Review The Division: Solid tapi Tak Istimewa!

Reading time:
March 17, 2016

Tak Sempurna

Terlepas dari semua keseruan yang bisa Anda dapatkan, The Division bukanlah game yang sempurna.
Terlepas dari semua keseruan yang bisa Anda dapatkan, The Division bukanlah game yang sempurna.

Tentu saja, The Division bukanlah sebuah game yang sempurna. Walaupun sebagian besar pengalaman yang ia tawarkan cukup memenuhi ekspektasi yang sudah terbangun selama tiga tahun terakhir ini, terutama dari implementasi sistem RPG yang terhitung luar biasa di dalamnya, ia tetaplah bukan sebuah game yang sempurna. Kami sendiri menemukan beragam masalah klasik yang tampaknya sulit dipisahkan dari sebuah game berbasis multiplayer online seperti ini, baik dari segi teknis hingga desain gameplay yang ia tawarkan sendiri.

Dari sisi teknis, kami sempat menemukan beberapa bug yang cukup menjengkelkan. Salah satunya membuat kami tak bisa melanjutkan misi setelah berhadapan dengan gelombang demi gelombang musuh hanya karena kami cukup kuat untuk bersikap ofensif, sementara game meminta kami untuk “bertahan”. Dengan senjata dan equipment yang sudah mumpuni, jadi langkah yang rasional untuk membali keadaan tersebut. Dengan niat untuk menyelesaikan setiap wave secepat mungkin, kami pun bergerak mendekat dan bukannya bertahan, membasmi mereka bahkan sebelum mereka punya kesempatan untuk berlari mendekat. Alih-alih cepat, kami justru harus mengulang sesi yang sama dari checkpoint kembali dengan membunuh diri kami sendiri. Mengapa? Karena hal ini ternyata membuat satu event tiba-tiba tak terpicu dan pintu untuk bergerak ke area selanjutnya tertutup begitu saja.

Bug yang membuat Anda tak bisa melanjutkan progress cerita atau titik fast travel super kacau untuk anggota tim yang baru hendak bergabung jadi catatan tersendiri.
Bug yang membuat Anda tak bisa melanjutkan progress cerita atau titik fast travel super kacau untuk anggota tim yang baru hendak bergabung jadi catatan tersendiri.

Hal yang sama juga terjadi ketika Anda membuka ruang permainan Anda  untuk proses matchmaking, misalnya. Tak jarang, di tengah misi, ketika Anda butuh satu ekstra tenaga bantuan untuk menyelesaikan misi yang sulit, orang yang terakhir yang bergabung ternyata tak bisa langsung melompat ke dalam aksi yang sama. Mereka harus berlari jauh dari tempat respawn yang didesain menyedihkan hanya untuk membantu Anda. Berita buruknya lagi? Tak jarang, level didesain untuk tak memberikan kesempatan bagi mereka untuk ikut begitu saja. Ada beberapa level dengan tingkat berbeda, seperti yang meminta Anda untuk turun dengan elevator atau membuka pintu besar tertentu yang akan menutup akses tersebut secara permanen begitu Anda selesai lewat, membuat player yang baru saja bergabung tak bisa melanjutkan perjalanannya. Hasilnya? Seperti kasus pertama, Anda semua harus merencanakan bunuh diri massal untuk bisa hidup bersama di titik checkpoint terakhir. Sebuah desain yang bodoh, tentu saja.

Masalah lain yang jadi perhatian kami adalah soal progress karakter Anda yang tak sebanding dengan harga barang-barang di toko. Di game-game RPG kebanyakan, toko sebenarnya jadi andalan untuk Anda yang ingin memperkuat karakter Anda dengan lebih baik, terlepas dari fakta bahwa ada kesempatan bahwa perangkat yang sama mungkin akan Anda temukan di perjalanan nantinya. Hal yang sama sebenarnya juga hendak diimplementasikan Ubisoft Massive di The Division ini, dimana senjata-senjata level awal biasanya bisa Anda beli dan menawarkan status yang lebih baik daripada senjata yang Anda dapatkan. Namun ketika sudah tiba di level lebih tinggi, yang terjadi adalah inflasi besar-besaran. Banyak toko, baik di Dark Zone ataupun zona biasa yang menawarkan item level tinggi untuk dibeli dengan status yang lumayan menarik. Berita buruknya? Ubisoft tampaknya gagal memikirkan bahwa proses grinding yang harus dilakukan gamer ternyata seringkali berakhir membuatnya tak sepadan. Ketika gamer mengumpulkan apa yang dibutuhkan untuk  membeli semuanya, ia tak lagi terasa berharga.

