NostalGame: The Legend of Dragoon

Reading time:

Apa yang Saya Benci dari The Legend of Dragoon?

Shana

The Legend of Dragoon 84
Dari semua karakter wanita yang ada di JRPG, Shana boleh terbilang (setidaknya menurut kacamata kami) paling tidak berguna. Karakteristik seperti penggerutu dan selalu merepotkan, Shana juga tidak bisa banyak diandalkan di medan pertempuran karena damagenya yang rendah.
miranda dragoon
Thank God for Miranda.

Dari semua karakter yang berpetualang bersama Dart, Shana harus diakui sebagai karakter yang paling tidak berguna. Lupakan tentang porsi perannya yang krusial untuk membangun cerita, Shana termasuk salah satu karakter wanita “terlemah” di sejarah game JRPG, yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri. Sejak awal permainan, Anda harus berhadapan dengan sikap kanak-kanak, keluhan sakit, kelemahan yang membuatnya terlihat seperti seorang penggerutu di dalam cerita. Lupakan juga kisah cintanya dengan Dart, karena Shana hampir tidak berguna selain menjadi beban semata. Ia juga tidak dapat diandalkan di pertempuran karena senjata panah yang membuatnya tidak dapat menggunakan addition, di luar daya serangnya yang memang lemah. Oleh karena itu, saya pribadi justru senang ketika Miranda mengambil alih posisinya sebagai White Dragoon.

Counter Button di Timing yang Lekat

The Legend of Dragoon 17
Tombol counter yang muncul tiba-tiba, apalagi pada saat timing addition yang melekat dan butuh reaksi cepat memang menyebalkan. Probabilitas gagal sangat tinggi.

Berusaha menetapkan timing yang tepat untuk mendapatkan damage paling maksimal dari Addition saja sudah menjadi pekerjaan yang cukup merepotkan. Ditambah dengan sistem counter yang bisa muncul secara random? Maka fitur ini bisa saja berakhir menjadi mimpi buruk. Walaupun tidak memberikan damage yang signifikan jika gagal untuk mengeksekusi counter yang tepat, namun sebuah counter musuh yang berhasil dapat menjadi titik krusial untuk mengubah jalannya pertarungan. Gagal memasukkan damage terbaik di setiap turn tentu saja mengesalkan. Apalagi jika Counter ini secara mendadak muncul di bagian serangan dengan timing yang begitu melekat, cukup untuk mengacaukan ritme karena frame freeze yang menjadi efek darinya. Menyebalkan!

Spear’s Addition

The Legend of Dragoon 791
Ritme yang sedikit “kacau” membuat addition dari karakter pengguna tombak seperti Albert dan Lavitz menjadi mimpi buruk tersendiri.

Setiap karakter yang ditawarkan oleh LOD memang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Ada yang kuat di bagian serangan fisik, beberapa memiliki kemampuan bertahan dan HP yang tebal, sementara yang lainnya mengandalkan kecepatan untuk mendapatkan keuntungan tersendiri dalam pertempuran. Addition untuk masing-masing karakter ini juga sangat bergantung pada “peran” ini. Dari semua addition yang ada, serangan tombak yang ditawarkan oleh Albert dan Lavitz harus diakui menjadi yang paling sulit untuk dieksekusi dan membutuhkan konsentrasi ekstra. Terlepas dari damage besar yang mampu ia hasilkan, ritme serangan (ketukan) serangan tombak inilah yang paling kacau dan dan seringkali tampil dalam jarak waktu yang dekat satu sama lain. Butuh ekstra kesabaran dan membiasakan diri sebelum dapat menguasai setiap serangan tombak yang ada.

Dragon Attack

The Legend of Dragoon 76
Mencari timing paling sempurna untuk memaksimalkan Dragon Attack = mimpi buruk.

Setelah bersenang-senang dengan transisi Dragoon dan bentuknya yang super keren, fitur yang satu ini masih menyisakan satu masalah yang menurut kami pribadi, memang sangat menyebalkan. Berbeda dengan Dragon Magic yang hanya sekedar memilih opsi dan menikmati animasi serangan super keren setelahnya, Dragon Attack membutuhkan daya konsentrasi ekstra untuk diekskusi, setidaknya untuk menghasilkan damage paling besar yang bisa dihasilkan. Alih-alih menggunakan ritme di serangan biasa, Sony membawanya ke satu level lebih tinggi. Kebutuhan untuk mencari timing yang tepat diarahkan dengan kecepatan yang lebih tinggi. Jauh lebih sulit? Tentu. Kemungkinan besar gagal untuk melemparkan combo paling maksimal? Sudah pasti.

