Nintendo Switch Online Naik Harga di Jepang untuk Pertama Kalinya Sejak 2017
Nintendo Switch Online resmi naik harga di Jepang mulai 1 Juli, menjadi kenaikan pertama sejak layanan tersebut diluncurkan pada 2017.
Era keemasan layanan gaming yang mampu tawarkan value besar, karena harga yang tergolong murah, tampaknya berakhir sudah. Menyusul kenaikan layanan gaming yang telah terlebih dahulu dijalankan oleh Game Pass dan PS Plus, Nintendo Switch Online akhirnya melakukan sesuatu yang selama hampir satu dekade berhasil mereka hindari.
Melalui laporan dari VGC, Nintendo resmi mengumumkan bahwa harga Nintendo Switch Online akan naik di Jepang mulai 1 Juli mendatang. Langkah ini menjadi kenaikan harga pertama sejak layanan tersebut pertama kali diperkenalkan pada Maret 2017, sekaligus menandai berakhirnya periode delapan tahun tanpa perubahan harga layanan.

Kenaikan tersebut akan berlaku untuk seluruh paket langganan. Paket individual satu bulan yang sebelumnya dibanderol ¥306 (sekitar $1,89) kini menjadi ¥400 ($2,47). Sementara paket tiga bulan naik dari ¥815 ($5,04) menjadi ¥1.000 ($6,19).
Untuk paket tahunan, harga individual meningkat dari ¥2.400 ($14,86) menjadi ¥3.000 ($18,58). Family Plan 12 bulan naik dari ¥4.500 ($27,87) menjadi ¥5.800 ($35,93). Adapun paket Nintendo Switch Online + Expansion Pack juga mengalami kenaikan dari ¥4.900 ($30,35) menjadi ¥5.900 ($36,55), sedangkan Family Plan dengan Expansion Pack naik dari ¥8.900 ($55,13) menjadi ¥9.900 ($61,33).
Selama ini, Nintendo Switch Online menjadi rumah bagi berbagai fitur penting seperti multiplayer online, cloud save, voice chat melalui aplikasi mobile, hingga GameChat untuk Switch 2. Tidak hanya itu, layanan ini juga menjadi gerbang menuju koleksi Nintendo Classics yang mencakup game NES, SNES, Nintendo 64, GameCube, Game Boy, Game Boy Advance, Virtual Boy, hingga Mega Drive.
Menariknya, untuk saat ini Nintendo baru memastikan bahwa Korea Selatan juga akan mendapatkan penyesuaian harga serupa. Untungnya, belum ada indikasi akan adanya kenaikan tarif di wilayah lain, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan wilayah Asia termasuk Indonesia.
Alasan di balik keputusan ini tampaknya tidak lepas dari melemahnya nilai tukar Yen, yang dalam beberapa tahun terakhir berada di level terendahnya terhadap Dollar AS sejak era 1980-an. Akibatnya, muncul kesenjangan harga yang cukup besar antara Jepang dan pasar internasional. Sebagai contoh, sebelum kenaikan ini, paket tahunan Switch Online di Jepang setara $14,86, sementara pelanggan di Amerika Serikat sudah membayar $19,99 untuk layanan yang sama. Setelah penyesuaian harga, selisih tersebut menjadi jauh lebih kecil dengan harga baru sekitar $18,58.
Nintendo sendiri sebelumnya menyebut bahwa Switch Online merupakan layanan global yang memiliki struktur harga terpadu, sehingga penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antarwilayah. Semoga saja penyesuaian harga akibat kurs mata uang berbanding Dollar itu tidak pula menyasar Indonesia, yang saat ini juga mengalami pelemahan Rupiah yang begitu tinggi.
Menariknya, keputusan ini hadir tidak lama setelah Nintendo menaikkan harga Switch 2 di Jepang, sebuah kebijakan yang disebut-sebut juga akan diterapkan di pasar Barat mulai September mendatang. Kini pertanyaannya, apakah Jepang hanya menjadi awal dari gelombang kenaikan harga Nintendo Switch Online sebelum akhirnya menyusul ke region lain, atau Nintendo masih mampu mempertahankan tarif saat ini untuk pasar global?
Bagaimana menurut Anda mengenai kenaikan harga Nintendo Switch Online ini?










