Review Marvel’s Avengers: Avengers, Baku Hantam!

Reading time:
September 10, 2020

Avengers, Berkeluh Kesah!

Game ini menyisakan begitu banyak masalah yang sayangnya, berujung mengacaukan pengalaman bermain.

Dengan semua penjabaran konten yang kami lemparkan di atas, maka Marvel’s Avengers terdengar sebagai sebuah game loot yang berada di kualitas setidaknya di atas rata-rata dan karenanya, seharusnya mendapaktan pujian yang cukup tinggi. Memang ada beberapa masalah, seperti tidak adanya sistem ping untuk komunikasi tanpa suara atau aksi grinding yang terasa menyebalkan di konten end-game, namun ia terdengar bisa ditoleransi. Bagaimana jika ternyata masalah yang mengitari game ini ternyata jauh lebih dalam daripada yang Anda bayangkan. Begitu banyak hal yang membuat pengalaman gaming yang seharusnya seru dan fantastis ini, berujung jatuh ke level kenikmatan yang lebih rendah.

Dari hal yang benar-benar esensial dan mengakar di pondasi desain, seperti level misalnya. Untuk sebuah game yang hendak memberikan kesan bagaimana Avengers akhirnya berkumpul kembali dan hendak menghancurkan pengaruh AIM di seluruh dunia, apa yang ditawarkan Crystal Dynamics di sektor yang satu ini memang terhitung mengecewakan. Marvel’s Avengers memang menawarkan puluhan misi multiplayer untuk dijajal, namun kesemuanya terbagi ke dalam setting bermain yang bisa dihitung dengan jari. Beberapa misi mengambil lokasi yang sama, berulang dan berulang kali, dengan hanya menawarkan variasi di sisi objektif yang harus Anda selesaikan saja. Anda akan bertemu dengan banyak misi yang membawa Anda masuk ke dalam menara AIM dengan arsitektur yang sama, lokasi salju yang sama, lokasi penuh api dan kebakaran hasil ulah AIM yang sama, dan pertarungan urban yang sama. Padahal jika melihat varian level di Iconic Mission atau campaign single-player, game ini sebenarnya punya area lain yang bisa menawarkan sesuatu yang berbeda untuk memperkecil potensi rasa repetitif yang mudah terasa kentara.

Area yang terbatas yang jadi arena bermain untuk puluhan misi yang saat ini tersedia, membuatnya terasa “kecil” dan repetitif.
Dengan tidak adanya informasi roadmap soal distribusi konten, konten end-game saat ini bisa dibilang sedikit dan terbatas.

Masalah lain terletak pada konsep Games as a Service (GaaS) yang pada saat review ini ditulis, justru terasa seperti desain yang berujung mengekang potensi pertumbuhan Marvel’s Avengers itu sendiri. Konsep GaaS melahirkan sistem misi berbasis level yang jadi sumber keluhan di atas, sekaligus membuat opsi untuk menghadirkan konten end-game dengan daftar checklist tugas yang harus diselesaikan terasa seperti sesuatu yang rasional. Namun permasalahan terbesar dari janji GaaS ini tentu saja distribusi konten untuk gamer-gamer yang mendedikasikan banyak dari waktu mereka untuk Marvel’s Avengers ini. Tidak butuh waktu lama hingga mereka menyelesaikan semua konten end-game yang sudah tersedia saat ini dan kini mulai menunggu ap yang akan ditawarkan Crystal Dynamics selanjutnya. Karena saat review ini ditulis, game ini sama sekali tidak punya roadmap soal konten yang akan mereka suntikkan, langkah yang tentu saja tidak sehat untuk sebuah game GaaS.

Masalah kedua dari konsep GaaS seperti ini juga berangkat pada kebutuhan untuk terus membuat komunitas aktif dan terlibat terutama saat konten baru dilepas. Jika untuk pondasi dasar saja, Marvel’s Avengers sudah mengalami beberapa masalah dari sisi desain level dan misi yang terasa repetitif, bagaimana caranya mereka akan memastikan bahwa konten terbaru nanti akan berbeda?  Bagaimana caranya di tengah rilis game-game AAA kompetitor yang siap menyita waktu gamer seperti Assassin’s Creed Valhalla, WD Legion, Cyberpunk 2077, hingga game rilis perdana Playstation 5, mereka bisa memastikan bahwa komunitas tetap akan aktif dan siap kembali setiap kali Marvel’s Avengers datang dengan konten baru?

