Review When The Past Was Around: Perban Luka Hati!

Reading time:
September 21, 2020

Lukisan Hidup

When the Past Was Around 53
When the Past Was Around datang dengan presentasi visual yang memanjakan mata.

Anda yang sempat menikmati A Raven Monologue di masa lalu, yang notabene juga merupakan game racikan Mojiken, akan merasa familiar sejak menit pertama ketika menikmati WPWA ini. Pendekatan presentasi yang sama juga ditawarkan oleh game ini, dimana artwork menjadi “jendela dunia” untuk cerita yang hendak mereka sajikan. Penuh detail, dengan warna yang juga dimainkan untuk mewakili mood tertentu, ia datang dengan kualitas yang benar-benar memanjakan mata. Animasi juga dicapai dengan memotong dan menghadirkan artwork dalam sekuens tertentu, alih-alih menyuntikkan animasi gerak secara real-time, yang juga membantu menguatkan kesan bahwa Anda tengah menikmati sebuah buku bergambar yang “hidup”.

Apresiasi ekstra yang membuat pendekatan visual seperti ini bekerja manis untuk WPWA juga berangkat pada penekanan detail pada karakter, terutama untuk ekspresi emosi yang diperlihatkan oleh Eda di beragam situasi yang ia hadapi. Anda bisa mengerti seperti apa emosi yang tengah ia rasakan dan karenanya, memberikan pemahaman yang jauh lebih baik soal situasi yang mengitari ia dan Owl. Anda bisa mengerti bahwa Eda sedang kesal, sedang sedih, sedang menikmati situasi penuh kebahagiaan, atau sekedar cemas ketika berhadapan dengan sumber stress yang baru. Detail ekspresi wajah yang dilukiskan baik ini membantu WPWA mencapai tugas utamanya – mempresentasikan sebuah kisah romansa yang menyentuh. Semuanya diracik dengan alur maju mundur yang akan membawa Anda ke beragam lokasi yang juga efektif berperan sebagai setting, sekaligus “arena bermain”.

When the Past Was Around 59
Ekspresi wajah karakter di beragam situasi membantu Anda menangkap “mood” ragam situasi yang ada.
When the Past Was Around 33
Sosok karakter “Owl” berujung membingungkan bagi kami.

Jika ada satu keluhan dari sisi presentasi yang bisa kami bicarakan dari WPWA, maka sosok “Owl” – yang notabene menjadi sumber insipirasi dan romansa milik Eda, sepertinya pantas untuk dibicarakan. Karena menyelesaikan game yang super singkat ini tidak membantu kami “memahami” siapa sebenarnya sosok karakter berkaki manusia namun berkepala burung hantu ini. Apakah ia harus diterjemahkan secara harfiah? Bahwa di dunia manusia “normal” milik Eda, ia jatuh hati pada sosok yang memang berkaki manusia dan berkepala burung hantu? Ataukah ia merepresentasikan sesuatu – misalnya, sudut pandang Eda yang melihatnya sebagai pria magis yang masih sulit ia yakini memang eksis di dunia dan karenanya terlihat bak seekor burung hantu sebagai kepala? Atau jangan-jangan Owl sendiri memang tidak eksis dan hanya muncul sebagai personifikasi rasa cinta Eda pada musik? Kami akan sangat terbuka untuk mendengar interpretasi Anda saat memainkan game ini.

Berita baiknya? Untuk sebuah game yang menjadikan musik sebagai nyawa cerita, WPWA memastikan bahwa elemen yang satu ini juga dieksekusi dengan manis. Anda bisa merasakan ada perhatian ekstra yang diberikan untuk memastikan musik yang ditawarkan tidak hanya mengalun indah dan memanjakan telinga, tetapi juga unik dan karenanya – mampu mewakili beragam situasi emosional yang harus dilalui Eda dengan tepat. Musik digunakan sebagai medium yang tidak hanya bekerja sebagai pembangun atmosfer, tetapi juga sarana untuk bercerita. Bersama dengan gesekan biola yang mengalun indah dan nada yang begitu memorable, Anda akan jatuh hati pada aspek yang satu ini.

Maka dari sisi presentasi, Mojiken Studio berhasil melakukan sesuatu yang fantastis dengan When the Past Was Around. Kualitas visualisasi bak sebuah buku bergambar hidup siap membuat mata Anda termanjakan bersama dengan eksekusi musik yang untungnya, bukan sekadar elemen pendukung di latar belakang saja. Kombinasi keduanya membantu mengelevasi kisah romansa yang jadi basis ke tingkat yang baru.

Memutar Otak, Memutar Hati

When the Past Was Around 27
When the Past Was Around hadir sebagai game click-based puzzle.

Satu yang menarik dari pendekatan WPWA adalah fakta bahwa tidak seperti game kebanyakan yang besar kemungkinan jatuh ke dalam format interactive story dengan level interaktivitas yang minim, Mojiken tetap menghadirkan gameplay yang cukup menarik untuknya. WPWA didesain sebagai sebuah game click-based puzzle, dimana inti permainan Anda mencari solusi untuk beragam tantangan memutar otak yang Anda temukan di layar. Begitu semua puzzle terpecahkan, Anda akan mendapatkan key-item berbentuk sebuah bulu unggas yang akan membawa Anda ke area selanjutnya. Transisi dari satu area ke area selanjutnya ini biasanya juga diisi dengan cut-scene pendek yang akan membawa Anda memahami lebih banyak soal kisah dan konflik seperti apa yang harus dilalui Eda.

