Review Marvel’s Avengers: Avengers, Baku Hantam!

Reading time:
September 10, 2020

Avengers, Bertarung!

Aksi bertarung dengan serangan melee tetap jadi intisari Marvel’s Avengers.

Salah satu cara sederhana untuk menjelaskan pondasi gameplay Marvel’s Avengers dengan baik – adalah menyebutnya sebagai game looter-melee, selayaknya konsep yang selama ini digembar-gemborkan oleh Godfall. Walaupun masing-masing karakter memiliki serangan range dengan beragam cara, intisari permainan tetap akan meminta Anda untuk melakukan serangan-serangan jarak dekat, dengan kombinasi antara serangan biasa dan kuat yang akan memicu animasi serta fungsi berbeda bagi masing-masing karakter. Ada pula serangan yang meminta Anda menahan tombol tertentu untuk dieksekusi, yang biasanya berkaitan dengan kesempatan untuk membuka pertahanan musuh atau memicu serangan kombinasi dengan lebih efektif.

Salah satu kekuatan utama Marvel’s Avengers memang terletak pada cara Crystal Dynamics menangani setiap karakter yang ada. Bahwa tidak sekadar berbeda secara visual, Anda akan menemukan karakter-karakter ini memiliki gaya bertarung mereka sendiri-sendiri yang biasanya, tidak akan bisa dieksekusi karakter lain. Thor seperti di komik dan MCU misalnya, bisa melemparkan Mjolnir ke musuh, menahan mereka di dinding atau lantai, dan membiarkan mereka jadi sasaran empuk misalnya. Sementara Black Widow datang dengan serangan kombinasi cepat dan mematikan untuk menyeimbangkan damage yang lebih rendah. Hulk? Anda sepertinya sudah tahu kira-kira pengalaman bermain seperti apa yang ditawarkan oleh Hulk.

Sensasi menggunakan tiap karakter akan terasa berbeda satu sama lain.

Setiap karakter juga akan memiliki setidaknya 3 buah skill berbeda yang bisa Anda gunakan berbasis cooldown. Skill ini akan terbagi menjadi tiga jenis – Support (skill akan mempengaruhi diri sendiri dan anggota tim yang lain), Heroic (serangan damage), dan juga Ultimate (serangan pemungkas super kuat) yang masing-masing akan membantu Anda menghadapi setiap ancaman dengan lebih mudah. Tentu saja, musuh juga akan datang beragam, dari sekadar drone yang bisa dihancurkan dengan satu kali lemparan palu atau pukulan, musuh humanoid yang mampu menembakkan laser dari mata, hingga robot-robot raksasa yang siap menyita waktu ekstra. Anda tentu harus mengkombinasikan dan memanfaatkan mereka seefektif dan seefisien mungkin. Spesialisasi skill yang akan mengubah cara kerjanya atau menambahkan efek tertentu akan terbuka ketika si karakter menyentuh level spesifik.

Lapisan kedua dari sisi gameplay Marvel’s Avengers terletak pada sistem loot ala Destiny yang mereka usung. Ini berarti, loot akan menjadi salah satu motor pendorong untuk memperkuat setiap karakter yang Anda gunakan – yang di sisi lain, efektif untuk menjelma sebagai sistem reward yang terasa sepadan. Dengan 4 slot equipment utama untuk tiap karakter dan 3 slot ekstra untuk “aksesoris” yang juga mempengaruhi status yang ada, mendapatkan loot lebih baik juga jadi motivasi ekstra bagi untuk mengeksplorasi konsep dunia semi open-world berbasis level yang juga mereka tawarkan di awal. Ini berarti, ada alasan untuk bergerak menyelesaikan misi-misi sampingan berbentuk tanda tanya di setiap misi multiplayer, alih-alih langsung bergerak ke objektif utama yang tersedia.

