Review Blue Reflection – Second Light: JRPG Sangat “Berbudaya”!
Sangat “Berbudaya”

Seperti yang sempat kami bicarakan di atas, kombinasi antara nama Koei Tecmo dan Gust sepertinya sudah memberikan Anda sedikit informasi kira-kira pengalaman visual seperti apa yang akan Anda dapatkan. Mengikuti pakem yang sudah ditetapkan oleh seri Blue Reflection sebelumnya, Blue Reflection: Second Light juga datang dengan cita rasa anime yang super kental. Semua karakter yang Anda temui akan hadir dengan ukuran mata raksasa, wajah super mulus, dan kepribadian yang seperti bisa Anda prediksi, akan mengisi trope tertentu. Anda sepertinya sudah familiar dengan game-game seperti ini.
Yang memuat Blue Reflection: Second Light lebih “berbudaya” dibandingkan game Gust yang lain, seperti Atelier Ryza misalnya? Adalah fakta bahwa Anda tidak akan menemukan satupun karakter pria di sini. Anda memerankan seorang karakter wanita, semua companion Anda adalah wanita, dan satu-satunya “beda jenis” yang akan Anda temui adalah monster yang harus Anda tundukkan. Maka dengan kondisi seperti ini menghasilkan begitu banyak momen-momen berbudaya yang mau tidak mau, harus kita bicarakan lebih jauh nanti.


Satu yang pasti, Koei Tecmo dan Gust sepertinya memahami bahwa konsep seperti ini, apalagi dengan timing masa liburan musim panas yang ia usung, adalah kesempatan untuk menawarkan konten kostum alternatif lebih “berbudaya” untuk Anda nikmati. Di luar pakaian sekolah umum, yang juga datang dengan efek basah melekat pada saat hujan, Anda juga bisa mengenakan beragam pakaian renang selama proses bermain, baik saat bertarung ataupun eksplorasi. Opsi pakaian renang lebih seksi akan bisa dikenakan oleh AO – si karakter utama. Dipadukan dengan sudut-sudut kamera yang diambil saat cut-scene, Anda memahami jelas kemana prioritas presentasi game ini mengarah. Jujur, Anda tidak akan komplain dengannya.
Tentu saja, tidak semua prioritas didesain untuk berfokus hanya pada sisi ini saja. Berbicara soal world-building, mengingat cerita akan meminta Anda untuk “singgah” ke kepingan hati masing-masing karakter, dunia dan monster yang Anda temui di sepanjang perjalanan cukup beragam. Beberapa dari dunia ini berujung terlihat indah dan misterius, seperti stasiun kereta yang terendam lautan yang airnya begitu bening dan berkilau saat bertemu dengan sinar matahari hingga padang luas yang hanya berisikan bunga-bunga matahari raksasa. Setidaknya dunia-dunia ini cukup mengalihkan Anda dari sistem pertempurannya yang lumayan repetitif.


Acungan jempol memang pantas diarahkan pada setiap desain karakter wanitanya yang akan siap untuk membuat mata Anda termanjakan. Seolah hendak memenuhi banyak trope yang tersedia di anime pula, ia juga datang dengan kepribadian yang unik dan mudah dibedakan. Semuanya tentu saja berkat dukungan voice-acting yang tampil optimal di game ini, dan tersedia hampir di sebagian besar percakapan yang mengemuka, baik di cerita utama ataupun cerita sampingan. Satu-satunya keluhan kami mungkin hanya gaya rambut yang membuat karakter seperti Yuki dan Mio akan sulit Anda bedakan dari kejauhan.
Sementara dari sisi musik? Blue Reflection: Second Light terhitung berhasil memenuhi track yang ada dengan aura musim panas yang solid, baik ketika Anda berada di sekolah, sekadar berbincang-bincang dengan karakter lain dalam cut-scene yang ada, hingga saat bertarung sekalipun. Datang menenangkan dan santai tetapi juga mendorong adrenalin saat dibutuhkan, ia tidak berlebihan dan menjalankan tugasnya dengan baik. Namun apakah sebegitu istimewanya hingga ia akan berujung masuk ke dalam playlist pribadi Anda? Mungkin tidak.
Yuri Bait