BGM yang Kurang Memorable

The Legend of Dragoon 47
Sayangnya, beberapa scene yang seharusnya menyentuh dan memancing emosi para gamer gagal ditawarkan karena BGM yang harus diakui, kurang kuat. TIdak ada satupun lagu LOD yang benar-benar memorable dan terbakar dengan jelas di otak.

Apa yang paling Anda ingat dari The Legend of Dragoon? Akan ada jawaban bervariasi yang muncul, dari cerita, desain karakter, serangan dragoon yang epik, hingga mungkin FMV nya yang sudah pasti memorable. Berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan background music yang menemani petualangan Anda di sepanjang perjalanan 4 disc ini? Ini menjadi salah satu kelemahan fatal yang terjadi pada LOD. Walaupun mengusung banyak pertempuran epik dan adegan dramatis yang menyentuh, hampir tidak ada BGM yang mampu memrepresentasikan atmosfer ini dengan tepat, setidaknya cukup untuk menggerakkan hati dan memori para gamer. Tidak percaya? Silakan gali memori Anda sekarang, dan pikirkan BGM dari LOD yang masih melekat di otak Anda. Tidak ada? Same here!

Gonta-Ganti Disc

disc

Dengan visualisasi superb, FMV, dan voice acts di dalamnya, memang tidak mengherankan jika Legend of Dragoon akhirnya dirilis dalam 4 disc. Sejauh saat game ini dirilis, beberapa game sudah menempuh konsep multiple disc yang sama dan semuanya berjalan dengan sangat baik. Kesan ini jugalah yang mungkin akan rasakan ketika menjajal Legend of Dragoon pertama kali dan mengikuti progress sepanjang cerita, gonta-ganti disc menjadi sesuatu yang tidak pantas dikeluhkan. Namun pernahkah Anda iseng dan berusaha kembali berjalan menyusuri jejak masa lalu dan bergerak ke kota-kota sebelumnya? Tidak jarang Anda dituntut untuk mengganti disc hanya karena Anda ingin masuk ke dalam sebuah kota yang memang menjadi fokus cerita di disc-disc sebelumnya. Keterbatasan teknologi Playstation memang membuatnya masih dapat dimaklumi, namun jika mengingat sebagian besar game RPG lain yang tidak memperlihatkan masalah yang sama, ini tentu saja mengejutkan. Apalagi ketika Anda berpetualan mencari Earth Dragon untuk Kongol.

World Map yang Tidak Terbuka

The Legend of Dragoon 44
Tanpa opsi untuk mengeksplorasi World Map secara bebas? Lame!

Sebuah world map disebut world map karena ia merepresentasikan luasnya dunia yang ditawarkan oleh sebuah game RPG. Tentu menjadi konsep yang masuk akal jika gamer diberikan kesempatan untuk menjelajahi sendiri dunia ini dan merasakan luasnya dunia yang ditawarkan. Beberapa game JRPG konvensional sudah menjadikannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan . Oleh karena itu, menjadi kejutan yang cukup mengecewakan setelah Dart untuk pertama kalinya, memperlihatkan Endiness dalam bentuk yang sangat terbatas. Alih-alih bebas bereksplorasi, gamer harus bergerak dalam rute yang disediakan. Walaupun masih menyediakan random encounter di dalamnya, kehadiran format perjalanan seperti ini harus diakui menjadi kekurangan tersendiri. I want to explore!

Kursor Opsi

The Legend of Dragoon 42
Don’t buy
The Legend of Dragoon 71
Anda harus memilih opsi kedua untuk hampir semua hal.