Yang lebih fantastis lagi, sistem loot ini juga diracik dengan sangat baik. Tidak seperti Anthem dimana loot-loot seperti ini menawarkan perubahan karakter yang minim dan terasa unik, Marvel’s Avengers berhasil membuat setiap dari mereka fantastis. Berdasarkan tingkat kelangkaan yang Anda terima, ia menawarkan cukup banyak variasi hingga aksi pilih-memilih loot yang sesuai dengan gaya gameplay Anda juga jadi keasyikan tersendiri. Ada loot yang akan mendorong penerapan efek status ke musuh, seperti Gamma yang berperan bak Poison atau Pym Particle yang bahkan bisa mempengaruhi bentuk musuh hingga mempengaruhi attack range serta tingkat defense mereka. Ada pula yang mendorong kecepatan regenerasi Skill Anda, atau yang bahkan menjamin jatuhnya pack health setelah musuh terbunuh. Ada begitu banyak variasi loot yang tersedia di Marvel’s Avengers, yang membuat gembar-gembor terkait sistem loot mereka sejauh yang kami jajal, memang tidak berujung omong kosong. Kerennya lagi? Equipment di tingkat kelangkaan lebih tinggi tidak selalu berujung lebih baik atau sesuai dengan gaya gameplay Anda.

Loot datang dengan banyak varian yang masing-masing menawarkan buff yang berharga. Mereka menangani sistem loot ini dengan baik.
Misi tentu saja menuntut power level yang direkomendasikan, dengan sebagian dari mereka adaptif dengan angka power level Anda saat ini.

Pertanyaan selanjutnya tentu saja – bagaimana cara game ini menangani sistem Power Level? Tidak banyak berpengaruh di mode single-player, Marvel’s Avengers menyisipkan sistem Power Level yang juga sebanding di mode multiplayer. Beberapa misi memang menuntut equipment yang lebih tinggi, namun sebagian besar dari mereka akan beradaptasi dengan power level dari karakter yang tengah Anda gunakan saat ini. Plus, Anda juga punya opsi untuk mengatur tingkat kesulitan yang akan mempengaruhi tingkat power level yang Anda temui. Perbedaan power level antara Anda dan musuh yang Anda temui akan mempengaruhi damage yang Anda terima dan damage yang Anda hasilkan ke mereka. Tentu saja, Marvel’s Avengers akan menawarkan beberapa jenis misi, terutama di end-game, yang tetap akan menuntut power level lebih tinggi.

Maka Anda sepertinya sudah sempat membaca bagaimana kami terus berbicara soal kata “multiplayer” yang di atas konsep action dan looter-melee yang ia tawarkan, menjadi lapisan lain yang mendefinisikan Marvel’s Avengers. Tidak kesemua misi akan bisa Anda mainkan dalam format multiplayer kooperatif memang. Game ini membagi pengalamannya ke dalam dua bagian besar – mode campaign yang hanya bisa dinikmati dalam format single-player saja dan mode Avengers Initiative yang bisa disederhanakan sebagai porsi mode multiplayer. Anda memang bisa mengakses Avengers Initiative sejak awal, namun kami merekomendasikan Anda untuk menyelesaikan mode campaign terlebih dahulu. Pertama, mode multiplayer akan jadi kelanjutan cerita dari akhir mode campaign. Kedua dan yang terpenting? Roster yang bisa Anda gunakan, seperti Thor atau Captain America, baru akan terbuka setelah Anda sudah mencapai di titik tertentu untuk mode campaign yang ada.

Walaupun Anda bisa mengakses mode multiplayer sejak awal, kami merekomendasikan Anda untuk menyelesaikan mode campaign terlebih dahulu sebelum memulainya.
Anda bisa melakukan matchmaking secara random dengan 3 user yang lain. Tenang saja, ada AI yang siap mengisi kekosongan slot jika ada posisi yang tidak terisi atau Anda ingin memainkan game ini sendirian, bahkan di mode Avengers Initiative sekalipun.

