Review The Division: Solid tapi Tak Istimewa!

Reading time:
March 17, 2016

Dunia yang Mengagumkan!

The Division JagatPlay PART 1 (104)
The Division menawarkan dunia dengan detail dan kompleksitas yang memesona.

Salah satu keluhan yang mungkin sempat Anda baca di artikel preview kami sebelumnya adalah tentang tata desain kota di masa beta, open ataupun closed, berakhir tak merepresentasikan apa yang Anda dapatkan di versi final ini. Sesuatu yang cukup membingungkan mengingat masa beta seharusnya tak berbeda dengan sebuah sesi demo yang didesain untuk menjual lebih banyak The Division ke pasaran. Alih-alih apa yang bisa Anda dapatkan di versi final, Anda justru berhadapan dengan sebuah kota yang tak terlihat seperti sebuah skenario post-apocalyptic yang menarik, sepi, dengan objek yang sangat terbatas. Jauh dari apa yang diperkenalkan Ubisoft di trailer perdana The Division dan ragam screenshot setelahnya. Berita baiknya? Ini memang kebodohan Ubisoft di masa beta saja.

The Division menawarkan salah satu dunia open-world terbaik yang pernah kami cicipi, tak ada keraguan untuk itu. Memainkan sedikit sesi permainan di Brooklyn yang kemudian diikuti perpindahan ke New York, ia merepresentasikan sebuah dunia post-apocalyptic yang mencekam dan luar biasa di saat yang sama. Anda bisa melihat sudut-sudut kota New York yang dipenuhi dengan sampah, mobil yang sudah hancur berantakan, hingga beragam rerongsokan di sana-sini. Mewakili sebuah dunia yang sempat ditinggali ramai manusia dan kemudian sepi dalam waktu singkat, Ubisoft berhasil mengeksekusinya dengan luar biasa. Namun bukan hanya itu saja daya tarik utamanya.

Alih-alih memperlihatkan atmosfer seperti versi finalnya, desain masa beta yang dilemparkan Ubisoft memang terhitung bodoh. Padahal dunia The Division di versi final tampil jauh lebih baik, merepresentasikan sebuah kota besar dentgan kondisi chaos dengan sangat baik.
Alih-alih memperlihatkan atmosfer seperti versi finalnya, desain masa beta yang dilemparkan Ubisoft memang terhitung bodoh. Padahal dunia The Division di versi final tampil jauh lebih baik, merepresentasikan sebuah kota besar dentgan kondisi chaos dengan sangat baik.
Begitu banyak landmark ditawarkan di dalamnya.
Begitu banyak landmark ditawarkan di dalamnya.

Adalah fakta bahwa dunianya terasa seperti sebuah kota raksasa yang masif dengan arsitektur yang seharusnya. Di atas permukaan tanah, di ragam sudut jalan, Anda berhadapan dengan apa yang kami sebut di atas. Namun New York, tentu saja, tak hanya memuat ini saja. Ada begitu banyak ruang yang memungkinkan Anda untuk masuk ke jalur bawah tanah dan memasuki gedung tinggi untuk bertarung di atasnya. Ketika di bawah tanah, platform kereta hingga markas para Cleaners yang membakar begitu mayat manusia dengan mudahnya bisa Anda temukan. Sementara di gedung-gedung tinggi yang bisa Anda masuki, pertempuran di beragam lantai hingga akhirnya berakhir di atap gedung menghasilkan sensasi permainan seru tersendiri. Desain sebuah dunia open-world bertema urban yang fantastis dan pantas untuk diacungi jempol.

Tak hanya di atas permukaan, mereka juga membangun struktur bawah tanah untuk dijelajahi.
Tak hanya di atas permukaan, mereka juga membangun struktur bawah tanah untuk dijelajahi.
Beberapa lokasi juga bisa dimasuki dan memuat pertempuran epik di dalamnya.
Beberapa lokasi juga bisa dimasuki dan memuat pertempuran epik di dalamnya.

