anda hanya iseng menjelajahi dunianya. Berita baiknya? Opsi untuk menghidupkan dan mematikan Kurosawa Mode selalu bisa Anda akses kapanpun Anda inginkan. Momen terbaik memanfaatkannya? Pada saat Anda terlibat duel 1vs1 dengan samurai yang lain.

Lagipula, terlepas dari perubahan yang di permukaan terlihat hanya soal estetika, Kurosawa Mode juga akan sedikit mempengaruhi gameplay Anda. Apa pasal? Karena filter hitam putih ini benar-benar diaplikasikan secara menyeluruh, yang membuat semua warna indikator yang seharusnya mencolok untuk Anda perhatikan kini berujung melebur juga dengan tone yang sama. Anda kini akan kesulitan untuk membedakan indikator biru dan merah pada serangan musuh, yang seharusnya memperlihatkan timing parry sekaligus jenis serangan mana yang bisa ditangkis dan mana yang tidak. Peleburan warna ini juga membuat Anda misalnya, akan kesulitan untuk memerhatikan ikon objektif lanjutan yang kini sekadar menjadi bagian dari latar belakang.

Ada apresiasi yang besar bahwa mode ini tidak berakhir sekadar menjadi filter hitam putih untuk Ghost of Tsushima. Kerja keras Sucker Punch untuk mensimulasikan film samurai lawas lewat dalamnya warna hitam putih di beragam kondisi dan audio mono yang ia usung harus diakui, berhasil.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…
September 28, 2020 - 0

Review HADES: Super Duper Nagih!

Supergiant Games? Berapa banyak dari Anda yang pernah mendengar nama…

PlayStation

November 20, 2020 - 0

Review Genshin Impact: Inovasi dan Adiksi Uji Hoki!

Berapa banyak dari Anda yang saat ini tengah sibuk memainkan…
November 17, 2020 - 0

Review Kingdom Hearts – Melody of Memory: Nostalgia Telinga!

Menyebutnya sebagai salah satu franchise dengan plot paling kompleks memang…
November 13, 2020 - 0

Review Watch Dogs Legion: Bersatu Kita Teguh, Bercerai Tetap Seru!

Kontroversial, memancing cemooh di awal rilis, namun tetap berakhir sukses…
November 10, 2020 - 0

Preview Assassin’s Creed Valhalla: Dalam Lindungan Odin!

“Ini bukan lagi seri Assassin’s Creed”, pergeseran genre dengan cita…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…