CEO Xbox Jelaskan Rencana Membuat Console Itu Jadi Platform Terbuka
CEO Xbox Asha Sharma menjelaskan visinya jadikan Xbox sebagai platform terbuka, tetapi belum pastikan dukungan storefront pihak ketiga di sana.
Pimpinan Xbox, Asha Sharma, kembali memperjelas arah baru brand Xbox di bawah kepemimpinannya. Setelah merombak sejumlah kebijakan besar, mulai dari memangkas harga Game Pass Ultimate, menghentikan kampanye This Is an Xbox, hingga menjauh dari branding Microsoft Gaming, Sharma kini menjelaskan visi menjadikan Xbox sebagai platform terbuka.
Sebelumnya melalui memo internal bersama CCO Matt Booty, Sharma menyebut masa depan brand console itu akan dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu affordability, personalization, dan openness. Kini, dalam wawancara terbarunya bersama Game File, ia menjelaskan bahwa “open” bukan sekadar jargon, melainkan arah strategis yang ingin mendorong brand itu jadi platform yang lebih fleksibel bagi pemain maupun kreator.

Menurut Sharma, console mereka ingin menjadi ruang yang lebih terbuka bagi lebih banyak orang untuk menciptakan sesuatu, sekaligus memberi pemain lebih banyak kebebasan untuk menyesuaikan pengalaman bermain mereka sendiri. Fokusnya bukan hanya soal akses, tetapi juga soal bagaimana pemain bisa memperluas dan mengkustomisasi ekosistem console.
Namun ketika ditanya apakah “open” berarti console itu akan membuka pintu untuk storefront pihak ketiga di hardware mereka, seperti Epic Games Store di console generasi berikutnya, Sharma belum mau memberi jawaban yang pasti.
Ia hanya menjelaskan bahwa visinya saat ini masih berfokus pada keterbukaan sebagai fondasi kreativitas dan personalisasi, bukan janji langsung soal model distribusi baru. Tampaknya Sharma merasa hal ini cukup penting, karena dalam beberapa bulan terakhir rumor soal console generasi baru terus mengarah pada pendekatan yang lebih mirip PC, termasuk potensi dukungan storefront eksternal.
Sharma juga sempat ditanya soal ROG Xbox Ally, handheld yang disebut membawa pendekatan lebih fleksibel dengan akses ke lebih dari satu storefront. Namun ia menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam keputusan di perangkat tersebut, dan semua rencana terkait hardware semacam itu akan dievaluasi ulang bersama tim internal serta partner ke depannya.
Jawaban ini terasa hati-hati, tapi cukup jelas. Sharma tidak menutup pintu untuk Xbox yang lebih terbuka, hanya saja ia belum siap mengunci definisinya secara prematur. Untuk saat ini, “open” tampaknya masih berarti memberi pemain lebih banyak kendali atas pengalaman bermain mereka, sementara soal seberapa jauh Xbox benar-benar akan membuka ekosistemnya, faktor itu masih jadi pertanyaan besar untuk masa depan.
Bagaimana menurut Anda mengenai langkah masa depan yang diambil untuk brand console milik Microsoft itu?









