Review Marvel’s Avengers: Avengers, Baku Hantam!

Reading time:
September 10, 2020

Avengers, Berkumpul!

Setelah masa beta dan beberapa trailer dengan sisi presentasi meragukan, versi final Marvel’s Avengers tampil jauh lebih baik dan matang.

Jika dibandingkan dengan proyek game AAA yang lain, penilaian gamer untuk urusan presentasi Marvel’s Avengers memang sempat memancing reaksi keras, terutama untuk trailer perdana yang dilepas. Popularitas MCU memang membuat banyak gamer kini “terbiasa” dengan wajah dan suara pemeran di dalamnya, yang notabene punya asosiasi yang kuat. Masa beta yang sempat diselenggarakan Square Enix juga tidak memberikan kontribusi positif, apalagi dengan motion blur berlebihan yang kami rasakan sendiri di versi konsol. Berita baiknya? Semua ketakutan tersebut bisa disebut mereda di versi final Marvel’s Avengers itu sendiri.

Entah karena perbaikan dari sisi wajah yang sepertinya mendapatkan sedikit modifikasi kecil, terutama untuk Thor atau Black Widow, atau karena paparan film Marvel yang sudah mereda sejak seri Endgame hingga memberikan lebih banyak waktu bagi gamer untuk membangun sedikit toleransi, namun Anda akan mudah terbiasa dengan tampilan Marvel’s Avengers versi Crystal Dynamics. Bahkan penambahan Kamala Khan sebagai karakter kunci juga berkontribusi positif. Kualitas karakter memesona ini tidak hanya datang dari desain proporsi tubuh secara keseluruhan atau detail varian kostum yang bisa Anda kejar saja. Ia juga datang dari ekspresi wajah di beragam situasi yang berkontribusi membuat scene menjadi jauh lebih hidup. Tentu saja, pesonanya tidak hanya datang dari sisi teknis saja.

Entah karena paparan MCU yang mulai mereda atau karena sisi visual yang memang disempurnakan, tidak akan sulit untuk membiasakan diri dengan “penampilan baru” Avengers versi game ini.

Salah satu alasan mengapa mode single-player Marvel’s Avengers begitu memesona juga datang dari karakterisasi yang berujung begitu manusiawi untuk setiap karakter yang muncul. Di satu sisi, ia akurat dan familiar. Tony Stark masih berperan seperti sosok Tony Stark yang Anda kenal, Captain America masih datang dengan nilai moral tak tergoyahkan, hingga Kamala Khan yang masih dengan lugas memperlihatkan cara berpikir seorang remaja yang “dipaksa” untuk menempuh sebuah misi yang penting. Di sisi lain, game ini memang memberikan ruang bagi kepribadian setiap dari mereka bersinar. Ada banyak momen kecil di mode single-player, terutama dari interaksi para karakter, yang memanusiakan setiap dari mereka alih-alih sekadar melihatnya sebagai superhero over-powered dengan topeng saja. Mode single-player Marvel’s Avengers memberikan ruang “bernapas” di sela-sela aksi yang ada.

Sayangnya, perhatian pada detail karakter yang memesona ini tidak terbagi pada desain level yang disediakan oleh Marvel’s Avengers saat ini. Memang, ia hadir dengan atmosfer yang cukup solid. Baik ketika Anda bertarung di area urban ataupun gurun sekalipun, Anda bisa melihat bagaimana eksistensi AIM mengakar kuat dari sana – baik dari kehancuran yang mereka tinggalkan atau sekadar struktur-struktur besar yang kian menegaskan posisi mereka di sana. Permasalahan terbesar dari desain level ini adalah variasi. Entah karena konsep GaaS (yang nanti akan kami bahas nanti) atau limitasi waktu pengembangan, namun Marvel’s Avengers akan meminta Anda untuk bermain di arena yang sama berulang-ulang, terlepas dari fakta bahwa Anda memilih misi yang berbeda. Seiring dengan waktu permainan yang memanjang, sistem seperti ini akan meninggalkan sensasi jemu yang kentara, apalagi jika Anda termasuk gamer yang mudah bosan. Padahal dengan konflik yang mereka sajikan, ada kesempatan untuk menawarkan lebih banyak area besar yang unik dan berbeda satu sama lain. Sangat disayangkan.