Konsep Avengers Initiative adalah misi-misi kecil yang bisa diselesaikan dalam multiplayer kooperatif. Bisa dilakukan dengan matchmaking secara acak atau bersama dengan party dari daftar pertemanan Anda, ada beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku untuknya, tentu saja. Yang paling esensial? Anda tidak bisa menggunakan 2 superhero yang sama dalam satu tim. Ini berarti tidak akan ada kesempatan untuk bertarung sebagai 4 Thor atau 4 Hulk begitu saja. Mode ini juga akan menyesuaikan power level misi bergantung pada si host utama. Ini berarti Anda bisa mendapatkan misi yang sama, namun dengan power level adaptif yang bisa lebih tinggi atau lebih rendah, bergantung pada siapa user yang memilih misi yang dimaksud. Fitur lain yang tidak kalah penting – Anda tidak butuh matchmaking penuh dengan 4 user secara total sebelum memulai misi tersebut.

Berita baiknya, jika Anda tidak punya teman di dunia nyata yang bisa diajak bermain bersama atau memang cukup anti-sosial untuk bermain dengan player yang lain, game ini juga didukung dengan fitur AI. Ini berarti semua slot yang tidak diisi oleh player lain akan secara otomatis diisi oleh AI, yang akan memilih karakter superhero mereka secara acak tanpa banyak pertimbangan strategi. Level adaptasi AI pada saat bertarung tentu tidak akan sebaik manusia, namun sejauh kami menjajalnya, ia menjalankan tugas dasarnya dengan baik. Satu yang menarik, terlepas dari fakta bahwa Anda mungkin tidak meningkatkan level hero yang lain atau menyediakan equipment yang kuat untuk mereka, AI-AI ini juga akan datang dengan buff-buff yang dibutuhkan saat menjajal misi dengan power level yang tinggi. Intinya, mereka selalu bisa diandalkan.

Lantas, bagaimana dengan struktur misi yang ditawarkan oleh Marvel’s Avengers untuk mode kooperatif ini? Berbeda dengan sisi campaign yang diisi dengan cut-scene yang intensif dan jalur yang lebih linear, misi-misi multiplayer ini akan dibagi ke dalam beberapa jenis format berbeda. Ada misi biasa yang meminta Anda menjalankan tugas sederhana seperti menghancurkan server atau membunuh robot raksasa di akhir.

Ada jenis misi yang lebih sulit, butuh waktu lebih panjang, dan menantang seperti misi-misi yang menuntut Anda untuk melawan dan membunuh karakter boss di akhir yang saat ini masih terbatas pada Abomination dan Taskmaster. Ada pula yang disebut “HIVE” dimana seperti film The Raid, Anda diminta untuk membersihkan satu menara, yang masing-masing tingkat punya misi berbeda. Dan ada pula tipe misi seperti “VAULT” yang seperti namanya, fokusnya memang memberikan kesempatan bagi Anda untuk berburu loot. Dari semua misi ini, VAULT mungkin satu-satunya misi yang butuh sedikit koordinasi mengingat elemen di akhirnya memang bisa diselesaikan sedikit dengan kerjasama, memberikan sedikit variasi gameplay. Namun pada akhirnya, sebagian besar dari mereka tetap berpusat di aksi baku hantam.

“Iconic Mission” memberikan ekstra plot dan konflik yang spesifik pada karakter tertentu.
Konten end-game berujung segudang daftar checklist misi yang harus diselesaikan? Penanganan yang sangat disayangkan.

Ada dua misi setelah campaign yang paling “bernilai” di Marvel’s Avengers: Iconic Mission dan kumpulan misi yang disebut sebagai “The Avengers Initiative”. Iconic Mission di sini berfungsi sebagai misi ekstra untuk setiap karakter yang ada untuk memberikan mereka ekstra cerita yang beberapa di antaranya juga diisi dengan cut-scene. Namun sayangnya, perlakuannya juga belum bisa terhitung adil saat ini. Ada Iconic Mission seperti Captain America dan Black Widow yang mendapatkan cerita intensif, lengkap, dengan konflik dan resolusi dengan kisah yang terasa selesai. Namun di sisi lain, ada pula Iconic Mission untuk Ms. Marvel dan Iron-Man yang berisikan sekadar checklist daftar tugas yang harus dirampungkan, yang datang tanpa cerita, tanpa cut-scene, dan segala sesuatunya terasa setengah hati.

