Review Playstation VR: Selangkah Lebih Dekat!

Reading time:
November 18, 2016

Review Tersulit yang Kami Kerjakan!

Semakin lama kami memainkan PSVR semakin kami yakin ini akan jadi salah satu review tersulit kami. Alasannya? VR adalah pengalaman yang sulit untuk dideskripsikan.
Semakin lama kami memainkan PSVR semakin kami yakin ini akan jadi salah satu review tersulit kami. Alasannya? VR adalah pengalaman yang sulit untuk dideskripsikan.

Review artikel Playstation VR ini mungkin adalah artikel review tersulit yang kami kerjakan saat ini. Bukan karena produknya begitu buruk hingga kami tak tahu harus menulis tentang apa, namun sebaliknya. Semakin jauh kami menikmati Playstation VR dan jatuh hati dengan konten yang ia tawarkan, semakin mengerti puila kami akan pada satu fakta yang sepertinya nyaris absolut – bahwa pengalaman yang ia tawarkan bisa dikatakan sulit untuk dideskripsikan. Berbeda dengan review game pada umumnya dimana Anda bisa melihat secara langsung seperti apa visual game yang juga kami lihat secara langsung saat review, hal ini tak berlaku di Playstation VR. Ini adalah sebuah teknologi dengan daya tarik yang baru akan bisa Anda mengerti, jika Anda sendiri “masuk” ke dalamnya.

Mengapa? Karena hampir mustahil untuk mendeksripsikan apa yang kami lihat secara langsung. Jika menekan tombol Share di PS4, yang Anda dapatkan adalah gambar resolusi rendah dari game-game VR ini yang hanya terpampang pada satu mata saja. Padahal jika Anda menikmatinya secara langsung dan mata Anda berhasil ditipu dengan dua gambar sama yang berjalan di framerate setidaknya 90Hz bersama-sama, didukung perangkat audio yang mumpuni, Playstation VR benar-benar “membawa” Anda masuk ke dalam dunia manapun yang hendak ia tawarkan. Ketika dalam mode VR, resolusi dan tekstur yang muncul terlihat jauh lebih fantastis.

Berbeda dengan game konvesional dimana Anda bisa melihat apa yang dilihat oleh reviewer game, screenshot sekalipun tak merepresentasikan apa yang Anda lihat di dalam PSVR itu sendiri.
Berbeda dengan game konvesional dimana Anda bisa melihat apa yang dilihat oleh reviewer game, screenshot sekalipun tak merepresentasikan apa yang Anda lihat di dalam PSVR itu sendiri.

Secara sederhana, Playstation VR punya satu tanggung jawab utama – menawarkan pengalaman gaming imersif yang tak bisa ditawarkan perangkat gaming konvensional pada umumnya, dan ia melakukan tugas tersebut dengan sangat baik. Jarak lensa dan layar yang mereka pilih mampu membuat Anda merasa menyelam ke dalam dunia apapun yang mereka tawarkan, tanpa harus terkendala masalah teknis. Anda tidak akan merasa bahwa Anda tengah melihat melewati sebuah lensa buatan, dengan sebuah headset buatan, ke dalam sebuah dunia buatan. Dan untuk urusan menciptakan “reality” dari sisi virtual, Playstation VR melakukannya dengan sangat baik.

Dan mereka ternyata punya senjata rahasia untuk membuat pengalaman tersebut semakin imersif, teknologi yang bahkan tak pernah kami tahu ada di Playstation VR itu sendiri. Walaupun potensinya sendiri masih belum tergali, namun sepertinya sebuah mic dengan sensitivitas cukup tinggi juga disematkan di dalamnya. Dari game-game PSVR yang kami jajal, The London Heist yang pertama memanfaatkan fitur ini. Di salah satu scene dimana Anda bisa melihat cerutu dan zippo, Anda bisa menyalakan cerutu tersebut dan mendekatkannya ke mulut. Jika Anda menghisap kuat cerutu tersebut dan menghembuskannya, Anda bisa melihat asap menyembul dari mulut seperti Anda tengah merokok di dunia nyata. Hal yang sama juga terjadi ketika di scene dimana ada gelas plastik minuman dengan sedotan. Jika Anda mendekatkannya ke mulut dan mengeluarkan bunyi menghisap, Anda bisa mendengar karakter utamanya menelan minuman tersebut. Sebuah fitur yang mungkin terdengar sederhana, namun membuat pengalaman VR di PSVR ini menjadi jauh lebih memesona.