Walaupun tetap harus diakui, kota ini tak terasa terlalu dinamis. Anda akan bertemu dengan ragam NPC yang sekedar berjalan kesana-kemari tanpa tujuan dan tanpa kesempatan untuk berinteraksi, namun New York di The Division memang tak menawarkan kejutan banyak. Masalah dimana Anda harus berlari jauh hanya untuk mencapai satu titik tujuan tanpa menemukan hal menarik apapun di sepanjang perjalanan masih sesuatu yang sering terjadi. Statisnya kota ini juga semakin kentara begitu Anda masuk ke dalam area yang jadi daya tarik utama – Dark Zone. Sebagai sebuah area berbahaya yang di dalam cerita dideskripsikan sebagai area yang tak lagi terkontrol, Dark Zone bahkan membuat masalah ini semakin kentara. Semua musuh berdiri di area yang sudah diprediksi sebelumnya, tanpa event acak yang membuat perjalanan Anda menjadi unik dan menarik. Satu-satunya interaksi yang mungkin Anda lihat di sepanjang permainan mungkin hanya muncul dari antar faksi yang terkadang bertemu di tengah jalan dan memutuskan untuk saling membunuh satu sama lain. Terlepas dari desainnya yang memesona, New York di The Division memang terasa cukup hambar seiring dengan lamanya permainan Anda yang cicipi.

Walaupun harus diakui, dunianya memang terasa sedikit hambar. Tak ada kejadian acak yang menarik, level interaktivitas dengan NPC yang juga terhitung minim. Aksi berlari jauh dari satu titik ke titik lain yang sempat kami bicarakan di impresi beta juga masih terjadi di sini.
Walaupun harus diakui, dunianya memang terasa sedikit hambar. Tak ada kejadian acak yang menarik, level interaktivitas dengan NPC yang juga terhitung minim. Aksi berlari jauh dari satu titik ke titik lain yang sempat kami bicarakan di impresi beta juga masih terjadi di sini.
Tata cahaya yang keren.
Tata cahaya yang keren.
Ragam efek cuaca yang tak hanya membuatnya terasa lebih dramatis, tetapi juga punya pengaruh tersendiri di sisi gameplay.
Ragam efek cuaca yang tak hanya membuatnya terasa lebih dramatis, tetapi juga punya pengaruh tersendiri di sisi gameplay.

Tak hanya sekedar desain, cuaca juga memainkan peranan penting di The Division. Mengambil tema musim dingin,  pergantian siang dan malam serta ragam variasi cuaca yang Anda hadapi membuat petualangan Anda di kota New York ini kian dramatis. Melihat cahaya lembut yang berusaha masuk dari celah gedung di kejauhan atau terkadang, berusaha bertempur di tengah badai salju yang membuat jarak pandang begitu terbatas, semuanya memperkaya dunia The Division itu sendiri. Kerennya, Anda juga tak bisa memprediksi kapan semua hal ini akan tiba. Tak jarang, ketika berada dalam situasi genting yang seharusnya bisa diatasi dengan mudah, Anda justru harus bertarung di tengah badai salju yang kian memperkeruh segala sesuatunya.

The Division menawarkan sebuah dunia indah yang bisa disebut sebagai pencapaian tersendiri di sisi teknis. Anda bisa masuk ke dalam gedung yang berfungsi sebagai area untuk misi tertentu, atau sekedar iseng menjelajahi area bawah tanah dan beraksi di sana, atau justru hendak melihat keindahan kota New York dari tempat yang lebih tinggi tanpa perlu melewati proses loading sama sekali. Benar sekali, tak ada transisi yang membuat Anda harus berhadapan dengan layar gelap selama beberapa detik ketika menjelajahi dunianya. Satu-satunya loading hanya terjadi ketika Anda masuk dan keluar Safe House yang diposisikan sebagai zona aman.

Kerennya lagi? Luasnya dunia yang ia tawarkan berhasil difasilitasi dengan waktu loading yang minim.
Kerennya lagi? Luasnya dunia yang ia tawarkan berhasil difasilitasi dengan waktu loading yang minim.
Tak berlebihan rasanya untuk menyebut The Division berhasil menawarkan salah satu dunia open-world terbaik di industri game saat ini.
Tak berlebihan rasanya untuk menyebut The Division berhasil menawarkan salah satu dunia open-world terbaik di industri game saat ini.