Berita buruknya, hal yang sama juga terjadi di rantai misi yang dikumpulkan dalam “The Avengers Initiative” yang notabene seharusnya menjadi konten post-campaign, yang diposisikan sebagai tantangan Avengers setelah berkumpul kembali. Misi ini memang punya cut-scene di awal dan akhir, namun konten yang diposisikan sebagai pondasi konten end-game yang seharusnya, berujung jadi daftar checklist yang harus diselesaikan dari satu tahap ke tahap lainnya. Desain misi seperti ini terlihat “malas” dan justru kian membuat mode multiplayer yang disajikan semakin jauh dari “kualitas” mode campaign. Lebih anehnya lagi? Ketika semua misi-misi bertahap yang harus Anda selesaikan dalam daftar checklist ini berujung rampung, ia ditutup dengan misi terakhir yang justru tidak bisa diselesaikan dengan mode multiplayer sama sekali. Kami cukup terkejut dan bingung dengan desain ini.

Game ini butuh sistem ping!!

Satu sisi lain yang cukup mengecewakan dari sistem multiplayer Marvel’s Avengers juga datang dari minimnya aksi kolaborasi yang bisa dilakukan anggota party dan minimnya fitur pendukung yang berujung mencederai pengalaman bermain. Karakter yang Anda gunakan memang diperkuat dengan begitu banyak skill, namun animasi serangan kerjasama dan kolaborasi dengan anggota lain nyaris minim. Hanya ada satu jenis serangan kerjasama – Takedowns yang datang dengan animasi terbatas untuk dua anggota saja. Anda tidak akan misalnya, mengharapkan bisa memukul tameng Captain America yang dilempar menggunakan Mjolnir saat menggunakan Thor atas nama serangan lebih spesial. Sementara untuk urusan fitur, Marvel’s Avengers juga tidak mengusung sistem ping yang notabene kini jadi standar modern game multiplayer dan hanya mengandalkan voice chat saja. Untuk gamer Asia yang notabene jarang menggunakan mic, situasi seperti ini adalah mimpi buruk tersendiri, apalagi ketika Anda ingin mengkomunikasikan bahwa Anda baru saja menemukan peti berisikan loot. Mau tidak mau, Anda kembali ke jalur komunikasi primitif – lompat dan tembak membabi buta atas nama mencari perhatian.

Avengers, Grinding!

Salah satu ketakutan untuk game-game berbasis loot seperti ini? Grinding!

Salah satu masalah yang selalu menyertai game-game yang berfokus pada loot, yang di kasus ini juga dikombinasikan dengan konten Games as a Service yang akan kita bicarakan nanti, tentu saja ketakutan pada seberapa grindy ia akan berakhir. Kita tahu bahwa varian loot yang ia usung terhitung beragam,  kita tahu bahwa loot-loot ini mempengaruhi jelas aksi karakter yang Anda gunakan, kita tahu bahwa Anda bisa menggunakan karakter yang berbeda-beda, dan kita tahu bahwa dari kombinasi semua yang ia usung, apalagi ditumpuk dengan segudang item kosmetik yang bisa dikejar, ia berpotensi jadi game dengan sisi grinding yang menggila. Pertanyaannya, apakah demikian?

Jawabannya adalah iya dan tidak, dan kami akan menjelaskannya. “Tidak” karena beragam sisi yang berhubungan dengan sisi gameplay dan karakter nyaris bisa dikategorikan sangat bersahabat. Terlepas dari fakta bahwa setiap karakter akan memiliki sistem level yang berbeda dan Anda harus menaikkannya satu per satu jika Anda memang ingin memaksimalkan mereka, tugas ini tidak seberapa sulit. Level mereka cukup mudah dinaikkan dan loot akan mudah didapatkan, membuat progress penguatan mereka tidak akan memakan waktu panjang bak game-game berbasis loot yang lain. Mengingat sebagian besar misi juga bisa diatur tingkat kesulitannya dan menyesuaikan diri dengan power level Anda, bagian ini menariknya tidak se-grindy yang dibayangkan.

