Review Octopath Traveler: Tak Semuanya Berhasil!

Reading time:
August 7, 2018

Klasik Tapi Modern

Octopath Traveler jagatplay part 1 91
Pendekatan visual yang unik adalah salah satu daya tarik dan kekuatan Octopath Traveler.

Jika berbicara soal salah satu aspek yang akan langsung menangkap perhatian Anda setiap kali berbicara soal Octopath Traveler, maka kualitas visual sepertinya akan jadi salah satu ujung tombak untuk mengeksekusi hal tersebut. Klasik tetapi modern, dua kata yang saling bertolak belakang tersebut, uniknya, bisa disatukan untuk menjelaskan sensasi seperti apa yang hendak disuntikan oleh Octopath Traveler di sini. Apa yang mereka tawarkan, memang berhak untuk mendapatkan acungan dua jempol.

Sekilas pandang, Anda mungkin melihatnya selayaknya sebuah game JRPG klasik yang terlambat beberapa generasi karena pondasi visual pixelated yang kentara. Namun jika menyelam lebih dalam, Anda bisa melihat bahwa presentasi seperti ini memang sengaja dipilih untuk memperkuat atmosfer “klasik” tersebut. Animasi gerak kaku, visualisasi pixelated, dan detail yang terlihat minim memang akan mengingatkan Anda pada seri JRPG lawas sekaligus membuat game ini terasa cocok untuk konsol hybrid ala Nintendo Switch. Namun ketika Anda mulai bergerak dan bertarung di atas mekanik gameplay-nya yang keren, Anda akan mulai melihat bahwa ada peleburan sensasi yang modern juga di atasnya. Kombinasi yang membuat visualisasi Octopath Traveler tidak hanya sekedar menawan, tetapi cocok untuk dijadikan standar untuk proyek impian game remake JRPG di masa depan.

Octopath Traveler jagatplay part 1 17
Pixelated untuk sensasi klasik
Octopath Traveler jagatplay part 1 161
Efek lighting dan depth of field untuk sensasi lebih modern.
Octopath Traveler jagatplay part 1 167
dan tentu saja tidak lupa, efek partikel yang memukau.

Dunia yang ditawarkan oleh Octopath Traveler bekerja  dalam format 2.5D. Bahwa dunia yang Anda temukan, terlepas dari visualisasi pixelated yang ia usung, bisa dieksplosasi dengan beragam sudut pergerakan. Namun sensasi modern yang mengalir dari visualisasi seperti ini tentu saja mengakar pada beragam efek visual yang menyertainya. Dari hal kecil seperti efek partikel setiap serangan yang terlihat fantastis, penerapan efek depth of field  yang semakin membuat beberapa scene dan pergerakan terasa dramatis, hingga hal sederhana seperti pencahayaan dan sistem bayangan yang tercipta, membuat ilusi yang jelas bahwa dunia yang Anda jelajahi memang punya kedalaman tersendiri. Anda bisa mendapatkan kesan bahwa ini adalah sebuah game JRPG yang memang diracik untuk generasi saat ini, namun di sisi lain, terasa seperti produk masa lampau yang mampu membangkitkan sedikit rasa nostalgia.

Seperti halnya kebanyakan game JRPG juga, Octopath Traveler menghadirkan kualitas musik yang juga pantas untuk diacungi jempol, terutama dari beragam theme yang ada. Mengingat dunianya terbagi ke dalam beberapa terrain yang cukup berbeda satu sama lain, soundtrack yang mengalun di setiap cerita berbasis karakter ataupun kota yang Anda temui, pantas diacungi jempol. Bahkan sekedar Main Theme yang ia usung saja seolah sudah didesain untuk mempersiapkan Anda untuk sebuah petualangan yang besar.