Dengan semua daya tarik tersebut, tak berlebihan rasanya untuk menyebut bahwa dunia open-world yaang ditawarkan The Division memang pantas untuk disejajarkan sebagai salah satu yang terbaik. Detail, keragaman, atmosfer, dramatisasi, Anda akan percaya bahwa Anda tengah terperangkap di sebuah kota raksasa yang baru saja selamat dari mimpi buruk. Sebaik itu.

Action dan RPG yang Melebur Solid!

Ubisoft Massive berhasil melebur elemen action dan RPG game ini dengan sangat baik.
Ubisoft Massive berhasil melebur elemen action dan RPG game ini dengan sangat baik.

Bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan seperti apa intisari gameplay The Division itu sendiri? Anda bisa menyebutnya sebagai sebuah game RPG dengan elemen shooter di dalamnya, sama seperti yang dilakukan Bioware dengan Mass Effect, misalnya. Anda akan bertemu dengan sebuah game third person shooter umumnya, yang memungkinkan Anda untuk berganti senjata utama dan secondary, berlindung di balik cover, menembak dengan varian senjata tertentu, dan menghabisi ragam musuh lebih cepat jika Anda menjadikan kepala mereka sebagai fokus. Bedanya? Ia dibalut dengan elemen RPG di dalamnya. Jadi ada sistem damage yang tercermin lewat deret angka yang muncul, sistem equipment, status, skill, dan semua elemen yang mungkin tak asing lagi untuk Anda yang sempat mencicipi RPG di masa lalu. Secara sederhana, inilah The Division.

Ia dimainkan dengan gaya sebuah game third person shooter, namun dibungkus dengan banyak elemen RPG di sekitarnya. Termasuk sistem damage, misalnya.
Ia dimainkan dengan gaya sebuah game third person shooter, namun dibungkus dengan banyak elemen RPG di sekitarnya. Termasuk sistem damage, misalnya.
Ada segudang misi utama dan misi sampingan yang bisa diselesaikan.
Ada segudang misi utama dan misi sampingan yang bisa diselesaikan.

Maka Anda bergerak dari satu misi ke misi lainnya, berusaha menyelesaikan ragam tugas yang cukup bervariasi satu dengan yang lainnya. Dengan membuka peta New York, Anda akan langsung disuguhi dengan serangkaian ikon beragam yang masing-masing mewakili misi yang bisa diambil. Ada misi utama dengan ikon lebih besar yang memungkinkan Anda untuk melanjutkan progress cerita dan “menyelesaikan” game yang satu ini, sementara tak sedikit misi sampingan yang juga tersebar dengan hadiah uang, experience points, dan juga kesempatan untuk mendapatkan varian senjata dan equipment lebih baik di sana. Walaupun pada titik tertentu Anda akan berhadapan dengan skenario pengulangan, terutama di misi sampingan, New York menyediakan cukup ruang untuk membuat Anda terus sibuk. Dan kita masih belum berbicara soal Dark Zone yang akan kita bahas di sesi terpisah nanti.

Tentu saja, ada satu misi utama yang harus Anda kejar di sini, terutama ketika Anda berfokus mencicipi mode campaign yang ada – membangun markas utama yang dijadikan sebagai sumber harapan untuk Manhattan itu sendiri. Markas raksasa ini dibagi ke dalam tiga area utama : Medical, Tech, dan juga Security yang tak sekedar jadi basis plot untuk The Division. Masing-masing area ini dibangun ke dalam 10 area yang bisa diupgrade yang masing-masing memberikan upgrade dan skill tertentu pada karakter yang Anda miliki. Sebagai contoh? Jika Anda berhasil membangun Virus Lab, Anda bisa menggunakan skill Support Station – skill area healing yang menyembuhkan secara berkala. Jika Anda membuka Control Room via Tech Wing, Anda bisa membuka skill Turret untuk karakter Anda.

