JagatPlay NgeRacau: Ori VS Bajakan!

Reading time:
August 19, 2014
pirate

“Makanya jangan sering ngebajak”, “Tabung donk buat beli game original, susah amat”, ini argumen emang selalu dilemparin tiap kali ada artikel JagatPlay yang ngebahas soal publisher yang kagak mau ngerilis game mereka di PC atau platform yang lain. Ini emang jadi fakta yang emang gak bisa terbantah, kalau pembajakan memang masih jadi scene yang umum banget di Indonesia. Pertama tentu aja karena ada permintaan yang besar, yang kalau dikaitin sama ilmu ekonomi, selalu berakhir sama penawaran dan berakhir jadi pasar yang masif. Kita ketemu sama orang-orang yang ngejual game bajakan secara terbuka. Kedua, memang mau enggak mau harus dikaitin sama akses internet di Indonesia yang lebih cepat, mudah, dan murah daripada 10 atau 20 tahun yang lalu misalnya. Orang tinggal googling, ngeklik link, dan voila! dapat game gratis. Pemerintah kita juga enggak punya konsekuensi yang tegas kalau udah ngomongin soal pembajakan. Ini jadi semacam siklus mematikan yang memang kagak ada ujungnya.

Secara moral dan etika, pembajakan memang kagak beda sama mencuri, karena kita ngegunaiin sebuah produk komersial hasil kerja keras orang lain yang seharusnya dijual dengan harga tertentu, secara gratis. Tapi menariknya, pembajakan juga mendorong negara-negara terbelakang untuk bergerak maju mengikuti negara-negara dunia pertama. Hah? Bagaimana bisa? Percaya atau enggak, kasus inilah yang terjadi dengan pembajakan OS komputer paling ngetop saat ini – Windows. Negara-negara terbelakang yang penduduknya enggak punya cukup uang untuk ngegelontorin duit gede buat OS ori, tetap kesempatan buat belajar dan maksimalin kemampuan komputer mereka untuk bersaing secara global. Mereka jadi lebih siap untuk bersaing dan ngikutin tren industri itu sendiri. Kontroversi seperti ini yang selalu nyelimutin pembicaraan tiap kali perdebatan soal ori dan bajakan mengemuka.

Masalahnya, perdebatan selalu muncul tanpa ada usaha untuk melihat sudut pandang dari kedua sisi, mereka yang ngandelin pembajakan selalu ngerasa kalau gamer yang main game ori termasuk kelompok elitist, raja minyak, orang yang cukup beruntung buat punya banyak duit. Sementara dari kacamata gamer ori, mereka yang main bajakan dianggap sebagai gamer kacangan yang enggak cinta sama industri game itu sendiri, yang bersalah buat penutupan banyak developer, dan tidak mau berusaha keras. Tahu apa yang kurang dari masing-masing sudut pandang ini? Empati. Itulah yang ingin difokusin oleh JagatPlay Ngeracau kali ini. Berusaha ngertiin dan paham apa sebenarnya isi masing-masing otak dari kelompok ini.

Dari Sudut Pandang Gamer Bajakan

Nafsu Buat Mainin Game Baru

Ermahgerd! Newr Grameee!!
Ermahgerd! Newr Grameee!!

Apa yang sih ngedefinisiin seseorang itu gamer atau bukan? Enggak cuman sekedar main game, kita bakalan setuju kalau gaming itu juga soal passion, soal semangat buat nyicipin game-game baru. Salah satu yang paling jelas kelihatan itu betapa indahnya hari-hari kita kalau misalnya game yang selama ini kita incar ternyata beneran mau muncul dan dirilis di platform yang kita punya. Itulah yang mendefinisikan kita sebagai seorang gamer. Kita berangkat dari rasa yang sama, semangat yang sama, dan keinginan yang sama. Mereka yang kebetulan enggak punya dana yang cukup, pada akhirnya harus beralih ke bajakan buat nyicipin game-game baru ini, apalagi kalau rilisnya dalam rentet yang deket banget. Mau kita gamer ori maupun bajakan, pasti ngerti rasa frustrasi yang muncul ketika game-game baru udah mulai muncul ke pasaran dan kita gak punya waktu ataupun uang buat mainin dengan cepat. Nabung sejak lama dan ternyata enggak cukup buat mainin semua game ori ini? Enggak bisa nunggu lama, nahan diri, dan justru ngerasa frustrasi dan penasaran? Bajakan jadi solusi yang lebih rasional buat bikin setidaknya, hati lebih tenang. Ini bukan soal ori atau bajakan, ini soal identitas.

