Menjajal BETA Call of Duty – WWII: Rasa Baru yang Familiar!

Reading time:
September 5, 2017
COD WW II Private Beta

Call of Duty: WW II untuk tahun 2017 ini memang terhitung “istimewa”. Semenjak kesuksesan Modern Warfare, Call of Duty hanya sempat singgah di 2 sensasi perang klasik lewat World at War dan Black Ops yang walaupun sukses, ternyata menjadi akhir dari sebuah tren yang sudah melekat sejak eksistensinya sebagai franchise.  Call of Duty 4: Modern Warfare tumbuh menjadi pondasi eksploitasi Activision untuk terus terjun ke dalam perang masa kini.

Ketika ide mulai stagnan dan mereka bingung hendak menawarkan apa, tema perang futuristik dikejar dari seri Ghost dan terus berlanjut, terlepas dari kritik yang semakin keras dari seri ke seri. Hingga pada tahun 2016 silam, Call of Duty: Infinite Warfare mengalami penurunan angka penjualan yang cukup signifikan dibandingkan seri-seri sebelumnya. Hingga pada titik, Activision tak lagi berani sesumbar soal angka-angka fantastis yang selama ini selalu melekat dengan nama Call of Duty.

Parahnya lagi? Sang franchise kompetitor – Battlefield berhasil mendulang kesuksesan dengan Battlefield 1 yang menawarkan sensasi perang dunia pertama, yang walaupun tidak mengusung akurasi sejarah yang tepat, namun menawarkan pertempuran yang intensif dengan ragam perangkat perang masa lampau. Lewat tangan dingin Sledgehammer Games, Activision punya tugas berat untuk membuat Call of Duty terbaru – COD: WW II mampu menarik kembali kepercayaan pasar. Bahwa tidak hanya mampu merangkai perang dunia dengan kacamata sejarah yang epik dengan cita rasa khas Hollywood yang mengikuti franchise ini, mereka juga mampu memenuhi harapan gamer.

Berita baiknya? Sembari menunggu waktu rilis yang direncanakan pada tanggal 3 November 2017 mendatang, Activision memberikan kesempatan bagi gamer untuk menjajal masa beta lebih awal yang berisikan pengalaman multiplayer dengan beragam mode, termasuk salah satu fitur barunya yang menawan – WAR. Lantas, apa saja yang ia tawarkan? Bagaimana impresi kami terhadap beta yang satu ini? Inilah impresi kami:

Ingat, Ini Bukan Battlefield!

Sebelum Anda berimajinasi lebih jauh, perlu ditekankan bahwa COD WWII tidak akan menawarkan sensasi serupa dengan Battlefield 1.
Sebelum Anda berimajinasi lebih jauh, perlu ditekankan bahwa COD WWII tidak akan menawarkan sensasi serupa dengan Battlefield 1.

Dengan menggunakan tema yang sama, kami sendiri tidak akan heran jika tiba-tiba banyak gamer yang berharap bahwa Call of Duty: WWII ini akan menawarkan sesuatu yang serupa dengan Battlefield 1, sensasi perang dalam ruang besar dengan ragam kendaraan dan sejenisnya. Jika Anda termasuk gamer yang berharap demikian, maka dari beta multiplayer yang sempat tersedia, Anda mungkin akan berakhir kecewa. Mengapa? Karena pada dasarnya, ia tetaplah sebuah game Call of Duty yang selama ini Anda kenal. Kita mungkin belum bisa berbicara banyak soal mode campaign yang selama ini jadi kekuatan utama Call of Duty, namun jika mengacu pada mode multiplayer yang tersedia di masa beta ini, maka Anda akan bertemu dengan apa yang Anda kenal dari franchise yang satu ini.

Anda bisa menggunakan prajurit wanita di sini.
Anda bisa menggunakan prajurit wanita di sini.

Berpijak pada sesuatu yang terjadi di dunia nyata, presentasi Call of Duty: WWII memang terasa lebih kelam dan gelap dibandingkan perang futuristik Advanced Warfare atau Infinite Warfare yang memungkinkan sang developer untuk menggunakan energi kreatif mereka sebebas mungkin untuk menciptakan ragam pasukan, setting, dan sebagainya. Sementara di WW II yang mengakar pada kejadian yang sesungguhnya, warnanya berakhir lebih monoton dan kelam. Untuk gamer yang baru mengenal seri Call of Duty dari setting futuristik selama beberapa tahun terakhir, ini tentu saja adalah sebuah pendekatan baru nan ekstrim yang butuh penyesuaian, walaupun pada akhirnya, ia tetap menawarkan sebuah pengalaman yang familiar.