Anda punya markas yang harus dibangun ulang. Tiap bagian akan bisa di-upgrade 10x yang masing-masing akan membuka skill, perk, atau talent untuk digunakan karakter Anda.
Anda punya markas yang harus dibangun ulang. Tiap bagian akan bisa di-upgrade 10x yang masing-masing akan membuka skill, perk, atau talent untuk digunakan karakter Anda.
“Mata uang” untuk membangun setiap Wing markas utama ini bisa didapatkan dari misi sampingan atau utama yang memang memberikan reward untuk itu.

Dengan sistem seperti ini, The Division berusaha membuat side mission menjadi sesuatu yang esensial. Mengapa? Karena “mata uang” untuk membeli setiap upgrade dari markas besar ini bisa didapatkan dengan tak hanya menyelesaikan misi utama saja, tetapi juga ragam misi sampingan yang tersebar di Manhattan yang super luas. Dengan efeknya yang signifikan pada kemampuan karakter Anda sendiri, motivasi untuk menyelesaikannya memang menjadi jauh lebih besar, walaupun terkadang harus berakhir jadi proses grinding yang cukup melelahkan. Menariknya lagI? Upgrade ini akan berpengaruh pada ragam hal lain yang menyangkut karakter Anda, termasuk jumlah experience points yang didapatkan, jumlah item yang bisa dibawa, hingga menyangkut level Filter yang dibutuhkan untuk mengakses area terkontaminasi virus yang tersebar di seluruh New York. Bisa dipastikan, kebutuhan membangun markas ini bukan sekedar “tugas” belaka.

Maka dengan seiring makin banyaknya upgrade yang berhasil Anda buka, maka semakin lengkap pula akses karakter Anda pada ragam elemen “RPG” yang ditawarkan The Division. Pertama, tentu saja skill. Tiap karakter bisa memasang dua buah skill aktif yang bisa dipicu dengan mengorbankan waktu cooldown tertentu dengan ragam efek berbeda, dari yang berfokus pada healing, bomb pintar yang bisa mengejar musuh, hingga turret yang bisa memuntahkan api. Setiap skill ini juga akan punya variasi lain, yang lagi-lagi, bergantung pada upgrade markas Anda. Kedua adalah Talent. Secara sederhana, Anda bisa menyimpulkan Talent layaknya skill pasif di game-game RPG kebanyakan, yang akan berfungsi sebagai buff permanen karakter Anda selama dipasang. Dan elemen yang ketiga adalah Perks yang akan otomatis aktif dan tak perlu menggunakan slot apapun sama sekali untuk terus aktif. Sekarang Anda punya gambaran lebih jelas mengapa membangun markas ini memainkan peran super penting, bahkan untuk aksi Anda di masa depan.

Semakin
Semakin “rajin” Anda menyempurnakan markas ini, semakin banyak skill yang bisa Anda gunakan dan semakin besar kesempatan Anda untuk menciptakan kombinasi yang memang cocok untuk gaya permainan Anda.
Tiap faksi musuh punya karakteristik serangan yang berbeda-beda.
Tiap faksi musuh punya karakteristik serangan yang berbeda-beda.Cleaners, misalnya, menjadikan api sebagai ujung tombak.

Kombinasi kesemuanya akan menentukan gaya permainan Anda, apalagi mengingat musuh yang Anda hadapi memang butuh strategi tertentu untuk ditundukkan. Secara fisik mereka memang terlihat manusia, namun apa yang bisa mereka lakukan tak seperti tipikal game third person shooter pada umumnya. Tiap-tiap faksi punya karakteristik serangan dan bertahan sendiri-sendiri. Cleaners, misalnya, selalu punya anggota kelompok dengan senjata semburan api yang mampu membakar tubuh Anda. Sementara para anggota Divisions yang membelot juga biasanya didukung dengan ragam skill dan peran, termasuk mereka yang bisa melemparkan turret pada Anda atau menyembuhkan musuh lainnya via proses healing. Ada tipikal musuh yang mengandalkan serangan melee, ada yang menggunakan shotgun dan mampu membunuh Anda secara instan dari jarak dekat, ada yang berperan sebagai sniper yang terus mengintai dari jarak jauh, ada yang berperan sebagai Grenadier yang lebih berfokus melemparkan peledak ke Anda. Butuh waktu tersendiri untuk mengenal apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan varian musuh ini dan mengaplikasikan strategi tertentu untuk menundukkannya, apalagi jika Anda sudah berada di level tinggi.