Enggak Semua Gamer Punya Kemampuan Ekonomi yang Sama

I'm sad...
I’m sad…

“Makanya nabung donk..”, “Kerja keras donk, nyari duit ekstra buat mainin game ori..”, komentar-komentar begini lah yang justru bikin gamer ori kelihatan kayak kelompok elitist yang enggak mau ngerti dan mahamin kalau enggak semua orang punya kemampuan ekonomi yang sama kayak dirinya. Orang yang punya pekerjaan bagus atau keluarga yang rada tajir mungkin ngerasa kalau beli game original itu bukan masalah yang perlu digede-gedeiin,  tapi enggak untuk mereka yang punya kemampuan ekonomi terbatas. Ada banyak gamer dan keluarga di sana, yang kalaupun udah nabung selama berbulan-bulan, yang udah bekerja keras setengah mati, tetap enggak akan punya dana ekstra buat video gaming. Sebuah video game original itu bisa makanin ¼ pendapatan bulanan pekerja kantoran kelas bawah, pengeluaran yang tentu aja kagak bisa ditoleransi dengan semakin tingginya biaya hidup. “Ya kalau gitu jangan main video game,”, jadi komentar lain yang bikin ini hobby berasa kayak hanya ditujuin buat orang ekonomi tinggi doank. Padahal di sisi lain, video game bisa jadi pengalih perhatian efektif buat golongan muda yang masih mencari jati diri. I mean, daripada mereka keluyuran gak jelas dan berujung jadi kenakalan remaja, mending beralih ke video game, mau bajakan sekalipun.

Let me get this straight, buat apa gamer mau beli game bajakan kalau mereka punya uang buat beli game ori? Semua gamer yang punya uang pasti punya ambisi buat beli game ori, tapi karena mereka gak punya uang lah, makanya beralih ke bajakan. “Makanya cari duit donk biar bisa beli game ori”, implying kalau semua orang bisa mendapatkan pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan atau punya modal untuk wirausaha, atau sekedar mengabaikan fakta kalau yang diajak ngomong masih kaum pelajar yang kalau bekerja, justru bisa didakwa sebagai eksploitasi anak di bawah umur. Logikanya sepertinya enggak beda sama ngomong sama orang gak mampu yang tinggal di pedalaman:

A: “Adek bisa baca tulis enggak?”
B: “Enggak bisa om, saya enggak sekolah”
A: “Sekolah donk!”
B:  “Enggak ada dana om, orang tua juga enggak mampu”
A: “Kalau gitu kerja donk!”
B: “Orang tua petani buruh om. Saya juga bantu jualan kue.”
A: “Masih enggak cukup buat sekolah?”
B: “Enggak, om”
A: “Cari kerjaan tambahan lain donk!”
B: “Kerja apaan om?”
A: “Apaan kek.. Atau nabung donk!”
B: “Makan aja masih susah, enggak dana buat nabung”
A: “Makan masih susah? Cari kerja tambahan donk!”

Sekarang mengerti betapa menyebalkannya siklus  pembicaraan di atas. Sensasi ngobrol sama gamer ori yang enggak bisa memahami bahwa ada begitu gamer lain yang hidup dalam kondisi ekonomi yang berbeda dan bahkan jauh berada di bawah mereka, justru membuat mereka terlihat sangat tidak peka.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…

PlayStation

May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…
May 12, 2021 - 0

Ratchet & Clank – Rift Apart: “Emas” Playstation 5 Selanjutnya!

Usia yang masih “muda” bukan berarti menjadi alasan untuk tidak…
May 10, 2021 - 0

Review Resident Evil Village: Aksi Minim Ngeri!

Sebuah siklus? Sebuah strategi yang nyatanya berhasil? Atau memang rutinitas…
May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…