Maka dari sisi presentasi, tidak ada yang bisa dikeluhkan dari Octopath Traveler. Keputusan kreatif untuk menawarkan tidak hanya sensasi klasik dari sisi gameplay sebagai sebuah game JRPG, tetapi juga presentasi visual dan audio adalah keputusan terbaik yang bisa diambil oleh Acquire. Membuatnya jadi proyek impian yang sudah lama dinantikan oleh gamer-gamer penggemar JRPG.

Gaya Unik yang Tidak Semuanya Berhasil

Octopath Traveler jagatplay part 1 4
Format cerita eksperimental yang sayangnya, tidak terhitung berhasil di mata kami.

Membayangkan sebuah game JRPG yang tidak linear, tanpa cerita utama dan tokoh antagonis gila yang harus dibasmi karena niatnya untuk menguasai dunia atau menghancurkan semesta memang terasa unik. Namun konsep eksperimental inilah yang berusaha dilakukan Acquire dengan Octopath Traveler ini. Alih-alih sebuah cerita utama, mereka justru mendorong cerita dari masalah pribadi dari ke-8 karakter yang ada, sembari menyuntikkan hint di akhir masing-masing cerita tersebut, sebuah lore yang seharusnya menjadi pengikat. Semuanya juga dipadukan dengan fakta bahwa Anda punya kebebasan untuk memilih untuk menjadikan siapa sebagai karakter utama dan merekrut karakter yang mana sesuai dengan urutan yang Anda inginkan. Pertanyaannya kini, apakah format ini bisa dibilang “berhasil”?

Sebagai seorang gamer yang sudah banyak makan asam garam game JRPG sejak beberapa generasi yang lalu, iya dan tidak sepertinya akan jadi jawaban yang kami pilih untuk menjawab pertanyaan di atas. Iya, karena konsep seperti ini menawarkan sebuah pengalaman JRPG yang baru dan menyegarkan. Kebebasan untuk menentukan siapa dulu karakter yang hendak Anda rekrut, cerita siapa dulu yang hendak Anda selesaikan, hingga karakter mana saja yang akan Anda bawa, memang terasa fantastis. Sedikit menggembirakan menemukan sebuah game JRPG yang tidak terlalu mengikat kemana Anda harus melangkah atau menentukan misi sampingan apa saja yang bisa Anda selesaikan sesuai dengan progress cerita. Namun sayangnya, konsekuensi negatifnya justru terasa lebih “berat” di kami.

Pertama, adalah motivasi yang jadi aneh. Agak sedikit tidak rasional dan aneh menemukan bahwa satu-satunya alasan mengapa ke-8 karakter ini bertemu, berkumpul, dan berpetualang bersama hanyalah karena mereka merasa bahwa pertemanan ini akan mampu menyelesaikan masalah dan konflik pribadi mereka, dengan lebih mudah.

Octopath Traveler jagatplay part 1 204
Alasan ke-8 karakter ini bersatu dan berkumpul terasa begitu lemah.
Octopath traveler jagatplay part 2 61
Interaksi yang hanya muncul dalam fitur “Travel Banter” ini tidak cukup kuat untuk menjual kesan bahwa ke-8 karakter ini memang berteman dan bersahabat. Minimnya interaksi membuat mereka tetap terasa seperti “asing satu sama lain”.

Tidak ada alasan yang lebih punya nilai moral, komitmen, ataupun tujuan dibandingkan sekedar solidaritas semata-mata, motivasi yang secara rasional terasa begitu lemah dibandingkan dengan konsep JRPG pada umumnya. Hal ini juga diperparah dengan minimnya interaksi antar karakter yang ada, selain sebuah fitur bernama Travel Banter yang sekedar memuat percakapan dua karakter di beberapa titik permainan. Di JRPG konvensional, cut-scene dan percakapan inilah yang membuat hubungan antar karakter menjadi lebih dalam dan bisa dipercaya, bahwa mereka memang terlihat berteman, bersahabat, dan saling peduli satu sama lain, apalagi ketika diperkuat dengan potongan cerita yang dramatis. Sementara di Octopath Traveler? Dari awal sampai akhir, tidak ada kesan seperti itu. Alih-alih sebagai teman, ini seperti perkumpulan “orang asing” yang sekedar bosan dan ingin membantu orang lain menyelesaikan masalah mereka. Sangat disayangkan.