Namun tenang saja, Anda tak harus “menundukkan” kota New York ini sendirian. Sejak awal diperkenalkan, Ubisoft Massive memang lebih menonjolkan aspek multiplayer online yang diusung oleh The Division, menjadikannya sebagai cara yang lebih optimal untuk menikmati konten yang hendak mereka tawarkan. Kerennya lagi? Tak hanya melakukannya bersama dengan teman-teman yang sudah berada di dalam friendlist, Anda juga bisa melakukan matchmaking untuk bermain bersama dengan orang asing yang lain. Semuanya sesederhana sekedar melakukan navigasi menu di sana-sini untuk memicunya. Anda bisa menyelesaikan misi utama bersama, menyelesaikan misi sampingan, atau bersenang-senang dengan sekedar mengeksplorasi luasnya dunia yang ditawarkan The Division. Kami sendiri sangat merekomendasikan Anda untuk menyediakan mic tersendiri agar komunikasi berjalan jauh lebih lancar, apalagi jika Anda berusaha menyeleasikan ragam misi di tingkat kesulitan lebih tinggi.

Anda tak harus menundukkan kota ini sendiri. Lewat user-interface yang sama, proses matchmaking atau bermain bersama dengan teman yang sudah berada di Friendlist terhitung mudah.
Anda tak harus menundukkan kota ini sendiri. Lewat user-interface yang sama, proses matchmaking atau bermain bersama dengan teman yang sudah berada di Friendlist terhitung mudah.
Loot-nya sendiri bersifat personal. Jadi Anda tak perlu saling berebut.
Loot-nya sendiri bersifat personal. Jadi Anda tak perlu saling berebut.

Berita baiknya? Mode online multiplayer kooperatif ini sendiri juga tampaknya sudah dipikirkan dengan sangat baik oleh Ubisoft. Lewat serangkaian ikon kecil yang muncul di layar, Anda bisa melihat skill apa saja yang tengah dikeluarkan oleh teman Anda, baik untuk kepentingan support ataupun ofensif, sehingga Anda bisa menyesuaikan aksi secara instan. Tenang saja, sistem looting juga dibagi per orang dan Anda tak perlu takut harus berebut senjata atau equipment yang jatuh dari musuh biasa atau boss. Sistem loot, seperti game-game RPG pada umumnya, tentu berbasis RNG alias  acak. Anda tak bisa memprediksi item seperti apa yang mungkin Anda dapatkan dari tiap aksi Anda, namun Anda tetap punya kesempatan untuk membuat frekuensi jatuhnya lebih sering lewat status bernama “Scavenging” yang biasanya termuat di ragam armor tertentu.

Berbicara soal loot, The Division memang tampil berbeda dengan game action RPG kebanyakan. Ia mengikatnya dengan sistem level karakter Anda. Ada lima tingkat kelangkaan: putih – hijau – biru – ungu – kuning yang bisa Anda dapatkan untuk item dan equipment Anda. Namun berbeda dengan game seperti Diablo atau Borderlands, misalnya, yang biasanya sudah menawarkan varian senjata langka untuk karakter level rendah, The Division meracik tingkat kelangkaan dan frekuensi jatuhnya terikat pada level utama karakter Anda yang maksimal berada di level 30. Semakin tinggi level Anda, semakin besar pula kesempatan Anda untuk mendapatkan varian senjata dan equipment lebih langka, yang juga didesain untuk hanya bisa dikenakan oleh karakter-karakter level tertentu. Perbedaannya bukan hanya sekedar soal damage atau berapa banyak armor yang mampu ia hasilkan, tetapi juga seberapa banyak “Talent” yang ia miliki serta seberapa besar efek yang ia hasilkan untuk tiga indikator utama equipment: Firearms, Stamina, dan Electronics.

