Review Final Fantasy XVI: Fantasi Tinggi Melebihi Ekspektasi!
Aksi Cepat dan Fleksibilitas

Dengan semua presentasi yang sudah mereka sajikan sebelumnya, sepertinya mustahil bahwa Anda tidak memahami bahwa struktur gameplay Final Fantasy XVI kini sepenuhnya berubah menjadi game action RPG. Tidak main-main, mereka menggunakan talenta seorang Ryota Syuzuki, seorang Combat Director veteran dari Capcom yang sempat menangani Devil May Cry 5 dan Dragon’s Dogma di masa lalu sebagai penanggung jawab. Berita baiknya? Ia hadir sebagai game action RPG yang berhasil mengusung dua buah konsep: memuaskan dan fleksibel di saat yang sama.
Memuaskan karena kombinasi gerakan yang Anda picu menjamin hal tersebut. Ada kepuasan tertentu misalnya di antara timing serangan musuh yang kecil, Anda bisa memasukkan serangan melee biasa, serangan magic jarak jauh, kombinasi keduanya, serangan melee charging lebih kuat yang juga didukung getaran unik adaptive trigger DualSenset di tangan, serangan Eikon atau mengkombinasikannya, hingga memicu Limit Break jika Anda menginginkannya.
Di sisi lain, tools yang Anda miliki untuk bertahan hidup juga tak kalah banyak. Anda bisa melakukan parry dengan efek slow motion jika Anda berhasil membatalkan serangan lawan, ada tombol dodge yang jika dieksekusi di timing yang tepat akan memberikan Anda kesempatan counter attack dengan damage lumayan efektif, hingga kesempatan untuk memerintahkan secara manual si anjing – Torgal dengan tombol terpisah untuk mengeksekusi aksi tertentu. Intinya, Final Fantasy XVI menyediakan Anda begitu banyak opsi saat bertarung yang berujung strategis dan memuaskan di saat yang sama.
Fleksibel? Karena seiring dengan lebih banyak kekuatan Eikon yang bisa digunakan oleh Clive, Anda juga akan mendapatkan segudang “peralatan” baru untuk bertarung melawan musuh dalam jumlah banyak, mini boss, ataupun boss berukuran besar. Menariknya lagi? Setiap kekuatan baru Eikon ini tidak sekadar hadir sebagai serangan sama yang sekadar berbeda elemen saja. Setiap kekuatan Eikon ini punya karakteristik spesifik masing-masing yang butuh cara penanganan berbeda saat bertarung, yang secara tidak langsung, akan mempengarui gaya bermain Anda nantinya mengingat Anda hanya bisa memilih tiga buah kekuatan Eikon untuk Anda bawa.
Perbedaan karakteristik masing-masing kekuatan Eikon ini memang tidak main-main, baik dari gerakan dasar berbasis lingkaran yang bisa Anda akses kapanpun ataupun dari set skill serangan yang bisa Anda buka dan akses dari pohon skill nantinya. Sebagai contoh? Dengan aksi teleport yang ia tawarkan bersama set serangan yang berfokus pada damage, Phoenix datang sebagai set kekuatan Eikon yang lebih lugas. Namun begitu Anda menyelam ke dalam set skill Eikon milik Shiva? Hampir 2 dari 4 skill yang ia tawarkan berbasis Crowd Control yang lebih efektif untuk mengunci gerakan musuh dalam jumlah massa. Ketika Anda terjun ke kekuatan Bahamut ataupun Odin? Ia ternyata mengusung kemampuan berbasis proses charging yang butuh waktu, namun mematikan pada saat dieksekusi, baik ketika kita bicara soal Megaflare ataupun Zantetsuken. Kekuatan siapa yang Anda pilih akan sangat menentukan gaya bermain Anda.