The London Heist memuat
The London Heist memuat “rahasia” fitur PSVR yang saat ini baru dimanfaatkan hanya oleh mereka saja.

Lantas, apakah Anda akan pusing jika menikmatinya dalam waktu yang lama? Ini juga kembali pada preferensi dan ketahanan tubuh individu masing-masing, tanpa ada satu kesimpulan jelas. Sony sendiri sudah memastikan bahwa setiap game PSVR berjalan di framerate minimal 90fps, yang notabene merupakan framerate minimal untuk menikmati konten VR tanpa merasa pusing. Namun demikian, bukan berarti mereka bisa menghilangkan masalah ketahanan tubuh masing-masing user pada ragam genre yang ada. Ada gamer yang tak kuat untuk menikmati game apapun dari kacamata orang pertama dan sudah pusing ketika baru masuk ke PSVR itu sendiri, sementara ada yang tak bermasalah selama tak ada yang menuntut Anda untuk bergerak cepat, sementara tak sedikit juga yang menikmatinya tanpa masalah untuk semua pendekatan gameplay yang ada. Tak ada yang bisa dilakukan saat ini. Kami termasuk golongan gamer kedua. Game dengan gerak minim seperti Batman Arkham VR atau The Ocean Descent tak punya masalah dengan otak dan lambung kami. Namun ketika mulai masuk dengan game berkecepatan tinggi seperti demo RIGS atau Scavengers Odyssey, perut terasa terbolak-balik.

Terkadang ada kebutuhan untuk melihat kondisi luar, seperti misalnya saat Anda mencari kontroler Dual Shock 4. Sayangnya, tak ada opsi manual untuk mematikan fitur tracking PS Camera secara manual dan mengubahnya jadi feed video untuk sementara.
Terkadang ada kebutuhan untuk melihat kondisi luar, seperti misalnya saat Anda mencari kontroler Dual Shock 4. Sayangnya, tak ada opsi manual untuk mematikan fitur tracking PS Camera secara manual dan mengubahnya jadi feed video untuk sementara.

Untuk urusan game yang membutuhkan gerak, seperti yang kami bicarakan sebelumnya, tracking untuk PSVR dengan PS Camera berjalan dengan sangat baik selama Anda melakukan konfigurasi ruangan dengan baik pula. Ruangan cukup besar dan tanpa sumber cahaya terang di depan PS Camera akan memastikan Anda bisa menikmati game apapun dengan tanpa masalah. Satu hal yang cukup berakhir merepotkan hanyalah fakta bahwa Anda tak bisa menggunakan PS Camera untuk melihat sementara seperti apa yang terjadi di sekitar Anda ketika PSVR tengah terpasang. Padahal terkadang, Anda butuh untuk sekedar mencari dimana letak Dualshock 4 atau apakah ada orang di sekitar Anda sehingga proses tracking tak dibutuhkan. Ini mungkin salah satu fitur esensial yang menurut kami, butuh mereka pertimbangkan untuk update di masa depan.

Namun secara garis besar, tak ada yang bisa Anda keluhkan dari Playstation VR ini, atau bahkan, ada banyak pendekatan yang pantas untuk dipuji darinya. Kualitas layar yang cukup mumpuni dengan resolusi rendah yang masih mampu memperlihatkan visualisasi yang memesona ketika digunakan dalam mode VR adalah salah satunya. Ini adalah sebuah teknologi yang tak hanya didesain dengan baik, tetapi juga dirancang maksimal untuk tetap tampil memesona di luar keterbatasan kemampuan mentah Playstation 4 sebagai sebuah platform gaming. Dan sejauh ini, luar biasa.