Senjata dan equipment tentu terbagi dalam tingkat kelangkaan. Semakin langka, tak hanya menawarkan damage lebih tinggi, tetapi juga biasanya diperkuat dengan kemampuan khusus yang disebut sebagai
Senjata dan equipment tentu terbagi dalam tingkat kelangkaan. Semakin langka, tak hanya menawarkan damage lebih tinggi, tetapi juga biasanya diperkuat dengan kemampuan khusus yang disebut sebagai “Talent”.
Dengan requirements tertentu yang dibutuhkan untuk mengaktifkan Talent senjata, ada bungkusan elemen RPG lain di sistem senjata / equipment The Division.
Dengan requirements tertentu yang dibutuhkan untuk mengaktifkan Talent senjata, ada bungkusan elemen RPG lain di sistem senjata / equipment The Division.

Maka kita menemukan lapisan RPG baru lagi untuk The Division. Beberapa item dengan tingkat kelangkaan tinggi, terutama senjata, tak hanya sekedar menawarkan angka damage yang lebih efektif tetapi juga sifat bawaan yang disebut dengan “Talent”. Anda bisa menyederhanakannya sebagai sebuah buff senjata dengan ragam efek – dari yang mampu mengubah damage menjadi efek healing, hingga yang bisa menghasilkan efek buruk status tertentu ke musuh seperti Bleed, misalnya. Ada deskripsi jelas untuk setiap senjata dan Talent seperti apa yang mereka usung. Berita buruknya? Untuk mengaktifkannya, Anda harus menyentuh angka Firearms, Stamina, dan Electronics tertentu. Dan kini, sebuah kompleksitas baru muncul. Mengapa? Karena tak semua equipment yang punya status lebih bagus akan berkontribusi ikut meningkatkan angka ketiga elemen ini dan terkadang justru menguranginya. Mana yang akan Anda pilih, sebuah senjata tanpa efek Talent sama sekali namun armor Anda besar, ataukah senjata dengan Talent tetapi harus membuat status Anda yang lain tak terlalu menonjol? Kini keputusan tersebut kembali bergantung pada Anda sendiri.

Bersama dengan semua efek senjata ini, Anda juga akan mendapatkan banyak item Consumables yang hanya bisa disimpan dalam jumlah yang sangat terbatas. Item makanan ini akan menawarkan efek buff sementara, seperti efektivitas healing, misalnya. Namun item yang lain seperti Incendiary Bullet dan Explosive Bullet  bisa mengubah sifat peluru Anda untuk waktu tertentu yang efekif untuk mengendalikan musuh yang biasanya seringkali muncul dalam kuantitas banyak secara instan, apalagi yang tiba-tiba berusaha memperpendek jarak dengan “benteng pertahanan” Anda.

Secara garis besar, elemen RPG The Division adalah sesuatu yang dibangun dengan sangat solid. Maka seperti genre ini kebanyakan, ada begitu banyak elemen yang terikat satu sama lain –  yang terkadang butuh pemikiran panjang sebelum dieksekusi. Rangkaian skill, ragam senjata dan equipment, pada akhirnya ia akan selalu berakhir dengan usaha untuk menjadikan karakter Anda sebagai mesin pembunuh seefektif mungkin. Dan looting akan jadi motivasi Anda terus kembali dan kembali.

Pages: 1 2 3 4 5
Load Comments

PC Games

June 17, 2021 - 0

JagatPlay: Interview dengan Tom Hegarty & John Ribbins (OlliOlli World)!

Tidak semua gamer mungkin pernah mendengar game yang satu ini,…
June 17, 2021 - 0

Menjajal OlliOlli World: Game Skateboard Imut nan Ekstrim!

Berapa banyak dari Anda yang seringkali melewatkan judul game-game “kecil”…
May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…

PlayStation

June 21, 2021 - 0

Review Guilty Gear Strive: Wangi Kemenangan!

Sepak terjang Arc System Works di genre game fighting memang…
June 16, 2021 - 0

Review Final Fantasy VII Remake INTERGRADE (+ INTERMISSION): Selangkah Lebih Sempurna!

Mencapai sebuah keberhasilan untuk konsep yang di atas kertas nyaris…
June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…