Fleksibilitas kemudian datang dari fakta bahwa Final Fantasy XVI ternyata tidak sepenuhnya “mengunci” kekuatan Eikon ini begitu saja. Dengan memanfaatkan pohon skill yang tersedia serta Ability Points yang bisa Anda dapatkan dari ragam pertarungan dan misi, Anda bisa menaikkan level masing-masing skill tersebut hingga level “Master” yang tentu saja terhitung mahal. Begitu level master untuk skill ini terbuka, Anda akan bisa memasangkan skill ini dimanapun terlepas dari Eikon yang Anda pilih. Ini berarti walaupun Anda memilih Eikon Garuda sebagai pondasi misalnya untuk aksi lingkaran yang mampu menarik jatuh musuh yang lebih kecil misalnya, Anda bisa memasangkannya dengan dua skill serangan milik Titan selama kedua skill Titan tersebut sudah Anda naikkan hingga level master. Konsep ini kian membuka potensi kombinasi kekuatan Eikon yang tentu saja, memperluas opsi gaya permainan Anda. Percayalah, akan ada satu titik dimana Anda akan merasa sudah menemukan kombinasi yang tepat, seperti yang terjadi pada kami.
Mengkombinasikan beragam serangan Eikon ini memang menjadi esensial karena hampir 70% musuh yang akan Anda hadapi di sini akan berujung menjadi mini-boss hingga boss yang benar-benar punya ketebalan HP yang tinggi hingga mustahil Anda hanya mengandalkan serangan kombinasi biasa saja. Strategi akan sangat bergantung pada usaha untuk menjatuhkan bar Stagger mereka hingga titik 0 yang kemudian membuat mereka jatuh pada status “Staggering” dan terdiam untuk waktu cukup lama. Selama proses Staggering tersebut, musuh akan menerima damage lebih besar hingga 1,5x lipat jika Anda berhasil mengeksekusinya dengan efektif. Strategi kami? Selalu berfokus mengeluarkan semua serangan Eikon yang kami miliki, memastikan mereka tidak berada dalam situasi cooldown, mengaktifkan Limit Break untuk ekstra damage pada saat kondisi Staggering untuk damage paling maksimal.
Menariknya lagi? Final Fantasy XVI bukanlah game yang terhitung mudah. Walaupun hampir sebagian besar musuh yang menantang Anda dari sekadar jumlah alias horde gampang dihabisi, namun pertarungan mini-boss dan boss bukanlah sesuatu yang bisa Anda lewati dengan melenggang begitu saja. Dengan varian mini-boss dan boss yang cukup banyak, yang beberapa bahkan terbagi ke dalam beberapa fase yang datang dengan gerakan serangan baru di tiap fase tersebut, Anda akan dituntut untuk terus waspada. Apalagi Anda hanya boleh membawa item penyembuh – Potion dan High-Potion dalam jumlah yang sangat terbatas ke dalam pertarungan, walaupun cukup terbantu dengan fakta bahwa Anda tidak harus melewati animasi tertentu untuk menggunakannya.
Selain damage besar dan ragam serangan baru ketika memasuki fase yang berbeda, yang tentu saja ditopang oleh tebalnya HP yang akan menguji kesabaran Anda, Square Enix juga datang dengan desain animasi serangan boss dan mini-boss yang menurut kami terhitung jenius untuk membuat Anda kelabakan. Salah satunya? Misalnya dengan memastikan tiga varian mini-boss yang punya senjata yang sama, ternyata punya timing berbeda. Katakan ketiga mini-boss ini memiliki palu raksasa sebagai senjata utama, yang akan Anda hadapi di tiga kesempatan berbeda. Boss A punya gerakan swing dengan waktu tahan sebentar, yang tentu saja meninggalkan memori otot tersendiri. Namun ketika Anda berhadapan dengan boss B yang punya palu besar pula, ia ternyata datang dengan timing serangan dengan waktu tahan lama, yang akan mengacaukan timing dodge Anda hingga menerima damage. Begitu Anda bertemu dengan boss bertipe brute ketiga? Ia ternyata punya serangan kombinasi dan proyektil di dalamnya. Belum lagi, tipe monster yang sama berperan sebagai sekadar mini-boss atau monster spesial yang bisa Anda buru juga punya moveset berbeda.
