Review Final Fantasy XVI: Fantasi Tinggi Melebihi Ekspektasi!

Reading time:
June 21, 2023

Dewasa, Gelap

final fantasy xvi review jagatplay 29
Berkekuatan Playstation 5, ia hadir dengan presentasi visual yang indah.

Sisi presentasi visual yang ditawarkan oleh Final Fantasy XVI dengan performa Playstation 5 sebagai pondasi memang tidak perlu lagi banyak dibicarakan. Selain memastikan kualitas visual penuh detail, apalagi dengan efek partikel serangan yang bertebaran di sepanjang permainan, ia juga memastikan waktu loading super cepat yang membuat aksi fast travel tetap nyaman. Anda juga bisa melihat pendekatan detail ekspresi wajah karakter yang kini tercermin dengan lebih baik, baik ketika mereka tengah bersemangat, tertawa, ataupun sedih. Square Enix bahkan cukup percaya diri untuk melepas sebuah versi demo untuk membantu gamer Playstation 5 mencicipi hal ini secara langsung.

Sisi teknis dari presentasi visual ini hanyalah sebagian kecil dari daya tarik Final Fantasy XVI yang penuh kejutan. Pada akhirnya, yang akan menarik dan membuat Anda bertahan adalah pendekatan dunia dan ceritanya yang kian gelap dan dewasa, seolah mengikuti umur basis fans seri original yang kini memang seharusnya mencapai usia dewasa hingga tua. Bahwa tidak lagi seperti era Final Fantasy X misalnya dimana kematian masif diperlihatkan secara implisit dengan romansa yang begitu manis mengikuti standar remaja di kala itu, Final Fantasy XVI jelas menyasar pendekatan eksplisit yang memang harus diakui, lebih dekat ke kisah fantasi barat alih-alih sesuatu  yang lahir dari tangan dingin Jepang.

Sejak awal permainan, Anda sudah bisa melihat bagaimana ketegangan atmosfer seksual terjadi dengan beberapa karakter, yang seiring progress permainan nantinya akan mengalami eskalasi tersendiri. Semuanya disajikan dengan animasi yang lumayan eksplisit, walaupun konten ketelanjangan tetap dijaga di batas-batas yang tersembunyi. Final Fantasy XVI juga sama sekali tidak menyembunyikan betapa brutal dan kejamnya dunia Valisthea dengan mempertontonkan tidak hanya darah dan kematian saja, tetapi juga kebencian tidak rasional pada kelompok tertentu yang kemudian membuat mereka berujung diburu, dibunuh, dan digantung bak binatang begitu saja. Atmosfer penuh kegelapan ini adalah sesuatu yang cukup kami apresiasi untuk membangun tone yang seharusnya.

final fantasy xvi review jagatplay 4
Bukan hanya tensi seksual saja, gelap dan dewasanya dunia Final Fantasy XVI juga dipotret lewat kebencian tak rasional yang eksplisit.

Semuanya juga disempurnakan dengan keputusan dari tim developer untuk membangun script, pertama kalinya di sejarah franchise Final Fantasy, dimana karakter-karakter yang ada tidak takut untuk mengeluarkan sumpah serapah untuk mengekspresikan beragam emosi yang ada. Dunia yang dibangun juga tidak takut untuk memperlihatkan konten-konten seperti prostitusi misalnya yang di salah satu kota tidak hanya sekadar menjadi pondasi ekonomi saja, tetapi juga mempersatukan sendi-sendi masyarakat yang beragam di sana. Hal-hal yang terdengar kecil seperti ini memang terdenger remeh-temeh, namun secara tidak langsung membuat Final Fantasy XVI hadir tanpa kompromi sembari membangun identitas yang benar-benar jauh berbeda dibandingkan dengan seri-seri Final Fantasy sebelumnya.

Fantastisnya world-building yang mereka racik juga datang dari fakta bahwa setiap kerajaan yang dibangun juga punya kultur hingga pakaian yang berbeda-beda, dan tidak sekadar punya estetika Mothercrystals yang berbeda-beda. Sebagai contoh? Mereka masing-masing memiliki sudut pandang yang berbeda soal apa itu Dominants dan Eikon satu sama lain. Bagi kerajaan seperti Iron Kingdom misalnya, Dominants justru dilihat sebagai sebuah kutukan yang harus diperbudak agar tidak liar dan mengancam eksistensi mereka. Oleh karena itu, perlakuan bagi para Dominants berakhir kejam dengan Eikon yang dilihat tak ubahnya sebuah senjata pembunuh massal saja. Sementara di kerajaan lain, ada Dominants yang dilihat bak makhluk suci yang memang sepantasnya dijadikan pimpinan dan tumpuan harapan. Kontras seperti ini membuat setiap aksi eksplorasi Anda memasuki daerah dan kerajaan baru selalu berujung menarik karena bertemu dengan budaya yang berbeda. Tentu saja seperti halnya banyak game RPG, setiap kerajaan ini juga punya biome berbeda, dari yang eksis bersama lava, padang pasir, hingga hutan lebat di dalamnya.