Desain level terutama di mode multiplayer, jadi salah satu kelemahan utama Marvel’s Avengers.

Sementara dari sisi audio, voice acting yang ditawarkan oleh masing-masing karakter juga pantas untuk diapresiasi. Mereka mengisi peran mereka dalam kapasitas seharusnya. Agak sedikit butuh waktu untuk terbiasa, namun pelan tapi pasti, Anda akan menghargai rasa wibawa yang menyeruak lewat suara sang Captain America atau bagaimana Jarvis memberikan briefing singkat soal apa yang butuh Anda kerjakan selanjutnya. Apresiasi ekstra untuk sisi audio juga selayaknya diarahkan pada semua efek suara yang muncul saat bertarung. Bunyi palu Mjolnir milik Thor, dentingan metal saat perisai milik Captain America dilempar, hingga erangan Hulk yang akan secara konsisten Anda dengar setiap kali ia berkontribusi saat bertarung. Sementara untuk OST, tidak ada yang cukup istimewa untuk dibicarakan, namun ia menjalankan tugas untuk memperkuat sensasi heroik aksi Anda dengan cukup baik.

Jika Anda termasuk gamer yang sempat mengeluh karena beberapa hal di masa beta – seperti motion blur ataupun sistem kamera yang ia usung, versi final Marvel’s Avengers ini datang dengan beberapa perbaikan, terutama untuk versi konsol yang kami jajal. Untuk sistem kamera misalnya? Anda yang butuh kemawasan lebih soal posisi musuh kini memiliki opsi kamera “Wide” untuk mendapatkan informasi lebih soal target yang harus Anda hajar selanjutnya, atau sekadar menghindar ketika serangan datang. Sayangnya tidak ada opsi untuk mematikan Motion Blur saat in, namun dari pengalaman kami, ia jauh lebih bisa ditoleransi dari apa yang terjadi di masa beta kemarin. Walaupun tetap, Anda yang ingin menangkap momen dramatis Anda saat bermain, akan sangat disarankan untuk memanfaatkan fitur Photo Mode yang tersedia.

Kami merasa bahwa intensitas motion blur di versi beta yang “gila” akhirnya sedikit dikurangi di sini. Namun atas nama menangkap screenshot keren, kami masih merekomendasikan Anda untuk menggunakan fitur Photo Mode yang tersedia.

Maka dari sisi presentasi, Marvel’s Avengers berujung menghapus semua keraguan yang sempat terjadi, baik dari masa beta yang tidak terlihat begitu menjanjikan ataupun dari beragam trailer yang sejauh ini harus diakui, seolah gagal mewakili apa yang hendak ia usung dengan baik. Butuh waktu untuk membiasakan diri memang jika otak Anda masih menyisakan konten-konten dari MCU. Namun proses ini sendiri bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.

Avengers, Berekspresi!

Kamala menjadi karakter yang begitu mudah disukai lewat kepribadiannya yang “bersinar” di mode campaign.

Jika Anda sempat membaca artikel preview kami sebelumnya dan penilaian kami untuk sisi presentasi di atas, Anda sepertinya sudah memahami bahwa kami jatuh hati dengana apa yang ditawarkan Crystal Dynamics di Marvel’s Avengers ini. Bahwa kisah yang di awal terdengar begitu klise, soal pecah dan pada akhirnya – bergabungnya kembali Avengers untuk menundukkan satu ancaman yang sama memang terdengar membosankan. Apalagi tidak akan ada satupun gamer yang akan “tertipu” soal kisah kematian Captain America mengingat sejak awal, lewat wawancara yang mengemuka, ia terus dibicarakan sebagai salah satu karakter playable di multiplayer. Namun terlepas dari keraguan tersebut, mode campaign ini berujung memesona.