Tak Hanya Game

Playstation VR hanya untuk game? Tunggu dulu!
Playstation VR hanya untuk game? Tunggu dulu!

Nama Playstation memang terasosiasi kuat dengan video game itu sendiri, oleh karena itu, tak akan jadi sesuatu yang mengherankan jika Anda yang tak familiar juga membangun korelasi yang sama dengan Playstation VR ini. Bahwa ini adalah perangkat masa depan yang didesain untuk satu hal saja – memainkan dan menikmati game-game VR yang dirilis di Playstation 4. Namun dari Sony Interactive Entertainment sendiri, game bukanlah satu-satunya yang hendak mereka jual dengan teknologi baru ini. Bahwa Anda bisa menikmati banyak experience dari ragam konten media yang lain di luar video game. Sebagai contoh? Film, konser, dan video musik.

Potensi VR melebihi sekedar video game, dan Sony sepertinya mengerti hal tersebut. Dari beragam konten yang ditawarkan, semuanya tak selalu video game. Mereka juga menawarkan konten film VR yang bisa Anda nikmati secara pasif tanpa memiliki kemampuan untuk memanipulasi objek apapun di dalamnya. Anda hanya perlu memasang Playstation VR di kepala Anda dan menikmati sendiri pengalaman seperti apa yang ditawarkan oleh produk-produk seperti Invasion atau Allumette. Sensasinya tak beda seperti mencicipi sebuah cerita dongeng. Namun tak lagi sekedar membaca atau menontonnya dalam format dua dimensi, Anda kini masuk ke dalam. Beberapa di antaranya mendukung sedikit konsep gerak dimana Anda bisa memajukan tubuh Anda untuk melihat objek tertentu dengan lebih jelas.

Sementara di sisi lain, Anda menemukan konsep seperti apa yang mereka tawarkan dengan Hatsune Miku Future Live Demo, dimana Anda juga hanya menikmati konten yang ditawarkan dengan level interaktivitas yang minim. Intinya adalah membuat Anda merasa tengah menikmati sendiri konser Hatsune Miku secara langsung, dan harus kami akui, mereka terhitung berhasil melakukannya. Dualshock 4 berperan tak ubahnya tongkat cahaya dan Anda juga punya kebebasan untuk bergerak dan menikmati konten tersebut dari beragam sudut.

Menikmati konser Miku seperti Anda menontonnya langsung? Why not?
Menikmati konser Miku seperti Anda menontonnya langsung? Why not?
Potensinya sebagai media untuk menikmati video klip band-band ternama di masa depan dalam format VR juga jadi potensi tersendiri.
Potensinya sebagai media untuk menikmati video klip band-band ternama di masa depan dalam format VR juga jadi potensi tersendiri.

Konten musik lain juga muncul dari video klip VR yang sepertinya akan membanjiri konten PSN Store di masa depan, yang dimulai dengan kolaborasi antara band rock Jepang – L’arc En Ciel dengan Resident Evil di “Don’t be Afraid” yang baru dirilis dalam waktu dekat ini. Sangat menarik untuk melihat seperti apa Sony akan membawa PSVR ini, tak sekedar sebagai media gaming saja, tetapi pintu gerbang untuk ragam konten multimedia yang pantas untuk diantisipasi. PSN Store di Jepang bahkan sudah punya film 360 yang memosisikan Anda tengah kencan dengan siswi Jepang.

Okay....
Okay….

Namun dari semua kekuatan Playstation VR di luar fitur gaming yang paling kami nikmati dan sayangnya, tak digembar-gemborkan oleh Sony, adalah hadirnya Cinematic Mode. Secara sederhana, Anda bisa menyebut Cinematic Mode ini sebagai “bioskop” virtual Anda sendiri. Fungsinya adalah memungkinkan Anda untuk menikmati ragam konten multimedia, terutama video dan film, baik yang legal via Youtube atau situs streaming yang lain, atau ilegal lewat program Media Player bawaan yang kini bahkan sudah membaca file .mkv dengan file subs .srt, seperti layaknya Anda tengah menikmatinya di layar lebar. Ada tiga pilihan ukuran layar untuk Cinematic Mode – Small, Medium, dan Large. Small akan memosisikan Anda seperti tengah menonton bioskop dari kursi paling belakang, Medium dari barisan tengah yang bisa disimpulkan sebagai posisi terbaik, hingga Large yang membuat Anda seperti penikmat film yang terlambat membeli tiket dan harus bergerak ke depan layar.

