Review Marvel vs Capcom – Infinite: Inovasi Penuh Pertanyaan!

Reading time:
September 26, 2017
MvC Infinite

Genre fighting memang selalu berpusat pada usaha untuk menundukkan lawan yang berdiri di sisi yang lain. Walaupun terdengar sederhana karena fokus yang sangat berpusat pada meraih kemenangan, genre ini melahirkan begitu banyak franchise berbeda dengan daya tarik uniknya masing-masing. Ada game fighting dua dimensi, dua setengah dimensi, tiga dimensi yang menggunakan bela diri sebagai dasar animasi, senjata, hingga serangan magis dengan level destruksi yang memanjakan mata. Beberapa lahir sebagai adaptasi untuk produk kreatif lain seperti anime / manga, namun tidak sedikit pula yang justru lahir dari industri game, lalu kemudian bergerak ke arah adaptasi anime, manga, hingga film layar lebar dari Hollywood. Di antara semua game tersebut, ada satu nama yang tak mungkin terlewatkan – Marvel vs Capcom.

Selama lintas generasi, keberanian Capcom untuk melebur semesta Marvel yang penuh dengan superhero dan villain yang ikonik dan populer terbayar manis. Konsep pertarungan yang juga membuat karakter-karakter Capcom untuk mulai bertarung dengan kemampuan berlebihan yang satu ini terus mencapai kesuksesan dari satu ke seri lainnya, hingga akhirnya, mengarah ke seri terbaru yang dilepas untuk platform generasi saat ini – Playstation 4, Xbox One, dan PC. Ia selalu dikenal sebagai game fighting dengan visualisasi ala kartu yang memanjakan mata, sekaligus punya mekanik kompleks yang menjadikan kombo sebagai daya tarik utama. Sesuatu yang tetap berusaha ditawarkan Capcom via seri teranyarnya – Marvel vs Capcom: Infinite.

Anda yang sempat membaca artikel preview kami sebelumnya sepertinya sudah punya gambaran yang lebih jelas soal apa yang ditawarkan oleh Capcom dengan Marvel vs Capcom: Infinite ini. Dengan implementasi engine baru sebagai basis, Capcom memang berambisi menciptakan game fighting dengan visualisasi yang lebih menawan. Sayangnya, tak semuanya berhasil. Beberapa elemen visual seperti desain karakter manusia yang diusung justru berakhir lebih banyak mengundang tanda tanya. Walaupun harus diakui, di sisi lain, desain arena pertempuran dan karakter non-manusia atau yang hadir dengan kostum bertopeng terlihat menawan. Tidak hanya visual, perubahan yang ditawarkan di sisi gameplay juga terhitung signifikan.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Marvel vs Capcom: Infinite ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah inovasi penuh pertanyaan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Ultron Sigma - kombinasi antara Ultron (Marvel) dan Sigma (Megaman) menjadi musuh utama di sini.
Ultron Sigma – kombinasi antara Ultron (Marvel) dan Sigma (Megaman) menjadi musuh utama di sini.

Seperti strategi yang sempat mereka tawarkan di Street Fighter V, Capcom juga menyuntikkan Story Mode untuk Marvel vs Capcom: Infinite ini. Bahwa tidak lagi sekedar terbatas pada mode arcade yang hanya meminta Anda untuk menghajar beberapa musuh sebelum berakhir ke boss terakhir, Story Mode dipresentasikan layaknya sebuah film sinematik dengan garis cerita yang jelas. Kali ini, Anda akan berhadapan dengan kombinasi dua villain buruk dunia Marvel dan Capcom – Ultron dan Sigma (Megaman).

Apakah seri ini bisa disebut sekuel? Jika melihat garis cerita yang ada, maka sepertinya tak aneh jika menyebut seri Infinite ini justru sebagai kelanjutan dari game fighting lawas – Marvel Super Heroes (1997) karena benang merah cerita dan mekanisme gameplay yang ada. Ultron dan Sigma pun memutuskan untuk bekerjasama dengan menggabungkan diri mereka ke dalam satu entitas yang sama, dengan dua buah Infinity Stones berada di tangan mereka. Infinity Stones sendiri merupakan artifak semesta yang terbagi ke dalam buah batu berbeda yang masing-masing memiliki kemampuan dan efek yang berbeda-beda. Ultron Sigma sendiri menguasai Infinity Stones untuk Reality dan Space.

