Lenovo Hentikan Handheld G02 yang Tersandung Isu ROM Ilegal
Lenovo resmi menghentikan handheld retro G02 setelah kontroversi gunakan ROM ilegal, meski perangkat serupa masih dijual dengan merek lain.
Belakangan ini, pasar hardware untuk handheld retro memang sedang berkembang pesat, dengan beragam merek baru bermunculan setiap bulannya. Namun di balik antusiasme tersebut, industri ini juga diwarnai oleh beragam praktik abu-abu, mulai dari penggunaan lisensi merek hingga distribusi ribuan ROM ilegal. Kasus handheld retro Lenovo G02 menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah produk dapat berubah menjadi mimpi buruk bagi reputasi perusahaan hanya dalam hitungan minggu.
Berdasarkan laporan Games Radar, Lenovo kini telah menghentikan penjualan G02 dan perangkat tersebut sudah ditarik dari seluruh marketplace resmi tempat sebelumnya dipasarkan. Keputusan ini muncul setelah G02 sempat menjadi sorotan karena banyak unit yang dijual oleh pihak ketiga dengan ribuan game retro berlisensi yang diduga melanggar hak cipta.

Kontroversi G02 sendiri sempat membingungkan banyak pihak. Awalnya, banyak yang mengira handheld bergaya Game Boy tersebut hanyalah produk palsu yang memanfaatkan nama besar raksasa teknologi itu. Namun setelah dilakukan penelusuran, Lenovo mengkonfirmasi bahwa G02 memang merupakan produk berlisensi khusus untuk pasar China, meski bukan bagian dari lini produk global perusahaan. Mereka juga menegaskan bahwa perangkat tersebut tidak dijual secara resmi di luar China dan tidak pernah dikirim dengan kartu microSD berisi game. Menurut perusahaan itu, ROM bajakan ditambahkan oleh penjual pihak ketiga yang memasarkan perangkat tersebut secara ilegal ke pasar internasional.
Meski branding Lenovo kini telah dihilangkan, masalahnya ternyata belum benar-benar selesai. Laporan terbaru menyebutkan bahwa hardware yang sama masih beredar di AliExpress, dan marketplace lain dengan nama merek berbeda, seperti GUSGU H7. Dengan kata lain, yang menghilang hanyalah logo saja, sementara perangkat dasarnya masih terus dijual oleh berbagai reseller.
Dari sudut pandang Lenovo, menghentikan penggunaan nama G02 merupakan langkah yang masuk akal. Membiarkan produk dengan branding perusahaan beredar bersama ribuan game ilegal tentu berisiko menimbulkan persoalan hukum sekaligus merusak citra brand. Terlebih, perusahaan teknologi itu selama ini lebih dikenal lewat lini laptop Legion, dan handheld gaming seperti Legion Go dibanding perangkat emulasi murah yang menyasar pasar retro.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa pasar handheld retro masih dipenuhi praktik distribusi yang sulit dikendalikan. Banyak produsen hanya membuat perangkat keras, sementara penjual pihak ketiga menambahkan kartu microSD berisi ribuan ROM sebelum menjualnya ke konsumen. Ketika produk tersebut membawa nama perusahaan besar, maka batas antara produsen, pemegang lisensi, dan reseller menjadi kabur di mata pembeli.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Lenovo sudah mengambil langkah yang tepat dengan menghentikan G02?










