JagatPlay NgeRacau: 10 Hal Terbodoh yang Keluar dari Mulut Gamer!

Reading time:
March 13, 2017
  1. Yang Beli Ori Pasti Sakit Hati Ini! HAHAHAHA!

crying money woody harrelson zombieland

Ini udah pasti komentar panas yang udah seringkali muncul tiap kali informasi soal pembajakan keluar, termasuk di JagatPlay sekalipun. Untung orang yang sering ngikutin live-streaming atau NgeRacau gua di masa lalu, gua termasuk orang yang enggak terlalu peduli kalau lu ngebajak atau sejenisnya. Gua tahu lu orang datang dengan background keuangan yang berbeda satu sama lain, dan gua mengerti bahwa terkadang uang memang masalah yang sulit untuk ditangani terkait game original. Karena seperti lu pada, gua juga enggak akan jatuh cinta sama ini industri, kalau gua enggak pernah nyicipin game bajakan di Playstation, Playstation 2, dan Xbox 360, misalnya. Gua sangat mengerti dan gua optimis kalau enggak akan ada gamer yang akan bikin bajakan jadi prioritas kalau mereka punya budget untuk itu. Gua termasuk orang yang kayak gitu.

TAPI, gua juga termasuk orang yang benci sama pembajak yang “bangga” nge-bajak. Kalau lu ngerasa bahwa keterbatasan budget membuat lu harus berakhir membajak, maka itu adalah pilihan yang lu ambil dengan semua konsekuensi yang ada. Sebuah pilihan yang bisa gua pahami. Tetapi begitu lu masuk ke dalam ranah “bangga membajak”, maka lu termasuk golongan gamer yang otaknya menurut gua, butuh dibuat jalur kabel yang baru. Apalagi kalau lu cukup bodoh untuk “mengolok” gamer original yang sudah memberikan sumbangsih ratusan ribu Rupiah dari hasil jerih payah mereka untuk membeli dan berkontribusi pada si developer, dengan alasan game yang mereka beli sekarang udah ada bajakannya.

Man, gua sendiri masih ngebajak MP3 yang gua denger.  Tapi lu bisa bayangin seberapa kelihatan tolol dan tidak ada penghargaannya gua kalau gua mampir ke toko kaset (CD kalau gak mau ketuaan, atau DVD mungkin), terus di pintunya gua ketawa ngakak kenceng-kenceng, “HAHAHA! Bodoh lu semua masih beli CD Musik original, download aja napa, gratis”. Terus dengan muka songong gua melanggeng pergi. Kalau situasinya kayak gini, orang-orang yang masuk ke dalam toko CD musik original semuanya tahu kenapa mereka ke sana. Mereka tahu dengan jelas apa yang hendak mereka cari, apa yang hendak mereka beli, berapa besar duit yang mesti mereka keluarin, dan seperti apa kontribusi mereka pada industri musik itu sendiri. Sementara pembajak CD musik yang koar-koar itu? Nah, lu nilai sendiri dah pakai logika lu pada.

  1. Bisa Beli Game Original = Sultan

31a006588b58b7104f76a4ce99a1f8fc

Video game original memang mahal. Gila aja lu, untuk sebuah game yang durasinya antara 8 – 40 jam (atau bahkan bisa lebih pendek), lu harus ngerogoh duit 600-800 ribu Rupiah, man.. Duit sama yang kalau dipakai beli Cimol, bisa bikin otot rahang lu six-pack. Atau jumlah uang yang bahkan bisa bikin keluarga kecil di desa buat makan mingguan sama bulanan kalau hemat. Ya, kagak heran sih dengan jumlah duit segitu, orang-orang yang beli game original biasanya langsung dikatain “Sultan”. Tapi, benarkah demikian? Kalau semua gamer yang beli game original itu, biasanya berakhir tajir mampus dengan tabungan berlebih? Faktanya, enggak.

Bahwa yang terjadi adalah kita merefleksikan ketidakmampuan keuangan kita ke orang yang lain yang mampu beli game original, dengan penyederhanaan kata “Sultan”. Kalau mereka bisa beli game original karena mereka tajir, as simple as that dan kita miskin. Padahal yang terjadi, enggak semua gamer yang beli game original memang punya pendapatan fantastis. Enggak sedikit gua ketemu sama kelompok pekerja sekelas gua, yang memang harus nyisihin pendapatannya tiap bulan dalam porsi yang cukup signifikan, buat beli game original yang memang ia incar.