Untuk urusan loot dan level, game ini tidak terasa grindy sama sekali.
Urusan mengejar item kosmetik? Di luar item-item yang hanya tersedia di Marketplace dan hanya dibeli dengan uang nyata, ia masih bisa ditoleransi.

Lalu kita masuk ke dalam fase mid-grind, dimana proses grind tidak mudah tetapi tidak akan makan waktu yang cukup gila di mata para gamer-gamer penikmat game berbasis loot yang sudah “terbiasa”. Untuk gamer yang tidak terlalu familiar dengan genre ini, sensasinya mungkin akan berkebalikan. Benar sekali, kita bicara soal item kosmetik yang tersedia untuk masing-masing karakter yang sejauh ini memang menawarkann perubahan penampilan yang menggoda. Ada item kosmetik yang memang hanya bisa dibeli dengan uang nyata, namun tidak sedikit yang bisa didapatkan dengan hanya memainkan game ini dan mengejar progress saja. Ada Cosmetic Blueprint yang jadi “reward” beberapa misi yang akan bisa Anda dapatkan, berupaya untuk buka, dan berharap ia menawarkan sesuatu yang belum pernah Anda miliki sebelumnya. Tentu saja, ada Cosmetic Shop yang menerima mata uang in-game yang jumlahnya pelan tapi pasti akan terkumpul bersama frekuensi Anda menyelesaikan misi atau equipment tidak berguna yang berujung Anda “pecahkan”.

Ada toko khusus kosmetik yang juga menjual beragam kosmetik menarik dengan sistem rotasi.
Setiap karakter punya “Battle Pass” mereka sendiri-sendiri, yang jika diselesaikan, akan memberikan reward, termasuk item kosmetik.
Microtransactions hanya menawarkan akses ke item kosmetik saja, dari langsung membeli kostum dari Marketplace hingga membayar untuk melewati titik progress Challenge Card secara instan.

Setiap karakter di Marvel’s Avengers juga mengusung sistem “battle pass” mereka sendiri yang disebut sebagai Challenge Cards. Berisikan beragam reward yang bisa diselesaikan per karakter lewat misi harian dan mingguan yang bisa Anda selesaikan, setiap titik pencapaian di Challenge Card akan menawarkan sesuatu yang menggoda untuk dikejar. Beberapa item kosmetik yang tersedia di baris tantangan ini memang menggoda dan karenanya, selalu akan menarik Anda untuk menyelesaikan setiap darinya. Level grind ini, seperti item kosmetik yang lain, masih dalam batas yagn bisa ditoleransi. Butuh waktu, namun tidak akan sampai membuat Anda frustrasi, dan pelan tapi pasti akan teratasi dengan frekuensi bermain.

Level grinding yang sesungguhnya, dengan jumlah item langka yang benar-benar mengundang rasa frustrasi, akan datang dari konten end-game ketika karakter Anda sudah mencapai power level tinggi, seperti yang kami rasakan di angka Power Level 140 saat review ini ditulis. Untuk memperkecil kebutuhan grind dan memastikan Anda bisa mengoptimalkan loot yang Anda dapatkan, bergantung pada level kelangkaan, Marvel’s Avengers memberikan ruang bagi Anda untuk melakukan aksi upgrade yang kebutuhannya, tentu saja meningkat seiring dengan level upgrade yang Anda suntikkan di setiap senjata. Di power level awal, kebutuhan ini mudah diatasi. Di power level tinggi? Mimpi buruk.