Salah satu pesona utama dari mode campaign in memang mengakar pada presentasi karakter yang tepat sasaran, manusiawi, dan didukung dengan interaksi personal yang mengagumkan pula. Game ini menyediakan ruang bagi karakter untuk saling berbicara satu sama lain, bertukar lelucon, memperlihatkan seberapa dekat hubungan personal mereka, dan pada akhirnya – mengemukakan alasan kuat bahwa nama “Avengers” bukanlah sekadar superhero yang berkumpul atas nama kebenaran saja, tetapi juga teman yang berupaya untuk mengesampingkan ego dan perbedaan untuk sesuatu yang lebih baik. Eksekusi manis inilah yang membuat sisi single-player ini berujung jauh lebih memesona dari apa yang kami harapkan. Untuk sebuah game yang seringkali membicarakan mode multiplayer kooperatif yang ia usung, ini adalah situasi yang melegakan.

Mode campaign tetap memberikan ruang bagi tiap-tiap karakter untuk mempresentasikan keunikan mereka masing-masing.
Interaksi antar karakter membantu polesan cerita yang di atas kertas, sebenarnya sederhana.

Namun bukan berarti, mode ini sempurna. Salah satu keluhan terbesar dari mode single-player ini kembali jatuh pada masalah desain level dan misi. Melihat apa yang mereka presentasikan lewat misi A-Day di menit pertama, dimana Kamala sekadar berpetualang dan menjadi fan-girl untuk setiap anggota Avengers, ketika para Avengers bertarung melawan pasukan Taskmaster yang berfungsi sebagai tutorial juga, atau ketika Kamala bertemu dengan Bruce Banner sebagai Hulk untuk pertama kalinya, Anda seperti menemukan dualisme desain yang berbeda untuk mode campaign Marvel’s Avengers itu sendiri.

Di bagian pertama yang kami jabarkan di atas, ia dipresentasikan selayaknya sebuah game single-player AAA pada umumnya. Ia berjalan linear, dipenuhi dengan cut-scene dan interaksi di sepanjang jalan, memberikan ruang bagi para karakter untuk tumbuh. Namun seiring dengan progress permainan yang mendekati babak akhir, semua kadar yang menjadi nilai jual tersebut menurun dari sisi desain. Ia memang masih menyajikan cerita via cut-scene, namun pelan tapi pasti, desain misi yang ia usung mulai lebih merepresentasikan apa yang Anda temukan di multiplayer alih-alih game AAA dengan cerita kuat yang seharusnya. Sedikit interaksi, sedikit kesempatan bagi karakter ini untuk bersinar, dan berakhir dengan lebih banyak aksi, aksi, aksi, dan aksi yang muncul di ruang terbuka luas. Dengan beberapa area medan pertempuran yang juga mengemuka berulang, ini jadi catatan tersendiri.

Sayangnya, ada pergeseran fokus mendekati akhir cerita yang terlalu berfokus pada aksi, aksi, dan aksi.

Walaupun demikian, jika Anda bisa mengesampingkan sedikit kelemahan ini, mode single-player Marvel’s Avengers menggapai fungsinya dengan sangat baik, setidaknya jika Anda menilai hanya dari jalinan cerita, cut-scene, dan karakter yang ia bawa. Namun sulit untuk mengesampingkan harapan bahwa ia akan bisa terasa jauh lebih baik lagi jika ia ditangani dengan gaya desain misi dan arena layaknya apa yang diusung setidaknya, dua misi pertama yang ia tawarkan.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

December 28, 2020 - 0

Review Cyberpunk 2077: Terjebak Ilusi Korporasi!

Game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini, tidak ada…
December 15, 2020 - 0

Preview Cyberpunk 2077: Berandal Masa Depan!

Menyebutnya sebagai game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini…
December 4, 2020 - 0

Review Assassin’s Creed Valhalla: Saga Sang Penjarah!

Tidak lagi mengusung sistem rilis tahunan dan memberikan sedikit ruang…
December 3, 2020 - 0

Preview Immortals Fenyx Rising: Dewa dan Monster!

Perhatian untuk proyek yang satu ini memang terhitung besar ketika…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…