Tidak hanya sisi visual dan world-building saja, Final Fantasy XVI juga datang dengan presentasi audio yang fantastis. Kami sendiri sangat merekomendasikan Anda untuk menikmati keseluruhan cerita yang ada dengan VA Inggris-nya yang hadir memukau, yang tak hanya terasa begitu hidup dan natural, tetapi juga super ekspresif ketika scene-scene dengan emosional berat tiba di momen yang seharusnya. Semua VA ini, baik untuk karakter utama, pendukung, atau yang sekadar lewat memainkan perannya dengan sangat baik. Acungan dua jempol untuk semua aktor / aktris pengisi suara yang terlibat dalam proyek ini.

final fantasy xvi review jagatplay 7
Puja puji untuk voice acting Inggris-nya yang natural, hidup, emosional.

Pujian bahkan lebih tinggi juga pantas mengarah pada Masayoshi Soken yang kembali meminjamkan talenta-nya sebagai komposer untuk Final Fantasy XVI ini. Bahwa ia tidak hanya berhasil menyuntikkan jenis musik epik penuh choir yang siap untuk membuat bulu kuduk Anda merinding saja setiap kali momen-momen besar itu datang, tetapi juga juga memfasilitasi momen-momen tenang nan emosional dengan kualitas musik yang tidak kalah memukau. Satu bagian yang kian membuat kami jatuh hati? Ia sepertinya juga mengerti cara untuk mengejutkan ekspektasi Anda. Sebagai contoh? Salah satu event pertarungan besar yang mungkin Anda prediksi akan datang dengan jenis musik gothic penuh choir ternyata berujung diisi dengan musik techno dengan sedikit choir di dalamnya. Sebuah kombinasi tak terprediksi yang ternyata berujung cocok dengan situasi yang Anda lihat di depan mata.

Cerita yang Tak Hanya Sinematik

final fantasy xvi review jagatplay 15
Sinematik bukanlah satu-satunya daya tarik sisi cerita Final Fantasy XVI.

Dengan semua trailer dan screenshot yang mereka lepas selama ini, sensasi sinematik yang hendak didorong Final Fantasy XVI memang tak tergoyahkan. Sudut pengambilan kamera di beragam scene non-interaktif yang ada, terutama pada saat pertarungan megah antara Eikon yang berujung bak pertarungan Kaiju raksasa hadir dengan koreografi pertarungan yang siap untuk membuat mata Anda termanjakan. Semuanya kemudian dikombinasikan dengan musik Soken yang siap untuk membawa pengalaman audio visual tersebut ke tingkat yang lebih jauh. Berita baiknya? Ada begitu banyak lapisan di cerita Final Fantasy XVI, hingga “sinematik” bukanlah satu-satunya pengalaman yang Anda dapatkan.

Seolah memahami kompleksitas yang mungkin terjadi pada saat menikmati cerita misalnya, yang notabene melibatkan begitu banyak kerajaan dengan kebijakan dan sudut pandang mereka sendiri, Final Fantasy XVI juga menawarkan sebuah fitur bernama “Active Time Lore” yang bisa Anda akses kapapun ketika cut-scene terjadi dengan tombol pause yang ada. Active Time Lore akan langsung memberikan beragam kategori soal informasi-informasi istilah yang mungkin membuat Anda bingung, yang kontennya juga akan terus di-update berdasarkan progress cerita utama yang ada. Karena memang harus diakui, pergerakan cerita Final Fantasy XVI memang tidak akan memberikan Anda eksposisi soal apa yang terjadi di dunianya begitu saja, hingga fitur ini dibutuhkan. Sebagai contoh? Konsep seperti “Bearers” di Valisthea misalnya tidak akan Anda pahami posisinya sebelum Anda menyediakan waktu untuk membaca dan mengerti informasi yang disediakan di sini.

Salah satu tantangan terbesar dari Final Fantasy XVI tentu saja menyediakan informasi yang tetap relevan kepada Anda terlepas dari fakta bahwa Anda akan memainkan Clive dalam tiga periode umur yang berbeda, yang seperti bisa diprediksi, akan disajikan dalam bentuk time skip. Untungnya, dengan menggunakan karakter-karakter NPC yang tersedia di markas utama Anda, Anda akan terus disuntikkan informasi soal dinamika hubungan antar kerajaan di Valisthe yang divisualisasikan dengan gaya super sederhana bak meja strategi perang. Lewatnya Anda akan mengetahui pihak mana saja yang terlibat konflik saat ini, dimana saja posisi para Dominants yang ada, dan tentu saja situasi soal area yang akan Anda kunjungi selanjutnya.

final fantasy xvi review jagatplay 31
Update tentang situasi dunia juga terus diberikan kepada Anda untuk memberikan pengetahuan lebih baik soal apa yang terjadi soal politik Valisthea.
final fantasy xvi review jagatplay 21
Misi sampingan juga punya “beratnya” sendiri.