Sistem toko yang kacau balau ketika karakter Anda sudah menyentuh level tinggi.
Sistem toko yang kacau balau ketika karakter Anda sudah menyentuh level tinggi.

Sebagai contoh? Ketika kami mencapai level 30 dan tertarik untuk membeli senjata high-end pertama kami yang dijual di Advanced Weapons Vendor dengan harga sekitar  430.000 mata uang zona utama. Kami berhasil menyelesaikan cerita dengan total uang sekitar 230.000-an. Jika asumsi bahwa mengulang satu misi utama memberikan Credits ekstra beberapa puluh ribu, maka kami harus melewati cukup banyak pengulangan misi sebelum bisa membeli setidaknya satu senjata kuning darinya. Maka proses grinding pun dimulai. Namun ternyata, selama proses tersebut, apalagi ketika kami mulai menjajal Dark Zone, senjata kuning berbeda bisa kami dapatkan begitu saja. Kehadiran Phoenix Credits juga membuat proses membeli recipe di Vendor dan membangunnya sendiri dari sistem Crafting terasa lebih rasional.  Lalu, untuk apa semua uang ratusan ribu yang kami kumpulkan dan vendor Advanced Weapon ini? Sia-sia.

Hal yang sama juga terjadi di Dark Zone, yang juga punya vendor senjata dan equipment mereka sendiri. Namun berbeda dengan zona utama dimana kesempatan Anda untuk menggunakan equipment tertentu dibatasi sekedar level, di Dark Zone, ia juga dibatasi dengan hal baru – level Dark Zone karakter Anda. Maka Anda akan menemukan beberapa vendor di Dark Zone yang hanya akan menjual barang-barangnya jika karakter Anda sudah mencapai level minimal 30 atau 50 Dark Zone, yang tentu saja, butuh proses grinding yang panjang. Permasalahannya juga sama seperti di atas, bahwa besar kemungkinan Anda akan mendapatkan item dan senjata yang lebih berharga selama proses grinding ini daripada membelinya di toko. Lalu, untuk apa semua uang Dark Zone dan level yang harus dikejar ini? Berakhir tak berguna sama sekali. Ubisoft tampaknya tak memikirkan matang aspek toko sama sekali.

Statusnya sebagai sebuah game yang always-online juga jadi catatan tersendiri. Memang bisa dimengerti karena struktur gameplay yang dbangun Ubisoft di atasnya. Namun sayangnya, ini juga membuat The Division sulit untuk diprediksi karena pengalaman bermain Anda akan sangat bergantung pada kestabilan server mereka, yang sayangnya, tak memperlihatkan kinerja yang menjanjikan selama beberapa hari terakhir sebelum review ini ditulis. Kami sempat menikmatinya tanpa masalah selama satu minggu kemarin, namun tiba-tiba memburuk selama 2 hari terakhir. Dengan internet kantor yang cukup kencang untuk memainkan video Youtube HD bahkan 2K tanpa masalah, kami berakhir tak  bisa memainkan The Division dengan lancar tanpa alasan yang jelas. Tiba-tiba saja, terjadi rubberbanding yang sangat kentara, dengan peluru dan damage yang baru tercatat setelah setidaknya 5 detik meluncur dari moncong senjata Anda. Ubisoft tak mengkomunikasikan masalah ini dengan baik dan tiba-tiba saja masalah ini hilang begitu saja tanpa penjelasan jelas apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam.

What..what.. WHY??!!
What..what.. WHY??!!

Berita buruknya? Skenario di atas otomatis mempengaruhi semua aspek gameplay Anda, walaupun Anda tak tertarik untuk memainkan game ini bersama dengan orang lain sama sekali. Begitu koneksi internet Anda kacau atau server dari Ubisoft-nya sendiri yang tak bisa diandalkan, masalah yang sama juga akan terjadi walaupun Anda bermain sendiri.  Akan jauh lebih rasional jika mereka menyertakan opsi untuk memainkan game ini secara offline ketika Anda tak ingin dipusingkan dengan masalah seperti ini dan hanya tertarik untuk memainkannya seorang diri.