Mampukah Square Enix dan Crystal Dynamics membawa gamer kembali ketika hujan game AAA kompetitor tiba?
Iconic Mission milik Thor misalnya, masih belum punya konklusi jelas saat ini.

Karena untuk sebuah game bertajuk GaaS yang ambisinya akan didukung untuk waktu yang sangat lama, kehilangan userbase secara signifikan hanya dalam waktu beberapa bulan setelah rilis akan jadi mimpi buruk yang menyeramkan, baik bagi si developer ataupun bagi gamer yang sudah menginvestasikan uang mereka di game ini. Untuk saat ini, Marvel’s Avengers memang belum terasa “selesai” dimana ia menyisakan ruang tanpa konklusi yang jelas didesain untuk konten masa depan. Sebagai contoh? Iconic Mission milik Thor misalnya, yang masih belum memberikan kejelasan soal misteri sang villain utama dengan indikasi jelas, bahwa ia akan mendapatkan update di masa depan untuk “merampungkannya”.

Pengalaman buruk ini kemudian diperparah dengan beragam masalah teknis yang mudah ditemukan di sepanjang permainan. Dari hal super esensial seperti Matchmaking, yang tidak terlihat bekerja dalam kapasitas yang seharusnya. Hampir sebagian besar aksi Matchmaking acak kami hanya menghadirkan satu ekstra user untuk menemani atau ditemani, dengan 2 slot kosong seringkali diisi oleh AI. Menemukan sebuah party yang berhasil membawa dan mengisi sisa 3 slot dengan user manusia adalah sebuah pemandangan langka yang pantas untuk dirayakan. Melakukan matchmaking saat berada di in-game juga seringkali tidak memicu apapun, tidak pernah menemukan user lain yang berusaha mencari party. Kami seringkali harus keluar ke menu utama dan masuk kembali, baru melakukan aksi matchmaking, yang biasanya akan langsung dipasangkan dengan user lain secara instan. Lebih cepat melakukan aksi ini daripada menunggu aksi matchmaking saat in-game.

Masalah lain seperti yang bisa diprediksi, juga datang dari segudang bug dan glitch yang masih akan Anda temui di sini. Ada yang “kocak” seperti model karakter ganda yang sempat beberapa kali muncul, dimana salah satunya sempat membuat kami panik. Bagaimana tidak? Kami sempat bertemu dengan tidak hanya satu, tetapi dua model Abomination sebagai boss di cut-scene, yang untungnya sekadar bug. Bug kocak lain juga terkadang muncul dari model karakter yang tidak te-render sempurna di cut-scene, dimana Anda terkadang bisa melihat bagaimana hanya rambut milik Hulk, tanpa tubuh, bertarung menghancurkan segala sesuatunya di sekitar.

Bayangkan betapa paniknya kami ketika glitch yang satu ini terjadi.
Hmmm..

Namun terkadang, Anda menemukan beragam bug dan glitch yang berujung menyebalkan, terutama ketika ia berhubungan dengan penyelesaian misi. Kami sempat bertemu dengan beberapa kasus dimana untuk alasan yang tidak jelas, musuh menolak untuk muncul di area dimana misi utamanya – adalah menundukkan setiap dari mereka. Karenanya, progress tidak bisa dipicu dan kami tertahan. Kami juga sempat menemukan misi serupa berujung tidak bisa diselesaikan karena satu atau dua musuh, karena serangan kuat Hulk, terlempar menembus dinding dan tertahan di sana. Marvel’s Avengers memang menyediakan opsi “Reload Checkpoint” untuk mengatasi masalah-masalah seperti ini. Namun pada akhirnya, kami sempat menemukan situasi dimana bug ini, terutama soal musuh yang menolak spawn, tetap tidak teratasi dengan opsi ini.

Game ini jelas butuh aksi evade yang lebih responsif, tanpa harus tertahan masalah animasi, terutama untuk pertarungan di power level tinggi.