Namun keputusan untuk terus memastikan Anda memahami apa yang terjadi bukanlah hal terbaik dari sisi cerita Final Fantasy XVI. Seperti yang kita bicarakan sebelumnya, daya tarik tersebut datang dari pengambilan sudut cerita dan atmosfer tanpa kompromi untuk memastikan Anda memahami bahwa Valisthea bukanlah dunia yang damai dan penuh warna. Bahkan untuk misi sampingan sekalipun, Anda akan bertemu dengan banyak situasi seperti ini. Sebagai contoh? Ada salah satu misi yang menjadikan seorang ayah dan anak kecil sebagai pemberi quest yang meminta Anda untuk menghabisi sekelompok serigala yang menyeramkan. Ternyata pas diusut, quest ini hanyalah “penipuan” semata. Baik sang ayah ataupun anak kecil ini memang secara sengaja meminta sekelompok budak untuk melawan para serigala ini agar mereka terbunuh, yang kemudian dianggap sebagai tontonan nan mengasyikkan untuk mereka. Kisah-kisah seperti ini siap untuk membuat darah Anda mendidih.

Fantastisnya lagi? Penyampaian kisah yang disampaikan oleh Final Fantasy XVI juga terasa lengkap dan berkesinambungan. Bahwa terlepas dari pergerakan masif peta dunia dan kerajaan-kerajaan di dalamnya, Anda akan tetap memahami apa yang hendak dilakuan Clive, apa yang menjadi target selanjutnya, dan tentu saja hubungannya dengan karakter-karakter NPC di markas yang masing-masing dari mereka juga akan punya jalan ceritanya sendiri via misi sampingan yang bisa Anda kejar. Bagian lain yang membuat kami jatuh hati? Tetap ada ruang kreativitas di sana. Square Enix bahkan berhasil menyuntikkan sebuah perspektif “jalan cerita” non-konvesional dari seorang karakter tak signifikan yang bersinggungan dengan begitu banyak karakter, memberikan gambaran soal cerita dari perspektif yang tak pernah Anda prediksi sebelumnya. Eksekusi yang begitu luar biasa juga tak sulit membuat Anda berang atau bahkan menitikkan air mata ketika momen-momen cerita itu tiba, sesuatu yang jelas terjadi pada kami.

final fantasy xvi review jagatplay 14
Sebegitu sinematiknya banyak momen yang ada, cukup untuk membuatnya pantas dibandingkan dengan game-game racikan Hideo Kojima.

Sementara untuk urusan sinematik? Final Fantasy XVI datang dengan pendekatan yang di mata kami, bahkan bisa mengimbangi apa yang sudah dilakukan seorang Hideo Kojima dengan Metal Gear Solid dan Death Stranding. Menikmati kisah yang hadir dalam beragam cut-scene pasif membuatnya terasa seperti sebuah film fantasi berbudget tinggi yang memang sudah lama Anda nanti. Menariknya lagi? Hal tersebut juga diadaptasikan ke dalam sistem pertarungan aktif berbasis QTE yang untungnya alih-alih mengganggu, justru membuat pertarungan Anda terasa kian sinamatik dan punya konteks di saat yang sama. Beberapa adegan di antaranya bahkan jelas terasa seperti sesuatu yang Anda nikmati dari manga / anime shonen populer.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
November 29, 2024 - 0

Palworld Dan Terraria Crossover Event Akan Hadir Pada 2025

Palworld dan Terraria umumkan event crossover yang akan digelar pada…

PlayStation

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 21, 2025 - 0

Review Clair Obscur Expedition 33: RPG Turn-Based nan Indah, Seru, & Memilukan

Clair Obscur: Expedition 33 menjadi bukti akan pentingnya passion dan…
June 19, 2025 - 0

Review Monster Hunter Wilds: Keindahan Maksimal di Tengah Derasnya Adrenalin

Monster Hunter Wilds berhasil gabungkan beragam elemen terbaik dari seri…
December 7, 2024 - 0

Preview Infinity Nikki: Game Indah Di Mana Baju Adalah Pedangmu

Kesan pertama kami setelah memainkan Infinity Nikki selama beberapa jam;…

Nintendo

November 4, 2025 - 0

Review Trails in the Sky 1st Chapter: Remake Terindah Untuk Game JRPG Klasik

Trails in the Sky 1st Chapter menjadi remake yang teramat…
June 30, 2025 - 0

Review Nintendo Switch 2: Upgrade Terbaik Untuk Console Terlaris Nintendo

Nintendo Switch 2 merupakan upgrade positif yang telah lama ditunggu…
July 28, 2023 - 0

Review Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Tak Sesempurna yang Dibicarakan!

Mengapa kami menyebutnya sebagai game yang tak sesempurna yang dibicarakan…
May 19, 2023 - 0

Preview Legend of Zelda – Tears of the Kingdom: Kian Menggila dengan Logika!

Apa yang ditawarkan oleh Legend of Zelda: Tears of the…