Walaupun penuh detail, warna dominan COD: WWII tentu terlihat lebih monoton dan kusam dibandingkan seri futuristik sebelumnya.
Walaupun penuh detail, warna dominan COD: WWII tentu terlihat lebih monoton dan kusam dibandingkan seri futuristik sebelumnya.
Secara garis besar, ia masih mengusung mode multiplayer COD yang sama sekali ini Anda kenal. Jarak dekat, tanpa kendaraan untuk Team Deathmatch dan Dominion.
Secara garis besar, ia masih mengusung mode multiplayer COD yang sama sekali ini Anda kenal. Jarak dekat, tanpa kendaraan untuk Team Deathmatch dan Dominion.

Untuk Anda yang sempat mengenal seri Call of Duty selama ini, maka Anda sepertinya sudah bisa menebak pengalaman multiplayer seperti apa yang ditawarkan oleh WWII. Ia tetaplah sebuah game action shooter multiplayer yang lebih berfokus pada pertempuran jarak dekat yang intensif, tanpa menggunakan kendaraan ataupun sistem peran sejenisnya ala Battlefield. Peran yang diambil akan lebih mempengaruhi seperti apa senjata yang bisa Anda gunakan, lengkap dengan perlengkapan ekstra lainnya. Namun untuk mode standar seperti Team Deathmatch atau Domination, misalnya, pengalaman Anda akan masih berkisar pada usaha untuk membunuh musuh secepatnya, melarikan diri dan mencari posisi yang lebih menguntungkan, dan seterusnya hingga Anda menang. Entah bisa dikategorikan sebagai berita buruk atau baik, namun desain level, setidaknya dari yang ditawarkan di masa beta ini bisa dibilang cukup terbuka. Musuh bisa datang dari segala arah, tanpa bisa Anda predksi, hingga bersembunyi di satu tempat akan menjadi strategi yang mustahil untuk bisa dikejar. Benar sekali, ini masih Call of Duty yang selama ini Anda kenal.

Sensasi perang dunia kedua yang dihadirkan lebih mengandalkan desain medan pertempuran dan presentasi audio, alih-alih gameplay.
Sensasi perang dunia kedua yang dihadirkan lebih mengandalkan desain medan pertempuran dan presentasi audio, alih-alih gameplay.
Lingkungan pertempuran sendiri terasa dinamis dengan ragam kejadian yang terjadi di latar belakang, seperti pesawat tempur yang melintas. Memberikan ilusi bahwa Anda memang tengah terlibat dalam sebuah perang skala besar.
Lingkungan pertempuran sendiri terasa dinamis dengan ragam kejadian yang terjadi di latar belakang, seperti pesawat tempur yang melintas. Memberikan ilusi bahwa Anda memang tengah terlibat dalam sebuah perang skala besar.

Harus diakui, dari sisi presentasi untuk peta kedua mode ini – Team Deathmatch dan Dominion yang menggunakan varian yang sama, sensasi perang dunia kedua yang ia tawarkan memang lebih mengandalkan cara mereka mendesain estetika medan pertempuran yang ada. Mengingat ia tidak hadir dengan kendaraan dan map yang terhitung kecil, ilusi bahwa Anda tengah bertempur di tengah kondisi perang besar muncul dari hal-hal yang berjalan di latar belakang medan pertempuran yang ada, dari bomb yang dijatuhkan hingga sekedar desain suara. Beberapa peta terasa berhasil mengeksekusinya dengan baik, sementara peta lain seperti “Gibraltar” misalnya, terasa hambar.

Ah... bukan COD jika tanpa kill-streak.
Ah… bukan COD jika tanpa kill-streak.

Sementara mekanik gameplay lain masih berkutat pada konsep yang memang mengikat kuat pada nama Call of Duty. Sistem Kill-streak yang memungkinkan Anda untuk mengakses beragam alternatif serangan area dan persenjataan masih tersedia di sini. Sistem kelas yang akan memberikan Anda reward jika menggunakan sebuah senjata terus-menerus secara konsisten juga ditawarkan, dengan menjadikan aksesoris ekstra dan lebih banyak senjata untuk dibuka menjadi reward. Salah satu inovasi baru yang muncul adalah sistem replay ala “POTG” milik Overwatch yang kini akan muncul di akhir pertempuran untuk aksi yang dinilai, sebagai yang terbaik di antara yang terbaik.

Pages: 1 2 3
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

May 7, 2021 - 0

Preview Resident Evil Village: “Liburan” ke Desa!

Lewat beberapa seri terakhir yang mereka lepas, Capcom memang harus…
April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…