Keluhan-keluhan kecil juga mengemuka dari sisi permainan, terutama di pertempuran untuk power level tinggi. Sebagai contoh? Kesempatan untuk melakukan evade misalnya. Seperti layaknya sebuah game action yang seharusnya, Marvel’s Avengers menyediakan satu opsi evade yang jika dieksekusi di timing yang tepat, akan memberikan Anda ekstra keuntungan. Di misi dengan power level tinggi, aksi ini nyaris tidak memiliki makna sama sekali karena beberapa alasan. Kita tidak sekadar berbicara soal kuanititas musuh yang muncul bersamaan saja, tetapi karena masalah animasi juga. Hampir sebagian besar musuh yang berukuran lebih besar akan memicu animasi tertentu pada karakter Anda pada saat serangan mereka masuk, seperti Thor yang tertunduk selama sepersekian detik misalnya. Di posisi ini, Anda tidak bisa melakukan evade. Hasilnya? Serangan kombinasi lanjutan mereka masuk dan tiba-tiba Anda menemukan karakter Anda tewas. Belum cukup buruk? Anda juga akan menemukan jenis musuh range yang bisa membunuh Anda dengan satu tembakan, dengan indikator arah serangan yang sulit diperhatikan apalagi di tengah situasi pertempuran yang ramai, dan karenanya – nyaris mustahil untuk dihindari.

Maka dengan semua desain yang lebih banyak mengundang pertanyaan, lengkap dengan masalah teknis yang masih terjadi pada saat review ini ditulis, konsep Marvel’s Avengers yang menarik sebagai game berbasis loot dengan eksekusi mayan matang, berujung jatuh ke level yang lebih rendah. Setting yang begitu terbatas dan karenanya memicu sensasi repetitif di mata kami, merupakan yang terburuk.

Avengers, Berkonklusi!

Jika Anda merupakan gamer pencinta superhero Marvel dan menginginkan sensasi bertarung sebagai anggota Avengers dengan pendekatan yang cukup memuaskan, maka kami tidak akan ragu untuk merekomendasikan Marvel’s Avengers kepada Anda.

Setelah kekhawatiran yang sempat menyeruak di masa beta dan beragam trailer yang sempat dilepas sebelum rilis, versi final Marvel’s Avengers berujung jauh lebih baik dari apa yang kami perkirakan. Sebagian keraguan yang sempat tercipta berujung sirna begitu saja. Kami menyukai caranya menangani sisi campaign yang berperan selayaknya game AAA linear dengan kisah yang solid serta posisinya sebagai game action dengan elemen RPG berbasis loot dengan variasi dan modifikasi yang memang mempengaruhi jelas kekuatan karakter dan gaya bermain yang Anda usung. Kesemuanya dibangun di atas sistem progress karakter yang sebagian besar tidak terasa grindy, dengan sensasi menggunakan tiap karakter yang begitu unik dan berbeda. Namun tentu saja, ada begitu banyak hal lain yang alih-alih menguatkan, justru menimbulkan ekstra keraguan.

Ada begitu banyak kekurangan yang jadi sumber keluh kesah kami yang tidak hanya datang dari hal-hal minor saja, tetapi berujung jadi sesuatu yang memang mencederai pengalaman bermain secara keseluruhan. Namun satu yang terpenting memang terletak pada konsep GaaS yang ia usung, yang sejauh aksi review kami dilakukan, tidak terasa memberikan kontribusi positif apapun dan justru terasa seperti penghalang untuk sebuah game Avengers dengan kekuatan naratif lebih baik. Untuk saat ini, ia mengusung konten dalam jumlah terbatas dengan kualitas yang tidak terlalu menarik bahkan untuk end-game sekalipun, ia butuh menyuntikkan lebih banyak konten dalam waktu dekat, dan menawarkan lebih banyak variasi terutama dari desain level dan misi. Saat ini, ia terasa seperti seekor ulat dalam kepompong yang melimitasi geraknya. Ia bisa berakhir jadi kupu-kupu atau tewas karena satu atau dua hal.

Jika Anda merupakan gamer pencinta superhero Marvel dan menginginkan sensasi bertarung sebagai anggota Avengers dengan pendekatan yang cukup memuaskan, maka kami tidak akan ragu untuk merekomendasikan Marvel’s Avengers kepada Anda. Digabung dengan sistem loot yang baik dan campaign yang ternyata keren, ia membuka kesempatan untuk menyelam lebih dalam ke semesta “baru” Marvel yang lahir dari tangan Crystal Dynamics ini. Namun jika Anda datang karena potensi investasi uang karena konsep GaaS yang ia usung, kami akan merekomendasikan Anda untuk menunggu, setidaknya informasi soal roadmap konten dan rencana rilis setiap konten mengemuka di masa depan.