Tingkat kesukaran puzzle ini juga bervariasi. Ada yang sesederhana bisa diselesaikan dengan sedikit aksi observasi dan aksi melakukan click objek sana-sini secara acak. Anda misalnya, bisa menemukan sebuah kunci di balik pot tanaman yang baru saja Anda click, yang datang dengan gantungan kunci spesifik, yang akan bisa digunakan di laci khusus jika Anda sempat mengeksplorasinya terlebih dahulu. Menemukan objek mana yang harus diletakkan di posisi tertentu, yang terkadang juga datang dengan sekuens tertentu adalah jenis puzzle yang dominan Anda temukan di WPWA ini. Namun seiring dengan progress cerita yang berjalan, Anda akan menemukan bahwa aksi eksplorasi dan observasi seperti ini tidak lagi cukup.

When the Past Was Around 14
Di awal, puzzle hanya berkisar soal menemukan objek penting dan menggunakannya secara tepat dalam sekuens tertentu.
When the Past Was Around 66
Kompleksitas puzzle akan meningkat dengan beberapa clue yang sengaja didesain mengecoh.

Puzzle yang cerdas memang harus diakui merupakan salah satu daya tarik WPWA, terutama ketika ia mendekati akhir cerita. Anda mulai menemukan puzzle-puzzle yang kini mulai menuntut Anda untuk memutar ekstra kekuatan otak untuk memecahkannya. Tidak sekompleks game berbasis puzzle pada umumnya memang, namun tetap meminta Anda untuk mencari clue dan darinya mencari kira-kira hubungan seperti apa yang hendak didorong sebagai solusi. Kerennya lagi? Jelas bahwa desain beberapa puzzle ini juga menghadirkan sistem clue yang sengaja “menjebak” Anda. Ada beberapa clue yang saling tumpang-tindih dan bisa berakhir jadi solusi untuk dua puzzle sekaligus, yang menghasilkan kebingungan tersendiri. Ada pula puzzle yang nyaris mustahil diselesaikan tanpa clue tambahan, namun didesain sedemikian rupa hingga Anda merasa Anda sudah mendapatkan semua clue yang Anda butuhkan. Puzzle di WPWA berhasil tampil memukau dan jadi aspek yang membuat kami jatuh hati.

Kompleksitas ini juga didorong dengan ekstra area tambahan yang akan terhubung satu sama lain. Bahwa puzzle dan solusi yang harus Anda dapatkan dan pecahkan tidak lagi “tertutup” hanya di satu area belaka. Terkadang Anda menemukan solusi puzzle terlebih dahulu dan menemukan item tersebut ternyata baru bisa digunakan di area selanjutnya. Atau terkadang bahkan sebaliknya, dimana Anda ditantang dengan sebuah puzzle yang solusinya baru akan bisa Anda temukan di area selanjutnya. Ditambah dengan aksi mengecoh seolah Anda sudah menemukan semua solusi dari beberapa puzzle yang tersedia, padahal masih ada clue ekstra yang harus dicari, bukan tidak mungkin Anda berujung terperangkap selama puluhan menit karena satu atau dua puzzle ini. Setidaknya itu yang terjadi pada kami.

When the Past Was Around 58
Kami sempat terjebak puluhan menit ketika berusaha menyelesaikan puzzle “mengecoh” di tengah clue yang ternyata, belum lengkap.
When the Past Was Around 43
“Clue” hanya memberi tahu objek mana yang mendukung interaksi, namun tidak akan menyediakan “solusi”. Ini bisa menghasilkan situasi terjebak penuh rasa frustrasi.

Namun di sisi lain, ia juga bisa berujung jadi bumerang untuk gamer-gamer yang datang untuk sekadar menikmati kisah yang ada. Mengapa? Karena WPWA menyediakan hanya satu jenis “bala bantuan” – yakni tombol clue yang akan secara instan memamerkan kepada Anda soal posisi beragam objek yang mendukung interaksi tambahan. Tidak ada clue ekstra misalnya, untuk memberikan penjabaran lebih eksplisit soal apa yang harus Anda lakukan untuk menyelesaikan satu puzzle tertentu, yang akan sangat membantu jika Anda memang tengah terjebak. Ini mungkin terdengar seperti keluhan yang manja, namun progress yang terjebak karena puzzle juga berarti mengacaukan pacing untuk Anda yang mungkin datang untuk sekadar menikmati visualisasi atau cerita yang ada. Opsi clue untuk memberikan gambaran lebih jelas soal clue mana yang saling berkaitan satu sama lain, akan sangat membantu.

Dengan pendekatan gameplay puzzle yang ternyata cukup menantang dengan desain cerdas ini, kami termasuk gamer yang cukup terkejut dengan apa yang berhasil ditawarkan oleh WPWA. Bahwa untuk sebuah kisah yang siap membuat hati Anda berputar, ia juga menyediakan cukup konten untuk membuat otak Anda, mau tidak mau, harus ikut berputar untuk bisa mencapainya.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…