Thanos dan Infinity Stones? Seolah mengisyaratkan bahwa ia adalah seri kelanjutan dari Marvel Super Heroes yang sempat dirilis di tahun 1997 silam.
Thanos dan Infinity Stones? Seolah mengisyaratkan bahwa ia adalah seri kelanjutan dari Marvel Super Heroes yang sempat dirilis di tahun 1997 silam.
Dengan Ultron Sigma yang berambisi untuk memusnahkan kehidupan biologis di seluruh dunia, pencarian sisa Infinity Stones menjadi jauh lebih mendesak.
Dengan Ultron Sigma yang berambisi untuk memusnahkan kehidupan biologis di seluruh dunia, pencarian sisa Infinity Stones menjadi jauh lebih mendesak.

Dengan mudahnya menghancurkan beragam dunia yang ada dan berniat untuk menghancurkan keseluruhan hidup biologis di semesta, para pahlawan kita pun tak bisa tinggal diam. Di bawah pimpinan Captain America dan Iron Man, solusi paling rasional saat ini adalah dengan mencari Infinity Stones yang tersisa untuk dapat menyaingi kekuatan Ultron Sigma itu sendiri. Perjalanan yang terbagi ke dalam beberapa kelompok pun dimulai untuk mendapatkan Time, Soul, Mind, dan Power. Tidak hanya untuk memperkuat diri, ini menjadi langkah terbaik untuk memastikan kekuatan Ultron Sigma sendiri, tidak kian menguat hingga batas tak mampu lagi ditundukkan.

Tidak beraksi sendiri, ada banyak villain ikonik yang ikut campur di belakang ambisi Ultron Sigma.
Tidak beraksi sendiri, ada banyak villain ikonik yang ikut campur di belakang ambisi Ultron Sigma.
Death??
Death??

Di saat genting, tim superhero ini bahkan harus mengandalkan kekuatan Titan yang sempat mereka tundukkan di Marvel Super Heroes – Thanos. Thanos yang tengah terkurung pun berakhir dibebaskan untuk membantu pertarungan yang ada. Titan yang gemar membunuh dan menghancurkan dunia ini sendiri memang tak punya banyak opsi, mengingat ambisi Ultron Sigma untuk membasmi semua makhluk biologis di semesta berarti meniadakan lagi target baginya untuk dibunuh. Jika tak ada lagi yang bisa ia habisi,maka ia tidak lagi bisa menarik perhatian sang pujaan hati – Death.

Lantas, bagaimana perjuangan mereka untuk menundukkan Ultron Sigma? Mampukah semua Infinity Stones diselamatkan? Siapa pula yang menjadi aktor di balik konflik mematikan yang satu ini? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda dapatkan dengan memainkan mode Story game yang satu ini.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

April 16, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Blizzard (Diablo II: Resurrected)!

Kembali ke akar yang membuat franchise ini begitu fenomenal dan…
April 9, 2021 - 0

Menjajal Diablo II: Resurrected (Technical Alpha): Bagai Bumi Langit!

Perbedaan usia memang mau tidak mau harus diakui, juga membuat…
March 29, 2021 - 0

Review DOTA – Dragon’s Blood: Fantasi dan Promosi!

Apa satu aspek yang membuat DOTA 2 selalu kalah dari…
January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…

PlayStation

April 29, 2021 - 0

Review RETURNAL: Surga Seru di Neraka Peluru!

Apa yang langsung muncul di benak Anda begitu kita berbicara…
April 23, 2021 - 0

JagatPlay: Wawancara dengan Toylogic & Square Enix (NieR Replicant ver.1.22474487139…)!

Tidak perlu menyelam terlalu jauh. Melihat nama “ver.1.22474487139…” yang didorong…
April 23, 2021 - 0

Preview RETURNAL: Brutal, Gila, Menyenangkan!

Ada yang istimewa memang saat kita membicarakan hubungan antara Sony…
April 22, 2021 - 0

Review NieR Replicant™ ver.1.22474487139… : Cerita Indah Penuh Derita!

Dengan popularitas yang ia raih, hampir sebagian besar gamer memang…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…