Dia bukan sultan, duitnya terbatas, tetapi skala prioritasnya bikin game yang memang dia kejar memang berada di atas daftar belanjaan. Bahkan beberapa kini mengandalkan sistem kredit untuk memastikan tak ada porsi duit besar kepotong dari tabungan, in case of emergency.. Beberapa mungkin sultan, tapi tak sedikit pula rakyat biasa yang sekedar, punya management keuangan yang solid.

  1. Gua Gak Bisa Beli = Terlalu Mahal

giphy

Nah, ini juga salah satu kasus yang sering banget gua temuin di dunia maya. Bahwa kata “Terlalu Mahal” sering banget dikeluarin oleh gamer untuk menyebut barang-barang yang memang sebenarnya, di luar kemampuan belanja mereka sendiri. Padahal, kalau mau diobrolin, barang yang ia sebut “Terlalu Mahal” itu sebenarnya secara rasional bisa dimengerti, apalagi kalau berbicara soal sebuah teknologi untuk early adopter. Gua akan sangat mengerti kalau komentar soal “Terlalu Mahal” itu memang didasarin dengan beragam pertimbangan dan perbandingan dengan produk atau event lain sejenisnya, sebelum kesimpulan itu diambil. Tapi, enggak jarang, “Harga Rasional” itu berakhir jadi “Terlalu Mahal” semata-mata karena yang ngomentarin, enggak punya duit untuk itu.

Sekarang gini, kita umpamaiin aja. Lu sekarang di dompet punya duit 1.000 Rupiah. Itu udah terakhir yang lu punya, dan lu benar-benar haus karena cuaca memang lagi enggak bersahabat. Lu mampir ke warung milik Pak Mamat (yang juga bisnis warung) dan nemuin kalau dia ternyata jual minuman. Di depan etalase, lu ngelihat ada barisan minuman es teh manis botolan beragam rasa yang disajikan di depan kulkas, dan enggak ada satupun yang masuk ke dalam budget lu. Harga teh botol rasa kemenyan yang ukurannya lumayan gede di masa lalu, harganya ternyata 2.000 Rupiah. Apa yang lu kasih tahu ke Pak Mamat? Lu bilang, kalau itu harga teh “TERLALU MAHAL”, karena memang budget lu adalah 1.000 Rupiah. Tapi ketika lu membandingkan itu dengan warung Pak Somat di sebelah yang menjual produk yang sama, ternyata harganya juga 2.000 Rupiah. Lantas, apakah sebenarnya harga teh botol itu yang TERLALU MAHAL? Atau sebenarnya harganya RASIONAL, tetapi karena budget lu yang terbatas, ia jadi berasa mahal? Itu yang mesti dipikirin.

Hal sama yang juga sering terjadi ketika berbicara soal teknologi baru. Kembali ke soal teh yang tadi, warung baru ternyata buka di seberang warung Pak Mamat. Mereka juga jualan es teh manis, tetapi instead of botolan, mereka jual dalam bentuk kantongan. Anehnya? Es teh manis Bu Indrun ini dijual seharga Rp 4.000 / kantong dengan porsi yang lebih kecil. Bu Indrun ngejual itu teh dengan sesuatu yang baru. Bahwa itu teh diperas, diracik, dan ditiup sampai dingin oleh 5 perawan tercantik desa yang ayu dan memanjakan mata. Mereka juga yang bertanggung jawab untuk memetik, menyimpan, dan bahkan, sudah berlatih meracik teh selama 5 tahun terakhir.  Apakah es teh kantong Bu Indrun seharga 4.000 / kantong adalah TERLALU MAHAL? Jika berkaca pada budget 1.000 Rupiah Anda, tentu iya. Tapi pertanyaan yang lebih rasional adalah apakah ia memang TERLALU MAHAL dari sisi objektif? Bahwa setelah diperbandingkan via rasa, efek, dan juga porsi dengan teh botol Pak Mamat, ia memang terasa pantas/tidak. Pendekatan kedua ini adalah sesuatu yang harusnya dilakukan.