Avengers, Berkelebihan!

Thor adalah karakter dengan sensasi bertarung paling memuaskan di sini.
  • Cerita berujung menarik
  • Item kosmetik yang manis dan menggoda untuk dikejar
  • Progress karakter via kenaikan level dan loot tidak terasa grindy
  • Loot punya banyak variasi dan terasa signifikan
  • Sensasi menggunakan setiap karakter yang terasa unik dan berbeda
  • Tiap karakter punya momen bersinar di mode campaign
  • Didukung AI untuk gamer yang tidak ingin bermain online / matchmaking
  • Status effect, terutama Pym Particles, terlihat keren
  • Thor

Avengers, Berkekurangan!

Tunggu dulu, ada yang aneh di sini..
  • Masih dipenuhi bug dan glitch
  • Minim serangan kombinasi dan kebutuhan untuk berkolaborasi dengan anggota tim lain
  • Desain level terbatas dan repetitif
  • Grindy untuk upgrade equipment dan aksesoris di power level tinggi
  • Konten end-game berakhir checklist aktivitas yang harus diselesaikan
  • Konten end-game hadir terasa sedikit
  • Kualitas Iconic Mission beberapa karakter terasa setengah hati
  • AI terkadang memperlihatkan aksi kurang adaptif
  • Tanpa sistem ping untuk komunikasi instan tanpa suara
  • Masih tanpa roadmap soal jadwal update konten terlepas dari status sebagai game GaaS
  • Jumlah boss terbatas – hanya Abomination dan Taskmaster

Cocok untuk gamer: penikmat superhero Marvel, menyukai game-game berbasis loot

Tidak cocok untuk gamer: yang mengharapkan game dengan cerita linear yang langsung rampung, benci dengan konsep GaaS

Pages: 1 2 3 4
Load Comments

JP on Facebook


PC Games

January 14, 2021 - 0

Menjajal DEMO (2) Little Nightmares II: Misteri Lebih Besar!

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan puja-puji…
November 24, 2020 - 0

Review Call of Duty – Black Ops Cold War: Eksekusi Campaign Fantastis!

Industri game dan akhir tahun berarti membicarakan soal rilis game-game…
November 18, 2020 - 0

Preview Call of Duty – Black Ops Cold War: Konspirasi Tidak Basi!

Akhir tahun di industri game berarti menikmati kembali seri terbaru…
October 23, 2020 - 0

Menjajal DEMO Little Nightmares II: Jaminan Merinding!

Jika Anda secara aktif mengikuti JagatPlay, maka ada satu elemen…

PlayStation

December 28, 2020 - 0

Review Cyberpunk 2077: Terjebak Ilusi Korporasi!

Game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini, tidak ada…
December 15, 2020 - 0

Preview Cyberpunk 2077: Berandal Masa Depan!

Menyebutnya sebagai game dengan hype terbesar di tahun 2020 ini…
December 4, 2020 - 0

Review Assassin’s Creed Valhalla: Saga Sang Penjarah!

Tidak lagi mengusung sistem rilis tahunan dan memberikan sedikit ruang…
December 3, 2020 - 0

Preview Immortals Fenyx Rising: Dewa dan Monster!

Perhatian untuk proyek yang satu ini memang terhitung besar ketika…

Nintendo

July 8, 2020 - 0

Review Brigandine – The Legend of Runersia: Legenda Keren yang Menua!

Brigandine, berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan nama…
June 29, 2020 - 0

Review Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Dunia di Ujung Pedang!

Nintendo Wii adalah bukti bagaimana inovasi terkadang menjadi kunci sukses…
June 5, 2020 - 0

Preview Xenoblade Chronicles – Definitive Edition: Format Terbaik!

Nintendo Wii adalah sebuah fenomena yang unik di industri game.
April 15, 2020 - 0

Review Animal Crossing – New Horizons: Sesungguhnya Game Super Hardcore!

Tumbuh menjadi sensasi internet dalam waktu singkat, banyak gamer yang…