10 Alasan Mengapa Legend of Legaia adalah JRPG Istimewa!
-
Tingkat Kesulitan Tinggi

Dimanjakan dengan ragam setting tingkat kesulitan dan “bala bantuan” di beragam sudut, ini mungkin kalimat yang tepat untuk menyederhanakan perbedaan sensasi game JRPG lawas dan JRPG modern saat ini. Bagi gamer yang sempat mencicipi Legaia di masa lampau, rasa frustrasi adalah bagian yang tidak terpisahkan saat bertemu dengan boss-boss yang di titik cerita, ternyata tidak sulit untuk menguras 70-80% bar HP Anda dengan hanya satu giliran serang. Sementara di sisi lain, mereka butuh ratusan tinju dan pukulan untuk ditundukkan. Maka Anda tidak jarang bertemu dengan kasus dimana gamer mengulang progress Legaia mereka dari awal, melakukan grinding dengan lebih giat, atas nama untuk mencegah mereka “terhentI” di lokasi yang sama sebelumnya. Percaya atau tidak, grinding akan sangat membantu.
-
Berburu “Seru”

Di luar hal-hal keren yang bisa Anda lakukan dengan Legaia, termasuk sistem pertarungannya yang unik, game ini sebenarnya juga memiliki elemen bak Pokemon di dalamnya. Bahwa di sepanjang perjalanan, jika Anda kebetulan bertemu dengan musuh yang memiliki ikon di sebelah namanya, selalu ada kesempatan untuk “menangkap” mereka dan menjadikannya sebagai bagian dari skill yang bisa Anda gunakan. Berita baik dan sekaligus berita buruknya? Legaia tidak pernah memberikan tutorial definitif soal cara merekrut setiap Seru ini untuk memastikan setiap dari mereka bergabung. Hampir sebagian besar Seru yang bergabung ke dalam tim Anda biasanya datang sebagai “kejutan” yang tidak pernah Anda harapkan sebelumnya. Namun tidak jarang pula, apalagi jika kita bicara soal Seru-Seru yang penting untuk support seperti healing misalnya, yang harus Anda “buru”. Dimana mau tidak mau, Anda harus bertahan di satu lokasi, melewati proses encounter demi encounter atas nama untuk mendapatkan Seru-Seru esensial ini.
-
Musik
Kualitas musik yang diusung oleh Legend of Legaia memang tidak sekelas Final Fantasy, terutama untuk urusan OST dengan choir yang siap untuk membuat bulu kuduk Anda merinding. Namun seiring Anda menyelesaikan Legaia, melupakannya untuk sementara waktu dan memutuskan untuk kembali mencicipinya di satu titik, Anda akan merasa bahwa apresiasi Anda pada aspek ini akan tumbuh kian membesar. Karena di tengah kualitas visualisasi yang begitu terbatas di era rilisnya, musik adalah elemen yang membantu Anda “menangkap” feel dunia Legaia itu sendiri. Ketika tema sedih mengemuka dan Anda melihat bagaimana karakter seperti Noa bergerak minim dengan kepala tertunduk, ditambah dengan dialog yang cukup menyayat hati, Anda akan bisa menangkap emosi-emosi ini dengan jauh lebih baik. Musik Boss Battle-nya? Cukup untuk membuat Anda panik dan memahami bahwa setidaknya dalam 10-20 menit ke depan, Anda akan berhadapan dengan situasi yang membuat Anda ingin berteriak.
-
Semua Karakter Adalah Bintang

Berapa sering Anda bertemu dengan game-game JRPG yang memuat begitu banyak karakter namun gagal membuat karakter-karakter pendamping ini menarik dan relevan? Ada banyak kasus yang sangat disayangkan, apalagi jika karakter “sampingan” ini terlihat punya potensi untuk menawarkan latar belakang cerita yang menarik. Namun tidak dengan Legend of Legaia. Ketiga karakter yang jadi “bintang” – Vahn, Noa, dan Gala punya porsi yang sepadan, baik sebagai karakter individu ataupun sebagai sebuah tim. Bahkan, sebelum ketiganya bergabung untuk menyelamatkan dunia, Anda terlebih dahulu harus memainkan cerita personal masing-masing karakter untuk memahami latar belakang, motivasi, dan konflik seperti apa yang harus mereka lewati. Ini membuat Anda akan melihat ketiga tiganya sebagai karakter utama, tanpa ada satupun yang dikesampingkan.