Seberapa buruk? Ada dua jenis resource yang Anda butuhkan untuk mengupgrade equipment power level ini, dimana satu digunakan untuk Equipment dan satunya lagi untuk aksesoris. Kesempatan untuk mendapatkan resource ini memang menyebar di hampir segala aktivitas, terutama untuk konten end-game yang tersedia. Hanya saja, jumlahnya begitu kecil. Bayangkan betapa inginnya kami berteriak super kesal ketika menemukan bahwa memainkan ulang misi final, benar-benar final untuk “The Avengersi Initiative” yang butuh waktu 45 menit – 1 jam untuk diselesaikan, ternyata menghadiahi hanya 5 buah dari resource dimaksud. Padahal kami sudah berada di tahap dimana setiap equipment dari kami kini membutuhkan minimal 30-an resource tersebut untuk naik level. Ini berarti secara total, ada 120-an resource sama yang harus dikejar untuk melakukannya.

Grind terparah justru datang dari usaha mencari resource upgrade equipment dan aksesoris di end-game.
Sulit didapat, butuh dalam kuantitas besar, jelas ia didesain untuk membuat gamer yang sudah berada di level end-game untuk terus kembali bermain secara rutin hanya untuk mengejarnya.

Hal sama juga terjadi dengan resource yang dibutuhkan untuk mengupgrade aksesoris, yang bahkan lebih langka lagi. Satu dari sedikit cara untuk mendapatkan resource ini hanyalah dengan menyelesaikan Challenge dari masing-masing faksi – Human dan Inhumans yang berjumlah sekitar 8 buah untuk misi biasa dan satu ekstra misi besar yang biasanya menuntut Anda mengeksekusi misi khusus. Misi-misi faksi ini harus dirotasi dalam format harian, tengah malam waktu Indonesia, dengan asumsi Anda memang berhasil menyelesaikan setiap dari mereka. Ini berarti 20 buah resource per hari, jika Anda tidak iseng mengikuti misi player lain lewat proses matchmaking, untuk mengejar level maksimal. Sekarang bayangkan ketika Anda berada di level upgrade, belum di tingkat tertinggi, dengan kebutuhan sudah menyentuh angka 50 misalnya.

Di atas kertas, aksi grinding di sesi end-game ini memang rasional dari sisi desain. Sebagai Games as a Service, ini akan terus membuat gamer yang sudah menyentuh garis final untuk terus sibuk, kembali dan kembali ke Marvel’s Avengers, setidaknya hingga konten baru disediakan oleh Crystal Dynamics dan Square Enix di masa depan. Namun di sisi lain, mereka yang ingin segera membuat karakter andalan mereka berada di power level maksimal (150), ini jadi desain yang lebih banyak menghasilkan rasa frustrasi daripada seru dan kesenangan. Berita lebih buruknya lagi? Mengingat setiap karakter punya sistem equipment berbeda, bayangkan kerepotan seperti apa yang Anda harus lalui jika setiap dari mereka berhasil mencapai power level tinggi dan siap untuk konten end-game. Berita yang bahkan lebih buruknya lagi? Bayangkan ketika proses upgrade sudah maksimal lewat kerja keras dan Anda menemukan sebuah equipment baru yang dari statistik lebih menjanjikan, lebih medorong gaya bermain Anda, dan butuh di-upgrade kembali dari awal dengan resource yang sama. Kami yakin di titik ini, Anda bahkan tidak akan melirik equipment baru ini atas nama “MALAS”.

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

December 28, 2020 - 0

Review Cyberpunk 2077: Terjebak Ilusi Korporasi!

Game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini, tidak ada…
December 15, 2020 - 0

Preview Cyberpunk 2077: Berandal Masa Depan!

Menyebutnya sebagai game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini…
December 4, 2020 - 0

Review Assassin’s Creed Valhalla: Saga Sang Penjarah!

Tidak lagi mengusung sistem rilis tahunan dan memberikan sedikit ruang…
December 3, 2020 - 0

Preview Immortals Fenyx Rising: Dewa dan Monster!

Perhatian untuk proyek yang satu ini memang terhitung besar ketika…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…