Ini mungkin salah satu elemen yang seringkali tidak disadari oleh gamer LOD, namun menjadi bencara tersendiri bagi kami setelah mecoba menjajal LOD ini kembali setelah lebih dari 10 tahun. Pernahkah Anda menyadari bahwa kursor opsi selalu diarahkan pada pilihan yang justru tidak diinginkan oleh gamer, sehingga kemungkinan kesalahan tekan begitu besar? Ketika Anda memasuki kota, kursor diarahkan pada “Tidak ingin masuk kota”, ketika Anda berbelanja, posisi kursor default berada di “Saya tidak ingin membeli”, dan ketika selesai melakukan tutorial, posisi kursor opsi selalu berada di “Ya, saya ingin mengulang tutorial kembali”. Berusaha menekan tombol X dengan cepat untuk melewati bar percakapan yang lambat justru sering berakhir bencana. Apakah ini semacam trolling ala Sony?

Sensasi Setelah Memainkannya Kembali

The Legend of Dragoon 97
Replaying it for nostalgic reason? Worth every second!

Lupakan bahwa game ini telah berusia lebih dari 10 tahun, karena The Legend of Dragoon tetap mapu memperlihatkan kualitas yang membuatnya pantas untuk disebut sebagai sebuah legenda, fenomena, dan monumen untuk JRPG yang memang mulai pudar beberapa tahun terakhir ini. Walaupun kualitas detailnya tidak lagi terlihat memesona seperti dulu, namun kualitas visualisasi dan FMV nya sendiri tetap menciptakan atmosfer yang begitu intens, hingga tetap akan membuat Anda terpesona. Sistem battle, cerita, dan kemampuan Dragoon-nya yang super keren akan mengangkat kembali semua memori masa kecil / remaja dan menjadi dasar argumentasi mengapa ia begitu dicintai di masa lalu. Legend of Dragoon menyediakan semua hal yang tidak lagi mampu ditawarkan oleh JRPG saat ini, walaupun dengan teknologi yang jauh lebih maju.

Ada beberapa hal yang memang harus kembali disesuaikan ketika memainkan game ini kembali setelah lebih dari 10 tahun tidak menyentuhnya, terutama dari sisi Addition yang membutuhkan ketepatan ritmik. Gerak pertarungan juga terkesan lebih lambat dan keterbatasan jumlah item yang bisa dibawa menjadi hal yang cukup mengganggu. Namun di luar itu semua, LOD masih memperlihatkan pesona yang sama. Sayangnya, kami tidak memiliki cukup waktu untuk memainkan game ini kembali secara keseluruhan karena keterbatasan waktu yang ada. Namun perjalanan nostalgia singkat yang dilalui bersama LOD di awal tahun 2013 memberikan dua bahan renungan dan harapan: Pertama, harapan bahwa tidak hanya sekedar HD remake, Sony suatu saat akan merombak dan menciptakan sekuel untuknya, namun tentu saja dengan identitas yang sama. Kedua, prihatin dan sekaligus rasa penasaran akan stagnansi industri game Jepang yang seolah tidak lagi berani menjajal ragam ide baru dan menciptakan “LOD-LOD” lainnya di masa depan.

Bagi Anda gamer yang merindukan sebuah game JRPG dengan kualitas tinggi, tidak ada salahnya jika Anda mulai membongkar gudang dan memainkan kembali Legend of Dragoon Anda yang mungkin sudah penuh debu. Anda yang memiliki koneksi internet dapat dengan mudah menggunakan emulator yang ada dan bernostalgia. It’s worth every second, trust me!

Bagaimana dengan Anda yang sempat tumbuh besar dengan The Legend of Dragoon? Momen apa yang paling Anda ingat, sukai, dan benci dari game ini? Jangan ragu untuk berbagi di bagian komen di bawah ini.

 

 

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…
June 24, 2021 - 0

Menjajal Tales of Arise: Luapan Rasa Rindu!

Gamer JRPG mana yang tidak gembira setelah pengumuman eksistensi Tales…

PlayStation

October 15, 2021 - 0

Review Demon Slayer – Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles: Pemuas Para Fans!

Meledak dan langsung menjadi salah satu anime yang paling dicintai…
October 6, 2021 - 0

Review Far Cry 6: Revolusi yang Minim Revolusi!

Sebuah franchise shooter andalan, posisi inilah yang harus dipikul oleh…
October 1, 2021 - 0

Review Lost Judgment: Peduli Rundungi!

Sebuah langkah yang jenius atau ekstrim penuh resiko yang terhitung…
September 27, 2021 - 0

Review Diablo II Resurrected: Bentuk Baru, Cinta Lama!

Blizzard dan kata “remaster” sejauh ini memang bukanlah asosiasi yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…