Masalah kedua adalah konsistensi. Mengingat cerita dibangun dari cerita 8 karakter yang masing-masing memuat 4 Chapter di dalamnya, ini berarti Anda harus menyelesaikan setidaknya 32 chapter cerita sebelum bisa disebut “menyelesaikan” game yang satu ini. Permasalahannya kini, berapa banyak dari 8 karakter ini yang Anda anggap ceritanya menarik untuk diselesaikan dan diikuti? Karena sulit untuk dipungkiri bahwa beberapa dari mereka menawarkan trope yang sudah biasa Anda temukan di film drama ataupun anime sekalipun. Jujur saja, hal ini jugalah yang membuat proses review kami untuk Octopath Traveler menjadi lama. Motivasi untuk menyelesaikan setiap cerita yang ada dicederai fakta bahwa kami berujung tidak tertarik dengan kisah 6 dari 8 karakter yang ada, dan harus menyelesaikannya atas nama “kewajiban” belaka. Dua karakter yang kisahnya menarik di mata kami hanyalah Primrose dan Cyrus. Primrose hadir dengan kisah yang “gelap” dan penuh drama balas dendam yang fantastis, sementara Cyrus hadir dengan ancaman yang memang bisa mengakhiri dunia. Sementara 6 karakter yang lain? Tidak terasa menarik di mata kami.

Octopath Traveler jagatplay part 1 159
Apakah cerita ke-8 karakter ini sama bagusnya? Sayangnya, tidak.
Octopath traveler jagatplay part 2 71
Anda akan punya cerita favorit yang tak sabar ingin Anda selesaikan, dan cerita yang Anda anggap membosankan tetapi mau tidak mau harus diselesaikan.

Konsekuensinya? Tidak ada motivasi yang kuat untuk menyelesaikan kisah 6 karakter lain yang menurut kami tidak menarik tersebut. Setiap percakapan dari kisah tersebut berujung jadi “penghalang” untuk menyelesaikan kisah mereka secepat mungkin sebelum Anda bisa melompat ke cerita yang lain. Setiap pertarungan menjadi bagian yang tidak bisa Anda nikmati, terlepas dari jenis pertempuran yang harus dihadapi. Pelan tapi pasti, Anda mulai kehilangan kepedulian untuk cerita-cerita yang memang, tidak Anda favoritkan.

Hal ini tentu saja berbeda dengan konsep cerita JRPG konvensional yang walaupun Anda tidak tertarik dengan masing-masing karakter yang ada, akan ada selalu cerita atau tokoh antagonis utama yang “menghapus” rasa bosan dan ketidaktertarikan tersebut. Ada dunia yang butuh Anda selamatkan, ada teman yang harus Anda selamatkan dari kesulitan, ada negara yang harus Anda bela sebagai sebuah kelompok, ada orang gila yang harus Anda basmi karena ambisinya menghancurkan semesta. Octopath Traveler “kekurangan” salah satu pondasi kekuatan JRPG ini. Sebuah motor pendorong untuk cerita yang akan terus bergerak dan mengikat Anda, terlepas dari fakta bahwa Anda mungkin, tidak menyukai karakter-karakternya.

Permasalahan ketiga yang muncul adalah kesan bahwa ia mulai terasa seperti sebuah filler. Seperti yang sempat kami bicarakan sebelumnya, untuk setiap kisah yang Anda selesaikan, Anda akan mendapatkan satu atau dua buah clue yang berujung memberikan informasi kepada Anda bahwa ada sebuah ancaman lebih besar yang harus Anda hadapi. Namun memperlakukannya sekedar sebagai sebuah misi sampingan “tak wajib” membuat dungeon rahasia di end-game ini kehilangan maknanya.

