Doom Kini Bisa Dimainkan di Commodore 64
DOOM berhasil dijalankan di Commodore 64, memperpanjang daftar perangkat tak terduga yang mampu menjalankan FPS legendaris tersebut.
Bagi gamer PC, DOOM bukan lagi sekadar game FPS legendaris belaka. Selama bertahun-tahun, game besutan id Software ini telah menjelma menjadi semacam tolok ukur kreativitas komunitas, bahkan sampai melahirkan meme “Can It Run Doom?“, mendorong programmer mencoba menjalankan game itu di perangkat yang mustahil. Kini, tantangan itu masuki babak baru ketika DOOM berhasil berjalan di Commodore 64, home computer berusia lebih dari empat dekade.
Programmer Steve McCrea membagikan keberhasilannya menghadirkan build DOOM di Commodore 64 via media sosialnya. Tentu saja, pengalaman bermainnya jauh dari kata ideal. Resolusi tampilannya sangat rendah, frame rate terbatas, dan banyak kompromi teknis harus dilakukan.

Namun, yang membuat proyek ini menarik bukanlah kenyamanan bermain, melainkan fakta bahwa hardware yang dirilis pada 1982 tersebut ternyata masih mampu menjalankan game FPS legendaris yang paling berpengaruh sepanjang masa itu.
Pencapaian ini menjadi tantangan teknis yang luar biasa, mengingat spesifikasi Commodore 64 sangat jauh di bawah kebutuhan DOOM versi orisinal. Komputer klasik tersebut hanya dibekali prosesor MOS Technology 6510 sekitar 1 MHz dengan RAM sebesar 64 KB. Karena itu, berbagai optimisasi dan penyesuaian ekstrem menjadi kunci agar proyek ini bisa diwujudkan.
Fenomena seperti ini juga menunjukkan betapa besarnya pengaruh DOOM terhadap dunia game maupun komunitas pemrograman. Sejak source code game tersebut dirilis ke publik, pengembang dan kaum antusias terus berlomba membawanya ke berbagai perangkat yang tidak lazim, mulai dari kalkulator, printer, mesin ATM, smart thermostat, bahkan sampai dimainkan dalam dokumen PDF.
Tentu saja di balik proyek yang terkesan konyol ini, sebenarnya tersimpan semangat yang menjadi ciri khas komunitas PC gaming; rasa penasaran untuk terus mendorong batas kemampuan teknologi. Tidak semua proyek dibuat demi kenyamanan pengguna atau nilai komersial. Sebagian justru hadir semata-mata untuk membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap mustahil ternyata bisa diwujudkan melalui kreativitas dan kemampuan teknis pembuatnya.
Bagaimana menurut Anda akan kembali munculnya perangkat tak lazim yang dirambah oleh game legendaris itu?