Masalah lain seperti dunia yang terasa statis dengan beberapa konsep Dark Zone yang masih butuh penyesuaian di sana-sini juga jadi catatan ekstra. Untuk sementara ini, konsep Rogue / Manhunt untuk area Dark Zone memang masih tak terasa esensial untuk dikejar walaupun beberapa gamer, walaupun mereka yang sudah berada di level atas, mulai melakukannya untuk sekedar bersenang-senang.  Entah apa yang harus dilakukan Ubisoft, namun mereka punya pekerjaan rumah untuk membuat area ini tak sekedar “perpanjangan” zona utama dengan boss di dalamnya.

Lebih Baik dengan Teman

Teman harusnya jadi salah satu pertimbangan utama sebelum Anda melirik The Division.
Teman harusnya jadi salah satu pertimbangan utama sebelum Anda melirik The Division.

Maka, pantaskah Anda melirik The Division? Kami tak akan ragu merekomendasikannya jika Anda termasuk gamer yang tak berkeberatan untuk menikmati sebuah game dengan proses grinding dan konten terbatas yang mungkin akan menuntut Anda untuk mengulangi misi yang sama berulang hanya untuk proses looting dengan tingkat kesulitan lebih tinggi. Namun seperti yang sempat kami bicarakan di masa beta kemarin, dasar keputusan tersebut tetap akan mengakar pada satu hal utama – apakah Anda punya teman untuk memainkannya bersama atau tidak?

Karena walaupun berbeda dengan Destiny dimana Anda bisa melakukan matchmaking untuk bermain bersama dengan orang asing dari belahan dunia berbeda, The Division tetap akan lebih seru untuk dinikmati bersama dengan teman yang sudah Anda kenal sebelumnya. Setidaknya Anda kini punya “gerombolan” yang pasti bisa diandalkan di level tinggi, ketika butuh untuk menyelesaikan Daily Missions atau sekedar berburu loot langka. Hadirnya teman juga akan memastikan eksplorasi Dark Zone yang lebih aman, karena biasanya tak akan ada player yang cukup gila untuk mengganggu satu kelompok berisikan 3-4 orang yang bergerak bersama karena resiko dan arah pertempuran yang akan sangat sulit diprediksi. Dengan demikian, apapun yang Anda dapatkan dari Dark Zone punya kesempatan untuk dibawa keluar dengan aman.

Ia menjamin aksi Dark Zone yang lebih aman, sehingga tak mudah jadi buruan tim yang lain.
Ia menjamin aksi Dark Zone yang lebih aman, sehingga tak mudah jadi buruan tim yang lain.
Memudahkan koordinasi di mode Challenge.
Memudahkan koordinasi di mode Challenge.

Keasyikannya juga akan terasa ketika Anda sudah mulai membuka Daily Challenges dengan tingkat kesulitan “Challenging” yang mau tidak mau butuh koordinasi yang lebih intensif untuk ditaklukkan, dari sekedar menentukan kombinasi skill seperti apa yang dibutuhkan  hingga sekedar berteriak soal posisi musuh mana yang perlu diperhatikan, sesuatu yang mungkin Anda lewatkan begitu saja. Namun pada akhirnya, memiliki teman akan membuat konten repetitif The Division jauh bisa lebih ditoleransi. Sekedar ngobrol, bercanda, tertawa, atau membahas hal lain sembari terlibat dalam aksi yang itu-itu saja setelah akhir permainan membuatnya jauh lebih bisa dinikmati.

Dengan demikian, dua hal lain yang perlu Anda siapkan untuk menikmati The Division selain teman hanyalah mic untuk bercakap-cakap dan tentu saja, koneksi internet yang bisa diandalkan. Tak ada gunanya teman jika performa Anda buruk dengannya. Salah satu pertimbangan positif yang tak bisa diabaikan begitu saja adalah betapa responsifnya Ubisoft selama 2 minggu terakhir rilis The Division untuk terus mengumpulkan feedback gamer dan menyelesaikan masalah yang dilaporkan secepat mungkin. Ada sedikit rasa optimis bahwa dukungan seperti ini akan membuat The Division bisa tampil semakin optimal di masa depan.

Pages: 1 2 3 4 5
Load Comments

PC Games

May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…
May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…

PlayStation

June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…
June 8, 2021 - 0

Preview Guilty Gear Strive: LET’S ROCK!

Nama besar Arc System Works sebagai salah satu developer game…
May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…