Untungnya, bagi gamer-gamer yang sudah cemas dan takut karena tidak mahir dengan game action akan difasilitasi dengan sangat baik oleh Final Fantasy XVI. Pertama tentu saja segudang aksesoris bernama “Timely..” yang akan melakukan proses otomatisasi untuk beberapa aksi tertentu, seperti serangan kombinasi, penggunaan item, hingga aksi menghindar. Mengingat ia akan memakan slot aksesoris karakter Anda, kompromi yang harus Anda hadapi adalah absennya kesempatan untuk memanfaatkan aksesoris lain yang mungkin punya efek lebih menggoda. Kedua? Ia punya sistem checkpoint di dungeon dan pertarungan boss. Jadi jika Anda tewas saat berada di titik dungeon tertentu, Anda tidak akan dipaksa mengulang dari awal. Hal yang sama juga terjadi pada saat Anda bertarung melawan boss yang memiliki beberapa fase, dimana pada saat tewas, Anda akan dibawa ke fase terakhir dimana Anda tewas. Bahkan di beberapa kesempatan, game akan membuat jumlah Potion dan High-Potion Anda kembali penuh untuk ekstra proteksi.


Sesuai dengan cerita yang bergerak, Anda juga akan menikmati Final Fantasy XVI dari perspektif pertarungan antara Eikon yang serunya lagi, disajikan dalam beberapa format yang berbeda. Ada yang datang dengan format pertarungan yang aktif, dimana seperti halnya menggunakan Clive, Anda akan senantiasa menyerang, menghindar, dan mengakses serangan spesial untuk menghabisi bar HP Eikon musuh secepat mungkin. Namun ada pula pertarungan yang terasa lebih scripted, dimana Anda justru akan mengendalikan sang Eikon dalam format bak Dragon Panzer atau yang sebagian besar pertarungannya diisi dengan QTE dengan pengalaman sinematik yang fantastis. Namun sayangnya, tidak ada kesempatan bagi Anda dari awal hingga akhir permainan, untuk misalnya mengubah secara manual Clive menjadi Ifrit pada saat terdesak misalnya. Semua kekuatan berbasis Eikon dan pertarungan mengitarinya selalu berhubungan dengan cerita yang ada.
Sayangnya, Elemen RPG di Kelas Dua..

Pengalaman Final Fantasy XVI sebagai sebuah game action RPG memang berada di tingkat tertinggi, dengan hampir semua elemen action yang Anda butuhkan difasilitasi dan dihadirkan untuk memastikan aksi pertarungan cepat sembari menyediakan fleksibilitas tersendiri, namun sayangnya ia harus diakui tidak terlalu mementingkan elemen RPG yang ada. Ada beberapa konsep dan potensi yang berujung tidak ia eksplorasi, yang membuat cita rasa action-nya lebih kuat daripada cita rasa RPG-nya.
Namun tentu saja, bukan berarti ia menanggalkan kesemuanya begitu saja. Final Fantasy XVI misalnya, masih menghadirkan segudang misi sampingan yang bisa Anda picu dan selesaikan dengan kualitas yang pantas untuk diacungi jempol. Beberapa misi ini hadir sederhana, namun tidak sedikit pula yang didesain dengan cerita kompleks nan berkesinambungan dimana nasib dan konflik karakter yang ada terbesar dalam beberapa porsi cerita dan misi sampingan berbeda sebelum selesai. Beberapa misi sampingan ini bahkan berujung menawarkan buff dan fitur permanen, seperti akses ke Chocobo sebagai kendaraan eksplorasi, meningkatkan efektivitas potion, hingga opsi crafting yang lebih luas. Atas nama cerita keren dan reward yang pantas, misi-misi sampingan ini pantas dikejar.