“Berbudaya” atau tidaknya Anda akan ditentukan oleh seberapa familiar Anda dengan istilah yang kami pilih sebagai sub-judul di atas. Anda yang mengikuti banyak anime sepertinya tidak akan asing lagi dengan istilah yang satu ini. Dan percaya atau tidak, ia menjadi elemen utama dari Blue Reflection: Second Light yang membuat cerita dan situasi “pertemanan” yang mengitarinya terasa begitu unik, berani, dan berbeda untuk saat yang sama.
Untuk Anda yang tidak terlalu familiar, “Yuri” adalah istilah yang digunakan manga / anime untuk memotret hubungan sesama jenis antara dua karakter wanita. “Bait” alias jebakan dipilih jika hubungan tersebut hanya disajikan dalam format implisit saja, atau seringkali digoda tanpa bergerak jauh kemanapun. Bahwa level kedekatan tersebut hanya berada di permukaan tanpa pernah dieksplorasi lebih dalam dan diekspresikan lebih jelas. Hal inilah yang terjadi dengan Blue Reflection: Second Light.
Siapa yang menyangka bahwa keputusan untuk menyuntikkan begitu banyak karakter wanita dalam satu ruang yang sama, tanpa karakter pria sekalipun di Blue Reflection: Second Light juga berujung mengusung konsep romansa antar remaja wanita di dalamnya? Bahwa ini tidak lagi hanya soal pertemanan saja. Anda akan menemukan karakter seperti Rena dan Yuki yang jelas memiliki hubungan istimewa, yang lewat dialog sekalipun tidak ragu untuk melempakan kalimat-kalimat cinta, rindu, dan romansa satu sama lain. Sayangnya, seperti yang kami bicarakan sebelumnya, dialog antara keduanya tidak berujung pada ekspresi fisik yang lebih jelas.
Uniknya? Hal yang sama juga terjadi dengan karakter utama yang Anda kendalikan – Ao, yang bahkan bertindak lebih “brutal” daripada karakter lainnya. Mengapa? Karena Blue Reflection: Second Light menawarkan sistem pacaran alias dating dengan karakter wanita manapun yang Anda inginkan, yang akan berkaitan dengan kesempatan untuk memperkuat karakter dan menjadikannya lebih efektif saat bertarung. Proses pacaran ini biasanya melibat dialog-dialog dengan sedikit opsi percakapan yang dilakukan di sebuah lokasi spesifik. Berita baiknya? Anda memang mau tidak mau harus memilih satu wanita paling spesial saja di akhir, namun selama proses tersebut, Anda bebas berkencan dengan karakter wanita manapun yang Anda inginkan dan butuhkan. Sungguh “berbudaya”.


Kata “Yuri Bait” ini mengental bersama dengan Ao, karena hampir sebagian besar opsi percakapan saat kencan ini, terlepas apakah ia mendapatkan respon ketertarikan yang sama dari sang lawan kencan atau tidak, memang penuh dengan aksi-aksi menggoda. Ao memiliki banyak opsi yang menyinggung soal hubungan sesama jenis ini dan terkadang hanya dijawab dengan aksi tersipu malu. Selama proses kencan, Anda juga bisa melihat beberapa aksi yang lebih fisik, seperti bergandengan tangan, saling berbicara dengan jarak dekat, mandi bersama, hingga tidur (beneran tidur menutup mata) bersama di bawah bintang. Sejujurnya, kami sendiri cukup berharap keberanian dan keunikan konsep ini bisa dieksplorasi si game lebih jauh untuk punya peran lebih penting dalam cerita.
Berita baiknya? Cut-scene dan aksi “Yuri Bait” ini bukanlah satu-satunya daya tarik Blue Reflection: Second Light dari sisi cerita. Secara mengejutkan, ia datang dengan cerita utama yang penuh misteri yang perlahan tapi pasti, setiap jawabannya akan menghadirkan lebih banyak misteri yang kian menarik perhatian Anda. Kita bicara soal karakter-karakter wanita berpakaian renang di awal hanya kebingungan soal mengapa mereka terdampar di sebuah sekolah tak berpenghuni menjadi perlawan melawan sistem dunia yang berusaha membersihkan umat manusia dengan segala cara karena sang “pemimpin”-nya sudah tewas. Oh iya, Blue Reflection: Second Light akan menawarkan cerita JRPG yang “seharusnya” di tengah daya tarik lainnya yang kuat.