  1. Yang Penting Bisa Main Game Bisa Jadi Pro

sumail

e-Sports sedang menggila, dan duit ratusan miliaran Rupiah dipertaruhkan tiap tahunnya, termasuk dari turnamen-turnamen skala internasional di luar sono. Buat anak muda, gaming kini jadi aktivitas yang udah enggak sekedar ngehabisin waktu lagi, tetapi juga bisa dimanfaatin buat ngehasilin duit. Bahwa mikirin ada kesempatan buat jadiin hobi sebagai sebuah karir, apalagi dengan duit gede di dalamnya. Dan lu ketemu sama anak-anak muda yang dengan gampangnya di sos-med berkoar soal “PENGEN JADI GAMER PRO”, seolah-olah itu aktivitas bisa dicapai dengan sekedar cuap-cuap dan berkomitmen doank.

Ini bukan film Naruto, man. Ini bukanlah sebuah dunia dimana takdir bergerak untuk memastikan lu sebagai karakter utama, mendapatkan apa yang lu mau. Yang gua tahu, kita semua ini “NPC” yang tinggal di dunia yang entah karakter utamanya siapa, dan ada banyak hal yang terjadi di kita justru sesuatu yang tidak kita rencanakan. MENJADI GAMER PRO adalah mimpi yang besar, bukan berarti, ia didesain untuk bisa dicapai dengan hanya sekedar JAGO BERMAIN GAME. Bahwa mereka yang masuk ke dalam ranah professional dengan ragam label iklan di pakaian mereka seringkali berakhir merupakan yang terbaik di antara yang terbaik. Mereka yang tak hanya datang dari sekedar bakat saja, tetapi lewat latihan intens yang butuh perencanaan dan pertimbangan sendiri. Kita bertemu dengan sebuah generasi yang terlalu berfokus pada “hasil akhir”, dan melupakan proses untuk mencapainya.

Orang-orang seperti Sumail dari DOTA 2 misalnya, punya kehebatan di atas rata-rata yang bahkan bisa berakhir mengeksekusi strategi yang tak pernah kita, amatir prediksikan sebelumnya. Kita tak hanya berbicara soal koordinasi tangan dan mata saja yang fantastis, tetapi juga pemahaman yang sangat mendalam soal game yang mereka mainkan. Apa fungsi setiap item, seberapa signifikan damage yang mereka lemparkan dan terima, hitung-hitungan soal efektivitas ragam resource, hingga komunikasi tim efektif. Nah sekarang, lu kira semuanya bisa dicapai hanya karena sekedar JAGO MAIN tok? Kalau lu benar-benar punya skill yang setara dengan para pemain pro yang eksis saat ini, mimpi itu mungkin rasional. Tapi kalau berakhir sekedar mimpi yang dipakai sebagai alasan biar lu bisa malas-malasan main game, terus-menerus, dan melupakan kewajiban lu dengan harapan mimpi lu pasti tercapai entah karena alasan apa, gua bisa ingatkan kemabli – ini bukan Naruto.

Pages: 1 2 3
Load Comments

PC Games

May 27, 2021 - 0

Review Mass Effect – Legendary Edition: Legenda dalam Kondisi Terbaik!

Bagi gamer yang tidak tumbuh besar dengan Xbox 360 dan…
May 19, 2021 - 0

Review Rising Hell: Melompat Lebih Tinggi!

Kualitas game indie yang semakin solid, tidak ada lagi kalimat…
May 12, 2021 - 0

Menjajal Scarlet Nexus: JRPG yang Pantas Dinanti!

Sebuah kejutan yang menarik, ini mungkin kalimat yang pantas digunakan…
April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…

PlayStation

June 11, 2021 - 0

Review Ninja Gaiden – Master Collection: Bak Tebasan Pedang Tua!

Apa nama franchise yang menurut Anda melekat pada nama Koei…
June 8, 2021 - 0

Review Ratchet & Clank – Rift Apart: Masuk Dimensi Baru!

Menyebut Insomniac Games sebagai salah satu developer first party tersibuk…
June 8, 2021 - 0

Preview Guilty Gear Strive: LET’S ROCK!

Nama besar Arc System Works sebagai salah satu developer game…
May 12, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Insomniac Games (Ratchet & Clank: Rift Apart)!

Mengembangkan Spider-Man: Miles Morales, memastikan ia bisa memamerkan apa yang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…