Masih belum cukup? Final Fantasy XVI juga menghadirkan fitur Hunt Board yang berisikan beragam monster spesial yang siap untuk menawarkan Anda tantangan ekstra dan segudang reward yang sekali lagi, pantas untuk dikejar. Sistem berburu monster spesial ini datang dengan konsep yang mirip dengan Final Fantasy XII yang lalu, dimana ia dibagi ke dalam beragam kelas berbeda untuk menunjukkan tingkat kesulitan yang ia siap ia tawarkan. Monster spesial di level tertinggi akan datang dengan Grade “S”yang selalu datang dengan perbedaan level cukup jauh, damage super mematikan, dan lokasi misterius yang harus Anda temukan sendiri alih-alih disajikan begitu saja. Berburu monster dengan grade yang satu ini selalu menarik, menegangkan, dan istimewa. Apalagi ia menjanjikan jumlah EXP yang super besaruntuk dikejar.


Namun seperti sub-judul yang kami bicarakan di atas, Final Fantasy XVI datang dengan konsep RPG yang sayangnya masih terhitung lemah. Kami tentu tidak akan memaksakan masalah “role-playing” berbasis keputusan dan konsekuensi yang nyaris mustahil Anda harapkan dari sebuah game RPG Jepang berbasis narasi kuat, seperti halnya seri ini. Sentimen ini datang dari fakta bahwa ada begitu banyak elemen RPG yang dihilangkan darinya.
Pertama, sentimen ini datang dari sistem equipment yang ia hadirkan. Anda memang akan didukung dengan tiga buah slot aksesoris yang mampu menawarkan buff pada status tertentu atau bahkan, membuat serangan Eikon Anda memiliki damage lebih besar atau waktu cooldown yang lebih cepat. Namun sayangnya, situasi yang sangat berbeda terjadi pada tiga slot persenjataan utama – pedang, ikat pinggang, dan bracer yang Anda gunakan. Terbagi ke dalam beragam level kelangkaan, dimana ada pula pesenjataan yang diposisikan sebagai senjata legendaris, Final Fantasy XVI sama sekali tidak menyuntikkan apapun yang membuat senjata-senjata ini istimewa. Padahal beberapa senjata ini hanya bisa diakses lewat proses crafting saja, yang notabene membutuhkan Anda mencari material yang hanya bisa didapatkan dari misi sampinganatau Hunt Board saja. Bayangkan betapa kecewanya kami ketika menemukan senjata-senjata “legendaris” ini benar-benar hanya menawarkan kenaikan status saja, seperti damage misalnya, tanpa membawa efek spesial dan khusus apapun yang membuat mereka terasa istimewa.
Hal kedua? Final Fantasy XVI benar-benar membuang semua efek status khas game JRPG dan Final Fantasy yang seharusnya memang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan strategis tertentu. Ini berarti efek seperti Poison, Stun, Silence, atau bahkan Sleep misalnya. Dua efek status yang kami temukan hanya dua di sepanjang permainan: Clive sedikit pingsan pada saat diserang serangan kuat yang membuatnya butuh waktu sepersekian detik untkuk bangkit kembali dan efek beku spesifik hanya dari serangan milik Shiva saja. Bayangkan betapa kecewanya kami ketika melihat serangan ikonik seperti “Bad Breath” dari Marlboro tidak menghasilkan efek status berbahaya sama sekali di seri yang satu ini. Jika game seperti Dark Souls misalnya bisa mengakomodasi begitu banyak efek status dengan limitasi akses inventory instan, ini seharusnya menjadi sesuatu yang tetap dipertahankan oleh Square Enix.
Hal ketiga yang tak bisa dikategorikan sebagai kekurangan namun memancing rasa tanda tanya tersendiri, adalah minimnya opsi bagi Anda untuk menentukan siapa karakter party yang Anda bawa ke pertarungan bersama Anda . Seperti yang sempat dibicarakan Square Enix sebelumnya, barisan party yang Anda bawa, yang notabene dikendalikan AI, akan sangat ditentukan oleh sisi cerita itu sendiri. Namun kami tidak mengira bahwa hal ini akan terjadi dari awal cerita hingga akhir permainan. Bayangkan rasa frustrasi kami ketika kami ingin satu karakter spesifik yang datang membantu kami menghabisi Hunt Board yang jadi target kami, namun harus puas ketika menemukan bahwa ia tidak akan lagi mengikuti party hingga di titik cerita selanjutnya.