Cinematic mode berperan seperti sebuah layar bioskop digital yang bisa Anda pilih dengan beragam ukuran.
Cinematic mode berperan seperti sebuah layar bioskop digital yang bisa Anda pilih dengan beragam ukuran.
Ini mungkin contoh terbaik yang bisa kami berikan mengingat hampir mustahil mode ini bisa ditangkap dengan tombol share Playstation 4.
Ini mungkin contoh terbaik yang bisa kami berikan mengingat hampir mustahil mode ini bisa ditangkap dengan tombol share Playstation 4.

Namun menikmati film-film kesukaan Anda dalam format Cinematic Mode tentu saja harus dengan pengorbanan tertentu. Pertama, resolusi layar membuatnya tak akan sejernih menonton langsung di layar televisi HDTV Anda, misalnya. Akan ada sedikit warna yang berbayang. Kedua, ia menghasilkan kesulitan tertentu untuk membaca teks jika Anda menikmatinya di layar yang paling kecil. Namun untuk Medium, ia bisa dibilang sempurna. Sementara Large punya ukuran cukup besar yang terkadang harus membuat Anda menggerakkan kepala, yang tentu saja, tak nyaman. Yang harus Anda pikirkan selanjutnya hanyalah melakukan sedikit investasi di sisi perangkat audio untuk memastikan pengalaman menonton Anda lebih maksimal karena headset bawaan PSVR sendiri bukan sesuatu yang pantas untuk disanjung.

Kami sendiri tak mengerti mengapa Sony Interactive Entertainment tak mendorong fitur ini lebih jauh sebagai salah satu nilai jual Playstation VR, karena kami sendiri, begitu menikmatinya. Fakta bahwa program Media Player bawaan Playstation 4 kini juga sudah mendukung beragam format video, audio, dan bahkan bisa membaca file subs sekalipun membuka ruang untuk sebuah perangkat hiburan optimal yang mungkin tak pernah akan Anda bayangkan bisa Anda nikmati 3 atau 4 tahun yang lalu. Pernahkah membayangkan untuk menikmati seri  anime favorit Anda dengan sensasi mirip nonton di bioskop? Inilah sensasi yang mampu ditawarkan oleh Playstation VR.

Karena tak mungkin untuk memperlihatkan seperti sensasi menonton film dewasa dengan PSVR saat ini, format yang masih belum didukung Sony sepenuhnya via media player menghasilkan sensasi seperti gambar di atas.
Karena tak mungkin untuk memperlihatkan seperti sensasi menonton film dewasa dengan PSVR saat ini, format yang masih belum didukung Sony sepenuhnya via media player menghasilkan sensasi seperti gambar di atas.

Satu pertanyaan yang mungkin merasuki benak sebagian dari Anda adalah seberapa baiknya ia menangani film “dewasa”, yang kini mulai menjadikan VR sebagai fokus. Bahkan di luar sana, banyak yang melemparkan pendapat bahwa pornografi adalah masa depan VR itu sendiri. Playstation VR bisa dibilang “tak mendukung” konten dewasa seperti ini secara optimal. Untuk video berformat 360 yang bisa Anda dapatkan di Youtube ataupun “Youptube”, browser Playstation 4 belum mendukung player untuk format seperti ini sehingga Anda tak bisa menikmatinya langsung. Cara lain adalah mengunduh video-video ini dan kemudian mencicipinya dengan mode VR yang sudah disematkan di dalam media Player PS4. Namun sayangnya, hasilnya juga tak maksimal. Di dua atau tiga video yang kami coba, ukuran “pemeran” yang ada akan sangat besar, sehingga cukup untuk membuat Anda menatap ke atas. Belum ada kejelasan apakah Sony akan membuat hal ini lebih mudah.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…