PHYSINT Tinggalkan Sony Diklaim Akibat Mahalnya Biaya Pengembangan
Sony diklaim ingin batalkan PHYSINT dan membuatnya pindah ke Xbox karena anggaran pengembangan yang membengkak.
Hengkangnya PHYSINT, game action espionage besutan Hideo Kojima dan Kojima Productions dari PlayStation ke pesaingnya, Xbox, merupakan topik panas yang masih terus dibahas di komunitas. Pasalnya, game yang begitu lekat imagenya dengan PlayStation itu dikatakan oleh Kojima akan dihentikan pengembangannya oleh Sony sekitar 3 bulan lalu, sehingga Kojima Productions terpaksa cari rumah baru.
Keputusan Sony meninggalkan PHYSINT ternyata bukan sekadar perubahan strategi mendadak. Laporan Bloomberg yang dikutip sejumlah media menunjukkan bahwa PlayStation melihat proyek tersebut semakin sulit dibenarkan secara bisnis; pengembangannya disebut sudah meleset dari target, anggaran berpotensi membengkak jauh di atas rencana, sementara game itu masih bertahun-tahun dari selesai. Dengan kebutuhan investasi yang diperkirakan bisa mencapai ratusan juta Dolar, Sony akhirnya memilih mundur daripada mengambil risiko tersebut.

Masalah pertama dikatakan ada pada jadwal produksi. PHYSINT disebut telah melewati sejumlah tenggat pengembangan, dan masih membutuhkan waktu panjang sebelum siap dirilis. Hal ini menjadi persoalan serius karena semakin lama proyek AAA berada dalam produksi, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung publisher.
Faktor kedua adalah potensi keuntungan yang tidak lagi terlihat cukup meyakinkan. Menurut sumber Bloomberg, dua game Kojima Productions sebelumnya yang diterbitkan Sony, Death Stranding dan Death Stranding 2: On the Beach, sama-sama tidak memenuhi ekspektasi pendapatan PlayStation. Tidak berarti keduanya merugi, tetapi performa tersebut membuat Sony memiliki alasan lebih kuat untuk berhati-hati ketika harus kembali menggelontorkan investasi sangat besar untuk proyek Kojima berikutnya.
Ada pula persoalan yang lebih mendasar; Sony tidak akan sepenuhnya memiliki hasil investasi tersebut. PHYSINT merupakan IP milik Kojima Productions, bukan PlayStation. Pola yang sama terjadi pada Death Stranding, yang pertama kali hadir di PlayStation tetapi kemudian diperluas ke platform lain.
Sony disebut enggan menginvestasikan ratusan juta Dolar untuk game yang berpotensi tidak menjadi eksklusif permanen bagi perangkatnya. Jadi dari sudut pandang bisnis, PlayStation bukan hanya menghitung biaya produksi, tetapi juga berapa besar keuntungan eksklusivitas yang bisa mereka dapatkan sebagai imbalannya.
Kombinasi tersebut menjelaskan mengapa PHYSINT dianggap terlalu berisiko, meskipun nama Hideo Kojima memiliki daya tarik besar. Sony harus memilih antara terus membiayai proyek yang mahal dan tidak tepat jadwal, atau memotong kerugian sebelum biaya semakin membesar.
Menariknya, keputusan itu bukan berarti PHYSINT mati. Setelah Sony mundur pada Juni 2026, Kojima Productions mencari partner baru selama sekitar tiga bulan dan akhirnya mendapatkan Xbox sebagai publisher. Microsoft melihat investasi tersebut lebih menarik karena rencananya adalah membawa game ke Xbox dan PC, sehingga model bisnisnya tidak bergantung pada eksklusivitas seperti PlayStation.
Pada akhirnya, alasan Sony membatalkan PHYSINT lebih masuk akal jika dilihat sebagai keputusan pengendalian risiko, bukan penolakan terhadap konsep game atau kemampuan Kojima. Biaya yang meningkat, jadwal yang meleset, prospek keuntungan yang diragukan, serta kepemilikan IP yang tetap berada di tangan Kojima Productions membuat Sony harus mempertanyakan apakah investasi sebesar itu masih sepadan.
Ironisnya, risiko yang dianggap terlalu besar oleh PlayStation justru kini diambil Xbox.
Bagaimana menurut Anda sendiri terkait alasan di balik pindahnya PHYSINT ke Xbox?