Octopath traveler jagatplay part 2 63
Jika 4 chapter dari 8 karakter ini berakhir dengan satu clue kecil soal “ancaman sebenarnya”, yang Anda rasakan justru seolah-olah Anda baru menghabiskan waktu untuk menyelesaikan episode filler terpanjang dalam video game.
Octopath traveler jagatplay part 2 57
Naruto pre-Shippuden filler flashbacks!

Lagipula jika memang mereka ingin memperkenalkan sebuah Final Boss sesungguhnya di akhir, ini membuat 4 chapter dari 8 karakter yang harus Anda selesaikan bersifat seperti filler belaka dan bukannya sebuah cerita yang harus Anda selesaikan. Mengapa Anda harus membantu H’aanit menyelamatkan mentornya selama 4 chapter jika ujung-ujungnya, mentornya tidak sepenting dan sesignifikan itu dalam cerita soal Final Boss yang sesungguhnya? Mengapa Anda harus menyelesaikan 4 chapter cerita Therion untuk mendapatkan kembali batu berharga salah satu keluarga penting yang ada, jika pada akhirnya, ia tidak terasa signifikan untuk Final Boss rahasia ini?

Ini seperti trauma filler ratusan episode di era anime Naruto masa lalu, sebelum akhirnya ia berpindah ke era Shippuden. Filler yang membuat perjalanan puluhan jam Anda berasa tidak penting karena ujung-ujungnya, ia hanyalah jadi batu loncatan untuk dungeon rahasia yang bahkan, tidak diposisikan sebagai sebuah keharusan. Desain yang aneh. Walaupun terasa unik dan pantas untuk dipuji karena resiko dan kreativitas yang mereka ambil, harus diakui, tidak semuanya terasa cocok dan berhasil.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

PC Games

November 25, 2021 - 0

Review Gunfire Reborn: Aksi Tanpa Basa-Basi!

Jika kita bicara soal developer asal timur Asia sekitar 10…
September 29, 2021 - 0

Review SAMUDRA: Dalam Lautan Dalam Pesan!

Berkembang dengan signifikan selama beberapa tahun terakhir ini, para talenta…
August 26, 2021 - 0

Impresi Park Beyond: Saatnya Meracik Taman Bermain yang Gila!

Ada sebuah keasyikan tersendir memang ketika sebuah game memberikan Anda…
August 20, 2021 - 0

Review 12 Minutes: Selamat Ulang Hari!

Untuk sebuah industri yang sudah eksis selama setidaknya tiga dekade,…

PlayStation

November 19, 2021 - 0

Preview Battlefield 2042: Masa Depan Tak Selalu Cerah!

Ada yang datang dengan antisipasi tinggi, tetapi tak sedikit pula…
November 19, 2021 - 0

Review GTA The Trilogy – The Definitive Edition: Bak Lelucon Besar!

Merayakan ulang tahun sebuah franchise legendaris adalah sebuah langkah yang…
November 17, 2021 - 0

Menjajal Elden Ring (Network Test): Makin Cinta, Makin Mantap!

Apa yang bisa Anda dorong lebih jauh dengan formula Souls-like…
November 15, 2021 - 0

Review Headset PULSE 3D Wireless – Midnight Black: Tiga Dimensi dalam Telinga!

Apa yang mendefinisikan sebuah pengalaman generasi terbaru? Bagi Sony dan…

Nintendo

March 12, 2021 - 0

Review Bravely Default II: JRPG Berkelas!

Keluhan soal pendekatan modern yang terlalu kentara untuk banyak game…
March 3, 2021 - 0

Preview Bravely Default II: Rasa Klasik Asyik!

Kerinduan untuk cita rasa JRPG klasik, yang memang seringkali didefinisikan…
July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…